Setelah dinyatakan sembuh total, mama mertuanya benar-benar memboyong Araya ke rumahnya. Araya sendiri juga tak keberatan tinggal di rumah mertuanya untuk sementara. Tapi ada satu hal yang mengusik batin Araya jika ia tinggal di rumah mertuanya seperti ini. Bagaimana pandangan mama nya jika sampai mengetahui hal ini? Araya sejak dulu sudah dididik untuk tidak membuat malu keluarga dalam bentuk apapun. Araya ingat berbagai kenakalan yang pernah ia lakukan dan ia harus menerima konsekuensi dari kenakalannya. Salah satunya dia pernah ikut balapan motor dan ketika pulang, papanya langsung memarahinya sekaligus memotong rambut Araya yang saat ini masih sepunggung hingga menjadi pendek. Wajar jika saat itu Gevan sering meledeknya.
"Ma, Ray engggak usah terlalu lama ya tinggal di sini," ucap Araya ketika baru saja tiba di rumah mewah itu.
"Kamu enggak rindu sama Rion, kan?" Selidik mama mertuanya.
Araya hanya tertawa kecil. Merindukan Rion mungkin berada di urutan terakhir dalam pikirannya saat ini. Ada hal penting yang harus ia urus sesegera mungkin.
"Ray, untuk tiga hari ke depan, Aray florist biar Rena dan Anna aja ya yang urus. Enggak apa-apa kan?"
"Kenapa ma? Mama punya rencana?" Tanya Araya penasaran.
"Mama mau ajak kamu liburan, cuma kita berdua aja," ajak mama mertuanya.
Araya tertegun mendengarnya. Apakah doa-doanya selama ini akan terkabulkan? memikirkan hal itu membuat d**a Araya merasa sesak dan juga haru secara bersamaan. "Mama bercandanya bisa aja," ucap Araya gugup. Baru kali ini dia merasa senang seperti ini. Kehadirannya seolah diharapkan.
"Lah, mama serius malah di bilang becanda."
Araya menutup mulutnya karena ia benar-benar tak menyangka sama sekali. "I-ini pengalaman pertama Ray, ma," akui Araya jujur.
Araya sama sekali tak memiliki memori liburan bersama dengan keluarga. Menumpang liburan dengan keluarga yang mengasuhnya sejak kecil pernah, tapi bisa dikatakan berlibur dengan mama mertuanya seperti ini terkesan lebih intim dan juga akrab. Mama mertuanya melihat Araya menautkan kedua tangannya dan pandangan menantunya itu menatap lantai. Bagaimana bisa Araya tumbuh menjadi seorang wanita yang sangat cantik dan juga sholehah seperti ini sedangkan kedua orangtuanya sangat jauh agama.
Tak tahan menunggu lebih lama lagi, mama mertuanya lalu mendekap erat tubuh Araya dengan rasa hangat. Tak lupa wanita paruh baya yang masih tetap kelihatan cantik itu menepuk pelan bahu Araya dengan rasa sayang. Sontak tubuh Araya menegang karena ini pengalaman pertama bagi Araya. Sejak pertama kali Rion operasi dan mengetahui yang mendonorkan ginjal untuk anaknya adalah Araya, mama mertua Araya telah jatuh hati. Apalagi saat dokter mengatakan jika Araya memang sudah jauh-jauh hari mendaftarkan diri menjadi pendonor.
"Mama enggak tahu bagaimana caranya menebus dosa mama ke kamu, Ray," bisik mama mertuanya pelan.
Araya menghela napas. Sungguh Araya ikhlas lahir batin memberikan ginjalnya pada Rion. Araya dapat merasakan jika dekapan mama mertuanya semakin erat dan araya ragu-ragu untuk membalas pelukan itu.
"Ma, Ray ikhlas memberikan ginjal Ray walaupun itu bukan Mas Rion sekalipun. Ray hanya ingin menjadi manusia yang bisa berguna," ucap Ray dan akhirnya dia berhasil membalas pelukan itu.
Mama mertuanya melepaskan pelukan itu dan tersenyum. "Makasih Ray, sudah mau bergabung menjadi keluarga besar mama."
"Ray yang seharusnya bersyukur, ma."
Pemandangan itu tak lepas dari pandangan seseorang dari sisi pagar pembatas tangga penghubung ke lantai satu. Tubuhnya menegang, bahkan dia langsung memegang pinggangnya. Iya, dia adalah Rion. Sepanjang malam, Rion berada di ruang rawat Araya dan Rion bisa menghela napas, Araya tertidur pulas karena pengaruh obat. Tanpa sadar, air mata mengalir di pipi Rion.
Dia merasa terpukul dan juga merasa lega luar biasa karena akhirnya dia bertemu dengan penyelamat hidupnya. Jika bukan karena ginjal Araya, bisa jadi Rion tak akan pernah berada di sini sampai detik ini. Kecelakaan itu berakibat sangat fatal dan membuat salah satu ginjalnya terluka parah sampai tak bisa berfungsi, sedangkan satu ginjalnya juga tak bisa menjalankan fungsinya dengar benar. Sekarang, Rion sama sekali tak punya muka untuk bertemu dengan Araya. Dia benar-benar malu dan juga merasa kecil. Setelah Rion berbuat kasar pada Araya, Araya masih saja memikirkan dirinya.
"Ngapain kamu ke sini," hardik mama Rion saat melihat anaknya yang tengah berdiri di lantai atas melihat ke arah mereka. Syukur saja Rion sudah menyeka air matanya sehingga mamanya tak melihat Rion yang berada dalam keadaan yang memalukan.
"Mama enggak izinkan kamu injakkan kaki ke rumah ini. Dengar kamu Rion?" Mamanya benar-benar murka pada Rion. "Mama pastikan kalau kamu ditempatkan di tempat paling bawah biar kamu tahu bagaimana rasanya menghargai sesuatu."
"Rion mau jemput Ray, ma," ucap Rion dengan nada suara yang lantang.
"Apa kamu bilang? Jemput Ray? Untuk nyakitin mantu mama lagi? Enggak mama izinkan sampai kamu sadar." Araya memandang suami dan mama mertuanya. Dia hanya diam dan enggan untuk bersuara. Lagian sejak dulu, pendapat apapun yang dia lontarkan pun akan dipatahkan kesekian kalinya.
Rion pun berjalan menuju ke arah mamanya. "Mama enggak ada hak untuk halangin Rion bawa Ray dari sini." Rion pun menatap Araya. Apakah dia bisa membangun kembali rumah tangganya dengan benar?
"Jelas mama berhak jika kamu nyakitin hati mantu mama lagi."
Satu hal yang tak disangka siapapun. Rion langsung berlutut dan bersimpuh di bawah kaki Araya. Tindakan Rion yang tiba-tiba membuat Araya dan juga mamanya kaget luar biasa. "Ray, maafkan aku. Aku sudah banyak berbuat salah sama kamu," ucap Rion sungguh-sungguh. "Aku minta maaf Ray."
"RION!" Bentak mamanya dengan suara keras.
Rion memalingkan mukanya dan menatap mamanya yang benar-benar marah padanya. "Ma, maafin Rion," ucap Rion sungguh-sungguh. "Kenapa mama enggak kasih tahu kalau Ray pemilik ginjal di tubuh Rion?" Rion menatap netra mamanya sendu.
"Percuma mama kasih tahu ke kamu, kalau kamu enggak pernah sedikitpun peduli." Sikap mamanya mulai melunak.
Araya merasa tak tahan dengan sikap Rion yang menjadi aneh. "Mas, jangan begini." Araya mencoba membantu Rion berdiri, tapi Rion tetap kekeuh dengan aksinya.
"Aku tahu aku banyak salah sama kamu sejak awal, Ray." Rion mengucapakan hal itu dengan nada sendu.
"Aku udah maafin, mas dan aku ikhlas." Seru Araya sebelum Rion melanjutkan lagi ucapannya. "Jaga baik-baik ginjal yang ada di dalam tubuh mas."
Rion menatap kedua mata Araya. Mungkin ini adalah langkah menuju awal baru yang lebih baik lagi. Itulah yang ada di dalam pikiran Rion saat ini. Araya mencoba menekan rasa sesak yang menjalar dalam hatinya. Aku akan bersama mu sampai waktu nya tiba, mas.
Rion melihat sikap Araya yang seperti acuh tak acuh saat ini.
"kamu mau tinggali aku Ray?" tanya Rion dengan nada sendu.
Araya menatap nanar ke arah Rion. Apakah ini adalah suaminya yang dia kenal sejak awal menikah? kenapa sikapnya berubah drastis seperti semangat..
"bukannya itu keinginan mas sejak dulu?" Araya memandang ke arah Rion. "keberadaan ku juga gak penting bagi mas."
Sesaat Araya hendak pergi dari sana, suara dering panggilan ponsel terdengar dan ternyata suara itu berasal dari ponsel ibu mertuanya. Araya menangkap dengan jelas raut wajah ibu mertuanya sesaat setelah menerima panggilan tersebut.
"Apa?!! Masih ada masalah di ginjal Araya?!" Suara ibu mertuanya Araya menggelegar dan membuat jantung Araya berdenyut nyeri.
Tanpa di sangka-sangka, ponsel yang berada dalam genggaman ibu mertuanya jatuh ke lantai. Ibu mertua Araya seketika pingsan. Araya dengan langkah cepat segera berlari ke arah ibu mertuanya. Sedangkan Rion hanya bisa terdiam.
Rion merasakan dadanya tiba-tiba sesak seakan Araya akan pergi jauh meninggalkan dirinya seorang diri.