DEMI KELUARGA

1713 Words
Raka Tak terasa sudah seminggu sejak makan malam bersama keluarga Nadine. Selama seminggu ini, kami diminta untuk pendekatan, yang sama sekali tidak kami lakukan. Aku selalu berdalih sibuk di kantor, dan lagi gadis itu tidak ada menghubungiku. Aku rasa dia juga tidak memiliki nomor teleponku. Namun malam ini mau tidak mau kedua keluarga berkumpul untuk membicarakan segala hal yang menyangkut pernikahan. Katanya langsung nikah saja, tak perlu tunangan. Jadi di sinilah kami, di rumah Nadine. Orang-orang yang turut hadir tetap seperti yang terakhir kali. Saat ini kami sedang berkumpul di ruang tamu, papa dan mama serta kedua orangtua Nadine sudah sibuk mendiskusikan tanggal yang cocok. Arnold sibuk dengan gawainya, dan gadis bar-bar yang lagi-lagi duduk di depanku hanya diam. “Ma, pa, om, tante. Raka bawa Nadinenya keluar bentar ya.” Putusku setelah mempertimbangkan situasi dan kondisi. Nadine langsung melihat ke arahku dengan raut bingung. “Ohh iya, silakan nak Raka.” Tanpa curiga para orangtua senyum senyum saja melihatku mengajak Nadine. Kami duduk di ayunan yang ada di halaman depan rumah. Rumah ini cukup luas dan juga asri. Tapi sayang, sekarang malam, jadi tidak bisa lihat semua. Kami duduk berhadap hadapan. “Kenapa bang?” Nadine membuka suara terlebih dahulu. “Aku tidak ingin menikah denganmu.” Ucapku pada intinya. Dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya. “Aku juga sebenarnya nggak mau.” Aku mengernyit heran. Ini perempuan kemarin bilang iya. “Kamu yang kemarin menerima perjodohan ini.” Seruku ketus. “Memang. Tapi saat itu aku lagi nggak bisa mikir.” “Nggak bisa mikir gimana?” “Coba deh abang yang di posisi aku kemarin. Aku tuh deg-degan Ketika ditanya soal keputusan. Sudah semua mata lihat kayak mau makan aku lagi. Kan akunya jadi merasa terancam. Kalau untuk jawaban itu… itu terucap gitu aja. Aku nggak mikir apa apa lagi.” Jelasnya. Awalnya dia mengatakannya berapi-api, tapi lama kelamaan semakin pelan. Sepertinya dia benar-benar merasa bersalah. “Jadi sekarang gimana?” “Ya, kalau abang enggak mau nikah sama aku, ya sudah tinggal bilang. Harusnya abang juga turut andil dong membuat keputusan.” Kambuh lagi emosinya. “Aku bukannya tidak berusaha, tapi memang enggak bisa. Aku berharap besar kamu akan menolak pernikahan ini, jadi aku enggak perlu menikah sama kamu.” “Kenapa?” Itu bukan suara Nadine. Ada orang lain yang turut serta dalam perbincangan kami. Tanpa kami sadari ternyata ada Arnold yang menguping di balik tembok teras. Seketika aku dan Nadine terdiam menatap kehadirannya yang semakin mendekat. “Kenapa kalian tidak mau menikah?” “Engg…. “ tak ada diantara kami berdua yang bicara. “Nold, harusnya kamu saja yang menikah dengan Nadine. Kamukan sayang sama dia, dan usia kalian juga sepantar. Ini sangat tidak nyaman, jika aku harus menikahi orang yang disukai oleh adikku sendiri.” Seruku mencoba mencari celah untuk melepaskan diri dari perjodohan ini. “Maksudnya?” Nadine memasang ekspresi bingung. “Arnold selama ini suka sama kamu.” Jujurku. “Huffft… astaga Arnold. Aku sudah bilang agar kamu buang perasaan kamu itu jauh-jauh. Percuma kamu pergi ke Australia kalau kamu masih saja suka sama aku.” Tanpa kuduga, Nadine malah merepet pada Arnold. Sedangkan bocah itu hanya menundukkan kepala melihat ke bawah, entah apa yang coba dilihatnya di rerumputan itu. “Lagian, kamu kenapa nolak Arnold. Kalian itu cocok, sama-sama bar-bar, absurd, dan enggak jelas.” Pancingku. Nadine menatapku tajam. “Maksud lo apa?” Tunggu, apa dia barusan mengucapkan ‘lo’? “Ada yang salah dengan sikap gue selama ini? Kalau lo enggak suka sama gue, enggak perlu juga lo harus bilang gue absurd, bar-bar, enggak jelas. Gue tahu gue enggak sefeminin cewek-cewek yang lo kencani di luar sana. Dan tolong ya, kalau lo enggak tahu apa-apa soal hubungan gue dengan Arnold, lo enggak usah sok jadi penasehat menjodohkan kami. Lo itu enggak tahu apa-apa.” Bukan hanya mulutnya yang tiba-tiba menjadi pedas, tangannya juga ikut-ikutan menunjuk wajahku. Seketika aku mematung dengan ketegasan suaranya. Ini bukan Nadine yang beberapa hari ini ku kenal. Dia seolah berubah menjadi perempuan kasar dan menyeramkan. “Kalau lo enggak mau nikah sama gue, lo bilang sendiri sama orangtua kita. Gue enggak mau ikut campur.” Akhirnya dia pergi meninggalkan aku dan Arnold dalam keheningan. “Dia kenapa?” Tanyaku polos, karena memang aku belum pernah melihat sisi kemarahan gadis itu. “Lain kali jangan ungkit soal perasaanku padanya. Dia benci akan hal itu. Jadi, tolong jangan sok tahu apapun tentang kami.” Suara Arnold dingin dan terdengar datar mencekam. Arnold pada akhirnya juga meninggalkanku sendirian di halaman depan. Kepalaku masih menebak-nebak ada apa dengan dua makhluk itu. Tapi tunggu, ada masalah yang lebih besar dari itu. ‘Bagaimana aku bisa membatalkan semua ini, jika si Nadine sudah enggak peduli lagi?’ Aku menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.  “Kok makin ribet sih?” *** Aku kembali ke dalam rumah. Berusaha menetralkan ekspresi agar tak ada yang curiga. Tapi saat aku sampai, tidak ada gadis itu lagi di sana. “Nadinenya mana?” Tanyaku. “Lianya sakit kepala katanya nak Raka. Jadi dia bilang dia ngikut saja apapun keputusannya.” Mendengar hal tersebut, bahuku lesu. Pupus sudah harapanku. Mau tidak mau aku harus menjalani pernikahan ini. ‘Kuatkan aku ya Tuhan.’ Pernikahan kami ditetapkan akan dilaksanakan satu bulan lagi. Aku hanya manggut-manggut menerima semuanya. Pikiranku terpecah, antara menebak pemikiran gadis yang lagi ngambek itu, dan juga adikku yang sejak perdebatan di halaman tadi memilih untuk menunggu di mobil. Hanya ada diriku diantara orangtua yang sangat mengharapkan pernikahan ini. Apalah dayaku? Tidak ada acara pertunangan, tapi langsung ke pernikahan, katanya hanya buang-buang waktu. Hingga selesai pembahasan, Lia tidak keluar menemui kami. Hanya kata maaf yang terucap dari tante Rani karena tingkah anak gadisnya. Begitu masuk mobil, aku kembali dihadapkan dengan ekspresi tidak enak dari Arnold. Sepertinya suasana hatinya benar-benar kacau karena sedikit kalimatku tadi. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur, dinikmati saja. Perjalanan kami hening hingga rumah, hanya mama dan papa yang sesekali berbincang di kursi belakang. Tak menunggu lama, aku berjalan ke kamarku di lantai dua. Kulonggarkan dasiku yang terasa semakin mencekik. Aku bahkan berangkat langsung dari kantor demi pertemuan tadi, tapi lihat endingnya, sama sekali tidak sesuai dengan lelahku membagi waktu. Bukannya dapat kabar gembira, malah menciptakan masalah baru. “Aghhh.. Pusing gue. Itu lagi bocah ngapain pake ngambek. Ngomong kek gitu masalahnya apa. Sebal gue lama-lama. Bentar lagi jadi istri, yang ada aku tiap hari ngurusin bocah.” Kuacak-acak rambutku yang sudah kusut dari tadi. Demi menjernihkan kepala, aku memilih mandi, padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. *** Suasana pagi ini terasa sepi. Biasanya aku dan Arnold akan olahraga di Sabtu dan Minggu pagi. Tapi memang tadi aku terlambat bangun, karena tak bisa tidur semalaman memikirkan perdebatan berujung diam-diaman. Arnold juga tidak terlihat batang hidungnya entah dimana. “Ma.” Aku mendekati mama yang sedang asyik dengan tanamannya di samping rumah. “Hmm..” Apa semua emak-emak kalau sedang mengerjakan hobbynya lupa sama yang lain? Nengok anaknya lagi nyapa pun tak berminat. Aku mengelus d**a agar tetap sabar. Pagi-pagi kalau sudah dibuka dengan amarah, biasanya sisa hari tidak akan berjalan dengan baik. “Arnold ke mana?” “Tadi sih mama lihat pergi bawa sepeda.” “Ohh..” Berarti Arnold lagi olahraga.  “Kamu tumben enggak ikut?” “Ketiduran ma.” Mama kembali asyik dengan bunga-bunganya yang sebenarnya tak memiliki bunga. Aku masuk ke dalam rumah dan mencari apa yang bisa dimakan. Berhubung jam sudah menunjukkan pukul 7.30  pagi, biasanya aku sudah sarapan sebelum berangkat ke kantor. Jadi seolah sudah teratur, harus makan atau tahan lapar. Tapi harusnya Arnold sudah pulang jam segini, dia keluyuran kemana ya? Aku harus meluruskan kejanggalan semalam. “Aku pulang.” Nah tuh, pucuk dicinta ulam pun tiba yang diharapkan akhirnya datang juga. Hanya ada satu manusia yang akan teriak-teriak mengatakan dirinya pulang, yaitu makhluk bar-bar bernama Arnold Arya Praja. “Kenapa nggak bangunin tadi?” Tanyaku membuka pembicaraan. Anak ini kalau sudah marah, harus kita yang menegur duluan, kalau tidak dia pasti betah diam sampai telur ayam menetas. “Males.” Jawabnya acuh. Bau-bau masih ngambek. Dia mengambil minum dingin dari kulkas, dan menandaskan satu botol air mineral dalam kemasan. Aku sadar ini tak bisa dibiarkan berlarut-larut. “Gue mau ngomong sama lo.” “Ngomong aja.” Ketusnya, sambil meraih roti tawar dan mengolesinya selai. “Ini soal semalam.” Aku diam sejenak, menunggu Arnold memberi respon, yang nyatanya tidak ada tanda-tanda akan menanggapi. “Kenapa Nadine bisa semarah itu karena yang kubilang?” Tembakku to the point. Arnold diam, dia dengan khusyu memakan rotinya dengan lahap seolah barusan aku tidak sedang bicara padanya. Satu menit… Dua menit.. Ti…. “Karena itu akan membuatnya merasa bersalah.” “Maksudmu?” “Hhhh..” Arnold menarik nafas perlahan. “Dia orang yang tidak tegaan. Tiap kali dia menyakiti orang lain, dia akan selalu kepikiran. Meskipun nampaknya dia orang yang kejam, tapi sebenarnya itu hanya menutupi hatinya yang lemah. Paling tidak bisa melihat orang lain sedih karenanya.” “Jadi??” Ini si Arnold cerita sambil jalan-jalan dulu. “Dia enggak suka abang mengingatkan dia yang sudah menolak aku. Gue kan sudah pernah bilang, dia memohon-mohon supaya aku melupakan dia. Pasti semalam dia bengong kayak orang bodoh di kamarnya.” “Kamu kenapa sampai hal sedetail itu bisa tahu tentang dia?” Aku benar-benar penasaran sejauh apa hubungan dua makhluk absurd itu. “Kan sudah gue bilang, kami sudah dekat dari kecil. Kami main bareng, waktu abang sama kakak sekolah. Kami sampai masa SMA masih sering jalan bersama. Kemana-mana dia selalu minta dianter, sampai gebetannya, cowok yang nembak dia, orang-orang yang ngejek dia, gue tahu semua. Dia itu suka curhat sama gue.” “Ohh..” Sekarang terjawab sudah rasa penasaranku tentang asal muasal kedekatan mereka. “Tapi kenapa gue enggak pernah kenal sama dia?” Arnold menatapku datar, “Karena lo terlalu sibuk sama duniamu sendiri. Dia padahal pernah beberapa kali ke sini, tapi saat itu abang lagi di luar belajar, atau main sama kawan. Waktu kita SMA, abang sudah enggak di rumah.” Mendengar penuturan Arnold, aku jadi merasa kurang pergaulan. Bisa-bisanya dari satu rumah yang tidak mengenal Nadine hanya aku. Lucunya, malah aku yang dijodohkan dengannya. Memang kalau jodoh tidak akan ke mana, begitu kata pepatah. Tapi aku tidak yakin kami benaran jodoh meskipun dijodohkan.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD