Raka
Dering telepon berbunyi nyaring, menghentikan fokusku dari layar monitor laptop. Kulihat siapa gerangan yang mengganggu kegiatanku di siang ini. Dahiku mengernyit secara otomatis tat kala membaca mama yang menghubungi.
“Iya ma?”
“Jangan lupa nanti malam ya sayang, kamu pulang lebih cepat. Kita akan ke rumah tante Rani.”
“Siapa tante Rani?” Tanyaku polos, karena aku memang tidak tahu siapa itu dan kenapa aku harus pulang cepat hanya untuk ke rumah tante itu.
“Ckk.. kamu sudah lupa hari ini kamu akan berkenalan dengan putrinya tante Rani?”
Aku mengurut keningku yang tiba-tiba saja sakit. Ini kenapa aku susah sekali paham arah pembahasan mama ya. Aku menarik nafas dalam, menetralkan emosi yang ingin meletup.
“Emang buat apa aku kenalan sama putri tante Rani itu sih ma? Lagian, Raka sibuk, bentar lagi bakalan ada audit keuangan, jadi Raka harus memeriksa semua data.” Jawabku berusaha mengeluarkan nada selembut mungkin.
“Hari ini kamu kenalan dengan calon istri kamu. Jadi mama tidak mau tahu, no alasan alasan. Pokoknya jam 5 sore kamu sudah harus sampai ke rumah, atau bakalan mama jemput ke kantor. Titik, bye.”
Sambungan telepon langsung tertutup seketika. Aku bahkan belum memberi jawab. “Haduhhhh… pening banget dah. “ Aku geram sendiri menatap layar gawaiku. Hanya dengan mendengar mama membahas calon-calon istri itu, rasanya aku ingin memecahkan sesuatu.
“AKHHH…” kutarik rambutku menyalurkan emosi dan rasa kesal yang sudah menyumbat kepalaku. Sungguh, aku benci dengan keadaan yang menimpaku saat ini. “Perjodohan sialan.”
Panggilan barusan bahkan tidak berlangsung lebih dari 2 menit, tapi efeknya parah, sangat parah. Sampai-sampai sekretarisku kena sembur sebagai pelampiasan amarah. Hingga pukul 2, aku berusaha menata pikiran dan emosiku yang sempat kalap. Pada akhirnya aku menutup pintu ruanganku, menghubungi perempuan yang menjabat sebagai sekretarisku agar tidak menerima tamu siapapun. Kurebahkan tubuhku pada sofa yang tersedia di ruanganku. Kutenangkan pikiran selama 30 menit.
Pekerjaanku tidak maksimal, lebih tepatnya terbengkalai lebih dari setengah jam. Pikiranku bercabang memikirkan bagaimana untuk membuat perempuan itu nanti menolak pernikahan ini. Ada beberapa ide gila yang terpikirkan, dan juga hasil pencarian di internet, tapi aku ragu untuk melakukannya. Pasalnya aku harus membuat gadis itu illfeel. Sekarang kalau dianalisis dari info yang disampaikan Arnold minggu lalu, anak itu cukup bar-bar. Berarti saran yang diberikan adalah aku pura-pura jadi laki-laki kemayu. Demi tinggi tubuh spongebob yang tidak berubah, itu sangat menjatuhkan harga diriku sebagai seorang pria dewasa. Lalu bertingkah sok imut ataupun bermanja manja dengan si perempuan. Double gila, itu namanya aku yang seolah menginginkan dia. Big no.
Aku bahkan melupakan makan siangku karena mendadak tidak selera membayangkan acara perkenalan nanti. Pukul 3 sore, mama kembali menerorku sambil menekankan jika aku harus pulang pukul 5 sore. “Hufftt..” aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda.
Ketika pukul 4 sore, panggilan mama membuatku mengalihkan atensi dari berkas-berkas yang sedang kutandatangani. Ada rasa kesal melihatnya, pasti tujuannya untuk mengingatkanku agar pulang pukul 5 nanti. Ini ketiga kalinya, dan sungguh itu membuatku muak. Kuabaikan panggilan mama, dan mematikan bunyi notifikasi. Kulanjutkan menyelesaikan pekerjaanku.
Pukul 5 kurang 15 menit, aku menghentikan aktivitas. Sekalipun hati ini rasanya tidak ingin berjumpa dengan keluarga gadis itu, namun aku tetap harus menjaga nama baik keluargaku. Ingat, ini demi nama baik dan sopan santun. Aku tidak ingin merusak kehormatanku hanya karena perkara ini. Kukemasi barang-barangku, pekerjaan yang belum selesai kusimpan ke dalam flashdisk untuk kulanjutkan di rumah, demikian juga berkas-berkas yang harus k****a ulang. Tak butuh waktu lama untukku meninggalkan kantor.
Sesampainya di rumah, kudapati mama yang mondar-mandir di teras. Begitu melihatku keluar dari mobil, wajahnya langsung sumringah seketika. “Mama kira kamu lupa, mama sudah telepon dari tadi tapi kamu tidak mengangkatnya.” Celotehnya sambil tetap berdiri menungguku menujunya. Ku salam tangannya.
“Tadi Raka sibuk banget ma, maaf ya notifikasinya dimatikan. Jadi Raka nggak tahu kalau mama nelpon.” Ucapku berkilah. Terserah deh, yang penting aku tidak berbohong.
“Yasudah, sekarang kamu segera mandi, dan kenakan pakaian terbaikmu. Oke.” Senyum itu yang membuatku tidak sanggup menolak permintaan mama. Ia sepertinya sangat bahagia dengan perjodohan ini. Entahlah, tapi mama terlihat jauh lebih bersemangat menyambut perempuan itu sepanjang sejarah aku dikenalkan dengan gadis-gadis sebelumnya. Ia mendorong tubuhku pelan karena aku masih mematung menikmati senyumnya yang menenangkan hati.
Dalam diam aku beranjak ke kamar dan mematuhi arahan mama. Tapi tidak untuk pakaian, aku mengenakan yang kurasa nyaman saja. Sebuah kemeja batik parang rusak berlengan pendek, dan celana kain berwarna hitam. Jam menunjukkan pukul 6 saat aku turun dari kamarku menuju ruang tamu. Di sana sudah ada mama yang terlihat cantik mengenakan blazer biru, papa juga terlihat rapi mengenakan batik. Jangan lupakan si bungsu yang mengenakan celana jeans dan kaos oblong.
Mereka menatapku begitu sampai di hadapan mereka. “Lho, kamu tidak pakai kemeja dan jas?” Mama langsung heboh meneliti penampilanku yang memang terlihat lebih sesuai untuk ke mall, daripada ketemu calon mertua.
“Biarin saja ma, lagian Nadine juga nggak bakalan peduli sama pakaian.” Itu Arnold yang menjawab. “akan lebih baik kita berangkat lebih cepat, karena dia sangat tidak suka orang yang ngaret.” Lanjutnya sambil berdiri mengambil kunci mobil dari atas meja.
Dia melangkah ke luar rumah. Wah.. sepertinya Arnold kenal baik gadis itu luar dalam. Rasa tidak nyaman kembali merasuk ke dadaku. Kutarik nafas dalam. Aku tidak pernah membayangkan akan dijodohkan dengan sosok yang ternyata disukai oleh adik kandungku. Percayalah ini adalah tantangan yang berat. Apalagi sejak awal sudah dikasih ultimatum untuk tidak menyakiti anak itu nanti.
Mama menautkan tangannya di lenganku dan menarik pelan tubuhku agar segera keluar. Aku masih terdiam sejak tadi. Sebenarnya aku juga tidak memikirkan apapun. Kepalaku rasanya tidak mampu atau tidak mau memikirkan apapun. Mungkin lebih baik membiarkan semua berlangsung sebagaimana mestinya. Biarkan waktu yang mengarahkan. Sejujurnya aku sudah bingung untuk memilih jalan terbaik, di satu sisi aku tidak tertarik dengan perjodohan ini. Tapi ada sisi lain yang harus kujaga, kebahagiaan ibuku dan juga perasaan adikku yang tentunya akan kecewa jika aku mengambil langkah penolakan.
Sepanjang perjalanan kami hening, atau lebih tepatnya aku yang diam menatap jalanan di depanku. Mama berceloteh gembira di belakang bersama papa, dan sesekali ditimpali Arnold yang menyupir. Tanpa disengaja kami justru sampai berbarengan dengan pihak keluarga yang ingin dikenalkan. Aku bahkan tidak ingat siapa nama mereka.
Setelah melempar senyum basa basi, kami masuk ke ruangan yang sudah direservasi sebelumnya. Kedua orangtuaku duduk berhadapan dengan orangtua gadis itu. Arnold duduk di sebelah papa, dan aku duduk di sebelah mama yang berhadapan langsung dengan gadis itu.
Sejak pertemuan di parkiran, aku langsung bisa menilai gadis itu tidak pandai berdandan. Wajahnya terlihat pucat tanpa bedak. Jika biasanya gadis-gadis yang dikenalkan mama padaku akan mengenakan pakaian bagus, seminimal gaun kurang bahan, tapi dia hanya mengenakan kemeja dan celana kain. Rambut di cepol ke atas, menunjukkan leher putihnya yang membuatnya sedikit terlihat seksi. Bibirnya saja tidak terpoles apapun, tapi ku akui ia memiliki bibir menggoda yang sudah softpink. Ahh.. pikiranku pasti sudah ketularan Arnold, bisa-bisanya aku memikirkan hal-hal m***m begitu.
Dia juga hanya tersenyum dan memeluk ibuku tadi, menyalam ayahku. Setelah itu menyalam tanganku sambil memperkenalkan namanya, Nadine Aurelia. Suaranya cukup lembut, dan senyumnya ramah. Kalian mungkin akan heran ketika tiba giliran ia bersalaman dengan adikku. Mereka bertingkah layaknya teman lama yang sudah lama tidak bertemu, walau memang iya sih. Tapi bagaimana mungkin mereka sangat akrab hingga skinship begitu. Bahkan saat kami akan masuk ke resto, mereka masih asyik bercanda di belakang. Egoku sedikit tersentil, yang akan jadi calon suaminya itu aku, tapi kenapa dekatnya pada adikku?
“Baiklah, kita makan saja terlebih dahulu sebelum membicarakan hal lainnya.” Ayah membuka suara dan kami mulai memesan makanan. Ketika semua orang sudah selesai memesan keinginan mereka, gadis di depanku masih sibuk mempertimbangkan apa yang akan dimakannya. Ia bahkan dengan serius menanyakan isi dari menu-menu itu pada pelayan. Sepertinya hidup dengannya akan ribet. Memesan makanan saja lama, maunya banyak banget.
Menunggu pesanan datang, orangtuaku bersendau gurau dengan tante Rani dan om Orin. Arnold dan Nadine juga asyik dengan gawai mereka masing-masing. Tapi bisa kutebak mereka sebenarnya sedang berkirim pesan, terlihat dari wajah mereka yang sama-sama terkekeh. Bisa-bisanya mereka mengabaikanku, padahalkan yang akan dijodohkan itu kami, kenapa dia sama sekali tidak tertarik bicara denganku? Biasanya, gadis-gadis yang dikenalkan mama lebih cenderung aktif menggodaku dan berbicara panjang lebar. Gadis yang satu ini memang beda, cukup menantang. Jangan tanya aku, tentu saja diam dan hanya sesekali menjawab saat om Orin atau tante Rani bertanya seputar pekerjaan.
***
“Jadi, bagaimana kira-kira nak Raka?”
Om Orin membuka suara setelah cukup lama selesai makan malam. Aku yang tiba-tiba ditanya bingung hendak menjawab apa, berhubung aku juga tidak tahu arah pembahasan ke mana.
“Apanya yang bagaimana om?” Tanyaku polos.
“Dengan anak om? Nadine? Cantikkan?”
“HAHAHAA…”
Bukan aku yang tertawa. Justru yang sedang dibahas yang tertawa. Aku bahkan tak percaya dia bisa tertawa lepas begitu, biasanya anak gadis itu kan jaim-jaim, malu-malu kucing. Ini malah malu-maluin.
“Sorry.. pftt..” Apanya yang lucu coba? Bisa-bisanya dia sampai tertawa begitu banget.
“Lia..” Tante Rani menegur putrinya lembut, sembari menepuk punggungnya. Tapi anak itu malah minta maaf, berusaha menahan tawanya dengan menarik nafas dalam.
Aku menatapnya heran, bisa pula ada perempuan seperti dia ya, jadi illfeel. Dia balik menatapku sambil nyengir tanpa rasa bersalah. Dia memang tidak salah, tertawa bukan kesalahan.
“Jadi gimana nak Raka?”
“Selow, aku tidak biasa dibilang cantik, yang bilang aku cantik itu dalam sejarah hanya mama papa sama si Arnold.” Kalian tentu sudah bisa menebak siapa yang menjawab kan?
Aku menarik nafas, karena tidak diberi kesempatan memberi penilaian sendiri. Ini perempuan tidak punya sopan santun sama yang lebih tua apa?
“Jadi..”
“Kamu cantik kok.” Mampus, kupotong ucapannya. Memangnya hanya dia yang bisa memotong pembicaraan orang.
Satu lagi yang unik dari dia. Kalau perempuan lain dibilang cantik biasanya akan bersemu pipinya, dia malah melotot. Kaget atau marah ya?
“Aku?” Sepertinya dia sangsi saat kukatakan cantik. Tapi aku tidak sedang berbohong kok, jujur saja dia memang cantik.
“Hmm..” Aku bergumam sambil mengangguk mengiyakan.
“Wah.. kayaknya kamu sudah tertular virus Arnold. Parah, besok langsung cek mata ya.”
Aku mengernyit mendengar balasannya. Ini perempuan waras nggak sih?
“Lia..” Lagi-lagi tante Rani menegurnya, kayaknya kali ini dibarengi cubitan di pinggang gadis itu. Terlihat dari wajahnya yang tiba-tiba meringis kesakitan sambil memiringkan tubuhnya.
“Ihh mama.” Protesnya.
“Nak Nadine lucu ya.” Giliran mamaku yang senyum senyum tidak jelas melihat tingkah bocah itu. Oh my, ini kenapa semua orang bisa suka sama gadis absurd ini sih? “Nanti kalau sudah nikah sama Raka, tinggalnya di rumah mama Afri ya. Pasti akan terasai ramai jika Nadine ada.” Jauhnya pembahasan.
“Hehehe.. tante bisa saja. Belum tentu juga kami cocok tan.”
Sontak semua hening, 6 pasang mata menatapnya penuh tanda tanya, termasuk aku. Kalau mungkin yang lain ketakutan, aku justru berharap memiliki kesempatan membatalkan perjodohan ini. Saat suasana hening begini, dia malah nyengir kuda. Aduhh.. tak bisa kubayangkan menikah dengan gadis aneh di depanku ini.
“Maksud kamu apa Lia?” Om Orin memutus keheningan yang tadi sempat memenuhi kami.
“Ha?? Ehh.. maksud Lia kan, mana tahu bang Rakanya punya pacar gitu, atau nggak suka sama Lia.” Jawabnya sedikit kikuk.
Wah.. aku tidak menyangka gadis ini cukup berani mengatakan hal demikian, aku saja tidak pernah memiliki nyali untuk mengatakan “aku tidak suka gadis bernama Nadine Aurelia.” Semua hanya ada di kepalaku. Ini akan menjadi kesempatan emas untuk melepaskan diri.
“A…”
“Kalau Lia sendiri bagaimana?” Belum juga aku ngomong, sudah diselip papa duluan. Nasib apes amat, tadi bocah depan yang motong sembarangan, sekarang malah papaku sendiri. Batal deh mengungkapkan isi hati.
“Mmmm..” Dia seperti sedang mempertimbangkan jawaban untuk papa.
‘Ayolah… kamu harus menolaknya Nadine. Katakan kamu tidak menerima perjodohan ini. Tolong katakan kamu menolaknya.’ Aku terus berharap dalam hati. Harap-harap cemas akan apa yang segera disampaikan gadis absurd ini.
“… Lia…, Lia nggak masalah sih om.”
JDUAARRRR… Bagai tersiram air dingin di gunung Kidul, menggigil jadinya. Kira-kira begitulah yang kurasakan, sudah harap-harap cemas hampir putus asa. Baru saja berpikir memiliki harapan untuk memutus persoalan pelik ini, malah dipupus habis khayalanku. Pasrah sudah.
Aku membuang nafas berat, pundakku luruh melemah. Tak ada lagi semangat seperti saat aku masih memiliki pengharapan jika gadis bernama Nadine ini mungkin akan menolak perjodohan. Tapi nyatanya aku terperangkap, dan akan segera terpenjara bersama gadis absurd yang menurutku setengah waras.
Asal kalian tahu, suasana mencekam yang tadi sempat hadir, kini berubah 180 derajat kecuali untukku. Orangtuaku, dan orangtua Nadine, termasuk si Arnold tengik juga terlihat lega dan sumringah. Luar binasa memang, apalah daya diriku yang menjadi korban intimidasi keluarga. 1 lawan 4, tambah lagi pihak perempuan 3, sudah tentu gagal.
“Kalau begitu kita bisa segera membicarakan masalah tanggal pernikahan dan segala hal yang berkaitan untuk itu. Bagaimana?” Mamaku nomor satu paling heboh. Tidak sadar apa, anaknya sudah tarik nafas dari tadi saking kesalnya.
“Ada baiknya untuk itu kita bahas lebih lanjut saja ma. Kita bisa membahasnya di rumah. Hari ini cukup untuk perkenalan.” Timpal papa. Malangnya nasibku tiada yang membela.
Kutatap gadis dihadapanku, kuharap sorot mataku sudah tampak tajam menghujam. Jika tadi kukatakan semua sumringah selain aku, sepertinya harus kurevisi ulang. Baru saja aku menemukan fakta baru, sepertinya gadis itu juga terpaksa dengan semua ini. Lalu kenapa tadi dia menerima? Aduhh…
Matanya balik menatapku dengan pandangan lesu tak sebergairah sebelumnya. Senyumnya juga hambar dan terkesan memaksa. Apa dia sedang berusaha meyakinkanku jika dia bak-baik saja? Aku justru jauh lebih tidak baik-baik saja. Sikapnya jauh lebih tenang, tidak grasak grusuk lagi.
Seketika aku mengingat Arnold. Kuarahkan pandanganku ke papa, mencoba menemukan wajah adik bungsuku. Jelas saja wajahnya juga kusut. Aku yakin, meski dia katakan ingin aku memiliki Nadine, tetap ada rasa tidak rela dihatinya. Bagaimanapun, hingga hari di mana dia membukakan semua isi hatinya padaku, dia juga turut menyampaikan jika sebenarnya masih ada rasa yang tertinggal. Hanya saja ia tak lantas mengungkapkannya secara gamblang.
Sekarang aku berada di tengah kebahagiaan para orangtua, namun kesedihan bagi kami. Kami bertiga yang diam-diam memiliki rencana sendiri, tapi memilih untuk mengikuti permintaan ayah ibunya. Jika aku karena tak ingin mengecewakan kedua orangtuaku, Arnold karena memang sudah ditolak mentah mentah, tapi tak bisa kutebak apa alasan Nadine. Gadis itu tidak mudah untuk diprediksi.