Pukul delapan malam lebih delapan menit, Araya mengunci toko bunga miliknya. Hari ini tokonya tutup lebih cepat dari biasanya. Setelah memastikan semua lampu padam dan tak ada hal yang membahayakan yang menimbulkan kebakaran, Araya dengan hati tenang bisa pergi. Malam ini langit malam begitu cerah, ada bulan sabit yang menggantung di sana dan beberapa bintang yang tampak malu-malu. Berhubung cuaca sedang sangat mendukung, Araya memutuskan untuk berjalan kaki sejenak sembari melihat suasana malam.
"Malam ini Gevan bakalan melamar kekasihnya," gumam Araya sambil berjalan di pinggir trotoar. "Seharusnya aku bahagia karena Gevan sudah menemukan kebahagiaannya."
Tiba-tiba saja Araya memegang dadanya, rasa itu masih ada. Dia menganggap jika ia mengikhlaskan hubungan Gevan, ia akan turut bahagia. Prediksi Araya salah besar, ternyata dia mengalami patah hati. Tapi ia dengan cepat menggelengkan kepalanya karena sekarang statusnya telah berubah menjadi istri Rionistri yang tak di anggap. Mood Araya juga sedikit berantakan karena tadi Rena dan Anna mengatakan melihat Rion bersama Evelyn.
Dari sekian banyak hal yang Araya cemaskan adalah nasib pernikahannya ke depan. Baru di awal saja Rion sudah terang-terangan berkencan di depan umum, apalagi nanti. Bukan Araya takut akan perceraian yang memang pasti akan terjadi, tapi ia lebih takut akan dosa jika perceraian itu tetap terjadi.
"Suatu saat, pasti ada keajaiban dan Rion akan berubah menjadi lebih baik bukan sekadar rasa kasihan," gumam Araya pelan. Araya berharap akan ada secercah harapan walau itu hanya sedikit.
***
Araya menekan tombol password apartemen. Ketika membuka pintu, dia mendengar suara televisi yang tengah menayangkan pertandingan sepak bola. Aneh, sejak kapan Rion menjadi pencandu menonton pertandingan seperti itu. Biasanya pria itu akan berkutat dengan laptopnya atau hanya sekadar berbincang dengan Evelyn via telepon.
"Bagus istri macam apa pulang jam segini," sindir Rion saat melihat Araya dengan santai berjalan di depannya.
Sebenarnya Rion terlalu berlebihan karena jam baru menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Bahkan di jam segini Araya yakin, jika remaja di luaran sana baru keluar dari rumah sekadar hang out. Araya menghela napas. "Tentunya istri yang berbakti pada suami," sahut Araya santai, "maunya sih begitu," lanjutnya yang membuat Rion menghempaskan majalah bisnis yang tengah ia baca dengan kasar.
Araya lebih dulu berjalan ke arah Rion yang hendak berdiri. Kedua mata Araya menatap sang suami dengan tatapan teduh dan membuat Rion sedikit tercekat. Araya menatap Rion dengan santai. Sikap Rion persis seperti temannya saat sedang datang tamu bulanan, uring-uringan enggak jelas.
"Tahu enggak, sikap mu itu kayak cewek yang lagi datang bulan," ucap Aruna sambil tersenyum tipis. Bahkan Araya tak segan tertawa kecil. Sungguh sikap Rion kali ini sangat menggemaskan.
Rion menatap tajam ke Araya, tapi sayangnya Araya malah makin melebarkan senyumnya. "Cewek aneh," umpat Rion dan ia pun lebih memilih menjauh dari Araya.
"Kalau kamu ingin berkencan, pergi lah ke tempat yang lebih tertutup. Aku enggak mau salah satu dari kolega kita melihat mu bermesraan dengan Evelyn, bukan dengan ku." Saran Araya panjang lebar. "Ah aku sampai lupa, salah satu staf toko ku bilang, dia melihat mu kencan tadi."
Rion yang hendak membuka kulkas mengurungkan niatnya. Rion menyadari jika berkencan secara terang-terangan seperti tadi dapat membuat posisinya akan terancam. Apalagi dia juga belum sah diangkat menjadi CEO. Sepertinya dia harus menahan hasratnya untuk bertemu Evelyn dalam beberapa hari ke depan. Ah, tapi Rion sulit untuk menolak permintaan Evelyn, kekasihnya itu.
"Jangan sampai perjuangan mu sia-sia menikahi ku untuk mendapatkan posisi itu," sindir Araya telak. Lalu Araya pun masuk ke kamarnya. Dia sungguh tak peduli dengan reaksi Rion saat ini.
Setelah selesai bersih-bersih, Araya keluar dari kamar dan dia mendapati ruangan apartemen itu sudah kosong. Rion tak terlihat di mana pun. Rion sedang keluar dan Araya sudah dapat menebak hal itu. Paling pria itu pergi ke club malam. Tak ada tempat di dunia ini yang mampu membuat pikiran Rion tenang kecuali di sana. Araya sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya ke sana, walaupun dia cukup lama menempuh pendidikan di luar negeri. Araya masih menjunjung adat timur yang kental.
***
Rion melangkahkan kakinya ke dalam ruangan yang cukup luas itu. Suara musik yang berasal dari DJ yang tengah beraksi tak mampu menutupi rasa kesal yang tengah ia rasakan sekarang. Entah kenapa semuanya terasa begitu menyebalkan. Mulai dari Araya yang bertingkah sangat menyebalkan, lalu Evelyn yang tiba-tiba saja mengirimkan pesan jika ia sangat sibuk hingga tak bisa ditemui dalam waktu seminggu ini. Rion kesal luar biasa, ia sangat butuh Evelyn malam ini untuk menghilangkan rasa kesalnya pada Araya. Andai Araya bukanlah wanita, sudah dari dulu Rion akan melayangkan pukulan padanya. Tapi sayang semua itu harus ia telan sendiri karena salah satu syarat yang diajukan oleh kakeknya adalah menikah dengan wanita baik-baik.
"Berikan aku tequila," ucap Rion saat sudah duduk di depan meja bartender. Wajahnya tertekuk dan keningnya berlipat seperti jeruk purut.
"Tumben seorang Rion sampai duduk di depan meja bartender seperti ini," sindir si bartender sambil menyerahkan segelas kecil tequila pada Rion. "Masalah wanita, ya?" Tebaknya dan ia pun tertawa mengejek.
Rion menyambar gelas itu dan meminumnya hingga kandas. "Lagi." Perintah Rion menyodorkannya gelas itu pada sang bartender.
"Sudah lama sekali kau tak seperti ini. Terakhir kali saat Evelyn ngambek saat kau memutuskan untuk menikah," ucap pria itu panjang lebar saat mengingat peristiwa beberapa bulan sebelum hari pernikahan Rion.
Jangan tanya bagaimana penampilan Rion saat menginjakkan kaki ke dalam sana. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan Rion saat itu adalah kacau.
"Kali ini soal Evelyn lagi? Bukannya dia sudah menerima kenyataan jika kau sudah menikah?" Rion mendengus kesal. Pria bartender ini sejak dulu memang sangat banyak omong. Jika sudah menjawab satu, dia akan bertanya terus-menerus tanpa henti sampai jiwa kepo nya terpuaskan.
Rion terkekeh. "Entah kenapa tebakan mu selalu tepat, sialan," umpat Rion sambil meminum lagi tequila miliknya. Kedua matanya menatap Adam yang masih tampak tenang menatap dirinya yang hampir meledak karena menahan kesal.
"Aku anggap itu pujian," sahut Adam sambil tersenyum. Adam tipe yang sangat fleksibel di mata Rion dan dia cukup nyaman bercerita pada bartender itu.
"Lalu apakah reaksi mu melihat kejadian di sudut sana?" Tanya Adam memancing reaksi Rion.
Apalagi pria itu sudah meminum dua gelas tequila dan Adam yakin itu sudah membakar sesuatu di dalam diri Rion. Rion melihat ke arah pandang Adam. Sial. Inikah balasan atas sikap Evelyn pada dirinya yang telah menikahi Araya? Evelyn tengah b******u hebat dengan seorang pria.