TANTE AFRI

1569 Words
POV Nadine “Lia…. LIA..” Sayup sayup kudengar suara seseorang memanggil namaku. “Hmmm…” Mataku rasanya masih sangat berat. Aku tidak tahu ini sudah pukul berapa, tapi sungguh sangat nikmat bergelung di bawah selimut. “LIA… NADINE AURELIA.. BANGUN…” Seketika aku terlonjak bangun, itu suara mama. Jika mama sudah memanggilku dengan nama lengkap, artinya itu kode merah, yang artinya lagi aku harus segera menyahut. Karena jika tidak, akan terjadi badai dasyat menerpa telinga mungilku. “IYA MA…. LIA DATANG.” Aku segera beranjak dari kasur menuju pintu. Mama sudah berkacak pinggang di depan sana, melihatku dengan tatapan membunuhnya. Aww.. jika saja ini di film Avenger, aku pasti sudah terbakar atau paling tidak berubah jadi es batu. “Hehee..” Aku memaksakan cengiran yang sama sekali tidak berguna sebenarnya. Tapi tak apalah, demi mencairkan suasana tegang yang moga-moga tak berubah menjadi panas membara. “Kamu ini, sudah siang masih saja molor. Gimana kamu mau dapat kerja kalau tidur terus. Anak gadis kok busuk.”  Sudah kubilangkan, ini kode merah. Aku harus berpikir agar mode kereta api tidak lewat. Karena bisa-bisa selama setengah jam aku akan berdiri menerima omelan nyonya besar di hadapanku. “Lia tadi sudah bangun, tapi malas keluar kamar ma.” Aku berdalih agar mama tidak semakin marah. Tapi aku tidak berbohong kok. Aku rutin bangun pukul 6 pagi. Tapi emang dasar malas aja tubuh langsingku ini bangkit dari tempat tidur. Jadi ya aku tetap tiduran hingga niat bangkit terkumpul 100%. “Apanya bangun, tadi mama panggilin kamu tidak nyaut.” “Lia agak b***k belakangan ini ma.” Ceplosku asal-asalan. “APA??” Aku terkejut mendengar seruan mama yang tiba-tiba. Kenapa pula si mama malah teriak tepat di depanku, dikira jantung anaknya ini tidak bisa kaget apa. “Telinga kamu sakit? Kita harus periksa ke dokter.” Mama terlihat syok dan panik. Apa-apaan sih si mama. “Ngapain harus ke dokter ma?” Keningku sudah mengkerut bingung. “Kamu bilang telinga kamu agak b***k, kita harus segera periksa, jangan sampai kamu nanti tidak bisa mendengar suara merdu mama.” Hmmm.. ini emak, serius pakai bercanda. Wajahnya semakin khawatir. Ini harus segera dihentikan, sebelum aku benar-benar ditarik ke dokter THT. “Pa.. papa…. Anak kamu ini sakit.” Mulai deh si mama khawatir tingkat dewi. Padahalkan aku bukan beneran b***k. Tanganku pakai ditarik tarik segala lagi. “Ma..” Mencoba untuk menjelaskan situasi. Tapi sepertinya ibuku yang cantik jelita jadi ikutan tuli hingga rengekanku tidak didengar, astaga. “Papa… cepat kita ke rumah sakit.” Teriakan mama benar-benar akan membuatku tuli benaran. “Apa sih ma?” Papa muncul dari halaman belakang masih mengenakan sarung tangan. Pasti barusan ia membersihkan kendang si Loli, burung perkutut kesayangannya. “Ini anak kamu katanya mulai budeg. Kita harus segera periksa ke dokter. Cepat.” Sepertinya mama benar-benar khawatir, hanya karena alasan pelarianku tadi. “Hahh? Budeg? Maksudnya tuli?” Malah di perjelas si bapak lagi. “Iya pa, aduh malu dong kalau sampai nanti Afri datang, si Lia malah nggak bisa dengar apa kata mereka.” Tunggu, ini Afri siapa? Aku menarik tanganku dari genggaman mama dengan sekali hentakan kuat. Menarik nafas dalam-dalam menenteramkan pikiranku yang sedang bertanya tanya. “Mamaku sayang.” Aku menarik kedua lengan mama agar menghadapku. Suaraku kutekan sedatar mungkin. “Lia enggak budeg, itu tadi alasan Lia aja. Karena emang Lia tadi ketiduran, jadi kirain mama manggil dari dalam mimpi.” Jelasku pada wanita berusia 52 tahun itu. Biarinlah kena repet, daripada nyonya besar ini malah berpikir yang enggak-enggak. “Apa??” Ow ow.. perubahannya sudah mulai terlihat bung. Tadi ekspresinya mode khawatir, sekarang mode singa lapar. Kuatkan batinku yang Tuhan. PUK.. sekali PUK PUK PUK… “Kamu ini, suka sekali buat mama khawatir ya..” PUK PUK PUK.. Ikhlas deh tanganku jadi korban. Ngomong-ngomong ini lumayan sakit juga pukulannya. “Maaf ma, abisnya mama marah-marah, 'kan Lia jadi takut.” Rengekku berusaha melepaskan diri dari pukulan mama. Papa masih berdiri dengan jarak 5 meter dari kami, ia geleng-geleng kepala melihat tingkah istri dan anaknya yang sudah seperti kakak adik baru berebut mainan. Tapi kami memang kadang dikira kakak adik sih kalau di luar rumah, wajahku benar-benar duplikat mama banget. Aku hanya dapat tinggi tubuh papa yang pokoknya menyempurnakan dirikulah. “Huhhh..” Mama terlihat menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ajaran pelatih aerobicnya kalau lagi emosi begitu. “Sudahlah, papa mau ke belakang lagi, kerjaan papa tertunda karena masalah enggak jelas kalian.” Papa undur diri dan menghilang di balik pintu kaca. “Sorry ma.” Cicitku lirih, takut juga kalau sampai si nyokap ngamuk. “Sudah sana kamu makan!” Yeay… akhirnya lepas juga. Mama aku memang gitu, nggak bisa marah lama-lama. “Siap bos.” Aku memberi hormat dan segera berlalu ke dapur. Wajahku sumringah karena bisa terlepas dari amukan singa betina lapar. Kayaknya mama nggak lapar-lapar kali sih tadi, buktinya marahnya belum sampai setengah jam. Bodo amatlah, pokoknya aku lapar, mau makan. Kuambil piring, sendok dan gelas dari rak. Mengambil minum terlebih dahulu dari dispenser. Sudah menjadi kebiasaanku kalau hendak makan, harus minum dulu. Kalau kata dokter itu lebih sehat, tapi bukan karena arahan dokter juga, tapi memang tenggorokanku sudah kering dari semalam tidak mendapat asupan air minum. Setelahnya kusendok nasi dari magicom, berpindah ke meja untuk memindahkan lauk pauk. “Woaaa… ada ikan asin guys.” Mungkin di meja makan orang-orang kota akan tersedia lauk berbahan dasar ayam, ikan laut, atau daging-dagingan. Di rumahku juga begitu sih, tapi makanan kesukaanku justru ikan asin. Entah sejak kapan ikan yang sudah diawetkan itu sangat menggugah selera, apalagi ada sayur rebus atau lalapan, ditambah lagi sambal pedas buatan mama. Widihhh.. bisa nambah terus kalau gitu. Pada dasarnya semua orang di rumah ini lebih suka makan ikan asin sebagai lauk. Berhubung orangtuaku juga dulu dari kampung-kampung, jadi katanya kalau makan ikan asin jadi ingat masa muda. Tapi kan tiap hari makan ikan asin bosan juga, biar kata makanan kesukaan. Apalagi kalau dihitung-hitung harga ikan asin sekarang jauh lebih mahal daripada lauk lainnya. Aku menikmati setiap suapan demi suapan, melupakan masalah hidupku sementara. Mari kita taruh semua persoalan duniawi itu di tempatnya, nanti kita kembalikan ke pikiran. Sekarang time to menikmati hidangan nyokap. Sudah seminggu pembantu di rumah kami izin cuti, katanya orangtuanya sakit di kampung. Aku belum cerita tentang pembantu kami kan? Dia masih muda, usianya 30 tahun dan seorang janda tanpa anak. Suaminya meninggal karena kecelakaan kerja, dan mereka memang belum dikaruniai anak. Si mbak, begitu aku memanggilnya, masih memiliki orangtua di Cirebon. Jadi tiap lebaran atau hari raya natal dan tahun baru kami biasanya akan mengizinkannya pulkam alias pulang kampung. Kalau si mbak lagi cuti, kerjaan rumah auto kami ambil alih semua. Termasuk papa aku, biasanya bagian ngurus pekarangan sama anjing dan burung peliharaannya. Akhirnya, siap juga makan. Saatnya mencuci piring. Si mama memang paling anti megang air setelah aku bisa mencuci piring. Urusan piring dan baju pasti akan menjadi tanggung jawabku. Tapi wajarlah, kasihan juga lama-lama beliau berdiri mencuci piring di wastafel. Jika kalian berekspektasi aku adalah anak tunggal, maksudnya anak bungsu tinggal sendiri yang dimanjakan dan tidak bisa apa-apa, kalian salah besar. Here I am, dan kalian akan kaget jika kalian lihat aku mengambil alih dapur. Tapi bukan sekarang, nanti akan aku tunjukkan hasil tanganku, pada waktunya. Aku segera menuju kamar mandi belakang, sudah tertumpuk pakaian 3 hari ini di sana. Berhubung pakaian kami juga tidak kotor-kotor banget, toh hanya keringat dan debu, tidak apa-apa kalau pakai mesin cuci. Ada saatnya aku juga harus merelakan tangan sensitifku terkena deterjen. Jika papa, mama, pulang dari hiking bersama teman-temannya, atau aksi apaanlah itu proyek orangtua, mereka akan pulang dengan baju berwarna coklat terkena tanah. Di saat-saat seperti itu, maka mau tidak mau aku harus siap menahan panas di kedua tanganku. Tapi coba kita runut ke belakang, tadi mama ngomong tentang bertemu dengan Afri. Aku masih belum tahu Afri yang mama maksud itu siapa. Hanya satu perempuan bernama Afri yang ku kenal dekat dengan mama, itu tante Afri teman SMA mama. Jika diingat-ingat, tante itu sudah lama tidak ke rumah. Rasanya sudah setahun beliau tidak pernah berkunjung, pasalnya dua perempuan seusia itu kerap pergi bersama, entah hanya makan atau jalan-jalan keliling mall. Dan tentu saja aku akan jadi asisten spesial untuk membawa barang belanjaan nyonya-nyonya tersebut. Tante Afri juga setauku memiliki 3 orang anak, 2 laki-laki dan 1 perempuan. Aku juga dekat dengan anak bungsunya, namanya Arnold. Semasa SMA, kami biasanya akan turut serta dengan kehebohan ibu kami, terlebih usia kami sama, namun sekolah berbeda. Belahan kota kami berbeda, tidak mungkin juga dia tinggal di selatan, tapi sekolahnya di timur. Walaupun begitu kami cukup kompak hingga sekarang masih menyimpan kontak masing-masing. Bukan berarti kami memiliki perasaan lebih ya, sama sekali tidak. Kuakui dia tampan sih, tapi agak tengil dan manjanya itu ya ampun.. enggak tahan. Kakaknya, kak Aruni juga sempat ku kenal. Kakak itu satu tahun lebih muda dari abang aku. Dengar-dengar sih kakak itu nikah muda dan sekarang tinggal entah di mana. Pokoknya suaminya orang Papua atau Batak gitulah, mereka juga tinggal pindah pulau. Tinggal seorang lagi, si sulung yang sampai sekarang aku tidak pernah tahu namanya, apalagi penampakan wajahnya. Hanya kalau main tebak-tebakan, pasti ganteng, secara si Arnold tengil aja ganteng gitu, apalagi abangnya. Nanti aku akan tanya maksud dari ucapan mama, kangen juga sama tante Afri dan si Arnold tengil. Apa kabar ya mereka?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD