Bab 5. Adu Mulut

1089 Words
"Iya, kan?! Kamu pasti mau godain Ethan. Dasar cewek ganjen, cewek nggak tahu diri!" Maya sudah tak dapat lagibmentolelir apa yang dilakukan oleh Olivia. Dimaki sedemikian rupa, tentu saja Olivia meradang. Dia membalas ucapan Maya dengan kata-kata yang jauh lebih menyakitkan. "Jaga mulut kamu, ya, Nenek-nenek keriput! Kamu tuh yang nggak tahu diri!" "Anak setan emang kamu, ya!" geram Maya dengan wajah yang sudah memerah. Keduanya terus saling memaki hingga ruang kerja Ethan menjadi gaduh. Melihat hal itu, Ethan tentu tidak tinggal diam. Saat kedua perempuan itu hendak saling menjambak, dia pun sigap melerai. "Udah! Udah! Kalian apa-apaan sih ini?" ujarnya seraya menahan Oliv dan juga Maya agar tidak saling cakar atau jambak. "Sayang, sudah jelas-jelas Oliv mau mengganggu hubungan kita!" seru Maya sambil menatap tajam ke arah Olivia. "Kalau iya kenapa? Makanya ngaca, dong! Muka udah keriput gitu mending mundur teratur deh, nggak pantes kamu sama om Ethan," timpal Olivia. "Kurang ajar kamu!" teriak Maya seraya berusaha meraih rambut Olivia hendak dijambaknya tapi Ethan masih berusaha untuk menahan dirinya. "Tolong kalian berhenti!" Ethan yang merasa sangat risih berseru hingga kedua perempuan itu terdiam dengan napas yang terengah menahan emosi di d**a masing-masing. "Oliv, kamu pulang dulu, ya. Minta Anna pesenin taksi buat kamu." "Tapi, Om ...." "Oliv, nurut sama yang Om bilang, ya?" Meskipun sebal, Olivia terpaksa menuruti permintaan Ethan. Dengan tatapan sinis yang tertuju pada Maya, gadis itu melangkah keluar. Kini tinggallah Ethan dan Maya di dalam ruangan. Lalu Maya pun melampiaskan kekesalannya yang meluap-luap. "Ini udah nggak bener, Ethan. Cewek itu udah berani godain kamu!" geram Maya. "Sayang, kan udah aku bilang, Olivia memang kaya gitu sifatnya. Manja, kamu jangan berpikir yang macam-macam. Lagian mana mungkin dia suka sama aku, aku ini seumuran papanya, loh." "Kamu nggak tahu aja fantasi gadis-gadis belia zaman sekarang. Mereka ingin bercinta dengan para pria seumuran kamu!" Ethan menggeleng pelan. "Kamu berlebihan, Maya. Oliv itu gadis yang polos. Aku yang lebih tahu dia kayak apa." "Pokoknya aku nggak mau kamu deket-deket sama dia. Atau kalau perlu, kamu putusin aja hubungan kerja dengan Arya, biar kamu nggak usah bersinggungan dengan mereka." Maya memberikan pilihan kepada Ethan. "Ya nggak bisa gitu, dong, May ... kamu ini ada-ada aja," timpal Ethan. "Aku nggak mau tahu, Ethan ... aku nggak suka kamu dekat dengan cewek itu!" Terlihat sekali jika emosi masih terlihat dari raut wajah Maya. Ethan meraih lengan Maya, berusaha menenangkan kekasihnya itu. "May, kamu jangan kekanak-kanakan gini lah. Oliv itu bukan ancaman. Dia itu cuma seorang gadis belia yang mungkin sedang mencari jati diri. Dia dekat sama aku ya mungkin karena nyaman aja buat ngobrol. Ada hal-hal yang mungkin dia nggak bisa cerita ke papanya dan dia lebih nyaman cerita ke aku." Maya menggeleng. "Nggak bisa, Ethan. Pokoknya aku nggak suka kamu dekat-dekat dia. Apalagi sedekat itu, sampai-sampai dia berani duduk di pangkuan kamu. Itu udah kelewat batas!" sanggah Maya. "Terus kamu maunya aku gimana?" Ethan bertanya dengan pasrah. Sepertinya Maya tidak mau merubah pendirian. Dia memang selalu seperti itu. Jika menginginkan sesuatu maka dia harus mewujudkannya. "Ya putusin semua hubungan dengan anak itu dan juga papanya!" jawab Maya tegas. Ethan hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Permintaan Maya terlalu konyol. Arya adalah sahabat sekaligus rekan kerja sejak lama. Saat ini bahkan mereka sedang bekerja sama dalam sebuah proyek besar bernilai cukup fantastis. Jelas tidak mungkin dia menuruti keinginan Maya. "May, tolong kamu jangan kaya gini. Aku sama Arya lagi ada proyek besar dan nggak mungkin lah aku putusin hubungan kerja atau bahkan persahabatan kami." Maya menatap tajam ke arah Ethan. Permintaannya harus dilakukan oleh Ethan. Dia tidak mau mengambil resiko kehilangan Ethan karena direbut oleh Olivia. "Terserah kamu, tapi kamu harus pilih antara aku atau anak itu dan bisnis kamu!" ancamnya. "May, jangan gitu, dong. Kita bisa bicara baik-baik." "Nggak, Ethan! Aku nggak bisa kaya gini. Sekretaris kamu tadi bilang kalau cewek itu sering datang ke sini nemuin kamu!" "Iya, benar. Tapi Oliv cuma main dan ngobrol biasa aja," sahut Ethan. Maya menggeleng kuat. "Aku nggak bisa ambil resiko, Ethan. Dia jelas-jelas sedang menggoda kamu. Apa kamu nggak bisa lihat?" Maya masih tetap pada pendiriannya. "May ...." Ethan menyugar rambut frustrasi. Dia tidak tahu lagi bagaimana menjelaskannya pada Maya. Perempuan itu benar-benar tidak mau mendengarnya. "Kamu pilih, Ethan. Aku atau dia!" Maya menatap tajam ke arah Ethan sebelum berlalu dari hadapan pria itu. "May! May! Tunggu, dengar dulu!" seru Ethan. Tapi perempuan itu menghilang di balik pintu yang ditutup dengan keras. Kembali Ethan menyugar rambutnya kasar. Dia benar-benar frustasi dan dalam dilema besar. Ancaman Maya sepertinya tidak main-main. Memutuskan hubungan kerja dan juga persahabatan dengan Arya juga tidak mungkin dia lakukan. Namun dia juga tidak mau kehilangan Maya. -- Ethan yang kini merasa frustrasi memutuskan untuk pergi minum setelah pulang dari kantor. Dia ingin melepas sejenak beban yang ada di dalam dadanya. Maya telah memberinya pilihan yang sangat sulit. Dia memesan satu botol minuman beralkohol untuk dia nikmati malam itu sambil mendengarkan musik yang diputar menggema di seluruh sudut ruangan bar. Ethan merasa sedikit terhibur. Pikirannya mulai rileks saat awal aliran alkohol menjalar ke seluruh tubuhnya. Pikirannya melayang entah ke mana, tapi yang terlintas di dalam benaknya adalah wajah manis Olivia. Buru-buru dia menepis pikiran aneh itu dan menenggak cairan kecoklatan dalam slokinya beberapa kali. Beberapa saat kemudian dia tenggelam dalam balutan alkohol dan alunan musik hingga malam pun terus merayap. Seorang perempuan cantik mendekat dan menawarinya jasa untuk ditemani. Ethan terkesima dengan penampilannya yang seksi dengan gaun minim yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya. Dalam pengaruh alkohol, tentu hasrat kelelakiannya tergelitik untuk menikmati keindahan tubuh perempuan itu, tapi Ethan adalah seorang pria yang setia pada pasangan. Maya pun tidak kalah seksi dengan perempuan di hadapannya ini. Namun, saat ini Maya sedang tidak ingin berbicara dengannya. Bagaimana dia bisa melampiaskan hasratnya sekarang. Ethan memutuskan untuk pulang saja sebelum dia nekat membawa perempuan itu ke hotel dan menambah runyam hubungannya dengan Maya. Ethan meninggalkan bar diiringi tatapan kecewa perempuan itu. Dengan penuh perjuangan, Ethan mengemudikan mobil dalam keadaan yang cukup mabuk, Ethan akhirnya sampai dengan selamat di apartemennya. Namun, betapa terkejutnya dia saat membuka pintu apartemen dan mendapati seorang gadis yang sangat dikenalnya dengan pakaian yang super minim, sedang duduk di sofa menyambut kedatangannya. Dalam rasa pusing yang mendera, Ethan tidak tahu bagaimana gadis itu bisa berada di dalam apartemennya, yang jelas matanya begitu terpukau dengan pemandangan indah yang saat ini ada di hadapannya. Dia tidak pernah melihat gadis itu berpenampilan seperti ini sebelumnya. "Oliv?" ucapnya sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Dia ingin tahu apakah yang ada di hadapannya ini benar-benar Olivia atau hanya sekedar halusinasinya saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD