KECEWA

1675 Words
Nadine Setelah keputusan final jika pernikahan kami benar-benar akan diadakan bulan depan, tepatnya kurang dari 2 minggu lagi, rutinitasku berubah drastis. Biasanya aku akan bangun jam 7 pagi untuk sarapan, lalu keliling rumah tanpa tujuan. Karena memang tak ada kerjaan. Setelah bosan lihat-lihat kondisi rumah, aku akan kembali ke kamar, rebahan sambil mengotak ngatik HP sampai bosan. Tapi kini aku harus turun tangan ngurus semua persiapan pernikahan. Sialnya si kawan alias calon suami malah memilih ngurus tender ke Singapura. Jadilah selama 2 minggu ini aku sudah menghubungi perancang acara dan memilih desain. Sebenarnya si kawan tidak banyak komentar, tapi aku memilih membuat acara di hotel. Aku ingin melaksanakan pernikahan impianku, meskipun sebelumnya aku tak pernah memikirkan bagaimana aku akan menikah. Jadi di minggu pertama aku diminta oleh orangtuaku dan calon mertuaku untuk mempersiapkan pernikahan kami, aku langsung gerak melihat youtube dan mbah google. Sebenarnya aku tahu, si kawan sengaja pergi ke luar negeri 3 hari setelah pertemuan terakhir dimana kami sempat bertengkar. Pastinya itu bukan hanya sekedar untuk perjalanan bisnis, tapi juga menghindar dari segala persiapan pernikahan kami. Ada rasa sedikit kecewa, tapi aku anggap angin lalu. Aku tak ingin pusing memikirkan nasib anak laki orang, sekalipun dia akan menjadi suamiku. Tunggu setelah dia jadi suamiku, baru kuurusi. Persiapannya sudah 50%, termasuk tempat, rangkaian acara, dekorasi, dan siapa-siapa saja yang akan diundang sudah di daftar. Masalah undangan, aku hanya mengundang saudara dan beberapa teman dekat. Berhubung aku tidak memiliki banyak teman dekat, hanya 3. Arnold teman dari SD sampai SMA, dan Afi serta Rangga teman kuliah. Hanya mereka yang bagiku cukup dekat untuk kuundang ke acara bersejarah dalam hidupku. Lainnya pada kemana? Mereka tidak terlalu penting, hanya teman bahagia, lagian mereka yang hilang duluan. Jadi aku juga melupakan mereka. Spesial untuk Arnold, dia akan tetap dapat undangan dariku, sekalipun kelak dia akan jadi adik ipar. Undangan dari pihak keluarga calon mempelai pria sudah kukonfirmasi sama si kawan. Dia mengirimkan nama-nama yang akan diundang pada adiknya. Ingat ya, adiknya dan bukan padaku. Sekali lagi egoku tersentil karena merasa tak dianggap. Biarpun demikian, aku tetap mengurus semua sebisa mungkin. Sekarang tinggal memilih cetakan undangannya. Berhubung manusia pihak prianya sedang tidak di Indonesia, dan aku juga tidak ingin sembarangan memilih konsep undangan. Bagaimanapun, keputusannya juga penting biarpun nanti dia pasti akan mengatakan, “Terserah padamu.” Sama seperti ketika aku bertanya  tentang dekorasi ruangannya. Aku sedang melihat-lihat konsep undangan di akun instragram salah satu penyedia jasa percetakan undangan. Sudah sejak tadi tanganku sambil menelepon pria yang akan bersanding denganku. Jika kalian penasaran, aku menghubunginya selama ini melalui perantaraan Arnold. Selama 2 minggu ini calon adik iparku merangkap sahabatku itu menggantikan abangnya untuk mengurus semua keperluan pernikahan kami. Lagi, dia membuatku harus mengelus d**a. Saat pasangan lain heboh dalam mengurs pernikahannya, apalah kami yang untuk menikah saja terpaksa. Tapi tidak kusangka, ternyata jadinya akan seperti ini. Aku benar-benar merasa tidak dianggap, diabaikan, diacuhkan, sebenarnya itu semua sama saja, akhirnya seolah hanya aku yang menginginkan pernikahan ini. “Masih belum diangkat?” Arnold memecah fokusku yang tertuju pada gambar-gambar undangan di layar ponselku. “Hmm.. “ Gumamku sambil menganggukkan kepala pelan. Aku tidak menatap Arnold, aku takut dia akan membaca raut kecewa di wajahku. Sudah 5 kali aku menghubungi nomor abangnya, tapi tak kunjung diangkat. Saatnya aku memilih menyerah, juga menyerahkan gawai pada pemiliknya. “Nih, biar saja. Besok lagi. Mungkin dia lagi sibuk. “ ‘Lagi sibuk’ sarkas banget nggak sih? Saat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan aku sudah menghubunginya dari kemarin jika aku minta waktunya hari ini. Tapi lihat, kurasa dia benar-benar melupakan jika dia akan menikah. Aku menutup akun i********: yang sejak tadi kutelusuri, sebelumnya aku sudah mengunduh beberapa desain untuk kuajukan padanya. “Nol, aku kirimin desainnya, ntar kamu kirimin ke abang ya. Minta dia milih yang dia suka.” Gambar-gambar yang tadi kuunduh segera saja terkirim ke akun watsapp Arnold. “Kenapa nggak kamu saja sih yang kirim ke dia langsung?” “Kamu saja, biar dibalas. Nanti kalau aku, bisa-bisa keburu hari H baru dijawab.” Jawabku datar, dan lagi-lagi aku tak ingin menatap matanya. Aku sebenarnya memiliki nomor dia, tapi pernah beberapa kali aku menghubunginya terkait pernikahan ini, dan dia sama sekali tidak memberi respon apapun. Bahkan memberi jawab sekedar pun tidak. Padahal jelas-jelas aku sudah memperkenalkan namaku dan aku siapa. Itu terjadi saat dia akan berangkat ke Singapura. Aku juga sudah mengatakan padanya akan sulit mengurus semua ini jika dia pergi. Tapi tahu apa yang dilakukannya? Dia tetap pergi, dan alih-alih membalas pesanku, dia justru memberitahukan jawaban yang kubutuhkan pada Arnold agar disampaikan padaku. Siapa yang tidak akan kecewa diperlakukan demikian rupa? Belum menikah saja sudah begini, apalagi nanti? Tak bisa kubayangkan, dan tak ingin kuharapkan. “Din? Kamu nggak marah 'kan sama abangku?” Arnold memang paling ngerti aku, tapi sayangnya dia adalah adik kandung dari orang yang ingin sekali kumaki. Meski dadaku sudah sesak ingin menangis dan menumpahkan rasa kesal, tetap saja aku memikirkan bagaimana nanti hubungan adik abang jika mulutku tak bisa ku jaga. Arnold itu tipe laki-laki yang pantang menyakiti perasaan perempuan. Jangankan abangnya, papanya saja dimarahi karena pernah membuat tante Afri nangis, padahal cuma salah paham. Kalau aku katakan aku kecewa pada abangnya, bisa kupastikan dia akan mengamuk dan memarahi abangnya yang sampai sekarang namanya tidak kuketahui. Aku menarik nafas dalam, menetralkan hatiku yang sedang menahan sakit. Aku harus bisa menatap wajah Arnold, selama itu tidak terjadi anak itu akan selalu mencurigaiku. “Enggak kok, dia juga pasti lagi sibuk banget. Aku ngerti kok.” Akuku berbohong. Maafin aku Nol. “Kamu yakin? Maaf ya, seharusnya dia ada di sini.” Astaga anak ini, malah minta maaf. Mataku sudah panas ingin menumpahkan laharnya. Tapi ini tidak bisa. “Dia juga sibuk untuk masa depan kami Nol. Ohh.. iya, aku ngantuk nih. Kamu pulang saja ya. Besok kita lanjut lagi.” Putusku sebelum aku tidak bisa menahan diri lagi. Arnold menatapku dengan penuh penyesalan. Tapi dia tetap mengikuti permintaanku untuk pulang. “Besok kita fitting baju ya.” Dia mengingatkanku saat hendak menaiki motornya. Aku tersenyum miring, merasa lucu dengan semua yang terjadi. “Siapa yang mau nikah, siapa yang ngurus pernikahan. “ Ucapku kelepasan sambil menatap ke arah rerumputan. Arnold yang tadinya hendak mengenakan helm, mengurungkan niat. “Kamu baik-baik saja? Hey..” Aku menatapnya datar. Tapi kemudian aku mengangguk dan memamerkan senyum. Senyum yang sekali lagi hanya sebuah kamuflase atas air mata yang sedang kubendung. ‘Maafin aku Nol, aku nggak mau membuatmu khawatir.’ “Aku balik ya.” Pamitnya. “Hati-hati ya. Besok aku masih butuh kamu untuk fitting.” “Hahaha… Siap kakak ipar.” Akhirnya dia pergi meninggalkan gerbang rumah. Seketika aku luruh dan terduduk di teras rumah. Air mata yang sejak tadi kutahan tak lagi mau diajak kerja sama bahkan sampai ke kamar. Tubuhku rasanya ikut lemah, untuk pertama kalinya aku menangisi pria yang aku bahkan tidak benar-benar mengenalnya. Aku masih ingat, terakhir kali aku menangisi lelaki itu adalah Arnold, saat aku merasa bersalah karena harus menolaknya. Sekarang aku menangisi lelaki yang membuatku seolah tak berarti, dan sialnya dia akan menjadi pendamping hidupku. Aku masih terus menangis, menjatuhkan air mataku yang berharga entah untuk apa. Intinya aku hanya ingin menangis menumpahkan rasa sakit di hatiku yang tak terungkapkan. Rasa sakitnya bahkan sangat terasa menyesakkan. “Akhhhhh… hiks hiks.. AAAKHHHHH..” Aku tak kuasa lagi. Terlalu sesak di d**a ini hingga tenggoranku tercekat. Aku melampiaskan semua dengan teriak. “Lia” tiba-tiba saja si mbak datang memelukku. “kenapa nangis?” “Sakit mbak. Dadaku sesak. Aku enggak sanggup. Aku benci dia, dia jahat mbak.” Aduku. Si mbak hanya memeluku sambil mengelus punggungku. Pasti ingusku sudah menempel ke baju si mbak, soalnya aku menyembunyikan wajahku di bahunya. Butuh waktu cukup lama, hingga akhirnya aku bisa menenangkan diriku sendiri. Beruntung mama dan papa sedang tidak di rumah. Pasti mereka akan langsung memborbardir keluarga tante Afri jika tahu sikap calon mantunya selama ini. Aku melepaskan pelukan si mbak setelah merasa cukup tenang. “Terima kasih mbak. Lia mau balik ke kamar.” “Iya.” Seperti biasanya, si mbak itu pendiam. Tapi selalu mampu membuatku tenang dengan caranya sendiri. Dia tak pernah memberiku nasehat saat aku sedang down, dia hanya akan menjadi pendengar yang budiman. Lalu di akhir dia akan menanyakan apa solusi yang kupikirkan. Saat ini aku merindukan abang, abang kandungku. Andai saja dia masih ada di sini, semua ini tidak akan terjadi. Aku melangkah gontai menuju kamar, lalu membaringkan tubuhku berharap akan segera terlelap dan memulihkan fisik serta psikisku. Namun mataku enggan tertutup. “Bang, Lia kangen. Tahu nggak, Lia barusan nangis. Dan itu karena satu cowok yang Lia sendiri lupa namanya siapa. Dia bahkan belum jadi suami Lia, tapi sudah berhasil membuat Lia nangis. Rasanya sakit banget bang, dia benar-benar tidak peduli dengan pernikahan ini. Lia juga sebenarnya nggak masalah kalau dia menolak pernikahan ini. Tapi kenapa dia enggak minta sama tante Afri untuk membatalkan pernikahan ini, jika memang dia tidak niat dari awal. Harusnya dia tidak perlu pergi ke singapura untuk melarikan diri. Dia bahkan tidak berusaha untuk mengenal Lia bang. Padahal Lia sudah berusaha menerima semua ini dengan lapang d**a. Lia sakit hati bang, masa Lia sudah chat, nanya-nanya tanggapan dia soal konsep pernikahan, dia malah cuma read pesan Lia. Tadinya Lia kira dia itu sibuk. Tapi tahu enggak bang? Dia malah nitip pesan sama Arnold. Hahahhaha… bayangin, apa Lia setidak berarti itu? Lia sudah baik-baik bertanya sama dia, tapi dia malah gitu. Lia kan sakit hati diginiiin. Mana Lia juga enggak bisa curhat sama Arnold. Bisa-bisa perang keluarga kalau sampai Arnold tahu abangnya enggak pernah balas chat Lia.” Aku menumpahkan semua isi hatiku pada ruang kosong kamarku ini. Sembari menatap langit-langit kamarku, berharap abangku menatapku balik di atas sana. Sudah tidak ada air mata yang keluar dari mataku. Rasanya juga lebih tenang setelah ngomong sendiri layaknya orang kurang waras. Tapi inilah aku, di balik sifatku yang asal-asalan aku tidak terbiasa membuka semua isi hatiku pada siapapun, bahkan pada Arnold. Ia juga tetap kuberi batasan untuk mengenalku lebih jauh, sekalipun dia tetap hapal tentangku yang tertutup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD