Akhirnya seluruh rangkaian bunga telah selesai tepat waktu. Tak lama berselang, Gevan datang dengan wajah yang serius. Apalagi saat ia membuka pintu Aray Florist, tangan kanannya tengah memegang ponsel sambil berbicara dengan seseorang. Menatap Araya, Gevan melemparkan senyum sembari mematikan sambungan telponnya. Ia pun memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Sorry, kalian jadi dadakan buat pesanan bunga-bunganya," ucap Gevan sambil memamerkan senyum cerianya. "Sudadah selesaikan?" Gevan ingin memastikan.
Anna mengikut lengan Rena pelan. Araya yang melihat hal itu hanya tersenyum kecil. "Untuk mas Gevan, kami selalu punya waktu khusus," jawab Rena.
"Aku merasa tersanjung," sahut Gevan. "By the way, bunga-bunganya mana?"
"Sebelah sini," Araya pun menunjukkan tempat penyimpanan khusus sebelum di ambil oleh pembeli.
Gevan mengekor Araya. Kedua mata pria itu tak lepas dari sisi feminim Araya yang seperti biasa mampu membuat Gevan terpana. Saat awal mereka jumpa untuk pertama kalinya setelah sekian lama terpisah, dia sampai tak mengenali jika itu adalah Araya—temannya yang sangat tomboi. Apalagi saat Araya memutuskan untuk memakai kerudung, makin membuat Gevan semakin penasaran.
"Ray," panggil Gevan saat mereka berdua telah berada di ruangan khusus itu. "Kamu ada masalah?"
Araya membalikkan badannya dan tersenyum. "Aku baik-baik aja." Araya menjawab sekenanya, lalu ia melanjutkan pekerjaannya lagi.
Gevan merutuki kalimat bodoh yang ia ucapkan tadi. Dia hanya bisa menatap punggung Araya yang tengah mengambil bunga pesanannya. Entah kenapa, dia sama sekali tak mengenali Araya. Araya yang ia kenal memiliki sifat ceria, bukan seperti ini. Tampak mendung.
"Ini bunga khusus dan aku sendiri yang merangkainya," ucap Araya sambil menyerahkan sebuah buket bunga mawar merah pada Gevan. "Sesuai pesanan kamu, Anna dan Rena enggak ikut campur untuk buket yang satu ini." Gevan menerima buket itu dan ia mencium aroma mawar yang sangat khas itu.
"Jadi kamu mau melamarnya hari ini?" Tanya Araya mencoba setenang mungkin. Iya, Araya tahu jika Gevan tengah menjalin sebuah hubungan spesial dengan sekretarisnya, kisah klasik antara bos dan sekretaris.
Gevan tersenyum cerah. "iya dan aku udah kerja sama dengan mama dan papanya." Gevan jelas merasa bahagia. "Kamu tahu kan jika cewek itu suka dengan namanya kejutan," lanjutnya lagi dan Araya mengangguk membenarkan. Araya juga sering mendapat kejutan dari Rion tapi bukan kejutan yang menyenangkan yang ada malah sebaliknya.
"Moga berjalan dengan lancar." Araya benar-benar mencoba mengikhlaskan, tapi hatinya entah kenapa terasa sangat nyeri sekali. Sakit tapi tak berdarah.
"Makasih Ray."
"Jangan lupa undangannya."
Gevan hanya tertawa. "Kalau itu, pasti."
Gevan dan Araya pun berjalan menuju kasir. Di sana, Anna sudah menunggu Gevan. Kali ini pasti Gevan kasi uang tip yang lumayan lagi. "Totalnya dua juta dua ratus lima puluh ribu pak," ucap Anna saat menjumlahkan keseluruhan bunga yang di pesan oleh Gevan.
Gevan menyerahkan credit card nya pada Anna. Lalu Gevan pun mengeluarkan uang pecahan seratus ribu tiga lembar. "Untuk kamu sama Rena."
Anna tak dapat menahan senyum saat Gevan menyerahkan tiga ratus ribu padanya. Rezeki mah jangan di tolak. "Makasih banyak pak," sahut Anna penuh semangat.
Gevan sedikit memajukan tubuhnya ketika ia melihat situasi aman dan Araya tak melihat tindakannya itu. "Tolong beritahu saya jika terjadi sesuatu pada Araya," pinta Gevan serius.
Entahlah seperti kebanyakan sahabat yang cemas dengan sahabatnya sendiri, Gevan merasakan hal aneh terjadi pada Araya semenjak menikah dengan Rion. Anna sedikit mengernyit saat mendengar permintaan Gevan. Rasanya terkesan aneh seseorang mengkhawatirkan bos nya, terlalu berlebihan tapi Anna tetap menganggukkan kepalanya.
"Kalau sempat entar malam datang ya, Ray," ujar Gevan sebelum meninggalkan Aray florist. "Ajak Rion juga."
"Insya Allah ya," sahut Araya diplomatis. "Hati-hati."
Gevan mengacungkan jempol kanannya pada Araya sembari meninggalkan Aray florist. Gev, padahal di sepertiga malam ku sebelum aku bertemu Mas Rion. Aku berharap pada Allah bahwa kamulah jodoh ku. Tapi Allah punya rencana lain untuk ku. Aku sayang banget sama kamu. Aku sayang sama kamu melebihi diriku sendiri. Tapi sekarang ada hal-hal yang harus aku jaga. Semoga kamu berbahagia. Cinta pertama ku.
Sisi melankolis Araya muncul lagi. Seharusnya ia senang saat Gevan telah menemukan belahan jiwanya. Tapi ia tak bisa memungkiri jika aktingnya sangat jelek sekali dan sama sekali tak terlihat natural. Wajar jika Gevan merasa curiga padanya. Setelah Gevan meninggalkan toko bunganya, Araya menarik nafas cukup dalam. Kehidupan seperti apa yang tengah ia jalani kini?
"Mbak." Tak ada sahutan. "Mbak." Rena memanggil Araya untuk kedua kalinya.
"Iya," sahut Araya sambil tersenyum tipis. Memikirkan Gevan membuat kinerja otaknya sedikit kacau.
"Mbak lagi enggak enak badan ya?" Anna bertanya dengan hati-hati.
Araya menggeleng kecil. "Kalau ada perlu, mbak di ruangan ya." Setelah menitip pesan pada Anna, Araya segera menuju ke ruangan kerjanya.
Dan di sinilah wanita cantik itu, ruangan yang tak terlalu besar hanya berukuran empat kali empat meter itu adalah tempat di mana segala rahasia Araya berada. Dia bersandar pada dinding agar dirinya tak terjatuh, sedikit tertatih Araya berjalan menuju meja kerjanya. Sebuah cairan bening jatuh di pipi nya yang bersih itu. Tangan kanannya meremas ujung kerudungnya, menyalurkan rasa sakit yang dengan cepat menjalar hampir ke seluruh tubuhnya. Dulu, ia berharap bisa menjadi seorang putri yang akan memiliki pangeran. Pangeran yang hanya diciptakan hanya untuk mencintainya, yang hanya melihat pada dirinya. Tapi semua dongeng yang ia baca tak pernah berimbas pada kehidupan nyatanya. Dongeng tetaplah dongeng yang selalu menghibur agar seseorang tetap memiliki impian walaupun hanya kecil.
Araya dengan cepat menyeka air mata yang jatuh di pipinya, lalu menghirup dalam-dalam oksigen agar pikirannya kembali tenang. Sementara itu, Anna dan Rena tengah menyusun beberapa bunga yang akan di pajang di etalase, karena stok yang ada sudah di pakai untuk membuat pesanan buket Gevan. Rena lah yang menyadari pertama kali ketika suami Araya, Rion melewati depan toko Aray florist. Rena dan Anna hadir di pesta pernikahan Araya saat itu. Jadi, Rena masih ingat dengan jelas wajah songong dari suami pemilik toko bunga ini.
"An, gue enggak salah lihat kan?" Suara Rena terdengar seperti orang tercekat.
Anna mengikuti arah mata Rena. "Gila, itu suaminya mbak Ray," desis Anna tak percaya. Syukur saja dia masih mengontrol suaranya tadi. Anna tiba-tiba mencubit lengan Rena.
"Awww, Lo apa-apaan sih." Rena kesal karena Anna malah mencubitnya.
"Fix, ini real," ucap Anna tanpa rasa bersalah. "Kasian mbak Ray."
Rena hanya bisa melihat sepasang manusia itu berlalu dari toko bunga Araya. Lalu kedua matanya melihat ke arah ruangan khusus itu. Betapa malangnya nasib pemilik toko bunga Aray Florist.