Dengan semua yang kini disuguhkan oleh Maya, Ethan sudah tak lagi mampu untuk membendung hasrat membara yang kini sudah menguasainya.
Pergumulan terjadi beberapa saat kemudian. Maya selalu terbakar gairah saat Ethan memperlakukannya di atas ranjang dengan begitu liar. Begitupula Ethan yang tidak sabar ingin menyatukan dirinya pada sang kekasih
"Ohh, Sayang," lenguh Maya saat sesuatu di bawah sana menembus ke dalam bentengnya dengan sempurna. Tubuhnya menggelinjang tak beraturan, tangannya memeluk tubuh kekar itu dengan erat.
Tubuh keduanya kini bergerak dalam harmoni yang seirama, bersama ingin menggapai puncak kenikmatan. Erangan dan lenguhan serta desahan memenuhi ruangan luas itu. Semakin lama semakin panas hingga tubuh mereka pun penuh dengan tetesan peluh.
"Oh, Ethan ... aku ... sampai ...," teriak Maya. Tubuhnya melengkung ke atas, menjemput kenikmatan yang tiada tara.
Selang beberapa saat kemudian, Ethan pun menyusul mencapai puncak. Namun, tiba-tiba saja sesaat sebelum dia sembur rahim Maya dengan cairan kenikmatan untuk mengakhiri aktivitas panas mereka malam itu, wajah centil Olivia segera melintas dalam benaknya. Hanya sekilas, tapi membuatnya semakin cepat mencapai puncaknya.
"Sayang, kamu selalu bisa membuatku lemas," ucap Maya dengan suara terengah-engah. Sedang Ethan yang telah rebah di sebelahnya hanya tersenyum.
"Kamu pikir aku nggak lemas juga?" ucapnya.
Maya membalas senyuman Ethan seraya mengelus d**a bidang pria itu. "Aku cinta banget sama kamu, Ethan."
"Sama, Sayang." Keduanya saling mengecup. Maya merebahkan kepalanya di d**a Ethan. Masih dengan keadaan tubuh tak tertutup sehelai benang pun, keduanya terlelap dalam kelelahan. Namun, diam-diam Ethan masih bertanya-tanya kenapa wajah Olivia melintas begitu saja saat dia hendak mencapai puncak kenikmatan.
--
Dari pagi hingga tiba saat makan siang di kantin, wajah Olivia terlihat cemberut. Benar-benar tak sedap dipandang. Mendapati sikap temannya yang seperti itu membuat Cyril dan Metta keheranan. Pasti ada sesuatu yang saat ini tengah mengganggu pikiran Olivia jika dia telah bersikap seperti ini.
"Kamu kenapa sih, Liv?" tanya Cyril sambil mengunyah bakso yang sudah terletak di atas meja.
"Iya, perasaan dari pagi cemberut mulu," sahut Metta.
Oliv masih terdiam dengan raut wajahnya yang belum berubah. "Sebel banget aku. Semalam acara makan malam sama om Ethan jadi kacau." Olivia mengaduk jus jeruknya dengan sebal.
"Kenapa memangnya?" tanya Cyril dengan ucapan yang kurang jelas karena mulutnya masih dipenuhi dengan bakso.
"Monyetnya om Ethan datang." Oliv menjawab dengan ketus.
"Hah? Monyet?" Metta bertanya dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya.
"Iya, namanya Maya. Kalian tahu nggak sih, masa dia tiba-tiba ikut gabung sama aku dan om Ethan. Kan aku jadi nggak bisa berduaan sama om Ethan," gerutu Olivia kesal. "Mana dia sengaja nyindir-nyindir lagi. Kayaknya dia cemburu deh sama aku."
"Ya jelas cemburu lah, pacarnya makan malam sama cewek lain," sahut Metta kemudian.
"Dih, nggak ngaca dia. Udah tua, keriput, jutek lagi. Mau-maunya om Ethan pacaran sama perempuan kaya gitu." Lagi dan lagi Oliv menggumam.
Cyril dan Metta saling pandang dan mencebik. Mereka sebenarnya juga sadar jika apa yang dilakukan oleh Olivia ini adalah tindakan yang salah, dan juga sesuatu yang konyol. Tapi selama itu nggak merugikan untuk mereka, ya terserahlah.
"Terus rencanamu sekarang gimana buat ngedeketin om Ethan, Liv? Sekarang kamu kan udah tahu kalau ternyata om Ethan udah punya cewek?" Cyril segera meletakkan sendoknya.
"Aku nggak mau kalah lah sama cewek keriput itu. Lihat nih, aku jauh lebih muda, lebih menarik, lebih fresh gitu loh. Berani banget aku kalau cuma untuk bersaing sama tuh cewek."
Cyril dan Metta sempat saling pandang, namun tak lama kemudian mereka mengangguk-angguk. Jika sudah seperti ini, jangankan mereka berdua. Bahkan sang ayah pun tak akan bisa untuk melarangnya.
"Semangat, Liv. Kami berdua mendukungmu," ucap Meta seraya mengangkat bahunya seperti seorang atlit binaraga.
"Aku akan merebut Om Ethan dari tangan perempuan itu. Lihat saja!" ucap Olivia dengan mantap.
Sore harinya saat jam kampus sudah selesai, Olivia sengaja meminta sopir untuk mengantarnya ke kantor Ethan. Pokoknya dia berniat untuk terus mencari perhatian Ethan agar pria itu terbiasa dengan kehadirannya. Dia tak akan menyia-nyiakan waktu yang ada dengan hanya berdiam diri, dan menunggu Maya lebih unggul darinya.
"Om Ethan ada di ruangannya, kan?" tanya Olivia pada sekretaris pribadi Ethan.
"Ada, masuk aja," jawabnya seperti biasa.
Olivia tersenyum senang. Dengan riang, dia masuk ke ruangan Ethan. Pria itu baru saja selesai menerima telepon. Saat melihat kedatangan Olivia, bibirnya mengulas senyum. Senyum yang selalu menjadi candu bagi seorang Olivia.
"Liv, kamu baru pulang dari kampus?" tanya Ethan. Sudah beberapa kali Olivia datang ke kantornya setiap kali pulang dari kampus, jadi dia tidak lagi heran jika saat ini gadis itu tiba-tiba saja sudah berada di ruangannya.
"Iya, Om. Kangen." Olivia mendekat ke meja Ethan dan duduk di kursi seberang meja pria itu.
"Sorry ya, semalem makan malamnya keganggu. Om nggak tahu kalau Maya ternyata datang ke restoran juga." Ethan berkata dengan tulus. Memang dia merasa tidak enak, karena semalam adalah acara untuk Olivia.
Olivia manyun. "Kalau gitu, bisa diulang lagi dong, Om."
"Bisa, bisa," sahut Ethan sembari mengusuk pucuk kepala Oliv.
"Tapi aku nggak mau makan malam. Maunya jalan-jalan ke mana gitu."
Ethan mencebik. "Emangnya kamu mau jalan-jalan ke mana, Liv?"
"Liburan gitu, Om. Yang nginep kalau bisa," jawab Oliv.
Ethan mengerutkan kening. "Nginep? Wah, Om bisa diomelin sama papa kamu nanti."
"Papa itu urusanku, Om," kekeh Olivia.
Gadis itu lalu beranjak dari duduknya dan berjalan memutari meja lalu mendekat pada Ethan. Dengan santainya dia duduk di pangkuan Ethan. Pria itu sedikit terkejut, tapi dia tidak mau berpikir macam-macam. Dia sudah hapal dengan sifat manja Olivia. Lagi pula Olivia dianggapnya masih seperti anaknya sendiri. Karena memang mereka sudah seringkali bertemu.
"Om, menurut Om Ethan aku cantik, nggak?"
"Cantik lah. Kenapa memangnya? Kamu lagi naksir seseorang, ya?" tanya Ethan yang sudah bisa membaca gelagat dari seorang gadis yang sedang jatuh cinta.
Olivia mengangguk malu. "Iya, Om ... aku lagi suka sama seseorang."
"Wah, siapa, Liv? Temen kuliah kamu?"
Olivia menggeleng pelan.
"Bukan, Om ... aku suka sama ...."
Belum sempat Olivia menyelesaikan ucapannya, pintu ruangan terbuka. Muncullah Maya dengan wajah terkejut melihat Olivia yang sedang duduk di pangkuan Ethan. Olivia buru-buru beranjak dari duduknya dan berdiri di samping kursi Ethan.
"Kalian lagi ngapain?!" seru Maya dengan wajah merah padam.
"Santai aja, Tante!" sahut Olivia dengan wajah sengak.
"Kamu ini cewek nggak tahu diri, ya ... cewek kegenitan. Kamu mau nggodain Ethan?"