Bab 4

1038 Words
Araya melihat penampilan barunya sekarang. Tak sia-sia rasanya ia bangun pagi untuk membuat rambutnya sedikit tertata. Tak lupa ia menyapukan make up tipis pada wajah belianya. Terakhir, Araya memoles lipbalm pada bibirnya dan sekarang dirinya tampak sempurna. Dia sedikit tergelak ketika membayangkan reaksi Gevan ketika melihat penampilan barunya sekarang. Sungguh, ia tak sabar untuk pergi sekolah dan menanti tanggapan Gevan. Tepat saat Araya hendak keluar kamar, ia mendengar mama dan papanya tengah beradu argumen. Ketika kedua netra orangtuanya menatap Araya, entah mengapa Araya berfirasat jika ia tak akan pernah melihat Gevan lagi. *** Pagi-pagi Araya telah berkutat di dapur milik Rion. Perutnya kelaparan setelah sholat subuh tadi, apalagi malam sebelumnya dia juga bekerja keras membersihkan kamar kecil yang mirip gudang itu. Tentunya kamar itu kini telah layak huni walaupun tanpa kasur yang nyaman. Syukur saja Araya menemukan kasur busa tipis tadi malam. Lumayan lah untuk merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Pagi ini, Araya memasak nasi goreng sederhana, karena hanya bahan-bahan itu saja yang ia temukan di dalam lemari pendingin Rion. Sembari bersenandung kecil, Araya mengaduk nasi gorengnya yang sebentar lagi matang sempurna. Aroma wangi itu bahkan menguar sampai kamar Rion. Rion yang baru saja selesai memakai baju kantornya dengan segera bergegas menuju dapur. Dia tak mau jika dapurnya dikuasi oleh Araya. Pelit banget Rion, naudzubillah. "Apa-apaan ini, siapa suruh kau memasak?" Tanya Rion marah, bahkan rahangnya tampak mengetat. Araya baru saja mematikan api kompor dan membalikkan badan. "Aku lapar dan tenang saja aku memasak untuk diriku sendiri. Aku tahu kamu enggak akan mau makan masakan ku," jawab Araya santai sembari mengambil piring. Rion mendecak kesal. "Siapa yang mengizinkan mu memakai dapur ku?" Rion benar-benar kesal, dengan santainya Araya memakai dapurnya tanpa izin. Araya menarik kursi meja makan dan melatakkan nasi goreng tadi di atasnya. Dia menulikan telinganya dari cercaan Rion yang sangat menyakitkan. Tapi ia sudah memasang tameng agar hatinya tak terluka oleh ucapan Rion yang selalu seenaknya itu. Araya pernah membaca sebuah buku, jika seseorang merasakan sakit hati, itu terjadi jika hati kita membenarkan ucapan itu. Jadi, Araya memutuskan untuk masa bodoh dengan segala tindakan dan ucapan Rion. "Sudah ku bilang aku lapar, tak ada apa-apa yang bisa aku makan kecuali ini." Araya menunjuk ke arah nasi goreng buatannya. "Kamu mau?" Araya malah tersenyum manis sedangkan ekspresi Rion sudah seperti orang kebelet BAB. "Ah ya, kamu yakin mau kerja? Kita baru menikah dua hari lalu kalau kamu lupa. Kamu enggak mau di sangka gila kerja, kan?" Araya malah dengan santai memakan nasi goreng buatannya. Emosi yang sedari tadi Rion tahan akhirnya pecah juga. Ia mengambil gelas yang berisi air putih milik Araya dan membanting benda itu dengan keras. Bahkan pecahan belingnya sampai melukai kaki araya, Rion tak peduli lagi. "Enam bulan dari sekarang, aku akan menceraikan mu," ucap Rion dengan sinis. Araya bukannya merasa takut ataupun gentar. Dia malah bertepuk tangan seolah ucapan Rion adalah hal yang luar biasa. "Waw, Tuan Rion benar-benar hebat sekali," puji Araya sambil bertepuk tangan. "Aku menantikan surat cerai itu sampai di tangan ku. Dan satu lagi jika hari itu datang, aku harap kamu tak akan pernah menyesal." Araya malah mengakhiri ucapannya dengan melemparkan sebuah senyuman manis yang tentu saja makin membuat Rion semakin jengah. Rion menatap mata Araya yang tampak tenang, sama sekali tak terpancing dengan amarah Rion. Padahal Rion sudah melontarkan kalimat yang membuat hati Araya sakit, ini kenapa dia yang merasa sebaliknya. Menyebalkan. Rion yang sudah malas berdebat akhirnya memutuskan untuk pergi dari dapur. "Ingat kata orang penyesalan itu datangnya selalu terlambat. Kalau di awal katanya registrasi." Araya memperingatkan Rion sekali lagi. Setelah kepergian Rion, Araya melanjutkan sarapannya yang tertunda walaupun kakinya perih karena terkena pecahan gelas tadi. Lebih baik ia mengisi tenaganya dengan benar karena Araya yakin jika dia akan melewati hari-hari yang melelahkan. Kedua netra Araya melihat pecahan kaca yang berserakan di atas lantai. Pekerjaan pertamanya setelah selesai sarapan adalah membersihkan pecahan gelas itu. Punya suami kok malah nambah-nambahin pekerjaan istri sih, gerutu Araya. "Jika kamu ingin membuat ku hidup di dalam neraka, silahkan saja Rion. Tapi satu hal, suatu saat kamu akan benar-benar menyesal atas apa yang telah kamu lakukan ke aku," gumam Araya. *** Aray Florist tengah ramai-ramainya menjelang sore hari ketika Araya mengunjungi toko bunga itu. Ketika ia membuka pintu toko, hawa sejuk nan segar langsung menyambutnya. Araya butuh pengalihan suasana. Siapapun bakalan sumpek jika berada di dalam apartemen terus menerus tanpa ada kegiatan berarti. "Lah kok malah datang, mbak Ray?" Salah satu pegawai yang baru selesai membungkus bunga mawar merah segar itu melihat kedatangan Araya. "Kita maklum kok kalau mbak masih mau santai-santai," lanjutnya lagi sambil menekankan kata santai-santai. Araya hanya tersenyum dan menghampiri konter yang dikhususkan untuk membungkus bunga-bunga segar itu menjadi buket. "Bilang kangen aja apa susahnya sih?" "Iya tuh mbak, Rena kan emang begitu," celetuk Anna yang telah selesai tugasnya di kasir. Pembeli terakhir sebelum toko bunga tutup. "Bahkan Rena bilang gini, enak ya mbak Ray udah punya pendamping hidup, mana kaya plus cakep pula." Araya hanya tertawa mendengar Anna yang tengah mengadu padanya. "Mbak mau inspeksi mendadak. Selama mbak tinggal, pesanan dan toko aman enggak?" Araya malah bercanda padahal dia yakin jika Rena dan juga Anna adalah pegawai toko yang rajin dan juga jujur. Perihal totalitas dan dedikasi dalam pekerjaan, Araya tak pernah meragukannya. "Aman dong mbak," jawab Anna dan Rena serempak. "Mbak sama siapa ke sini? Bareng sama pak suami?" Tanya Rena kepo. Araya membuat gerakan mengunci mulutnya dan membuat Anna malah tertawa senang. Rena memang begitu, sifat kepo nya itu sulit untuk dikurangi. "Mbak, kakinya kenapa? Kok di perban segala?" Rena lah yang pertama kali menyadari jika ada luka di kaki kiri Araya. Biasanya Araya akan memakai kaos kaki tapi kali ini dia absen karena luka di kakinya membuat dia kesulitan serta rasanya yang masih terasa pedih. "Biasa latihan jadi chef, eh malah pecahin piring" jawab Araya sambil memperlihatkan kakinya yang terluka. Melihat wajah khawatir dari Anna dan Rena membuat hati Araya sedikit merasa perih. "Tenang gak sakit kok, lagian cuma luka kecil." Araya mengibaskan tangannya dan berharap jika dua pegawainya akan percaya. Luka itu adalah luka pertama yang ia peroleh setelah menjadi istri Rion. Entah luka apalagi yang akan Araya peroleh, tapi sampai kapan pun ia sudah bertekad akan menjalankan pernikahan ini hingga batas waktunya tiba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD