Bab 14

846 Words
Pemandangan yang pertama kali Araya lihat saat ia membuka mata adalah langit-langit bernuansa putih. Terakhir kali yang ia ingat, dia berada di ruang kerjanya, pasti Rena dan Anna cemas dengan keadaannya. Araya ingat jika sesaat sebelum pingsan, ia mendengar suara Rion memanggil namanya. Dia berharap hal itu memang nyata, tapi kembali mengingat itu membuat d**a Araya terasa nyeri. "Apa yang sakit, Ray?" Sebuah suara penuh dengan sarat kecemasan itu membuat Araya menoleh. Dia mendapati raut wajah mama mertuanya yang tengah menatapnya dengan tatapan sedih sekaligus cemas. Araya lupa kapan terakhir kali ia dicemaskan oleh orang lain. Araya menarik senyumnya karena ia tak mau membuat mama mertuanya merasa terbebani. "Ray, baik-baik aja, ma. Mungkin hanya lelah dan belum sarapan tadi pagi," sahut Araya. "Pa, bisa tinggalkan mama sama Ray bentar?" Pinta mama Rion sambil menatap suaminya. "Papa sekalian beli minuman buat mama. Ray, jangan paksakan diri kamu." "Iya, pa." Setelah papa mertua Araya keluar dari ruangan itu, mama mertuanya tak sanggup lagi menahan rasa sedih yang sudah menumpuk di hatinya sejak tadi. "Loh, kenapa mama nangis? Ray baik-baik aja, ma. Enggak usah cemas," ucap Araya lembut. "Mama minta maaf sama kamu Ray. Maafin sikap egois mama yang sudah meminta mu untuk menikah dengan Rion saat itu." Isak mama mertuanya sambil menggenggam erat tangan Araya yang bebas dari infus. "Mama akan menebus segala sikap egois mama sama kamu asalkan kamu bahagia." "Ma," ucap Araya pelan. "Pernikahan Ray dan mas Rion memang enggak dilandasi oleh rasa cinta dan kedua orang tua Ray juga merasa senang dan bangga Ray menikah dengan Mas Rion." Araya menarik napasnya pelan. "Ray pernah cerita sedikit tentang papa dan mama Ray, kan? Ray enggak mau hanya sekedar bermain rumah tangga, ma. Ray ingin keluarga yang utuh walaupun Ray harus menempuh jalur yang terjal." Mama mertuanya semakin terisak, bagaimana bisa Araya masih bisa berpikir jernih setelah satu ginjalnya ia berikan pada Rion. Kedua mata Araya berkaca-kaca. "Mama jangan merasa terbebani dengan ginjal Ray yang berada dalam tubuh Mas Rion. Itu murni keputusan Ray untuk membantu Mas Rion saat itu terlepas dari Mas Rion anaknya mama. Ma, Ray baik-baik saja dengan satu ginjal ini. Sungguh." Araya mencoba meyakinkan mama mertuanya jika ia berada dalam kondisi baik-baik saja. Dalam keadaan yang begitu sulit sekalipun, Araya masih saja memohon dengan sungguh-sungguh pada mama mertuanya untuk tidak memberitahukan masalah ini pada suaminya. Mendengar dari mulut menantunya sendiri membuat mama mertuanya semakin terbebani. Entah sampai kapan rahasia ini akan terus ditutupi. Mama mertuanya sekali lagi dengan berat hati menyetujui kemauan menantunya. Tentu saja, tak gratis. Mama mertuanya meminta Araya untuk tinggal di rumah nya setelah keluar dari rumah sakit. Tak ada tawar menawar lagi. *** Saat menjelang tengah malam, kedua mata Araya tak kunjung terpejam. Dia masih teringat percakapan dengan mama mertuanya. Hidup dengan satu ginjal dan beraktivitas seperti manusia normal lainnya telah Ray lakukan dengan baik. Selama dia masih menjaga pola makan dan juga jangan terlalu stres. Ray ikhlas mendonorkan satu ginjalnya pada Rion saat itu. Araya saat itu berpikir jika ia mengorbankan satu ginjalnya, dia akan bisa berpikir dengan jernih. Karena semakin dia mencoba melarikan diri, semakin besar keinginannya untuk mengakhiri hidupnya. Araya lelah dengan segalanya. Hidup dengan harta berlimpah tak menjamin kebahagiaan dirinya. Hidup jauh dari kedua orang tua dan juga satu sahabat terdekatnya di usia remaja membuat Araya memiliki sifat tertutup. Syukur saja saat Araya masih remaja, ia masih rajin menjalankan perintah agama, walaupun terkadang sholat lima waktunya sering bolong. Satu hal yang Araya sadari adalah setelah ia mendonorkan ginjalnya, Araya mulai berhenti menyakiti dirinya sendiri. Terkadang jika rasa sakit itu sudah tak tertahankan, ia akan menorehkan satu atau dua luka di lengannya. Ponsel Araya yang berada di atas nakas sebelah ranjang rawat inapnya berbunyi. Araya bersyukur karena tadi Rena dan Anna menjenguknya sambil membawa ponsel Araya yang tertinggal. Rena dan Anna dengan semangat bercerita jika Rion lah yang membawa Araya ke rumah sakit. Rena juga menambahkan jika ia melihat adegan cinta segitiga saat ia pingsan. -Gevan- Ray, maaf ganggu istirahat kamu. Aku tahu kamu nutupi sesuatu dari aku. Kita udah lama kenal dan aku tahu bagaimana watak kamu, Ray. Araya hanya membaca pesan dari Gevan tanpa berniat membalas pesan itu. Masalahnya tak akan selesai dengan semudah itu. Dan membuat Gevan masuk ke dalam masalahnya adalah pilihan terakhir yang Araya punya. Araya tak ingin jika Gevan kembali terusik. Araya meletakkan kembali ponselnya dan ia pun memejamkan kedua matanya. Banyak hal yang harus ia selesaikan dengan kedua tangannya sendiri. Keinginan terbesarnya adalah bisa terbebas dari kedua orang tuanya. Gev, aku ingin kamu bahagia. Bahagia dengan wanita lain dan yang pasti itu bukan aku. Walau aku mencintaimu, aku enggak akan mungkin bisa bersama dengan kamu. Selama mama dan papa masih tetap hidup, mereka enggak akan pernah senang melihat aku dekat dengan kamu. Satu rahasia yang masih kamu belum tahu, aku pergi jauh dari kamu demi keselamatan hidup kamu dan keluarga kamu, Gevan. Itu rahasia ku. Tak lama kemudian, kedua mata Araya terpejam dan ia pun akhirnya bisa tidur. Tak lama setelah Araya tertidur, seseorang memasuki kamar ruang rawat Araya. Orang itu menatap wajah wanita cantik itu dengan senyum sendunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD