'Rasakan,' batin Olivia. Kini sepasang mata milik Maya, menatap tajam ke arah Olivia.
"Aneh banget ya, ulang tahun kok minta kadonya makan malam berduaan," sindir Maya. Sedang Asti yang duduk di sebelah Olivia tersenyum remeh.
"Oliv nggak minta kok, May. Aku sendiri yang nawarin dia mau kado apa," bela Ethan.
"Iya, aku tahu itu. Tapi ya ... tetep aja bagiku ini adalah suatu hal yang aneh, Sayang. Biasanya itu cewek seumuran Oliv ini kalau minta kado kan berupa barang atau tiket ke mana gitu. Lah ini kok bisa dia punya ide untuk minta makan malam berdua sama kamu," timpal Maya yang tak mau kalah.
Olivia mendesis. "Emangnya ada yang salah, Tante?" tantangnya.
"Oh ... nggak, kok. Cuma seharusnya malam ini Ethan udah janjian mau jalan sama aku, tapi karena udah janji sama kamu ya, akhirnya aku pergi sama Asti."
Tampak sekali kalau Maya ingin membuat Olivia merasa bersalah. Tapi sayangnya, Olivia tetap bersikap tenang dan santai saja. Justru di dalam hatinya, Olivia justru merasa senang karena sudah menggagalkan rencana Maya malam ini untuk bisa jalan berdua dengan Ethan.
"Sayang, kamu udah pesan makan?" tanya Ethan yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Tadinya sih aku emang lapar, Sayang. Tapi, sekarang udah nggak lagi. Mendadak kok aku jadi kenyang, ya?"
"Masih diet?"
"Enggak lah, Sayang ... nggak usah diet, badanku juga segini-segini aja," jawab Maya yang melihat ke arah perutnya yang memang rata.
Olivia sendiri memalingkan muka seraya mencibir. "Mau pamer badan seksi rupanya. Seksi tapi keriput apa menariknya?" gumamnya dalam hati.
Suasana makan malam sedikit tegang dengan sindiran-sindiran halus dan sikap Maya yang sengaja pamer kemesraan dengan Ethan di depan Olivia. Sungguh dongkol hati gadis itu. Makan malam yang seharusnya bisa menjadi kesempatannya untuk bisa ngobrol berdua dengan Ethan menjadi kacau gara-gara nenek sihir itu.
"Sayang, aku antar Oliv pulang dulu, ya?" kata Ethan setelah makan malam usai.
"Kenapa kamu mesti nganter sih, Sayang? Oliv juga bisa pulang naik taksi, kan?" protes Maya seraya menatap Olivia seakan-akan gadis itu adalah sebuah ancaman besar baginya.
"Ya nggak bisa gitu, dong. Aku kan harus mengembalikan Oliv ke papanya dengan selamat." Ucapan Ethan membuat Olivia menyunggingkan senyum lebar yang penuh kemenangan.
"Hmm ... ya udah, deh. Tapi nanti jangan lupa mampir ke apartemenku dulu ya, Sayang. Aku nggak akan tidur kalau kamu belum datang!"
Olivia mendengus kesal saat dilihatnya Maya mencium pipi Ethan sebelum berpamitan. 'Emang dasar tante-tante genit,' umpatnya dalam hati.
Saat berada di dalam mobil Ethan, Olivia sudah begitu tak sabar ingin menanyakan tentang Maya padanya.
"Itu tadi pacarnya Om Ethan?" tanyanya tanpa menoleh ke arah Ethan.
Ethan terkekeh. "Iya, Liv. Cantik, nggak?"
"Cantik sih, tapi kulitnya udah kelihatan keriput kaya emak-emak." Olivia menjawab asal. Padahal, dia lihat tadi untuk perempuan seusianya, kulit Maya masih mulus. Hanya ada sedikit lipatan di sekitar mata.
"Masa sih, Liv?" Ethan yang tak tahu Olivia sengaja menjelek-jelekkan kekasihnya, bertanya heran. Rasanya kulit Maya baik-baik saja.
"Iya, Om. Lagian kenapa juga sih harus sejudes itu?" sambung Olivia.
"Terus berlebihan banget tante Maya pamer kemesraan di depan orang lain."
Dengan segera Ethan meloloskan tawa. Tak ada yang salah dengan apa yang dikatakan oleh gadis ini.
Olivia sedikit benar kali ini, Maya memang seringkali bersikap berlebihan padanya saat di depan orang lain, terutama jika bertemu dengan teman-teman perempuan Ethan. Tapi, masih dalam tahap wajar menurutnya. Meskipun tadi seharusnya Maya tidak perlu menunjukkan kemesraan di depan Olivia yang masih dianggap masih terlalu muda baginya.
"Om tahan pacaran sama cewek kaya gitu?" tanya Olivia tanpa basa-basi.
"Maya baik kok orangnya, Liv."
"Kalau aku jadi Om Ethan sih udah aku putusin dia, Om." Oliv benar-benar masih merasa jengkel karena acara makan malam berduanya bersama Ethan berakhir tak seperti apa yang diinginkannya.
Ethan kembali meloloskan tawa. "Kamu nggak suka sama tante Maya?"
"Nggak suka!"
"Hmmm ... pantesan papa kamu masih tetap sendiri ya sampai sekarang, putrinya susah gini menilai cewek lain," kekeh Ethan.
"Kalau papa mau nikah lagi aku nggak masalah kok, Om," sergah Olivia.
"Tapi, ceweknya harus yang cocok sama kamu, kan? Kalau enggak, nggak bakalan tahan pastinya dia ngadepin kamu," ucap Ethan seraya menowel pipi Olivia.
Olivia meringis. Bukan cewek yang akan menikah dengan papanya yang dia permasalahkan. Tapi siapa pun cewek yang dekat dengan Ethan lah yang dia tidak akan pernah ia sukai.
--
Maya tersenyum gembira saat Ethan kini sudah datang ke apartemennya. Dia sengaja membatalkan acara nge-malnya bersama Asti dan langsung pulang agar bisa menyambut kedatangan Ethan. Tubuh langsingnya kini sudah dibalut pakaian rumahan yang seksi hingga membuat Ethan tak dapat memalingkan pandangan darinya.
Namun, pada malam itu Ethan merasa jika badannya cukup lelah setelah seharian bekerja, ditambah mengajak Olivia makan malam. Meskipun Maya terlihat menggairahkan, tapi untuk berperang di atas ranjang sepertinya dia tidak terlalu mood.
"Capek ya, Sayang?" Maya dengan pakaian tidur mininya merangkak ke pangkuan Ethan dan melingkarkan kedua lengan di leher kekasihnya itu. Disentuhnya bibir Ethan dengan bibirnya.
"Iya, lumayan capek."
"Lagian kamu kenapa musti menuruti kemauan cewek centil itu, sih?"
Ethan tertawa. "Karena aku udah janji mau ngasih kado sama Oliv, May," jawab Ethan dengan ringannya.
"Dia itu cuma mau ngambil kesempatan banget loh, Ethan. Dia pasti pingin berduaan sama kamu."
"Maksudnya?" Ethan mengerutkan kening saat mendengar apa yag baru saja Maya katakan itu.
"Kamu nggak ngerti apa kalau dia itu suka sama kamu?"
Ethan meloloskan tawanya dan menggeleng pelan. "Kamu jangan mengada-ada, Sayang. Oliv itu baru saja lulus SMA, baru juga dia masuk ke bangku kuliah, Oliv masih terlalu muda, May."
“Meskipun begitu, dia udah ada bibit genit. Jelas-jelas dia itu lagi cari perhatian kamu. Kenapa sih kamu nggak peka banget!" gerutu Maya.
"Kamu cemburu sama Oliv?" tanya Ethan dengan tatapan menggoda.
"Ih! Siapa yang cemburu. Aku cuma sebel aja ada yang kegenitan sama kamu, di depan mataku lagi. Kaya dia itu sengaja banget pingin bikin aku marah."
Ethan meraih dagu Maya dan mencium bibirnya dengan lembut. "Oliv itu emang anaknya manja. Dia udah nggak punya ibu dari kecil."
"Iya, manja sama kamu. Pingin dimanja-manja, pingin dijamah," sungut Maya.
Kembali Ethan meloloskan tawa. Gemas rasanya kalau Maya sudah mulai ngambek begini. Ingin dia gendong ke ranjang dan mengerjainya segera. Niatnya itu pun kini telah dia wujudkan. Kini Maya sudah berada di bawah kungkungannya. Dia ciumi seluruh tubuh perempuan itu dengan rakus.