Mendengar Metta yang terus mengoceh, Olivia hanya diam saja. Ada rasa marah yang kini tertanam di dalam hatinya.
"Kamu yakin, Met? Beneran kalau kamu nggak salah lihat?" tanya Cyril memastikan.
"Ih, kok kamu nggak percaya sih, Ril. Demi apapun, aku tadi lihat om Ethan bersama dengan seorang wanita. Hmmm ..., Maya. Iya, Om Ethan memanggilnya Maya," jawab Metta.
"Liv, apakah pernikahan kalian baik-baik saja? Kalian baru seminggu menikah, loh. Kok om Ethan sudah berani-beraninya jalan sama wanita lain?" tanya Cyril kini pada Oliv.
"Entahlah!" Hanya itu saja jawaban yang diberikan oleh Olivia.
"Kok gitu sih, Liv?" Cyril kembali melontarkan pertanyaan, sementara Metta menatap tajam pada Oliv. Sorot matanya seolah meminta sebuah jawaban.
"Sejak pernikahan itu terjadi, om Ethan cuek sama aku. Jangankan menyentuhku, bahkan melihat ke arahku pun dia sudah enggan. Kalau ngomong juga seperlunya saja," ucap Olivia tak b*******h. Kepalanya tertunduk ke bawah.
"Serius kamu, Liv?" Metta kini ganti bertanya. Sedangkan Oliv hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Dia begitu dingin, Met. Bahkan sangat dingin. Dia selalu menghindari adanya aku di dekatnya." Olivia berusaha untuk menekan rasa sakit yang saat ini hinggap di dadanya.
"Rebut hatinya, Liv. Kamu itu sekarang sudah menjadi istri sahnya om Ethan. Jangan sampai apa yang sudah kamu perjuangkan menjadi sia-sia." Metta kembali memberikan masukan untuk sahabatnya yang sedang dilanda gundah.
"Iya, betul yang dikatakan sama Metta," timpal Cyril.
"Caranya?" Olivia kini mengangkat kepalanya. "Aku sudah melakukan apa pun. Beberapa cara juga sudah ku coba, namun hasilnya tetap sama saja. Om Ethan justru semakin menjauh dariku," sambungnya.
"Cobalah untuk menjadi pasangan yang baik, Liv. Baik menurut dia. Apakah kamu sudah menjadi istri yang penurut?" ucap Metta.
Metta, memang yang tertua di antara mereka, dia pun lebih pintar dari kedua sahabatnya itu.
Jika kamu selama ini manja kepada om Ethan, maka cobalah saat ini kamu berusaha untuk sedikit berubah. Kurangi manjamu dan berikan perhatian yang lebih kepadanya." papar Metta.
"Gasss, Liv. Aku yakin kalau kamu pasti bisa meluluhkan hatinya," Cyril tiba-tiba saja menyahut.
Olivia terlihat berpikir untuk sejenak. Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam kelas untuk mengikuti mata kuliah.
--
"Sayang, kamu ada waktu nggak nanti buat nemenin aku?" tanya Maya yang saat ini ada di kantor Ethan.
"Ke mana?"
"Ada beberapa keperluan yang harus kubeli. Kamu bisa kan menemani aku belanja, Sayang?" tanya Maya sembari mengelus d**a Ethan dengan manja.
Ethan sendiri menatap penuh kasih sayang kepada Maya, "iya."
"Kapan, sekarang?" tanya Ethan lagi.
Wajah sumringah pun langsung ditampakkan oleh Maya. Mereka berdua lantas melanjutkan langkah untuk menuju ke pusat perbelanjaan, di mana Maya ingin pergi berbelanja beberapa kebutuhannya. Banyak sekali kebutuhan yang memang dibeli olehnya, dan tentu saja itu semua Ethan yang membayar.
Ethan sendiri terlalu bersemangat membersamai Maya pada hari itu, setelah lebih dari satu minggu ini mereka tidak saling bertemu maupun bertukar kabar. Dirinya benar-benar lupa waktu untuk segera pulang. Ethan juga lupa jika di rumah ada Olivia yang sedang menunggunya. Kini Ethan sudah sampai di apartemen Maya.
Ethan yang merasa lelah, membaringkan tubuhnya di sofa. Ia pun lantas menyadarkan bahunya pada sandaran sofa sembari memejamkan kedua matanya. Tanpa dia sadari, Maya mencuri bibir itu begitu saja.
"Malam ini kamu tidur di sini kan, Sayang?" tanyanya.
Ethan menatapnya, menyingkirkan anak rambut Maya dan menyelipkannya di belakang telinga. Rasanya ia benar-benar merindukan Maya.
Tepat pada saat Ethan mengusap bibir Maya yang saat ini sudah terlihat basah, dia baru sadar jika cincin pernikahannya sejak tadi belum ia lepas.
"Kenapa, Sayang?" tanya Maya saat dirinya menyadari jika gerakan tangan Ethan terhenti.
"Apa ini, Ethan?" Maya pun akhirnya melihat cincin yang melingkar di jari manis Ethan. Ethan langsung pias seketika, ia sama sekali tidak bisa berkata apa-apa.
"Sayang, katakan ini apa?" tanya Maya dengan suara yang semakin meninggi.
Kemarahan Maya semakin menjadi saat pertanyaannya tak terjawab. Tepat pada saat itu juga ada notifikasi pesan masuk di ponsel Ethan. Ethan tahu itu dari siapa, tapi ia tetap bergeming dan tak menghiraukan notifikasi pesan tersebut.
"Ethan!" seru Maya yang kini mengangkat tangan kanan Ethan tepat di depan wajahnya. "Jelaskan!" lanjutnya.
Dering ponsel kembali terdengar, kini sebuah panggilan menambah riuh suasana yang sedang memanas.
"Angkat, Ethan," ucap Maya yang sedari tadi merasa terganggu karena ponsel Ethan terus berbunyi. Mati sejenak dan kembali berbunyi.
"Siapa, Sayang? Siapa itu? Kenapa tidak kamu angkat?" Maya merasa murka, dan dengan cepat langsung meraih ponsel itu dari genggaman tangan Ethan. Dadanya semakin terasa memanas saat melihat nama Olivia tertera di layar.
"Halo," jawab Maya yang tiba-tiba saja menekan tombol terima pada ponsel Ethan.
"Dimana Mas Ethan?" Suara Oliv terdengar dari ujung panggilan.
"Mas kamu bilang? Hei gadis tengil –,"
"Berikan hapenya sama suamiku!" sentak Olivia.
Seketika itu juga Maya tak dapat lagi melanjutkan kata-katanya. mulutnya ternganga dengan tatapan tak percaya pada Ethan. Dia terlihat sedikit menjauhkan ponsel Ethan dari telinganya.
"Ethan, apa ini? perempuan itu memanggilmu suaminya." Maya berbicara dengan suara yang terdengar bergetar.
"Maya, dengar. Aku bisa jelaskan, Sayang," ucap Ethan yang mencoba mendekat pada Maya.
"Apakah ..., mas Ethan belum bilang kalau kami berdua sudah menikah?" Suara Olivia masih terdengar di sambungan telepon. Sengaja Maya menekan tombol loudspeaker pada ponsel Ethan.
"Katakan sekali lagi, gadis jal*ng!" seru Maya dengan napas yang terdengar memburu.
"Kami, sudah–menikah, dengar?!" tegas Olivia.
"Setidaknya aku menelepon suamiku, menyuruhnya untuk segera pulang, bukan malah shoping di mall bersama wanita lain! Kalau begitu siapa yang jal*ng?"
"Olivia, cukup!" sahut Ethan yang tak dapat lagi mendengar pertengkaran kedua wanita itu. Dia segera merampas ponselnya dari tangan Maya dan mematikannya begitu saja.
"Dasar laki-laki brengs*k! Apa maksudnya semua ini? Jelaskan padaku Ethan! Apa benar apa yang dia katakan, bagaimana bisa dia mengakuimu sebagai suaminya?" tanya Maya yang kini terbakar emosi. Dia memukul berkali-kali d**a bidang Ethan. Meluapkan semua kekesalannya padanya.
"Maya, diam! Diam dulu dan dengarkan aku!" pinta Ethan panik.
Perlahan, Maya mulai meredam dirinya. Namun tetap saja dadanya masih terlihat naik turun dengan gemuruh yang masih terus terdengar.
"Katakan!" ucap Maya kemudian.
"Iya, benar. Aku sudah menikah dengan Olivia. Aku harus pulang sekarang, May," ujar Ethan.
Maya tersentak kaget. Dirinya kini hanya bisa terpaku mendengar pengakuan dari Ethan. Seluruh tubuhnya membeku.
"Maya ..., maafkan a--,"
"Pergi kamu, Ethan! Pergi dan jangan pernah temui aku lagi! Aku benci kamu, Ethan!" Maya terus mendorong tubuh Ethan hingga keluar pintu, menutupnya dan segera menguncinya rapat-rapat.
"Aaarkkhhh!! Sial! Ini semua gara-gara Oliv!" Ethan segera melangkahkan kakinya dengan cepat untuk kembali ke rumahnya. Dia sudah tidak sabar ingin memberikan pembalasan yang setimpal pada Oliv.