Bab 11

964 Words
Rion menggeliat pelan sambil mengucek matanya. Kesadarannya belum kembali secara sempurna. Barulah di menit kelima, Rion menyadari jika ia telah melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan. Setelah menyadari apa yang telah terjadi, Rion mengusap wajahnya secara kasar. Dia masih ingat rasa itu, rasa Araya yang menyatu bersamanya. Suatu rasa yang baru pertama kali Rion jumpai dan sialnya dia merasa sangat mendambakan hal itu. Sial. Sial. Sial. Rion ingin memungkiri jika ia telah melakukan kesalahan fatal, tapi ia sendiri tak menampik jika rasa Araya sungguh terasa sangat berbeda. Entahlah, dia pun merasa aneh apalagi Rion sangat ingat jika ia benar-benar merasakan bagaimana malam pertama itu. Bagaimana mungkin di zaman sekarang masih ada wanita yang masih perawan? Sepertinya Rion kurang jauh maninnya hingga tak tahu bahwa masih banyak wanita perawan di luaran sana. Rion ingin berteriak, hal menakjubkan itu ia dapatkan di diri Araya. "Sial, bagaimana aku harus bersikap pada dia nanti," gumam Rion sambil berjalan menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat lengket dan Rion butuh air hangat untuk menyegarkan tubuhnya kembali. Rion menekan tombol air hangat ketika ia baru masuk ke dalam kamar mandi. Air hangat itu langsung mengguyur tubuhnya. Rion menatap tetesan air yang jatuh dari rambutnya, dia teringat dengan kejadian tadi malam. Rion tak menyangka jika Evelyn akan bersikap seperti itu padanya atau lebih tepatnya mengkhianatinya, setelah kebersamaan mereka selama dua tahun belakangan ini. *** Seolah seperti tak terjadi apa-apa, Araya menyiapkan sarapan seperti biasanya walaupun Rion jarang menyentuh masakannya. Namanya juga usaha dan Araya belum ingin menyerah saat ini. Sesuai perkataan Rion, pernikahan mereka hanya sampai enam bulan dan Araya telah bertekad untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Araya bersenandung kecil menutupi hatinya yang sedang sedih. Bayangkan saja, Rion masih sempat-sempatnya menyebut nama Evelyn tadi malam. "Percuma saja kau memasak," ucap Rion saat memasuki ruang makan. Entahlah, Rion sangat ingin memarahi Araya. Mungkin Rion ingin menghilangkan rasa gugup serta rasa bersalah yang tiba-tiba saja melingkupi hati kecilnya. Araya mengecilkan api kompor dan dia membalikkan badannya menatap Rion yang telah siap untuk berangkat kerja. "Aku hanya berperan menjadi istri yang baik, apa aku salah?" Araya menatap Rion yang sedikit aneh di pagi ini. Rion biasanya akan menatapnya dengan tatapan tajam, pagi ini malah berbicara padanya dan memalingkan wajahnya seolah enggan menatap wajah Araya. Padahal Rion tak perlu susah-susah untuk menyapa Araya seperti ini, pria itu bisa saja langsung berangkat kerja tanpa pamitan seperti biasa. "Lagian aku sedang mencoba apron baru dan memasak nasi goreng bukanlah hal yang merepotkan," lanjut Araya bersemangat sembari memamerkan apron yang ia beli di salah satu online shop di sebuah aplikasi terkemuka. "Aku tahu kamu butuh tenaga ekstra setelah malam panas tadi malam," ucap Araya tanpa beban. "Bodoh." Setelah mengatakan itu, Rion segera beranjak dari sana dan berjalan menuju pintu. Bahkan Rion membanting pintu itu dan membuat Araya sedikit terkejut. Lima detik kemudian, Araya tiba-tiba saja terduduk lemas. Air