ARNOLD YANG MENGENAL

1831 Words
POV Raka Aku sedang berusaha membuang pikiran tentang perjodohan dengan fokus pada data-data yang ditunjukkan monitor komputer kerjaku. Sudah dua bulan berlalu sejak perintah mencari permaisuri dari papa dan mama, yang bisa kalian tebak sendiri aku tidak mendapatkannya. Kulanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda karena pengumuman mengejutkan dari kedua orangtuaku. Tapi sungguh, aku benar-benar tidak peduli siapapun yang katanya harus kunikahi itu. Alahhh.. seolah dia sudah kuhamili saja sehingga aku wajib bertanggungjawab. Tunggu saja, dia yang akan memilih untuk menolak pernikahan itu, akan kupastikan. Tok.. tok.. tok.. “Hahhh… siapa lagi sih, ganggu aja.” “Masuk.” Perlahan pintu terbuka memunculkan kepala Arnold. Dia benar-benar muncul di saat yang tidak tepat. “Ngapain lagi sih?” Ucapku dengan nada kesal. Bukannya takut, tapi dia malah nyelonong masuk dengan tampang sok polosnya. Setelah menutup pintu kembali, ia berjalan ke arah sofa yang berada di sebelah kiri meja kerjaku. Dengan santainya ia mendudukkan pantatnya serta meletakkan lehernya pada sandaran. Aku memutar bola mataku, jengah dengan tingkah adik kurang ajar yang satu itu. Kulanjutkan pekerjaanku tanpa peduli akan kehadiran manusia itu. Tak ada niat untuk bertanya maksud kehadirannya di ruangan privasiku ini. Pasalnya, ia hampir tidak pernah berlama-lama di ruang 3 x 4 meter ini. Alamat akan ada sesuatu yang perlu disampaikannya. Tapi tak sedikitpun aku tertarik. Nominal rupiah yang harus kuperiksa lebih menggoda. Sudah cukup lama Arnold terdiam di sofa, bahkan beberapa kali mengganti posisi tubuhnya. Kadang ia duduk santai, kadang rebahan, bahkan buku yang sempat diambilnya tadi sudah tergeletak sembarangan di atas meja. Ia sedang duduk dengan tangan bersedekap menatap ke arahku. Sekalipun tidak kulihat secara langsung, tapi aku sadar jika ia sedang melihat ke arahku. Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Ternyata sudah 3 jam bocah itu berada di ruanganku tanpa sepatah kata. Aku menutup layar komputer karena perutku mulai meronta minta diisi. Jelas saja, sebab jam makan siang sudah sejam berlalu. Aku merupakan tipe orang yang memiliki pola makan di jam jam yang sudah tertentu. Berhubung sejak SMA sudah mengalami gejala GERD, jadi mau tidak mau semua harus dipola dengan rapi. Aku beranjak dari kursi kerja sambil meregangkan otot-ototku yang terasa kaku selama 5 jam terakhir hanya duduk. “Sudah selesai?” Tiba-tiba saja Arnold membuka suara. Kukira anak itu sudah berubah bisu karena tidak mengeluarkan suara sedikitpun sejak tadi. “Hmmm..” Aku hanya menggumam memberi jawab. Tubuhku masih butuh peregangan. “Ada yang ingin kubicarakan.” Hubunganku dan Arnold memang tidak seperti abang adek pada umumnya. Kami menomorduakan formalitas tata krama. Sebagai sesama pria, kuakui Arnold bisa bersikap dewasa saat berhadapan denganku, berbeda jauh jika dia sedang bersama perempuan, mama dan Aruni misalnya. Ia akan bertingkah seperti bocah SD. Kalian akan takjub dibuatnya. “Sejak tadi kau duduk di sana karena ingin menyampaikan sesuatu? Apa kau berubah jadi sedikit sopan?” Ucapku sarkas. Pada kenyataannya, bocah itu tidak biasanya menunggu orang lain dalam hal menyampaikan keinginannya. Akan lebih normal jika ia disebut tukang serobot, suka menyela pembicaraan orang. Dan sekarang dia bahkan menungguku selesai kerja hanya untuk menyampaikan sesuatu? Luar biasa keajaiban. Bisa masuk rekor Guinnes enggak ya kira-kira? Nominasi perubahan kepribadian paling mengesankan. “Ini tentang cewek yang akan dijodohkan denganmu.” Mendengar topik pembahasannya, aku sedikit termangu. “ Sepertinya topik serius.” Aku kembali duduk di kursi singgasanaku. Aku merasa pembicaraan ini tidak bisa diselesaikan dengan cara berdiri, kasihan kakiku pegal. Jadi aku duduk saja, berhubung si Arnold kalau bicara biasanya lama. Kecuali setan bisunya muncul kayak tadi. Kalau lagi mode bisu, dia bisa tidak bicara seharian. “Jadi apa yang cukup menarik tentang dia?” Aku melipat tanganku dan menegakkan daguku. Membuat wajahku menjadi lebih serius. “Aku kenal cewek yang dijodohkan untukmu.” “Ohh… wow.” Aku tidak terlalu kaget jika Arnold mengenal gadis itu. Mengingat sepak terjang adik bungsuku ini yang suka merayu perempuan. Dan memang ia sangat ulung bagian mendapatkan perempuan. Eh.. jangan negatif dulu, kami tetap menjaga norma yang ada kok. Pantang bagi kami menyentuh perempuan sebelum menikah. Biarpun aku tahu Arnold mengoleksi beberapa blue film, tapi dia tidak pernah mempraktekkannya. “Aku serius, dia putri salah satu teman mama.” Lanjutnya. “Anaknya baik kok, tomboy, dan sedikit bar-bar.” Untuk yang terakhir, intonasi suaranya sedikit melemah. Aku jadi penasaran sebar-bar apa gadis itu. “Lalu?” Aku masih berpura-pura tidak peduli. Toh aku juga memang tidak peduli siapa gadis itu. Memangnya aku punya pilihan? Tentunya selain membuat perempuan itu nanti memilih membatalkan perjodohan ini. “Aku pernah menyukainya.” Arnold mengungkapkannya sembari menunduk, aku memperhatikan perubahan mimik wajah itu. Apa adikku ini masih memendam rasa pada gadis itu? Pertanyaan itu yang terbersit seketika dalam benakku. Tangannya terlipat namun aku melihat ada gelagat gelisah hanya dengan wajahnya yang tertunduk.  Mulutku sangat gatal ingin bertanya pada intinya. “Apa kau masih menyukainya sampai sekarang?” Aku bukannya khawatir jika dia bisa saja berencana merebut calon istriku itu. Justru aku akan mendukungnya 1000% jika saja dia tidak punya calon istri juga. Mau dikemanakan perempuan yang katanya akan segera dia nikahi itu? Tidak lucu bukan, pacarannya sama siapa, tiba giliran mau nikah yang diundangan nama siapa. Arnold mengangguk lemah. Spontan aku menarik nafas panjang. Sepertinya ini akan sedikit rumit. “Jadi maksud dan tujuan kamu bicara padaku apa?” Sudah kubilangkan aku tidak suka basa basi yang membuat pembahasan jadi basi. “Dia tidak menyukaiku. Tidak pernah sekalipun. Dia menganggapku sebatas teman. Aku bahkan memintanya jadi pacarku beberapa kali sejak SMA. Tapi dia tetap bilang tidak bisa menerimaku.” Sejenak Arnold diam. Entah apa yang sedang dipikirkannya. “Aku akui rasa itu masih ada, bahkan jika diminta memilih, aku akan lebih memilih dia daripada Syifa.” Syifa itu pacar yang rencanya akan dinikahinya. “Lalu maumu apa?” “Aku mengenalnya sejak kecil bang. Kak Aruni juga mengenalnya. Aku bisa menjamin, jika abang cukup beruntung mendapatkannya. Dia benar-benar lucu dan tipe orang yang tulus. Aku tidak tahu apa nanti dia akan mencintaimu, karena selama ini alasan dia menolakku karena dia tidak bisa mencintaiku. Dan dia tidak mau menjalin hubungan kekasih tanpa ada cinta.” Baiklah, sepertinya ini masih sesi curhat. “Aku mengenalmu bang, dan aku tahu kau tidak mencintainya. Kalian bisa kukategorikan jenis manusia dengan karakter sama-sama keras. Tapi Nadine itu selalu berusaha menyenangkan semua orang, terlihat kuat walau sebenarnya dia juga perlu dikuatkan. Dia terlihat tomboy, padahal aslinya cantik banget kalau dandan.” Seulas senyum terbit di bibir Arnold, seolah ia sedang membayangkan si cewek yang sedang kami bahas. “Dia bar-bar, tapi tegas dan disiplin. Untuk soal itu abang tidak perlu takut jika dia perempuan manja. Aku hanya minta sama abang, meskipun abang nanti tidak bisa mencintai dia, jangan sakiti dia. Dia perempuan yang sensitif, kadang dia bisa menelisik jauh ke dalam ucapan kita.” Selama Arnold membicarakan perempuan itu, matanya selalu menatap kosong, seolah sedang menggambarkan sosok yang sedang dibahasnya. Tak sekalipun matanya menatap ke arahku. “Kalau kamu sebegitu kenalnya dengan dia, kenapa kamu tidak minta sama mama agar kamu saja yang dijodohkan dengannya?” Tukasku langsung. Aku tidak mau jika nanti pada akhirnya aku harus menikah dengan perempuan itu, malah menciptakan kecanggungan diantara aku dan adik kandungku. Lagipula, aku juga belum mengenalnya, harusnya Arnold masih punya kesempatan. Tapi lihat, dia malah menggeleng dan masih dengan ekspresi yang sama sejak tadi. “Kenapa?” Tanyaku penasaran. “Apa abang pikir, abang orang pertama yang tahu jika aku suka dengan Nadine?” Aku hanya mengedikkan bahu saat matanya menatap ke arahku dengan pertanyaan tersebut. “Orang pertama yang tahu perasaanku itu kak Aruni, lalu mama. Aku mulai menyadari perasaanku saat kelas 2 SMA. Sejak saat itu, mama intens bertemu dengan tante Rani karena permintaanku. Agar aku punya alasan untuk bertemu dengan Nadine. Ketika dia menolakku saat SMA, aku belum putus harapan. Hingga saat kelulusan, aku kembali menyatakan perasaanku, tapi dia menyuruhku mencari perempuan lain. Aku bilang aku akan pergi ke Australia, dan dia menitip doa agar aku menemukan seseorang di Aussie. Hahh… Seblak-blakan itulah dia. Saat di Aussie, aku masih berusaha untuk mendapatkan hatinya, tapi hasilnya sama saja. Sampai akhirnya dia nangis dan minta tolong agar aku lupain perasaanku sama dia. Bayangin bang, dia sampai mohon.” “Tunggu tunggu…” Arnold menatapku bingung. “Aku bayangin dulu ya.” Sontak wajah memelasnya berubah kesal. Gini kalau kebiasaan nyeleneh sama si bocah, kadang lupa kapan serius kapan bercanda. “Ok lanjut.” Aku sudah tidak sanggup melihat ekspresinya yang menahan marah itu. “Kan aku jadi lupa tadi sampai mana.” Ia berdecak kesal. Tapi malah terasa lucu bagiku. “Oke, sampai dia mohon-mohon.” Kucoba mengingatkan batas penceritaannya tadi. “Nah, jadi dia mohon sambil nangis gitu. Jadi aku cerita sama mama. Terus mama bilang, jangan dipaksain.” Cukup lama dia diam hingga kurasa ceritanya sampai di sana saja. “Sudah? Gitu saja?” Ia mengangguk polos. Aku justru jadi bingung, hubungan ceritanya samaku apa? “Jadi hubungannya samaku apa?” “Sebenarnya yang nyuruh mama jodohin dia ke abang itu, aku.” APA???? “Tadi kau bilang apa? Kamu minta mama jodohin aku sama perempuan itu?” Aku berusaha memperjelas apa yang diucapkan bocah tengik itu barusan. Dan dia lagi-lagi mengangguk tanpa rasa berdosa. Astaga… bagaimana bisa aku punya adik yang menjerumuskan abangnya sendiri. “Tapi kenapa?” Tuntutku, aku butuh klarifikasi. “Karena aku nggak rela jika Nadine sama orang lain. Meski aku nggak bisa memiliki dia, tapi setidaknya dia tetap jadi bagian dari keluarga ini.” Tuturnya dengan tenang. Tapi malah membuatku kehabisan akal. Alasan macam apa itu? Aku geram, ingin rasanya kubenturkan kepalaku ke dinding, berharap tiba-tiba aku amnesia atau semua ini ternyata hanya mimpi. Namun tak mungkin, ini adalah realita, dan kalau kepalaku kubenturkan, bukannya amnesia, malahan sakit. Alhasil, aku malah menjambak jambak rambutku, daripada tanganku melayang ke bocah di sofa itu. “Dia juga pasti cocok sama abang. Dia suka cowok cuek yang sedikit susah ditaklukkan. Jadi dia tidak akan bermasalah dengan sikap cuek abang. Abang juga akan bisa bersosialisasi dengannya, dia cekatan, pintar, rajin, dan memenuhi standard kriteria istri masa depan abang.” Dia kembali memaparkan apa yang bahkan, aku tidak tahu dia bisa mengetahui semua itu dari mana. Ahhh… pasti karangan. Dasar makhluk setengah absurd. “Mending lu keluar deh, beneran. Rasanya gue pengen ngebunuh orang.” Ucapku dengan nada menekan. Aku benar-benar sedang emosi dan salah-salah bisa melampiaskannya tanpa berpikir. Apalagi sumber masalahku sedang berada di ruangan yang sama, sasaran empuk untuk mendinginkan kepala. “KELUAR ARNOLD!!!” Kulihat dia masih menatapku dengan heran tanpa beranjak sedikit pun. Namun setelah aku berteriak, secepat kilat kakinya berlari ke pintu hingga bunyi berdebum terdengar saat pintu tertutup karena tarikan kuat. Aku kembali menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Kurasa pikiranku yang sekarang gatal minta digaruk. Sungguh bocah tengik yang naasnya adik kandungku itu tidak berpikir sebelum bertindak. Bagaimana bisa dia menyarankan perjodohan ini, dan pasti dia juga yang meminta mama untuk memaksaku menerima si cewek itu. Demi apa, si Arnold enggak jelas itu yang cinta sama itu cewek, kenapa aku yang dipaksa nikah?  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD