Bab 8. Pernikahan Rahasia

1015 Words
Maya benar-benar merasa kesal. Dia sama sekali tak mengira jika Ethan pergi meninggalkannya begitu saja tanpa berkata sesuatu apapun. Ada rasa khawatir saat Ethan hendak memasuki ruang kerjanya sendiri. Ethan meneguk salivanya dengan sedikit berat, berusaha untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba saja terasa kering. Ethan langsung saja menemui Arya yabg saat ini sudah menunggunya di dalam ruangan kerjanya. Plak! Sebuah tamparan keras langsung dilayangkan oleh Arya ke wajah Ethan. Meninggalkan warna merah yang membekas di pipinya. "Kurang ajar kamu, Ethan? Bisa-bisanya kamu melakukan hal serendah itu pada Oliv. Otak kamu dimana, Ethan?" Arya mengumpat, dan memarahi Ethan habis-habisan. Wajar, seorang ayah mana yang rela jika anaknya ditiduri oleh laki-laki yang lebih pantas disebutnya sebagai ayah. Apalagi Ethan adalah sahabat dari Arya sejak lama. Ethan tak berusaha untuk melawan. Dia hanya bisa terdiam dan mengakui kesalahannya. Ethan pun mulai menceritakan semuanya kepada Arya. Arya? Tentu saja dia marah! Memangnya siapa yang tidak marah jika kesucian putrinya direbut begitu saja? Murka! Satu kata yang mendefinisikan Arya saat ini. "Maafkan aku, Arya. Maaf atas kesalahan yang telah aku lakukan. Aku sendiri tidak dalam kondisi yang baik saat itu," ucap Ethan. "Enak saja kamu minta maaf." Arya mencebik dan mengalihkan pandangannya dari Ethan. "Lalu apa yang bisa aku lakukan sekarang? Nasi telah menjadi bubur, semuanya telah terjadi. Aku pun telah menjelaskan semuanya padamu, Ar!" Kini suara Ethan mulai meninggi. "Nikahi Oliv!" ujar Arya tegas tak terbantahkan. "Apa? Kamu gila, Ar?" "Kamu yang gila, Ethan. Kamu yang gila sudah meniduri putriku!" tukas Arya keras sembari menuding wajah Ethan. "Nikahi dia atau kamu akan merasakan kemarahan yang jauh lebih besar daripada ini!" Arya, dengan emosi yang memuncak, langsung menyeret tangan Olivia begitu saja dan segera pergi meninggalkan kantor Ethan. Sementara di tengah keributan yang terjadi tadi, Olivia menyimpan senyuman yang sengaja ia sembunyikan. Kini, apa yang menjadi harapannya telah tercapai. Dari semalam ia memohon kepada Arya untuk meminta tanggung jawab dari Ethan. Awalnya Arya sangat keberatan dengan permintaan putrinya ini. Selain karena memang Olivia baru saja memulai kuliahnya, usia di antara mereka berdua terpaut sangat jauh. Tidak mungkin bagi seorang Arya mengizinkan Oliv untuk menikah dengan Ethan. Namun, Olivia mengatakan jika kehormatannya sudah hilang bersama dengan Ethan. Dia pun juga mengatakan jika dirinya begitu mencintai Ethan. Ia bisa menerima pernikahan itu walaupun jarak usia di antara mereka begitu jauh. Tapi ia menuntut kepada Arya agar Ethan bertanggung jawab. Jika Ethan tidak melakukannya, maka Oliv akan memilih untuk mengakhiri hidupnya saja dan tak mau masuk ke kampus dan kuliah lagi. Dengan ancaman yang begitu mengerikan dari putrinya, akhirnya Arya pun menyerah. Dan di sanalah akhirnya ia berada, di kantor Ethan untuk meminta sebuah pertanggungjawaban. Arya pun menginginkan agar pernikahan Ethan dn Olivia dilangsungkan secepatnya. Selang beberapa hari setelah insiden itu, pernikahan pun dilaksanakan. Sengaja pernikahan itu dirahasiakan dari banyak orang, dan tak mengundang siapa-siapa. Hanya ada penghulu dan juga saksi-saksi yang nantinya akan menjadi bukti sah nya pernikahan itu terjadi. "Saya terima nikah dan kawinnya Olivia Putri Hendrawan binti Arya Hendrawan dengan mas kawin dua puluh gram perhiasan emas dan seperangkat alat salat dibayar tunai." Dalam sekali tarikan napas, ijab qobul telah terucap. Menandakan jika pernikahan yang sah antara mereka berdua telah terjadi. Olivia pun mencium punggung tangan Ethan dengan hati yang berbunga-bunga, tapi tidak demikian halnya dengan Ethan yang justru merasa terbebani dengan semua yang terjadi ini. Jika bukan karena bisnis yang menjadi taruhannya, dia pasti tak akan mau untuk melakukan pernikahan ini. -- Kini, Olivia hidup bersama dengan Ethan, di rumahnya. Dia sudah tak lagi tinggal bersama sang ayah sejak pernikahan itu terjadi. Ternyata apa yang Olivia inginkan dari pernikahannya dengan Ethan tidaklah terjadi. Dirinya menginginkan hidup yang bahagia serta harmonis bersama lelaki pujaannya itu, tapi yang didapat hanyalah sikap dingin dan juga acuh setiap harinya. Setiap hari, Olivia sudah berusaha untuk bisa meluluhkan hati Ethan. Namun sepertinya, semua usahanya itu hanyalah sia-sia belaka. Semakin Oliv berusaha untuk mendekat, semakin tinggi pula benteng yang Ethan bangun untuk menutup diri dari gadis itu. “Kamu gak makan dulu, Mas?” tanya Olivia dengan senyum manisnya. Perempuan itu sudah terlihat rapi dengan seragam sekolahnya. Tak hanya itu, Olivia juga sudah memasak sebisanya untuk Ethan. Setelah menikah, Olivia memang mengubah panggilan Ethan yang tadinya Om menjadi Mas. Nggak lucu juga kan, jika mereka menjadi sepasang suami istri tapi tetap memanggil dengan sebutan 'Om'. “Cepat, Oliv! Aku gak ada waktu lagi, ini sudah siang!” kata Ethan. Olivia hanya bisa mendengkus kesal menerima penolakan itu. Ia langsung saja mengikuti Ethan berjalan keluar rumah. Sebelum berangkat kantor, Olivia memang akan selalu diantarkan Ethan ke kampusnya terlebih dahulu. "Aku berangkat dulu, Mas," pamit Oliv pada Ethan sembari mengulurkan tangan kanannya. "Hmm ...." Lagi-lagi haya jawaban itu yang Olivia dapatkan dari Ethan. Tanpa sedikitpun niat dari Ethan untuk memberikan tangannya untuk Oliv cium layaknya suami istri pada umumnya. Olivia pun turun dan berjalan masuk ke dalam kampus dengan perasaan kecewa tak karuan. Setelah mengantar Olivia, Ethan kini melajukan mobilnya menuju restoran cepat saji. Sesampainya di resto, Ethan langsung saja masuk ke dalam, matanya menelisik seluruh ruangan untuk mencari seseorang. “Ethan!” Senyum tipis yang sedari tadi tak terlihat, kini terbit juga di bibirnya. Ethan pun kemudian berjalan ke arah Maya. Ya, pria itu memang mencari Maya! Saat ini keduanya memang masih menjalin kasih. Mereka masih saling berhubungan seperti sebelumnya. Ethan bahkan belum memberitahu Maya apabila dia telah menikahi Olivia. “Kenapa lama sekali?” tanya Maya dengan manja. “Sudahlah, ayo kita pesan makan dulu,” jawab Ethan yang tak mau membahasnya. Tanpa Ethan sadari, sedari tadi Metta mendengar dan mengamati gerak-gerik pria yang statusnya telah menjadi suami dari sahabatnya itu. Di lain tempat, Olivia dan Cyril tengah berada di kantin sembari menunggu bel masuk. Tak selang lama, Metta datang dengan tergesa-gesa, berlari kecil ke arah mereka. “Oliv!” pekik Metta. “Ada apa?” tanya Olivia dengan wajah yang terlihat lesu. “Aku tadi lihat, Om Ethan! Sama ... pacarnya? Eh, mantan pacarnya! Waktu aku sarapan tadi, aku lihat mereka sarapan berdua!” kata Metta dengan menggebu-gebu tetapi tetap menggunakan nada rendah. Kaget! hanya itu saja yang dapat mengungkapkan perasaan Olivia saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD