"Om," ucap Oliv seraya mendekati Ethan yang kini tengah berdiri terpaku menatapnya. Dia tahu, pria tampan pujaannya itu sedang mengagumi dirinya. Dia terus mendekati Ethan dan menyentuh d**a bidang pria itu.
"Aku kangen sama, Om," ucap Olivia seraya meraba d**a Ethan dengan begitu lembut.
"Oliv, kenapa kamu ada di sini?" tanya Ethan. Sepasang matanya menatap nanar pada belahan d**a Olivia yang tampak menggiurkan.
"Aku mau sama Om Ethan malam ini." Jemari Olivia mulai melepaskan kancing kemeja Ethan satu persatu dengan perlahan. Kemudian dengan mahir dia meraba setiap jengkalnya hingga menyentuh p****g Ethan yang saat ini sudah mulai mengeras. Bukan hanya bagian itu yang menegang, tapi Olivia juga merasakan sesuatu milik Ethan di bawah sana mengeras saat dia merapatkan pahanya pada paha Ethan.
"Oliv, dari mana kamu belajar melakukan ini?" tanya Ethan seraya menarik pinggang Olivia dan semakin merapatkan tubuh gadis itu padanya. Dia tak mampu lagi untuk menahan gairah yang sudah meluap-luap. Apalagi wajah cantik dan manis Olivia dengan tubuh yang kencang membuatnya menjadi hilang arah.
"Naluri, Om. Malam ini aku hanya mau sama Om Ethan. Aku cinta sama Om," ucap Olivia seraya berjinjit untuk mencium Ethan.
Ethan tidak mampu menyia-nyiakan bibir ranum itu. Dilumatnya bibir Olivia dengan rakus. Tangannya mulai nakal meremas b****g gadis itu. Ethan benar-benar tak lagi peduli bahwa Olivia adalah putri dari sahabatnya sendiri. Dia hanya ingin menuntaskan hasratnya yang terasa begitu menggebu-gebu.
Digendongnya tubuh mungil Olivia menuju kamar lalu dia rebahkan ke atas ranjang. Ethan merangkak di atas tubuh gadis itu lalu disapunya leher Olivia hingga sampai ke d**a.
"Om, lakukan apapun yang Om mau sama aku. Malam ini aku sepenuhnya milik Om Ethan." Olivia memeluk erat tubuh Ethan. Meskipun dirinya takut karena ini adalah kali pertamanya dia melakukan penyatuan dengan seorang pria, tapi rasa cintanya yang begitu besar pada Ethan membuatnya pasrah menyerahkan segalanya pada pria itu.
"Oliv, maafin Om, ya. Om benar-benar nggak tahan lagi, Liv," engah Ethan seraya menelusuri bagian d**a Olivia.
"Nggak papa, Om. Aku rela diapain aja sama Om. Aku cinta banget sama Om," timpal Olivia.
Keduanya pun kini saling mematut bibir dalam-dalam. Rasanya tidak ada yang bisa menghalangi penyatuan mereka yang akan terjadi sebentar lagi.
"Aah, sakit, Om," rengek Olivia saat sesuatu yang keras dan tumpul mencoba menyeruak masuk ke dalam miliknya di bawah sana.
"Tahan, ya, Sayang ... Om pelan-pelan," engah Ethan lagi. Dia benar-benar sudah gelap mata. Dorongan gairah yang terus mendera memaksanya untuk menuntaskan semua ini. Dia tidak lagi bisa berpikir jernih. Dia tidak lagi ingat siapa gadis yang sedang dia gagahi ini. Yang jelas dia ingin memasuki gadis ini sedalam-dalamnya dan menjemput puncak kenikmatannya.
Olivia mengerang kesakitan. Dicengkeramnya punggung Ethan hingga kulit pria itu memerah. Sakit sekali saat milik Ethan mulai sedikit demi sedikit membobol pertahanannya.
"Aah, Om," erang Olivia.
Ethan segera menghujani wajah Olivia dengan ciuman bertubi-tubi. Dia hilang akal melihat betapa cantik dan menggairahkannga gadis cantik berumur sembilan belas tahun itu. Ekspresi wajahnya yang kesakitan bercampur nikmat, membuat Ethan terus merangsek masuk hingga akhirnya berhasil membobol pertahanan Olivia.
"Om, sakiiit," rengek Olivia. Air matanya menetes di pipi.
"Sebentar, ya, Oliv ... sebentar lagi nggak akan sakit." Ethan kembali melihat bibir Olivia dengan semakin liar.
Olivia sendiri hanya bisa mengangguk. Sementara Ethan menjeda aktivitasnya agar Olivia bisa menyesuaikan miliknya yang besar di dalam diri gadis itu.
"Ayo, Om ... aku udah siap, Om," ucap Olivia.
Diberi sinyal hijau, Ethan tak lagi berpikir panjang. Dia gerakan tubuhnya menikmati betapa gadis perawan begitu berbeda dengan perempuan dewasa. Masih begitu sempit hingga membuatnya gila akan kenikmatan yang dia rasakan tiada tara. Ethan yang biasanya butuh waktu beberapa lama untuk mencapai puncak, kini hanya butuh beberapa menit saja dan teriakan pelepasannya pun terdengar.
"Ooom," erang Olivia yang ternyata juga telah mencapai puncaknya.
Ethan rebah di atas tubuh polos Olivia. Untuk beberapa saat dia seperti berada di awang-awang menikmati sisa-sisa pelepasan yang masih mendera di bagian bawah tubuhnya.
"Om, akhirnya aku menjadi milik Om Ethan sepenuhnya sekarang." Ucapan Olivia itu seketika saja membuat Ethan tersadar. Dia membuka mata dan seketika menarik dirinya dari tubuh gadis itu.
"Oh, apa yang sudah aku lakukan," ujarnya seraya memegangi kepalanya. Dia tersadar saat melihat tubuh polos Olivia terbaring di ranjang.
"Kenapa, Om?"
"Oliv, kita habis melakukan apa? Astaga!"
Ethan memukul-mukul kepalanya.
Melihat hal itu, Olivia yang masih tak berbusana segera melompat dari atas ranjang dan memeluk Ethan dengan erat.
"Om, aku nggak nyesel, kok."
Ethan seketika melepaskan pelukan Olivia. Dia terlihat sangat marah. Dia begitu menyesal kenapa tergoda dengan Olivia. Dia merasa menjadi orang yang paling buruk sedunia.
"Kenapa, Om?" Olivia yang merasa ditolak pelukannya meradang. "Aku udah serahin semuanya sama Om. Om Ethan harus tanggung jawab."
Ethan menatap Olivia tajam. Dia marah pada gadis itu, tapi tak mampu berkata apa-apa. Dia sungguh sangat menyesali apa yang baru saja diperbuatnya.
"Om harus tanggung jawab, Om."
"Om khilaf, Liv," ucap Ethan seraya mengambil pakaian Olivia dan menyuruh gadis itu memakai pakaiannya. "Om nganggep kamu sudah seperti anak Om sendiri. Hal yang kita lakukan tadi benar-benar salah."
Olivia meloloskan tangis. "Tadi Om Ethan begitu menikmati tubuhku, sekarang Om bilang jika semua yang kita lakukan itu adalah sebuah kesalahan. Aku nggak mau tahu, Om. Om harus tanggung jawab."
Ethan terduduk lemas di tepi ranjang. Diacaknya rambut dengan kasar. "Om punya Maya, Liv. Om nggak bisa ninggalin dia begitu saja."
"Om harus ninggalin dia. Om harus tanggung jawab. Kesucianku udah Om ambil. Om harus nikahi aku." Olivia tetap pada pendiriannya, ia terus merangsek dan mendekat pada Ethan.
Ethan menatap Olivia dengan tatapan nanar. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja Olivia katakan. Dia menggeleng keras. "Om nggak bisa nikahin kamu, Liv. Om punya Maya, dan kamu itu terlalu muda buat Om, Liv."
"Aku bukan anak-anak lagi, Om. Aku sudah dewasa. Buktinya aku bisa ngasih kenikmatan sama Om," sanggah Olivia.
"Liv, kenapa kamu bikin situasi Om menjadi runyam kayak gini?"
Olivia duduk di samping Ethan dan menyandarkan kepala di bahu pria itu.
"Aku itu sayang sama Om. Aku pingin sama Om Ethan terus."
"Liv, kamu bener-bener bikin Om dalam situasi yang sulit." Ethan terus saja mengacak rambutnya dengan kasar.
"Nggak sulit, Om. Om tinggal putusin Maya dan Om menikah sama aku."
Ethan tersentak. Dia menatap Olivia tajam. Gadis ini telah menjebaknya. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Maya. Olivia tidak selugu yang dia kira. Gadis ini datang ke dalam hidupnya dan mengacaukan semuanya.
"Om nggak bisa, Liv. Om mencintai Maya. Om nggak bisa nikahin kamu."
Olivia berdiri dengan wajah merah padam menahan marah. Kedua tangannya mengepal kencang. Rahangnya bergemeretak menandakan kalau gadis itu sedang sangat kesal.
"Jadi Om Ethan nggak mau tanggung jawab? Okay, kalau itu yang Om mau ... biar aku laporin perbuatan Om sama aku ke papa."