Bab 6

1016 Words
Suara bel berbunyi, membuat Rion langsung melepas cengkraman tangannya dari leher Araya yang membuatnya bisa bernapas lega,. Pria itu dengan segera menuju pintu, karena orang yang tengah menekan bel itu sepertinya bukan orang yang sabaran, sebab bel tersebut berbunyi dengan sangat bar-bar. Araya langsung terduduk di lantai, badannya luruh begitu saja seolah kehilangan tenaga. Kedua netra nya terpejam sejenak dan ia meraba lehernya yang masih terasa sedikit sakit. Apakah itu sensasi jika seseorang berniat membunuhnya? Araya terkekeh kecil sambil menyeka sudut matanya yang tiba-tiba saja mengeluarkan cairan bening. Ya, Araya menangis. Araya bukanlah malaikat, dia masih manusia yang masih memiliki emosi. Dan sampai di detik ini, dia merasa sangat tak nyaman berada di lingkungan seperti ini. Lingkungan penuh kepalsuan yang hanya mengingatkan harta dan tahta. Araya dapat mendengar suara ibu mertuanya saat Rion membukakan pintu apartemen. Wanita paruh baya itu mengomel karena Rion lama sekali membuka pintu. Araya harus tersenyum dan seolah tak pernah terjadi apapun. Karena dia masih ingat jika ia masih membawa nama baik mama dan juga papanya. Bukankah anak harus berbakti kepada orang tua? Anggap saja ini adalah bukti dari bakti Araya. Walaupun tak dibesarkan secara langsung oleh orang tuanya yang gila kerja dan juga harta, ia masih cukup beruntung masih mengenal agamanya saat di asuh oleh bibi yang ia anggap sebagai ibu kandungnya. Meskipun pada kenyataannya sangat berbeda. "Ray lagi masak, kamu malah santai kayak gitu," decak Mama Rion saat melihat Rion yang tengah duduk santai sambil melihat acara televisi. Rion sengaja membuat dapur yang berhadapan dengan ruang santai, sehingga mamanya dapat melihat aktivitas Araya. "Wajar kali ma, kalau wanita masak," sahut Rion cuek. "Kodratnya kan? Lagian mama juga kalau masak juga enggak suka tuh kalau ada yang gangguin." Rion benar-benar sangat enggan berdekatan dengan Araya. Entah kenapa berdekatan dengan Araya membuat emosinya cepat terpancing. Mamanya sangat gemas dengan jawaban Rion yang seolah sepele dengan tugas seorang wanita. Dikiranya memasak itu pekerjaan mudah apa? "Kalau Rion enggak mau bantuin kamu, Ray. Enggak usah kasih dia jatah makan malam," ancam mamanya sadis sambil berjalan ke arah Araya yang tengah menggoreng ikan nila. "Aku bisa delivery." Lagi-lagi Rion menyahuti. Lagian zaman sekarang kalau laper dan malas keluar rumah bisa delivery makanan. Zaman serba canggih kenapa mesti repot segala. Mamanya hanya menghela napas sambil menatap sedih ke arah menantunya. "Enggak usah bantu, ma. Bentar lagi udah selesai. Mama duduk manis aja ya." Araya tersenyum tipis. Bagaimana mungkin ia membiarkan mama mertuanya turun tangan memasak. Dia tahu bagaimana mama mertuanya itu. Mama mertuanya akhirnya mengalah dengan argumentasi Araya. Dia tak ingin melihat menantunya itu tertekan karena ulah anaknya. Ibu Rion berjalan menuju ruang televisi dengan hati dongkol. Ke mana perginya didikan yang ditanamkan oleh dia dan suaminya selama ini. Apakah didikannya keliru? "Mama tahu kamu masih berhubungan dengan wanita itu," ucap mamanya tiba-tiba sambil merebut remote televisi dari tangan Rion. Wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik itu mengganti channel sinema azab yang tengah di gandrungi oleh ibu-ibu sekarang. Gara-gara pelakor, rumah tangga ku pun hancur. Rion berdecak tak suka saat membaca judul sinema yang jelas-jelas tak berbobot itu. Apa enggak ada judul yang lebih pantas dan lebih bagus saat di baca?! Kenapa sih, pertelevisian negeri ini semakin hari semakin tak berkelas. Pantas saja anak-anak muda sekarang lebih tertarik menonton di platform merah dengan simbol play, ketimbang televisi. Rion malah sewot dalam hati. "Kenapa muka kamu kayak gitu? Kesindir dengan judulnya?" Tebak mamanya tepat sasaran. "Atau kamu mau mengganti posisi Araya dengan wanita sialan itu?" "Mama apaan sih." Rion sama sekali tak suka membahas hal yang sangat sensitif seperti ini. Cukup dia menuruti perintah orang tuanya untuk menikah dengan wanita aneh seperti Araya. Mamanya menaikkan sebelah alisnya melihat raut wajah Rion yang sangat ekspresif itu. Ternyata dewa cinta masih menancapkan panahnya pada hati anaknya dan sayangnya panah asmara itu salah sasaran. Mamanya terkekeh kecil. Rion hanya mendelik ke arah mamanya yang menertawakan dirinya. "Mau makan di mana nih?" Suara Araya mengalihkan atensi ibu dan anak itu. Aroma masakan Araya menguar ke udara dan membuat siapapun ingin segera menyantapnya. "Ikan nila asam manis, ini mah kesukaan Rion banget." Araya hanya tersenyum kecil mendengar suara mama mertuanya itu. Araya sengaja memasak ikan nila asam manis kesukaan Rion. Walaupun Rion membenci dirinya, seenggaknya pria itu akan memakan hasil masakannya. Ah tidak, itu hanya angan Araya belaka, mana mungkin Rion mau memakan hasil masakannya kecuali sedang dalam keadaan terpaksa seperti sekarang. Mama mertuanya sudah mengambil nasi lebih dulu dan mengambil sepotong ikan nila yang berukuran sedang. Araya hanya menatap mama mertuanya dengan mata teduh. Andai mamanya sendiri seperti itu juga pasti dia akan menjadi anak yang paling bahagia di dunia ini. "Enak, kamu belajar masak di mana sayang?" Tanya mama mertuanya setelah merasakan sensasi rasa yang menggoyang lidahnya. Araya menggantungkan celemek yang ia pakai di sisi kiri pantri dan ikut bergabung bersama mama mertuanya. "Belajar sama bibi, ma," jawab Araya sambil mengambil piring hendak mengambil nasi untuk Rion. "Aku enggak makan," ucap Rion saat melihat tindakan Araya. "Anak ini sok malu-malu meong," dumel mama mertuanya. "Ambilkan aja Ray. Banyakin nasinya." Titah sang ratu dan Araya hanya mengangguk kecil dan melaksanakan instruksi itu. Rion membuang muka. Sebenarnya perutnya sudah keroncongan minta di isi tapi dia sangat malas memakan masakan Araya. Dalam benak Rion sekarang adalah Araya pasti telah memasukkan sesuatu kedalamnya. Suudzon mulu suami satu ini. "Gengsi di pelihara." Cibir Araya. "Iya, gengsi kok di pelihara. Lapar iya, kenyang kagak." Kali ini mamanya Rion mulai sebal dengan sikap anaknya. Walaupun masakan Araya jauh dari kesan mewah tapi rasa masakannya tak kalah dari chef ternama. Rion dengan enggan mulai memakan hasil masakan Araya. Entah apa yang di benak Araya kini dan membuat Rion menahan dongkol setengah mati. Diam-diam Araya memperhatikan perubahan wajah Rion saat suapan pertama masuk ke dalam mulut pria itu. Araya tersenyum, mungkin dia harus lebih berusaha keras lagi untuk melunakkan hati Rion. Mungkin benar apa yang dibilang mama mertuanya jika Rion hanya gengsi. Mama Rion pun turut melihat ekspresi anaknya. Dalam hati, ia berdoa agar anaknya cepat sadar karena wanita yang telah menjadi istrinya kini adalah wanita yang luar biasa. "Enak kan?" Ledek mamanya. Araya tak mampu menyembunyikan tawanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD