"Liv, sudah siap jalan? Om sudah selesai." Ethan bertanya sembari melambaikan kelima jarinya di depan wajah Olivia.
"Oh, sudah, Om?" tanya Olivia dengan bibir yang terlihat cemberut.
Meskipun sudah mengatakan iya, namun Olivia masih belum juga beranjak dari tempat duduknya.
"Hey, kenapa sih?" Ethan bertanya dengan kedua tangan yang tertangkup di kedua pipi Olivia, lantas ia tolehkan wajah itu ke kanan dan ke kiri. Mencoba mencari sebab kenapa wajah yang tadi begitu riang bisa berubah dengan begitu cepat.
"Siapa yang telepon, Om? Pacar Om Ethan ya, kok panggilnya sayang-sayangan?" tanya Oliv dengan raut wajah yang kini terlihat masam.
Sejenak Ethan tertegun. Tiba-tiba saja dia merasa aneh melihat sikap Oliv yang langsung saja berubah. Olivia kini bertingkah layaknya seorang gadis yang sedang mencemburui kekasihnya.
Tak ingin masuk dalam prasangka yang lebih buruk, dengan cepat Ethan segera menepisnya. Ia menganggap jika itu memang sifat labil yag dimiliki oleh seorang anak gadis berusia sembilan belas tahun. Tidak mungkin juga ‘kan kalau seorang gadis belasan tahun seperti Olivia ini cemburu terhadap dirinya.
Melihat ekspresi wajah Ethan yang terlihat kaget seperti itu, tentu saja membuat Oliv merasa sedikit aneh.
"Kok, Om lihatin aku kayak gitu, sih?" tanyanya.
Olivia sedikit memundurkan wajahnya dari Ethan. Entah apa yang kini dirasakannya, tapi tatapan intens yang diberikan oleh Ethan membuat kedua pipinya bersemu merah.
"Liv, tahu nggak. Seandainya saja Om tidak mengenalmu sejak lama, Om bisa saja berpikir kalau saat ini kamu sedang cemburu," ucap Ethan dengan meletakkan jari telunjuk serta ibu jarinya ke dagu. Namun Olivia masih tetap diam saja, dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Emangnya siapa yang telepon, Om?" tanya Oliv lagi yang tadi belum mendapatkan sebuah jawaban.
"Kamu marah, Liv?" tanya Ethan lagi yang tak mendapatkan jawaban apapun dari Oliv.
"Kan hari ini Om Ethan sudah janji untuk pergi makan malam sama Oliv. Karena hari ini Om Ethan hanya milik Oliv, pastinya Oliv nggak suka kalau ada yang gangguin. Om nggak lupa, kan? Jadi Oliv nggak suka kalau sampai ada yang telepon seperti itu!" jawab Olivia bersungut-sungut.
Olivia masih enggan untuk beranjak dari tempat duduknya karena masih merasa kesal.
"Oh, jadi begitu? Ya sudah kalau nggak jadi, Om pergi nih sama —,"
"Ya sudah, ayok." Olivia segera beranjak dengan menggandeng lengan Ethan. Oliv tidak ingin jika nantinya Ethan justru berubah pikiran karena hal ini.
--
"Ar, ini Oliv udah sama aku, ya," ucap Ethan di sambungan telepon.
"Iya, katanya tadi sepulang dari kampus, Oliv ke tempat Cyril dulu terus ke kantor," lanjutnya dan kemudian menutup telepon.
"Ngapain nelpon papa, Om?" tanya Olivia sambil manyun. Terlihat tangan kanannya kini sedang memutar spagetti di atas sebuah piring.
Dia duduk di seberang Ethan. Terlihat di sana, di atas meja sudah terhidang piring dan gelas berisi menu makanan dan minuman yang mereka pesan di restauran bergaya chic modern itu.
"Biar papa kamu nggak khawatir lah, Liv," jawab Ethan.
"Om nggak usah telepon papa. Palingan juga papa belum pulang dari kantor, Om," sahut Olivia kemudian.
"Iya, sih. Tapi ya tetep aja Om harus izin. Om kan bawa anak gadis orang," kekeh Ethan.
"Ngomong-ngomong, Om mau ngucapin lagi selamat ulang tahun ya, Liv. Semoga kamu tetap bahagia, tambah cantik, tambah pinter dan tambah dewasa."
Olivia hanya memberikan sebuah senyuman manis. Dalam hati dia menambahi, semoga jodohnya adalah Ethan, aamiin.
Semakin lama semakin terpesona saja dia dengan pria tampan di seberang meja yang tengah menikmati sepiring spagetti itu.
"Om, aku seneng banget deh bisa makan berdua gini," celetuk Olivia.
"Memangnya kenapa, Liv?"
"Seneng aja karena bisa deket-deket sama Om Ethan."
Ethan meloloskan tawa renyah. "Emang Om kenapa, Liv?" pancingnya.
"Om itu nyenengin, loh." Kembali Ethan meloloskan tawa. Ucapan Olivia barusan terdengar begitu polos dan juga begitu tulus. Tak sedikitpun terbesit di pikiran Ethan jika apa yang baru terucap dari bibir Oliv ada sebuah rasa kagum yang berlebihan.
"Dimakan dong, Liv ... jangan liatin Om makan aja."
"Liat Om makan kok jadi kenyang, ya?" Olivia berkata sembari tersenyum ke arah Ethan.
"Ada-ada aja kamu, Liv." Ethan menggeleng pelan sembari memasukkan gulungan kecil spagetti yang ada di garpunya.
"Gimana kuliahnya, Liv. Lancar?" tanyanya.
"Lancar, Om."
"Udah boleh pacaran belum sama papamu?" ledek Ethan.
Ditanya seperti itu, Olivia seketika menyusun jawaban yang sekiranya akan memancing Ethan untuk bertanya lebih dalam.
"Boleh sih, tapi belum ada cowok yang aku suka."
"Emang nggak ada yang ganteng gitu di sekolah?" tanya Ethan lagi.
Olivia meringis. "Nggak ada yang seganteng Om Ethan," jawabnya.
Ethan terkekeh. Hampir saja dia tersedak kalau tidak cepat-cepat meminum air putih.
"Masa sih, Liv?"
"Beneran, Om. Lagian aku nggak suka cowok yang seumuran. Repot! Mending sama yang udah dewasa."
Ethan menatap Olivia dengan dahi yang mengerut. "Kenapa kamu lebih suka cowok yang udah dewasa?"
"Karena kalau cowok yang udah dewasa, bisa jagain aku dengan baik, Om."
"Oh, gitu." Ethan mengangguk-angguk. Namun sebenarnya dia hanya menganggap ucapan Olivia sebagai celotehan seorang gadis yang tidak serius.
Sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba saja seorang perempuan cantik dengan rambut panjang bergelombang dan body yang bisa dibilang sempurna datang menghampiri. Ethan pun terkejut melihat perempuan itu.
"Maya? Kok di sini? Katanya tadi mau nge-mal sama Asti aja?" tanyanya bingung.
Olivia seketika menatap sinis pada perempuan yang ternyata bernama Maya, siapa Maya? Apakah dia adalah pacar Ethan? Baru kali ini Olivia melihatnya. Memang Maya berwajah cantik, tapi tetap saja sudah terlihat tua. Jauh lah jika dibanding dengan dirinya yang masih ranum.
"Memang aku pergi sama Asti, tuh dia di sana," tunjuk Maya pada meja yang ada di sudut ruangan.
"Mal-nya kan di sebelah, aku sama Asti mau makan dulu. Eh, malah liat kamu di sini."
"Ya udah gabung aja kalian sama kita," ujar Ethan.
Olivia langsung menunjukkan ekspresi tidak suka. Sementara Maya memanggil sahabatnya, Asti, untuk bergabung. Jadilah satu meja menjadi berempat dan Olivia gondok bukan main. Apalagi Maya mengambil tempat duduk di samping Ethan dan bergelayut manja di pundak pria itu.
"Oh, ini Oliv putrinya Arya yang lagi ultah itu, ya? Met ultah ya, Oliv," ucap Maya dengan tatapan yang menurut Olivia cukup sinis.
"Iya, Tante. Makasih, Tante," sahut Olivia.
Jelas sekali kalau Maya tidak suka dipanggil dengan sebutan 'tante'.
'Rasakan,' batin Olivia.