DIJODOHKAN

1559 Words
POV Nadine Aku baru saja kembali ke rumah dari perjalananku keluyuran bersama teman-teman yang kebetulan tidak punya kesibukan. Lumayanlah mengisi kekosongan waktuku yang memang sudah 2 bulan ini melongpong. “Mama… Lia pulang…” ucapku sambil berteriak memberitahu kehadiranku. Tak ada jawaban apapun. Aku semakin memasuki rumah dan sampailah di ruang tamu. Si mama sedang asyik menatap layar televisi. Aku mendengus kasar, bisa-bisanya anak sendiri diabaikan karena TV. “Nonton apaan sih? Serius amat.” Aku ikut duduk di sebelah mama. “Lihat saja sendiri.” Mode serius, tidak boleh diganggu, kalau tidak siap dicueki. Emakku emang the bestlah, padahal yang ditonton ternyata cuma sinetron yang istri ditelantarin suami. Basi banget deh, itu cerita setiap hari begitu begitu saja. Seolah tidak ada konten yang lebih mendidik. Apa semua emak-emak kalau lagi nonton sinetron begituan emang abai pada yang lain ya? Sudah 15 menit aku duduk menatap ibuku tercinta, tersayang di hadapanku. Sialnya pandangannya hanya tertuju pada layar kaca. Hmm.. sedihnya, mending si emak ikut papa tugas saja kalau toh di rumah juga bukannya ajak anaknya ngobrol. “Ma..” Aku mencoba mengalihkan perhatian mama, entah sudah yang keberapa kali. “Hmmm…” Jawabannya gitu-gitu saja dari tadi. Pas iklan ngapain, kalian pasti bertanya. Kalau lagi satu stasiun iklan, diganti ke saluran lain. Alhasil tidak ada yang namanya iklan. Pintar banget, pantes anaknya kayak aku. “MAMA….” Akhirnya kesabaranku habis. Berhasil, mama menatapku dengan pandangan kesal. Bodo amat. “Apaan sih kamu, ganggu saja. Sana ke kamar, makan, asal jangan ganggu mama.” Iya.. dimarahin. “Aku dari tadi di sini loh mam, masa anak sendiri dicueki. Apa aku kalah cantik sama cewek ganjen yang di TV itu?” Oke, mari mulai  mode manja manja menjijikkan. Bukan aku banget, tapi biasanya berhasil. “Uhh… anak mama..” Mama meraih kepalaku lalu mendekapnya di dadanya. Otomatis, tanganku merengkuh pingganggnya. Pelukan nyokap itu memang paling nyaman. “Kenapa?” “Nggak ada apa-apa, Lia Cuma nggak suka dicueki kayak tadi.” “Kamu itu, sudah besar juga masih saja cemburuan kayak anak kecil.” Aku melepaskan pelukanku dan menatap wajah mama yang cukup dekat denganku. Tangannya masih sibuk membelai rambutku. “Mama sadar nggak sih aku dari 15 menit yang lalu sudah di sebelah mama, tapi mama nggak lihat ke aku sama sekali. Kan aku jadi kesal.” Sengaja bibirku kumonyongkan. “Hmm.. bibir kamu ini.” Mama menarik bibirku makin maju. “Ihh.. sakit tahu ma.” “Makanya jangan cemberut-cemberut, jelek. Gimana kalau nanti calon suami kamu lihat tampilan kamu monyong begini. Dia bisa-bisa illfeel lihat kamu.” Jelas mama sambil membuat kepalaku di bahunya dan tetap mengelus kepalaku. “Mama ini, ngomongnya calon suami, pacar saja nggak ada.” “Bentar lagi ada.” Aku mendongak melihat wajah mama yang biasa saja. Malah dia sudah nampak serius melihat ke sinetron kesukaannya itu lagi. “Maksud mama apaan sih? Kayaknya dari kemarin Lia perhatikan, mama ngomong suka ngelindur. Bilang calon-calon suami terus.” “Nanti tunggu papa pulang dulu, baru kamu tahu.” “Kenapa enggak sekarang saja?” Desakku tak sabaran. “Biar papa kamu saja yang jelasin.” Akhirnya aku