Bab 10

1025 Words
Rion menghentakkan gelas yang telah ia tandaskan isinya. Cairan tequila itu mampu membuat sedikit badannya menggelora. Kedua netra nya yang setajam elang menatap tajam ke arah Evelyn yang seolah tak terusik dengan kegiatan panas di tempat umum seperti ini. Adam masih tampak tenang sambil menunggu reaksi Rion selanjutnya. Sebenarnya sudah lama Adam ingin memberitahu Rion perihal sikap Evelyn yang telah menyimpangi hatinya dari Rion. Seharusnya Adam tak usah ambil pusing, lagian dia hanya pekerja di sini. Tapi hati kecilnya sedikit berteriak saat mendapati wanita ular seperti Evelyn dengan lincah menggaet satu bahkan lebih dua pria seperti sekarang. Apalagi sosok Evelyn sangat mudah untuk dikenali. Adam datang ke pesta pernikahan Rion. Adam melihat dengan jelas jika tak ada pencaran kebahagian di sana karena Rion sudah terjebak sangat dalam perangkap yang di buat Evelyn. Apalagi Rion bucin banget sama Evelyn dan hal itu makin membuat Evelyn merasa di atas awan. Adam menilai, jika wanita itu sangat tak pantas bersanding dengan Rion yang b******n dan juga b******k itu. Bagaimana seorang malaikat bisa bersanding dengan iblis macam Rion? Adam tak habis pikir. Rion mulai bergerak dan membuat Adam sedikit berdecak senang. "Ada hiburan malam ini." Rion memberikan jeda beberapa detik sampai Evelyn menyelesaikan ciuman panasnya dengan pria yang sangat betah membelai paha mulus Evelyn. Luar biasa sekali aksi mereka berdua. Katanya sibuk, ya tidak salah juga, Evelyn memang sedang sibuk. Sibuk berselingkuh. "Lanjutkan." Suara Rion yang marah mampu membuat Evelyn menghentikan ciumannnya. Evelyn menatap Rion santai dan tak takut sama sekali, bahkan wanita itu dengan santainya menyandarkan kepalanya pada d**a bidang pria tampan yang menjadi teman kencan Evelyn malam itu. Kedua mata indahnya tampak memancarkan cahaya di mata Rion kini tapi sayang binar cahaya itu sama sekali tak membuat Rion terusik. "Akhirnya kamu tahu juga," ucap Evelyn sambil memainkan jemarinya di d**a bidang teman kencannya. "Aku mau semua ini berakhir, aku muak dengan segala janji mu." Evelyn menatap jengah Rion. "Ahh, aku lupa jika kamu enggak pernah berkutik jika berhadapan dengan si tua bangka itu, jadi silahkan bersenang-senang dengan istri mu yang alim itu." Iya, Evelyn sudah berada di titik jenuh dengan segala usaha yang pernah ia junjung untuk mendapatkan Rion. Rion beserta hartanya tentu saja. Wanita mana yang tak tergiur dengan paras tampan dan juga calon pewaris dari perusahaan besar saat ini. Evelyn tentu tak menyia-nyiakan kesempatan itu walaupun pada akhirnya dia kalah oleh si tua bangka itu. Evelyn bukannya tak tahu cara licik yang dilakukan pak tua itu di belakang Rion dan cara yang paling efektif untuk membungkam Rion adalah dengan membuat Rion terikat dalam ikatan pernikahan dan membuat Evelyn seperti seorang pelakor. Rion menyeringai kejam. "Oke," sahut Rion cepat lalu ia menatap ke arah pria itu. "Bung, selamat menikmati barang bekas. Ah iya satu lagi, punya nya sudah tak seasik saat pertama aku mencobanya." Setelah mengatakan hal itu, Rion pergi dari tempat itu dan ia tak lupa mengirim pesan pada Adam bukti transfer tagihan atas minumannya yang belum sempat ia bayar. "b******k kau Rion," umpat Evelyn kesal dan Rion mendengar suara u*****n itu dan dia hanya berlalu. Andai wanita itu mau menunggu sedikit lebih lama lagi, Rion akan membuat Evelyn menjadi ratu, bukan selir seperti sekarang. Tapi sayang, Evelyn lah yang telah lebih dulu memutuskan segalanya. Ini semua karena Araya, jika saja ia tak menikah dengan Araya pasti tak akan terjadi hal seperti ini. Tapi jika ia tak menikah dengan Araya, posisi CEO itu tak akan pernah ia dapatkan. Rion dilema dan kini ia harus menelan pil pahit jika Evelyn sudah lepas dari genggamannya. *** Jam menunjukkan pukul satu dini hari dan Araya terbangun dari tidurnya. Entahlah ia sendiri malah menunggu Rion dan berakhir ketiduran di sofa seperti sekarang. Terkadang ia merasa sangat naif, berharap jika Rion akan mulai menyukainya. Sebaiknya ia shalat tahajud dulu setelah itu ia bisa melanjutkan kembali tidurnya. Tepat saat Araya hendak menuju kamarnya, ia mendengar suara pintu apartemen terbuka. Rion telah pulang. "Di mana kau Araya?" Araya terpaku, suara Rion terdengar sangat berat dan juga marah. Bagaimana caranya dia menghadapi Rion saat ini. Rion akhirnya menemukan Araya dan menyambar lengan kanan Araya. Rion memegang sangat erat lengan Araya sehingga Araya mengaduh kesakitan. Rion dengan cepat menyambar bibir Araya. Araya yang tak siap, memukul d**a bidang Rion dengan tangan kirinya. Apalagi aroma alkohol menguar dan Araya yakin Rion dalam pengaruh minuman laknat itu. Rion makin bersemangat mendesak Araya hingga tubuh Araya terbanting di atas sofa. Rion tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan dia akan melakukan hal yang semestinya pada Araya. Araya merasakan sakit yang luar biasa saat Rion mulai merangsek maju dan dengan sangat lancar melepaskan segala yang Araya kenakan saat ini. Malam ini akan menjadi malam pertama baginya, malam yang Araya nantikan. Tapi entah kenapa Araya merasakan sakit yang luar biasa dihatinya, selain sakit di tempat yang lain. Bukan hal seperti ini yang Araya inginkan. "Rasakan pembalasan ku wanita sialan," geram Rion pada Araya. "Kau tak akan bisa ke mana-mana lagi, selamat datang di neraka istri ku." Araya tak menanggapinya hanya lelehan air matanya yang berlinang di pipinya. *** Sebelum shalat subuh berkumandang, Araya lebih dulu terbangun atau lebih tepatnya ia hanya sempat memejamkan mata sekitar tiga puluh menit lamanya. Ia memunguti satu persatu baju yang tercecer di lantai dan membawa baju itu ke dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Araya langsung mengunci pintu kamarnya agar Rion tak bisa masuk ke dalam. Dia terduduk di pinggir ranjang sambil mengenakan bajunya kembali. Araya mengingat jelas bagaimana hal yang seharusnya terjadi dengan sangat indah berakhir dengan sangat memilukan. Di saat terakhir, nama yang disebut Rion bukanlah dirinya melainkan Evelyn. Kedua mata Araya mulai berkaca-kaca dan dia mencoba menghalau agar air matanya tak kembali turun. Tapi sia-sia saja karena air matanya malah turun semakin banyak. "Bukan kah ini yang kamu harapkan, Ray. Kini semua berjalan dengan semestinya," gumam Araya pelan sembari menyeka air matanya. "Semoga saja di dalam rahim ini akan tumbuh calon anak kita, Rion." Araya pun mengelus perutnya dan berharap suatu keajaiban akan lahir. "Jika kamu lahir, buatlah ayah mu merasakan penyesalan seumur hidupnya karena telah menyia-nyiakan bunda mu ini." Araya mulai menyemangati dirinya sendiri. "Semoga aku bisa bertahan sampai kamu muncul di dalam sini." Pinta Araya dan ia pun mengelus perutnya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD