Olivia segera pergi meninggalkan Ethan yang saat ini masih terlihat termenung, meratapi sebuah kesalahan yang sebenarnya tak ia sengaja. Apa yang harus dilakukannya saat ini? Bagaimana jika nanti Olivia benar-benar nekat dan melakukan apa yang baru saja ia katakan? Tidak, tidak. Ethan hanya berharap agar itu semua tidak terjadi.
Olivia kini telah sampai di depan rumahnya. Sebuah rumah besar dua lantai bergaya Eropa dengan nuansa mewah dan klasik yang berpadu. Ada rasa panas yang menjalar dan memburu di dalam dadanya. Rasa takut juga karena dia telah melakukan suatu hal yang sangat nekat. Tapi apapun itu, gadis itu sudah tak lagi peduli, asalkan Ethan bisa menjadi miliknya, dia tak akan mempedulikan yang lainnya.
Olivia sengaja untuk mengacak rambut panjang sebahu yang dimilikinya sebelum memasuki rumah. Hari ini sudah pukul sembilan malam, dirinya sangat yakin jika sang ayah telah menunggu kepulangannya.
"Oliv, dari mana kamu? Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Arya saat melihat putri semata wayangnya masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Papa ...." Olivia menghambur, memeluk Arya begitu saja.
"Hei, ada apa ini? Oliv kenapa?" Arya terlihat panik. Wajahnya menjadi begitu cemas saat mendapati air mata putrinya mengalir begitu saja, ditambah lagi dengan penampilan dan rambut yang sudah awut-awutan tak karuan.
"Pa, maafkan Oliv, Pa."
Kini Olivia pun menceritakan jika dirinya dan juga Ethan sudah melakukan perbuatan terlarang itu. Betapa marahnya seorang ayah yang mendengar jika sang putri telah digagahi bahkan oleh sahabatnya sendiri. Arya dengan cepat langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Pa, Papa ..., jangan lakukan apapun sama om Ethan, Pa." Oliv kini telah berpegang erat pada kaki Arya, ia memohon-mohon kepadanya.
"Apa-apaan kamu, Oliv!" hardik Arya. Seumur-umur, baru kali ini Arya menghardik putrinya itu.
"Pa, tapi Oliv cinta sama om Ethan, Pa. Jangan lakukan apapun padanya. Oliv hanya mau pertanggungjawabannya saja, Pa."
Arya pun kembali duduk di kursi kerjanya sembari mendengkus kasar. Dadanya masih terlihat naik turun karena terbakar amarah.
"Masuk kamu ke kamarmu! Papa akan membicarakan ini dengan Ethan!" ucap Arya dengan tegas pada Olivia. Olivia pun berjalan masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu ruang kerja Arya dengan senyum yang terulas.
--
Ethan kini hanya bisa menatap sang kekasih dengan rasa bersalah mendalam. Bagaimana tidak? Setelah apa yang ia lakukan dengan Olivia, tentu saja membuat pria itu merasa bersalah dan gelisah.
Kini, ia akan berkata jujur kepada kekasihnya. Entah apa yang akan terjadi nantinya, Ethan juga tidak tahu. Tetapi Ethan harap semua akan baik-baik saja walau itu semua sungguh tidak mungkin terjadi!
“Sayang, ada apa?” tanya Maya dengan bingung sambil menatap Ethan.
Perempuan itu tentu saja bingung, pasalnya Ethan sudah lebih dari setengah jam tidak mengeluarkan perkataan apa pun. Lebih tepatnya, saat mereka bertemu.
Saat ini keduanya tengah berada di restoran yang berada di dekat kantor Ethan. Ethan yang mengajak kekasihnya bertemu. Tetapi sampai saat ini Ethan belum juga mengeluarkan sepatah kata pun.
Maya mendengus kesal, jika seperti ini, kenapa Ethan mengajak bertemu?
“Sayang, ada apa? Jangan membuat aku penasaran seperti ini? Jangan cuekin aku kaya gini,” kata Maya lagi dengan kesal.
Ethan menatap mata Maya dalam. “Maaf.”
Maya bingung, kenapa tiba-tiba kekasihnya minta maaf? Apakah karena waktu kesalahan makan siang bersama Oliv itu?
“Tenang aja, aku sudah memaafkan kamu. Lagi pula, aku sudah tidak memikirkannya lagi,” kata Maya dengan senyum manisnya.
Perkataan Maya justru membuat Ethan semakin gelisah.
“Maya, bukan itu, aku mau minta maaf karena ...”
“Karena?” ulang Maya.
“Aku tidak tahu harus cerita dari mana, aku melakukan kesalahan fatal, Maya! Ak-“ Perkataan Ethan terhenti kala ia mendengar suara yang sangat familier baginya.
"Om!"
Iya, itu adalah suara Oliv. Apakah dia berada di sini? Tidak! Bagaimana mungkin! Ethan mau menghindarinya dahulu!
“Om Ethan!” teriakan itu terdengar lagi.
Maya menatap perempuan yang berjalan ke arah mereka dengan sengit. Ah! Apakah harus Olive selalu mengganggu waktunya terus saat bersama Ethan?
“Ada apa kamu ke sini?” tanya Maya sengit kala melihat Olive yang sudah berdiri di samping Ethan.
Ethan memejamkan matanya sejenak sembari memijit pelipisnya yang terasa pusing seketika.
“Loh, memangnya aku gak boleh ketemu sama calon suami aku? Apakah itu salah?” tanya Olivia dengan berani. Tentu saja hal itu semakin membuat Maya menjadi semakin murka!
“Hey, gadis jal*ng! Jaga bicara kamu! Semakin hari kamu semakin keterlaluan, ya!” teriak Maya.
“Tante tanya aja sama Om Ethan kalau enggak percaya,” jawab Oliv.
“Ethan! Lihat perempuan centil itu sudah benar-benar kelewatan. Dia bahkan sudah berani untuk berkata lancang seperti itu,” kata Maya dengan menatap sinis ke arah Olivia.
Ethan kini menatap Olivia dengan wajah datar. “Ada apa kamu ke sini, Liv?”
“Aku sudah bicara semuanya kepada papa, dan Om Ethan harus menemui papa secepatnya,” kata Olivia yang mampu membuat Ethan terlonjak kaget dan menjadi lemas secara bersamaan.
“Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu katakan, Oliv?” tanya Ethan dengan pandangan tajam.
Oliva mengangguk dengan mantap, jantung Ethan seketika berdegup kencang. Apa yang harus ia lakukan? Menyerahkan nyawanya kepada Arya? Bisa mati dia!
“Sayang, ada apa ini sebenarnya? Kenapa kamu sampai terlihat panik seperti itu?” tanya Maya yang saat ini ikut merasa bingung.
“Om Ethan gak lihat ponsel? Papa sudah menghubungi Om Ethan bahkan sejak semalam. Sekarang ini papa sudah ada di kantor Om Ethan. Tapi aku ke sini karena aku tahu pasti Om ada di sini, dan benar dugaanku, Om ada di sini,” jelas Olivia dengan senyum manisnya.
Ethan menatap perempuan yang baru saja beranjak dewasa itu dengan tatapan tak percaya. Saat ini ia tengah berada di antara hidup dan mati, bagaimana perempuan itu bisa setenang ini? Bahkan mampu mengukir senyum di bibirnya?
“Ethan, ada apa?” tanya Maya sekali lagi. Tetapi pertanyaan Maya lagi dan lagi tidak Ethan hiraukan. Pria itu langsung saja merogoh saku celananya untuk mencari ponsel.
Saat sudah menemukan benda yang ia cari, Ethan langsung kaget. Ada puluhan pesan yang dikirimkan oleh Arya, bahkan panggilan telepon yang tak terjawab. Ethan memang sempat menonaktifkan ponselnya, jadi Ethan tidak tahu jika Arya meneleponnya hingga sebanyak ini.
“Oliv, di mana papamu sekarang?” tanya Ethan dengan wajah yang sudah terlihat pias.
“Papa di kantor Om Ethan," jawab Olivia.
Setelahnya Ethan langsung berlari keluar dari restoran dengan terburu-buru sembari menggenggam tangan Oliv. Bagaimana dengan Maya? Tentu saja dia ditinggalkan di sana begitu saja, dengan sejuta tanya yang saat ini tersemat di dalam kepalanya. Wanita itu benar-benar merasa kesal! Bagaimana bisa Ethan meninggalkan dirinya sendirian di sana dan berlalu pergi bersama seorang perusuh seperti Olivia?