35

1233 Words

Jacob ternyata masih duduk di ruang tamu rumahnya. Terhitung sudah lebih dari satu setengah jam ia duduk dengan setia di sana, sembari menunggu kepulangan adik kesayangannya—Javier. Tak ada apa pun yang dia lakukan selain duduk dan memikirkan banyak hal, dan entah mengapa, sampai detik itu, dia merasa malas beranjak dari sana sebelum melihat adiknya berdiri di hadapannya. Waktu di jam dinding masih terus berdetak, menimbulkan bunyi seperti rintik hujan di atap rumah yang memecah kesunyian malam. Jacob kembali melirik jam dinding yang dibelinya setengah tahun yang lalu, jam itu masih berfungsi dengan baik. Lalu pemuda itu kembali lagi ke posisi awal—menatap lurus ke depan—sambil memikirkan sesuatu. Lebih tepatnya, dia mengkhawatirkan adik laki-laki yang ia sayangi. Kenapa adiknya itu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD