Chapter 10

1222 Words
Hari ini akan sangat menyenangkan. Aku akan menikmati hari liburku. Ini lebih seperti mendapat uang lotere sebesar seratus juta. Bagaimana tidak, setelah hampir tiga minggu tanpa hari libur dan bekerja seperti sebuah robot akhirnya Papi, Mami, Grandma dan Cece akan pergi party malam ini. Aku terbebas dari pekerjaan memasak mulai siang. Tadi malam aku sengaja tidur sambil melamun. Aku membayangkan kegiatanku hari ini. Aku akan makan lalu tidur lalu menonton TV dan kemudian tidur lagi. Tidak perlu memasak, tidak perlu mencuci piring yang banyak sekali itu dan tidak perlu membersihkan kulkas. Kalau telingaku tidak salah dengar kemaren sore, Papi bahkan mengatakan akan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang di restoran dan karaoker bersama teman-temannya sedangkan Mami akan mengajak Grandma dan Cece untuk menjenguk saudara yang sedang sakit. Lucunya, ketika Papinya mengepak beberapa baju, Cece justru sibuk memasukkan banyak sekali camilan ke dalam tas kopernya. Ia menata camilan-camilan itu sedemikian rupa. Awalnya, Papi sempat merasa kesal karena Cece bahkan tak membantunya menata baju. Namun kemudian, ia terhean kenapa anak perempuan satu-satunya itu hanya membawa camilan dan sedikit baju saja. “Kenapa kau hanya membawa makanan, Ce?” tanya Papi. “Aku tak ingin kelaparan di desa itu, Pi.” jawab Cece dengan tetap sibuk menata tasnya. Camilan tofu, roti bulan, soda, dan banyak lagi. Dari coklat hingga permen. Aku rasa ia harus memakai setidaknya satu koper ukuran besar untuk menampung semua camilan itu. “Disana ada banyak toko camilan, Ce. Bagaimana kalau kau kekurangan baju ganti selama disana, Ce?” tanya Papi lagi. “Mungkin ia akan memakai bungkus camilan itu sebagai baju.” celetuk Mami dari balik pintu. Papi dan Mami tertawa puas sementara Cece terlihat kesal, namun tetap sibuk memasukkan camilan ke dalam tas. “Lagipula, memakan camilan sebanyak ini tak akan membuatku gemuk.” kata Cece sinis. “Kami tahu, tapi harusnya kau masukkan juga beberapa baju ganti, Ce.” desak Mami. “Bukankah disana kau akan mencuci bajumu sendiri? Sumirah tak akan ada disana membnatumu, Ce.” Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arahku berdiri. Aku tersenyum sinis. Setelah itu akhirnya Cece mengalah dan kembali mengeluarkan semua camilan. Sekitar tiga hingga empat baju, lalu camilan. Aku hanya bisa tertawa dari ruang tengah. Dasar keras kepala! Grandma mengatakan bahwa mereka akan menginap hingga besok dan meminta aku membersihkan rumah sebersih mungkin. Grandma bilang ia tak ingin aku hanya tiduran dan tiduran saja. Apa ia pikir aku tidak melakukannya setiap hari?! Aku membersihkan setiap sudut rumah ini setiap hari hingga semut dan nyamuk pun segan datang kerumah ini. Kalau hari ini berjalan sesuai dengan lamunanku tadi malam, semua rencanaku pasti sudah terealisasi. Keluarga ini akan berangkat pukul sepuluh dan aku akan bebas saat itu. “Kau jangan makan camilanku yang di kamar, Sumirah! Jangan kau buka lemariku. Letakkan bajuku yang sudah disetrika di atas tempat tidurku. Jangan sentuh alat makeupku dan selalu rapikan kamarku.” ucap Cece. “Dan jangan lupa menyapu bawah kolong tempat tidurku.” imbuhnya. “Iya.” “Sumirah, jangan kau nyalakan kulkas selama dua puluh empat jam penuh.” pesan Mami. “Baik. Ada lagi?” ucapku pelan. Mami dan Grandma serempak menggelengkan kepala. Aku mengantarkan mereka sampai ke depan rumah. Si Cece itu tiba-tiba saja menengok ke arahku dan berkata, “Aku tahu sekarang kau pasti sangat bahagia karena tidak akan ada yang menggangumu selama dua hari ini,kan?” “Haha, memang benar. Tentu saja aku bahagia.” jawabku. Sepertinya ia tak mengharapkan balasan seperti itu. Matanya memancarkan dendam yang mendalam. “Awas saja kau nanti. Atau kau lebih baik belajar Bahasa Inggris saja sana. Hahaha! ” katanyya dengan nada menghina. Hey, tahu dari mana Cece kalau aku sedang belajar Bahasa Inggris? “Selamat bersenang-senang Mami, Papi, Grandma dan Cece cantik.” kataku bernada mengejek. Aku bahkan melambaikan tangan pada mereka. Sayangnya, tak ada dari mereka yang membalas ucapan selamatku. Tak apa. Aku tetap senang. Walaupun aku tahu kalau bersenang-senang bukan kata yang tepat saat ini, tapi ingin ku hibur diri sendiri setelah bekerja keras selama ini. Grandma dan Cece dengan sengaja memberiku banyak sekali pekerjaan beberapa minggu ini. Ada saja yang mnereka ingin aku lakukan. Mulai dari membersihkan jendela dan pintu depna, hingga merapikan semua baju di lemari di setiap kamar. Mereka tahu kalau sebentar lagi aku akan memperbarui kontrakku. Semua imigran yang ada di Hongkong tahu bahwa memperbarui kontrak bisa menjadi hal yang baik sekaligus hal yang buruk. Kita bisa memilih untuk memperbarui kontrak atau tidak. Jika kita ingin memperbarui kontrak yang baru, maka kita akan mempunyai kehidupan baru dengan majikan yang baru. Apapun ini nanti yang terjadi. Namun kita juga bisa memilih untuk tidak memperbarui kontrak apabila kita sudah me Teh hijau hangat dan telepon dari Maryamah akan memnyempurnakan hariku. Belum juga selesai membuat teh hijau, tiba-tiba.... “Kring..kring...” “Ya, halo?” Tapi tak ada balasan. Tidak ada suara di seberang. “Halo? Siapa yang menelepon?” Tak ada balasan. Tak ada yang bicara. Karena kesal, aku kembalikan gagang telepon itu dan memutuskan untuk beranjak ke dapur tempat aku meletakkan teh hijau kesayanganku. Untuk apa seseorang menghabiskan beberapa sen hanya untuk melakukan hal seperti ini? Kenapa banyak orang yang iseng akhir-akhir ini?! Tok, tok, tok.... Bunyi pintu yang diketuk keras terdengar hingga ke dapur. Aku bergegas berlari ke arah pintu depan rumah. Hampir saja teh hijau yang sedang kupegang terjatuh karena tersenggol tangan kiriku. “Tadi telepon sekarang pintu yang diketuk. Apa lagi sebentar lagi?” kataku pada diriku sendiri saking kesalnya. Tok, tok, tok... “Iya, sebentar.. Aku sedang berjalan ke arah pintu.” Tok, tok, tok... Aku hampir mendekati pintu ketika menyadari sesuatu yang aneh. Sesuatu yang harusnya kusadari sejak ketukan pintu yang pertama. Pintu ini mempunyai bel yang dipasang tepat disamping nomor rumah. Lalu kenapa orang yang ada di depan pintu ini mengetuk pintunya? Aku berusaha berfikir keras bagaimana mungkin orang mengetuk rumah yang memiliki bel? Apakah orang yang ada di depan pintu ini tidak mengetahuinya? Tidak, tidak mungkin. Harusnya ia tahu. “Satu hal yang pasti, aku tak pernah memberitahu seorang dari Indonesia tentang dimana kau bekerja sekarang. Kalau ini mengenai masa lalumu, mungkin sebaiknya kau bersembunyi.” adalah kata kata Ci Lien Hua yang sedang berdengung di telingaku. Ya Tuhan, ini hari liburku. Tidakkah seharusnya aku bisa berbaring sekarang? Tok, tok, tok.... Tok, tok, tok.... Sejujurnya, rasa penasaranku sangat tinggi dan sebenarnya aku bisa saja mengintipnya melalui lubang pintu atau lubang kunci. Bagaimana kalau orang diluar adalah orang jahat? Atau orang yang butuh bantuan, mungkin? Tok, tok, tok... Aku memberanikan diri mengintip melalui lubang kecil yang ada di pintu. Aku melakukannya perlahan walaupun bunyi ketukannya makin keras. Rasanya ia akan dengan santai dan berani mendobrak pintu jika tidak segera kubuka. Ada seseorang memakai baju atau jaket hitam. Ia memakai celana krem. Sepertinya seorang laki-laki. Tok, tok, tok... Ia terus menggerakkan badannya dan terus mengetuk pintu. Bagaimana ia bisa tahu kalau ada orang di rumah ini? Ada yang lebih ganjil, jika ia telah mengetuk beberapa kali dan tidak ada orang yang membukakan pintu, bukankah harusnya is berhenti mengetuk dan pergi dari rumah ini? Hanya ada satu alasan. Tok, tok, tok.. Ia memang menunggu semua orang ini dirumah ini keluar untuk menemuiku. Semakin kupikirkan, semakin merinding rasanya. “Sum, Sumirah... “ Tok, tok, tok... Deg. Suara itu... Suara yang pernah kudengar sebelumnya. Suara berat yang sangat familiar. “Aku tahu kau ada di dalam. Tolong keluarlah.” Itu suara Hamid.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD