Firasat Araya benar-benar terbukti. Dia takkan pernah bertemu dengan Gevan lagi dan taruhan itu tak akan pernah terjadi. Araya sama sekali tak memiliki suara untuk membantah keinginan mama dan papanya. Terlahir sebagai anak tunggal yang tak diharapkan mungkin seperti itu. Dirinya tak ubahnya bagai boneka yang di ingat jika diperlukan. Iya, Araya harus pergi jauh meninggalkan rumah dan juga sahabatnya Gevan menuju negeri asing yang ia sendiri tak tahu di mana. Satu hal yang Araya ingat adalah senyum bodoh Gevan saat menertawakan dirinya beberapa hari lalu.
"Jika gue kembali, lo masih ingat gue enggak sih?" Bisik Araya dengan hati yang sendu.
***
Bintang sudah bertengger manis di langit malam ketika Araya baru sampai di apartemen Rion. Tanpa kesusahan, Araya menekan password dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya penuh dengan bahan makanan yang ia beli tadi di supermarket. Lumayan untuk persediaan selama empat hari, setidaknya Araya tak akan memakan makanan instan karena tak baik untuk kesehatannya. Mata Araya menangkap dua pasang makhluk hidup yang sedang b******u mesra di hadapannya. Bahkan aktivitas mereka seperti tak terusik sama sekali dengan kehadiran Araya.
Gadis manis itu hanya menghela napas lalu memutar bola matanya jengah. Seharusnya sebagai istri normal dia sudah memaki wanita yang jelas-jelas merebut suaminya bahkan dengan terang-terangan b******u mesra seolah tak tahu diri. Rion lah yang mengikis jarak antara dirinya dan kekasihnya, lalu ia menatap tajam ke arah Araya yang melongos pergi menuju dapur.
"Itu istri kamu, sayang?" Tanya Evelyn dengan nada manja bahkan tangan kanannya menelusuri rahang Rion dan menatap lekat kedua mata Rion yang bagai elang itu.
Rion mengecup bibir Evelyn singkat dan mempererat pelukannya pada tubuh Evelyn. "Pembantu," jawab Rion malas.
Evelyn hanya terkekeh senang dan sedikit memukul d**a bidang Rion. "Aku harap status kalian cepat berakhir," kata Evelyn dengan wajah penuh senyum. "Kamu tahu, aku sampai nangis lihat kamu sama dia di resepsi itu," adu Evelyn lagi meminta atensi Rion.
Rion kembali mengecup bibir Evelyn, "sabar sayang sampai posisi itu aku dapatkan."
Tiba-tiba saja Araya muncul dengan memakai celemek serta pisau dapur di tangan kanannya. Rupanya ia telah selesai menyusun bahan makanan ke dalam kulkas.
"Sorry, ganggu aktivitas berharga kalian, aku hanya memberi peringatan. Lebih baik kalian melanjutkan aktivitas kalian di tempat lain," ucap Araya dengan santai. "Ah iya, satu lagi mama mertua sebentar lagi akan datang. Kalau kalian ingin melanjutkan kembali di sini ya silahkan."
Setelah mengatakan itu, Araya kembali menuju dapur sedangkan Rion sudah menahan emosinya. Benar-benar mulai melunjak sepertinya. Evelyn melepaskan pelukan Rion yang begitu erat di tubuhnya.
"Kapan-kapan aku mampir lagi sayang. Ibu kamu enggak suka sama aku."
Rion melepaskan pelukannya dan menatap Evelyn dengan wajah kesal dan juga tak rela kekasih hatinya pergi lagi.
"Aku janji akan sering-sering mengunjungi mu."
Rion hanya menatap Evelyn lalu tersenyum kecil. "Maaf kali ini aku enggak bisa antar kamu."
Evelyn memukul d**a bidang Rion dengan pelan. "Aku udah besar dan aku bakalan baik-baik aja." Setalah mengucapkan itu Evelyn pun meninggalkan apartemen Rion. Rion lalu menatap ke arah dapur di mana Araya tengah memasak. Dia harus membuat Araya menderita.
***
Araya tampak tak peduli dan tak mau ambil pusing saat kedua netra Rion menatap tajam padanya saat mata mereka tak sengaja beradu pandang. Bukan Araya mendadak buta, tapi ia tahu jika kadar kebencian Rion makin besar padanya.
"Enggak capek lihat punggung aku?" Tanya Araya basa-basi. "Itu bukan alibi untuk mengusir Evelyn dari sini."
Rion hanya memilih diam karena jika memang terbukti mamanya datang, bisa-bisa mamanya akan menelepon kakeknya dan membatalkan pengangkatan dirinya menjadi CEO. Iya, Rion harus berhati-hati lagi agar Araya tak terlalu banyak bicara pada mama ataupun papanya.
"Aku enggak larang kamu bermesraan dengan kekasih mu itu, tapi aku harap jangan di rumah ini," pinta Araya sungguh-sungguh.
Bagaimana pun ia dan Rion sudah sah menjadi suami istri walaupun mereka tinggal di lingkungan apartemen yang penghuninya rata-rata adalah individualis. Tapi Araya tetap ingin menjaga agar rumah ini tetap terlihat baik-baik saja. Sebab dalam kepercayaan yang dianut Araya, menjadi kewajiban istri untuk menjaga aib keluarga agar tak bocor ke luar.
"Sok suci," tanggap Rion sinis.
Araya hanya mengangkat bahunya. Kata sok suci itu sudah lama juga tak ia dengar. "Terserah kamu. Lagian kalau kamu kepergok mama lagi mesraan dengan kekasih mu seperti tadi, aku enggak bisa bantu kamu dapatkan kursi CEO itu." Rion kalah telak dengan ucapan araya yang santai tapi sangat mengena itu.
Rion terdiam, Araya sangat pandai memainkan situasi. Kenapa situasinya jadi terbalik seperti ini? Seharusnya Araya lah yang merasa terintimidasi, kenapa malah dia pula? Rion tersenyum sinis. "Wajar kau bersikap sombong seperti itu, mengingat harga fantastis yang telah kakek berikan pada orangtua mu."
Araya yang tengah memotong tomat tiba-tiba saja menghentikan kegiatannya. Tubuhnya menegang. Ia tahu itu, jika ia telah dijual dengan mengatasnamakan perjodohan dan ia sadar pada akhirnya tak ada seorangpun yang menginginkannya, baik itu oleh kedua orangtuanya ataupun Rion sendiri. Sejak dulu dia sudah terasingkan dan terbuang dari kata kasih sayang. Araya menghela napas, seharusnya dia telah terbiasa dengan hal seperti ini. Lagipula ia memiliki waiting list yang harus segera ia selesaikan sebelum waktunya tiba.
"Iya, aku sadar kalau aku udah di jual. Tapi ingat, kamu juga sudah menjual diri mu sendiri pada kakek mu hanya demi sebuah kursi," jawab Araya santai sambil menatap kedua netra Rion yang tengah memancarkan aura permusuhan. "Apakah aku benar?" Tanya Araya saat melihat wajah Rion yang mendadak memerah menahan amarah yang luar biasa.
Rion sangat gampang sekali di pancing emosinya, disentuh sedikit sudah langsung meledak. Rion segera bangkit dari tempat ia duduk dan berjalan ke arah Araya. Dia mencekal lengan kanan Araya yang tengah memegang pisau, sedangkan tangan kirinya memegang leher Araya yang masih mengenakan kerudung.
"Kau sudah memancing ku terlalu jauh, Araya," desis Rion. Dia menatap tajam ke dalam mata Araya yang lagi-lagi masih terlihat tenang dan sama sekali tak merasa gentar sedikitpun. "Aku bersumpah akan membuat kau hidup seperti di neraka."
Araya yang sedikit kesulitan bernapas karena tangan Rion yang masih berada di lehernya, tetapi masih bisa tersenyum. Araya juga telah bersumpah, jika suatu saat Rion pasti akan merasa sangat menyesal atas apa yang telah ia perbuat padanya.