diam saja. Memaksa mama untuk buka suara tidak akan berhasil jika sudah diputuskan untuk menunggu si papa. Hatiku langsung merasa tidak tenang, ada bau-bau mencurigakan. *** “Lia, makan.” Suara mama menggelegar di seluruh ruangan di rumah kami yang sebenarnya tidak luas luas banget. “Ya ampun ma, nggak usah teriak-teriak juga, Lia belum tuli.” Aku berjalan menghampiri meja makan. Sudah ada papa dan mama yang duduk tenang menungguku. Melihatku mendekat, mama mulai bergerak menaruh nasi dan segala lauk pauk ke piring. Di rumah memang mama selalu melakukannya jika sedang makan bersama. Si mbak hanya bagian masak dan menyajikan di meja, bagian membagi ke piring urusan mama. Mamiable banget dong. Kami makan dalam hening, seperti kebiasaan setiap hari. Dulu, sebelum yang itu terjadi, kami memang selalu menyempatkan sarapan dan makan malam bersama. Selagi makanan di piring belum habis, pantang bagi kami untuk buka suara jika tidak urgent, semisal minta tambah. Kalau mau bicara, selesai makan dulu. Tak sampai 30 menit, kami sudah selesai menyantap hidangan, sudah juga menyeka bibir. Si mbak juga sudah memindahkan piring-piring kotor dari meja. “Ada yang ingin papa dan mama bicarakan padamu.” Aku  menatap ke wajah lelaki yang sudah membesarkanku selama 23 tahun ini. Meski sudah berusia setengah abad lebih, tapi beliau masih tampan. Makanya anaknya cantik, muji dikit. Tapi tak bisa kupungkiri, ada gurat-gurat keriput yang sudah tampak menghiasi wajahnya yang tegas. Ahh.. waktu begitu cepat berlalu. “Minggu depan kamu akan papa kenalkan dengan calon suamimu.” “Hahh??” Tak ayal aku kaget, gimana tidak. Aku baru sarjana, kerja saja belum, tiba-tiba mau dikenalin sama calon suami. Ingat lho, CALON SUAMI bukan calon tunangan. Artinya, langsung nikah berarti. “Papa bercanda ini?” Aku masih berusaha menekan kesadaranku agar tetap waras, mana tahu papa hanya ngeprank. “Mama dan papa tidak bercanda sayang.” Itu mama yang menimpali. “Kok gitu?” Jelas saja aku tidak terima atas apa yang barusan ditawarkan, lebih tepatnya diberi tahu. “Kamu kenal tante Afri kan?” Aku mengangguk mengiyakan, jelas saja aku masih ingat sahabat mama yang satu itu. Bagaimana bisa lupa kalau pernah hampir tiap minggu berkunjung ke rumah sama si Arnold tengil. Sebenarnya yang buat ingat anaknya itu sih. “Kamu akan kami jodohin sama anak tante Afri.” Mama mengucapkannya dengan nada datar, seolah itu adalah sesuatu yang tidak boleh aku bantah. Tapi tunggu, anaknya yang mana? “Kenapa?” Niat mau bertanya anak yang mana, malah keluar dari mulut lain. Hati, otak dan mulutku sepertinya sedang salah urat. Bisa beda gitu. “Papa dan mama rasa, ini yang terbaik. Supaya nanti jika mama dan papa sudah tiada, kamu ada yang menjaga.” Double kill, alasan macam apa itu? Memangnya mereka mau pergi ke mana? Ke Tuhan di surga? Ada pula direncanakan. “Tapi aku masih terlalu muda pa, ma. Lia belum berani ambil tanggung jawab sebesar itu. Lia masih pengen kerja, punya penghasilan sendiri, bisa ngasih sesuatu sama mama, papa. Kita bisa jalan-jalan keliling Indonesia dengan uang Lia. Lia masih punya banyak program hidup yang belum Lia wujudin.” Tanpa sadar aku menaikkan intonasi dan tempo suaraku. Serius, itu tidak disengaja, otomatis terbawa suasana. “Lia..” Mama memanggilku dengan suara lembut. “Ini demi kebaikan kamu sayang. Lagian, kalau kamu menikah, kamu nggak perlu kerja, karena pihak tante Afri minta kamu jadi ibu rumah tangga saja. Kebutuhan kamu akan tercukupi, dan soal mimpi-mimpimu, kan masih bisa kamu wujudin sama suami kamu.” Mama masih berusaha untuk membujukku. Tapi entah mengapa hatiku dongkol habis membayangkan agenda pernikahan mendadak ini. “Tapi tetap saja akan berbeda ma. Lia masih terlalu muda. Belum lagi nanti kalau diminta langsung punya anak. Big no, itu berbahaya.” Tenang saja, orangtuaku tidak akan kaget dengan pembahasan demikian. Mereka menganggapku sudah cukup dewasa selama ini, jadi untuk konten-konten dewasa tidak ada lagi yang perlu di sensor. “Itu terserah pada kalian. Tapi Papa berharap kalian segera punya anak jika sudah menikah. Jadi mama sama papa tidak akan kesepian.” “Nah itu, kalau aku menikah, siapa yang akan menemani mama sama papa?” Tolong kali ini biarkan aku lolos dari pembahasan unfaedah ini. “Memangnya selama kita di rumah kamu bukannya sibuk sama HP kamu saja?” Hmm.. kena sindir nyokap, mampus deh aku. “Iya,.. tapi kan ma, nanti pasti makin sepi.” Suaraku semakin lemah tak tahu harus memberi alasan apa lagi. “Ini demi kebaikan kita bersama. Setidaknya mama sama papa tidak perlu lihat kamu yang pengangguran. Dan lagi, kamu dipilih langsung oleh keluarga tante Afri, jadi papa yakin mereka akan sangat menyayangi kamu.” Terserah terserah terserah, papa mau bilang apa juga biarin. “Papa tidak menerima penolakan Lia. Kali ini papa mohon padamu untuk menurut.” Aku menarik nafas dalam menahan sesak di dadaku. Sakit banget yang ampun. Gini banget rasanya dijodohin, bahkan sebelum aku pernah berjuang mencintai seseorang. Astaga.. aku jomblo sejak lahir yang langsung punya suami tanpa cerita masa pacaran. Ngeri amat, serasa di zaman Siti Nurbaya. “Ini bukan karena perusahaan papa bangkrut jadi mereka ngasih pinjaman, dan jaminannya Lia kan? Atau ini bukan karena papa perlu menjalin kerja sama dengan perusahaan mereka mungkin?” Aku sering membaca di novel-novel biasanya alasan perjodohan itu ya kisaran mencari kepentingan finansial. “Maksud kamu?” Wajah papa berkerut menandakan keheranan. “Iya, maksud Lia, papa nggak ngasih Lia ke mereka buat mendapatkan keuntungan finansial kan? Papa nggak jual Lia kan?” Suaraku mulai terasa serak. “Hahaha..” Lah kok malah tertawa sih mereka. “Tidaklah sayang, kami menjodohkanmu karena pihak tante Afri suka padamu. Putra sulung mereka berusia 28 tahun, dan mereka ingin anaknya itu segera menikah. Jadi mereka memilih kamu jadi menantu mereka. Dan kenapa mama dan papa memberi izin itu karena mama dan papa percaya pada mereka, jika kamu akan bahagia di sana. Supaya kami tenang nak, mama dan papa nggak mau kehilangan anak lagi. Dengan kamu menikah, akan ada orang-orang yang turut menjaga kamu juga.” Tutur mama dengan wajah sendu hampir menangis. Uhh.. jadi ikutan mellow. Aku hanya bisa menunduk, tak tahu harus menjawab apa. “Lia pikirkan dulu. Lia butuh waktu untuk mempersiapkan diri. Lia harap papa mama tidak memaksa.” Putusku dan aku segera beranjak ke kamar.  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD