Nadine
Baru saja kami pulang dari resto tempat pertemuan antara keluargaku dan keluarga lelaki yang akan dinikahkan denganku. Sejak aku mengucapkan satu kalimat, yang singkatnya seperti frasa, mendadak semangat hidupku seolah hilang. Jika bisa ku flashback, aku menyesali apa yang tadi kuucapkan. Harusnya aku bilang 'tidak', tapi lihat yang terjadi. Entah setan b***t mana tadi yang numpang lewat, sampai kepalaku ikutan lola berpikir. Sekarang aku yang pusing sendiri menghadapi realita karena kebodohanku sendiri.
Apalagi tadi pas lihat abangnya si Arnold itu, mukanya dari awal ketemu di parkiran restoran sampai pulang, kayak orang mau membunuh. Sebenarnya aku sudah keringat dingin selama berada di ruangan, tapi sebisa mungkin kukendalikan agar tidak tampak keki. Tapi tetap saja, rasa gugup itu justru membuat tindakanku asal. Jadinya rugi sendiri deh, nasib.
“Kamu kenapa sih lemas dari tadi?”
Mama menegurku yang berjalan dalam hening serta tak bersemangat. Padahal biasanya aku paling tidak bisa diam. Kepalaku sudah penuh dengan makian dan u*****n penyesalan. Ingin rasanya melampiaskannya, tapi aku masih waras untuk melihat situasi dan kondisi, gila saja target pelampiasanku mama papa, big no.
“Nggak kenapa kenapa ma, hanya Lelah.” Cetusku berdalih tanpa melihat ke arah wanita yang sudah melahirkanku itu. Aku terus berjalan menyusuri ruang tamu menuju kamarku di arah belakang.
“Ahh…” Penat menggerayangi hati dan pikiranku. Kurebahkan tubuhku telentang di kasur, menatap langit-langit kamar berwarna putih gading.
Ini namanya penyesalan selalu hadir belakangan, kalau di awal namanya pendaftaran. Padahal aku sudah mempersiapkan diri dari rumah untuk menolak perjodohan itu. Tapi malah sebaliknya yang terucap. Bodoh memang, tapi mau bagaimana lagi, toh tak bisa diputar. Thomas Edison saja tak berhasil memutar ulang waktu, apalagi aku yang S1 saja butuh waktu lima tahun.
Flashback
Papa membuka pertanyaan yang tidak berfaedah sekali di awal pembahasan. Papa malah bertanya apa aku cantik atau tidak. Jelas saja aku terbahak. Aku benar-benar sudah hampir lupa sopan santun di depan orangtua karena merasa pertanyaan papa itu lucu. Aku sembari menatap sosok yang ditanya, wajahnya menampakkan bingung. Dia pasti bingung hendak menjawab apa.
Aku benar-benar mengakui jika sangat jarang orang yang mengatakan aku cantik. Niat awalku adalah membantunya menjawab pertanyaan papa yang tidak penting itu. Sekaligus mencairkan suasana yang menuju kikuk. Bayangkan saja jika aku ditanya soal kegantengan dia, dimana posisinya aku tidak suka dengannya. Pasti ragu untuk memberi jawaban terjujur. Jadi biar aku saja yang menyelesaikan masalah itu. Dan menyela lebih dahulu adalah pilihan terbaik saat itu.
Tapi sepertinya prediksiku salah. Dia terlihat menarik nafas seperti kebiasaan kawanku yang lagi menahan emosi kalau menghadapi tingkahku yang bar-bar tak tertolong. Tapi aku tidak tahu dia marah kenapa, tidak mungkin juga karena jawabanku itu kan.
Saat aku baru saja ingin melanjutkan ucapanku, tapi tiba-tiba dipotong begitu saja tepat di kata pertama. Dan dia mengatakan aku 'cantik', astaga aku melongo tak percaya.
Demi apa dia bilang aku barusan cantik? Dia tidak sedang berniat menggodaku kan?
Aku benar-benar tidak percaya dia akan memberi penilaian demikian padaku. Perlu bagiku untuk mengkonfirmasi apa yang barusan diucapkannya, karena aku memang masih meragukannya.
Dia hanya bergumam dan mengangguk sambil memulas senyum tipis.
Dalam sejarah aku hidup, yang biasa mengatakan aku cantik itu hanya dua pria, yaitu papaku, dan teman absurdku yakni Arnold yang memang otaknya juga kurang sedikit, lalu teman-teman perempuanku yang selalu mendorongku untuk mengenakan make up. Karena orang baru di depanku adalah saudara sedarah dari pria teraneh yang pernah kukenal, yaitu Arnold, maka besar kemungkinan dia ketularan adiknya. Menjadi sama-sama sedikit ... ya tahulah gilanya.
Pinggangku kena cubitan mama tiba-tiba. Wanita yang melahirkan aku itu memelototiku. Tentu saja aku protes.
Berbeda dengan mama yang geram melihat tingkahku yang bar-bar, tante Afri malah senyum-senyum nggak jelas. Padahal wajah anak di sebelahnya sudah mode kesal tingkat tinggi. Kentara sekali sepertinya dia juga tidak suka dengan rencana nikah-nikahan ini. Aku meringis dalam hati mendengar kata-kata harapan yang diucapkan tante Afri. Beliau tidak tahu saja kalau dan anaknya sepertinya sehati. Iya, sehati buat nolak. Lihat saja dari mukanya yang minta dicakar itu.
Aku menyahut lirih, menyampaikan sedikit kata hati yang sulit untuk dirampungkan, berkata jika kami mungkin tidak cocok. Niat hati ingin menolak secara halus tanpa harus menimbulkan kesalahpahaman.
Tanpa kusangka semua hening, 6 pasang mata menatapku tajam. ‘Astaga, aku salah ngomong ya?’ batinku. Aku menggaruk leherku canggung, tak tahu harus memulai kata dari mana untuk mencairkan suasana yang mendadak kaku.
Papa tiba-tiba mengeluarkan suara tegas, yang justru terasa seperti sedang mengintimidasiku. Perasaanku mulai tidak karuan tak terdefinisikan. Beliau pasti mencium bau-bau rencanaku.
Aku hanya bisa berkelit, mengatakan kebodohan jika bisa saja Raka sudah punya kekasih atau memang aslinya pria itu tidak suka padaku. Bodo amat, aku tidak benar-benar memikirkan lagi apa yang barusan kusampaikan. Tujuanku hanya lepas dari setiap mata yang memelototiku.
Kulihat abangnya si Arnold membuka mulutnya, hendak berkata tapi urung karena terpotong oleh suami tante Afri. Sialnya, pernyataanku justru dikembalikan kepadaku.
Mampus, kena jerat sendiri. ‘Aduhh.. aku harus jawab apa ini?’ Aku berusaha berpikir keras, apa kata yang baiknya kukatakan. Kutatap setiap sorot wajah di ruangan itu. Kulirik pria yang akan dijodohkan padaku, tapi dia juga hanya melihatku datar. Tanganku berkeringat, namun kupastikan ekspresi wajahku tidak akan berubah pias, sebab sudah terbukti dalam keadaan apapun, ekspresi wajahku tidak terlalu mengikuti pikiran ataupun hatiku. Kecuali aku menunjukkannya dengan keinginan sendiri.
Kepalaku rasanya memanas tak bisa fokus berpikir. Aku tak tahu apa yang harus diolah kepalaku. Auranya terlalu menekan dan itu membuatku gugup sendiri. ‘Tolongin aku dong..’ aku ingin mengutarakan itu pada dua pria muda di ruangan ini. Tapi mereka tidak bisa baca pikiran, apalagi baca kata hati.
Dan keluarlah frasa itu dari bibir kecilku. Seusai mengucapkannya, ingin rasanya kutepuk bibir tak bertulang ini. Bisa-bisanya mengucapkan kata kotor begitu. Aku menarik nafas dalam setelah sadar tak bisa menarik kembali yang telah kuucapkan. ‘Aku pasrah.’ Kenapa aku tidak menolak? Malah berkata 'tak masalah'? Bodoh.
Flashback off
Mengingat-ingat kejadian tadi, aku geram sendiri pada diriku. “b**o banget sih Lia, ini otak dipakai pada waktunya harusnya.” Makiku sambil menjambak rambut. Aku frustasi, apalagi mengingat raut wajah abangnya si Arnold. Mimik terakhir yang dapat kutangkap adalah aura permusuhan.
“Itu juga cowok sebiji, kalau memang dia juga enggak suka sama perjodohan ini, kenapa dia enggak bantu ngomong tadi? Dasar tempurung.”
Kutarik bantal di atas kepalaku. Menyembunyikan wajahku sambil berteriak lirih. Bisa bahaya kalau aku teriak kedengaran sama mama papa. Nanti dikira aku kenapa kenapa bisa berabe. Pada akhirnya aku kehabisan nafas sendiri.
Kini aku beralih pada guling di sebelah kanan. Setelah memperbantal bantal yang tadi kubuat menutupi wajah, kini aku memeluk gulingku. Memeluknya erat menyalurkan emosi yang sudah meronta ronta. Penyesalan memang terasa jauh lebih menyesakkan d**a.
Perlahan tapi pasti, aku mencoba menenangkan diriku sendiri dengan hening, diam, dan memikirkan solusi. Ini adalah strategiku ketika dalam suasana kalut. Menyadari kelemahanku yang tidak bisa terbuka kepada orang lain, aku lebih suka mengatasi emosiku dengan berhening cipta. Kadang jika sudah sampai sakit kepala, maka pilihanku adalah tidur.
Lama aku menimbang-nimbang pra dan pasca perjodohan ini. Aku sadar, jika langkah yang sudah kuambil tak bisa kutarik kembali. ‘Kata yang sudah terucap tak pernah lagi menjadi milik kita, makanya jangan ember’, itu pesan mama padaku. Dan apa yang sudah kuterima tadi tak bisa kutarik kembali lalu mengganti keputusan menjadi menolak. Sama saja aku mempermalukan keluargaku.
“Baiklah, jika aku harus menjalani semua ini. Maka mari kita lihat apa yang bisa membuatku menerima dirimu.”
Jangan heran jika aku berbicara dengan diriku sendiri. Itu kebiasaan yang kubangun sejak lama. Sudah kubilang aku tidak terlalu terbuka, jadi aku terbiasa membuka seluruh isi hatiku pada diriku sendiri. Seperti yang kulakukan saat ini.
Aku mulai membuat penilaian secara fisik pada cowok itu, aku bahkan lupa namanya siapa. Satu hal lagi yang perlu dirutuki dari diriku, yaitu sifat pikun. Aku harus bertemu seseorang minimal 3 kali dalam beberapa hari agar namanya bisa lengket di ingatanku, ini berlaku pada semua orang. Harap maklum jika aku tidak ingat nama pria yang dijodohkan padaku.
“Hmmm.. dia tidak terlalu buruk. Ganteng..” Aku mencoba membentuk diri dari pria tadi dalam imajinasiku. “Manis kalau senyum.” Ahh.. sebenarnya harus kuakui dia ganteng dan senyumnya manis sekali. Tapi sayang, tertutup wajahnya yang suntuk kayak kanebo kering itu. “Tinggi, well tidak terlalu buruk. Mahen masih kalah menurutku.”
Pribadi ini yang sulit untuk diprediksi. Aku sudah cukup sering berkecimpung di dunia tebak menebak karakter orang. Tidak semua orang bisa diprediksi dari raut wajahnya, apalagi kami barus sekali itu bertemu. Itu perkara yang sulit. Namun aku bisa mencari tahunya dari Arnold nanti. Kira-kira sifat abangnya itu bagaimana. Tebakan pertamaku, pasti dia tipe manusia dingin dan kaku.
Sekarang, dia mapan. Bahkan melebihi ekspektasiku dalam membuat standard penghasilan untuk calon suamiku kelak. Warisan dari orangtuanya tak perlu diragukan lagi. Mereka bahkan lebih kaya dari orangtuaku. Kemudian, dia juga kata Arnold punya usaha sendiri. Jadi pasti bisa disimpulkan kalau abangnya si Arnold itu punya uang banyak.
Dengan begitu aku akan aman sekalipun tidak bekerja. Cukup dia yang cari nafkah, dan aku ngurus rumah. Kerja sama yang baik, dan aku akan jadi istri yang baik. Hahaha…
Oke, sejauh ini dia masih tinggal sama tante Afri. Tapi kata Arnold, dia sudah memiliki rumah sendiri. Kalau perhitunganku tidak salah, bisa jadi kami akan pindah rumah setelah menikah. Hmm.. dia benar-benar calon suami idaman, andai saja aku bisa mencintainya.
Ahh.. bicara tentang hati, ini adalah problematika yang sangat rumit untuk dijelaskan. Aku belum pernah mencintai seseorang sebelumnya. Kalau hanya sebatas suka sih banyak. Bukan aku tidak mengerti, tapi hanya belum menemukan pelabuhan hati. Tapi kata orang, cinta akan hadir seiring berjalannya waktu.
“Baiklah, sepertinya bukan ide yang buruk menerimanya. Aku tidak perlu memikirkan cari pekerjaan, semua sudah tersedia karena dia kaya. Mertua yang pastinya akan menerimaku apa adanya, karena aku sudah kenal tante Afri. Jika bosan, aku bisa minta Arnold jalan-jalan, karena kupastikan calon suamiku itu akan sangat sibuk.” Senyumku mengembang membayangkan keuntungan apa saja yang bisa kuperoleh dengan menikah dengan abangnya si Arnold. Dan selesai sudah pertimbangan itu, mari kita jalani saja dan nikmati apa yang bisa dinikmati.