matanya tanpa aba-aba jatuh begitu saja. Padahal sejak tadi dia berusaha menutupi segalanya agar hatinya tak terluka, tapi yang ada malah sebaliknya. Hatinya luar biasa sakit. "Tak bisakah kamu melihat ku dengan tatapan lembut, sekali saja." Isak Araya sambil menutupi wajahnya. "Tak bisakah kamu memandangi ku seperti Evelyn." Bagai kaset yang kusut, satu persatu rangkaian ingatan itu seolah terurai. Bagaimana Rion meracau karena Evelyn yang mengkhianatinya. Bagaimana Rion yang kecewa pada Evelyn. Dan begitu cintanya Rion pada Evelyn. "Rion, jika aku pergi apakah kamu akan menangisi ku?" *** Tepat pukul sepuluh pagi, Araya tiba di Aray Florist. Matanya sedikit sembab karena menangis semalaman. Nasi goreng yang Araya masak tadi pada akhirnya ia berikan pada satpam penjaga gedung apartemen ini. Daripada ia buang ke tempat sampah, lebih baik ia berikan pada orang lain. Pastinya tidak mubazir. Rena dan Anna yang melihat Araya baru saja masuk tak berani menegur karena mereka melihat wajahnya sendu. Di tambah dengan bukti kuat jika kedua mata Araya tampak sembab. "Kira-kira Mbak Ray berantem enggak ya sama suaminya itu?" Bisik Rena pada Anna yang tepat di sebelahnya. "Secara kemarin kita lihat dengan jelas, suaminya kencan dengan si model enggak terkenal itu." "Menurut aku sih enggak, apalagi tipikal seperti Mbak Ray itu susah untuk marah. Palingan Mbak Ray hanya mendiamkan suaminya," ujar Anna mengemukakan pendapat sepihak nya. "Kalau dengan mas ganteng gimana?" Tanya Rena lagi saat teringat dengan Gevan. Pria yang kerap kali menyambangi toko bunga Araya sejak dua tahun lalu. "Mas Gevan, temannya Mbak Ray. Cowok yang royal dan sering kasih tip lebih ke kita?" Ceroscos Anna panjang lebar. Anna tampak berpikir sejenak. "Entah kenapa kalau aku lihat, Mas Gevan itu suka dengan Mbak Ray. Apalagi beberapa kali aku lihat pandangan mata Mas Gevan itu beda kalau udah natap Mbak Ray." Anna meletakkan telunjuk kanannya di kening. "Kayak orang jatuh cinta." "Panjang umur, orangnya nongol tuh." Rena mengarahkan dagunya ke arah pintu masuk. "Pagi-pagi udah dapat asupan vitamin," seru Anna riang. Dan Anna pun langsung menghampiri Gevan. "Mau pesan bunga lagi, mas?" Tanya Anna dengan semangat. Karena selain memesan dalam jumlah yang cukup banyak, Gevan juga sering memberikan uang tip kepada Rena dan juga Anna. Gevan malah tertawa saat mendapati karyawan Araya begitu bersemangat pagi ini. "Saya mau ketemu Araya, dia ada?" "Mbak Ray di ruangannya mas," jawab Anna. "Okey, makasih." Gevan pun berjalan menuju ruang kerja Araya, dia ingin menyampaikan beberapa hal pada sahabatnya itu. Sementara itu, Araya mencoba mengatur napasnya yang tiba-tiba saja terasa sesak. Untuk sekedar mengambil udara saja rasanya paru-parunya terasa begitu sakit. Sudah lama ia tak mengalami sensasi menyebalkan ini dan entah kenapa hari ini ia merasakannya lagi. Apakah ini ada hubungannya dengan kejadian tadi malam? Baru saja berdiri, Araya merasakan pusing yang luar biasa sampai ia harus memegang ujung meja agar tak jatuh. Sedikit tertatih, Araya mencoba berjalan menggapai pintu. Tapi belum sempat ia mencapai pintu, kegelapan itu lebih dulu menenggelamkan dirinya. "Ray ...." Terakhir yang Araya ingat, seseorang memanggil dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD