Chapter 11

1439 Words
Dari dulu hingga sekarang ini, tak pernah sekalipun aku membantah apa yang diperintahkan oleh Mbak Sumini, Bapak dan Emak. Waktu itu di tengah jalan pulang sehabis mengaji, Mbak Sumini tiba-tiba saja memberi ide yang tak masuk akal. “Mir, banyak sekali ya mangga di rumah Pak Saeful.” ujarnya santai. “Iya.” jawabku singkat. Aku merasa sudah tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini. “Enak ya siang-siang begini, Mir.” “Iya.” Mbak Sumini menghentikan langkahnya lalu menarik tanganku pelan. “Mir, bagaimana kalau..” Nah kan. Sudah kuduga. “Ayolah, nanti kita minta uang Bapak dan Emak saja, Mbak. Pohon itu tinggi sekali gitu lho.” “Mirah, sumirah..“ katanya sambil menggodaku. Ia menarik tasku dan membuangnya ke jalan bebatuan. Aku mengambil tasku dan hendak berlari ketika ia, sekali lagi dengan sengaja, menarik dan membuang tasku lebih jauh. “Mbak Sum, jangan usil tho.. Nanti tak bilangin Emak lho. Ben kamu dijewer.” kataku sambil mengejarnya. Aku terus mengejarnya sampai terjatuh. Mbak Mbak Sumini tertawa puas melihatku kesal. “Mir, begini saja. Aku akan berhenti menggodamu. Tapi ayo makan mangga gratis, Mir..” “Sudah kuduga, ayo minta uang Emak saja.” “Mir, mencuri mangga itu menyenangkan, Mir..” “Okelah. Tapi kamu yang naik pohonnya.” Ia mengangguk cepat. Sudah kubilang, aku sulit sekali mengatakan ‘tidak’ pada Mbakku satu-satunya itu. Ia sering memanfaatkanku untuk hal-hal yang tidak terlalu penting seperti ini. Hal ini juga terjadi pada Wasis, anggota termuda keluarga kami. Ia seringkali pasrah mengikuti ajakan mbaknya. Dua kata yang sering ia ucapkan adalah ‘Inggih, Mbak.’ atau ‘Leres, Mbak’. Inggih dalam bahasa Indonesia artinya adalah ‘iya’, sedangkan Leres dalam bahasa Indonesia berarti ‘benar’. Adik yang sangat patuh, bukan? Kami berlari menuju rumah Pak Saeful dengan semangat. Aku ingat kalau aku hampir terjatuh karena menginjak pelapah pisang yang ada di jalanan becek. Hujan mengguyur desa kami kemaren malam. Mbak Sumini sudah tak peduli tentang hal lain selain berlari dan buah mangga di rumah Pak Saeful. Ia selalu mengajakku berlari seperti ini. Tanpa menoleh ke belakang dan selalu tiba-tiba. “Itu buahnya, Mir.” ucap Mbak Sumini sambil menunjukkan buah mangga yang bergelantungan. Aku mengangguk cepat. “Ayo kita suit dulu. Kita harus menentukan siapa yang akan menaiki pohon lebih dahulu.”katanya pelan. Hey, tunggu. “Bukankah Mbak Sumini yang akan manjat pohon?”tanyaku kesal. Dia suka semena-mena. “Kata bapak, kita harus adil..Nanti kita kana menikmati buah mangga itu sama-sama “ Adil bagaimana, batinku. Ia membuatku menderita. “Sekarang kita suit saja, siapa yang akan naik duluan.” “Mirah gak mau, Mbak...Lihat itu, Mbak. Banyak uletnya.” rengekku. Bulu kudukku merinding melihat bagaimana binatang itu berjalan mengelilingi pohon. Mbak Sumini! Aku diam-diam bergerak agak kesamping pohon untuk menghindari binatang-binatang kecil itu. “Ayolah, Mirah. Ulet-ulet itu gak akan gigit kok, Mir.” desaknya. Ia kembali menarik lengan bajuku. “Kalau sampai ulet-ulet itu bikin aku gatal, awas saja ya Mbak!” “Kalau begitu, aku yang akan naik duluan. Kamu menangkap buahnya ya nanti.” “Nah gitu, dong.” kataku. Aku tertawa tanda menyetujui usulannya. Ia seperti tak punya rasa takut melewati kumpulan ulet itu.dikibaskannya semua ulet seperti seorang pembasmi ulet. Ia bahkan tak menggubris peringatanku tadi. Aku berteriak dan mengajaknya turun, namun ia tetap memanjat lebih tinggi. Nanti malam ia akan rasakan gatalnya. “Mirah! Ambil ! Cepat ambil!” Ia berhasil mengambil beberapa buah mangga dan melemparkannya ke bawah. Tugasku dimulai. Aku berlarian mengambil buah mangga. Mbak Sumini tertawa melihat tingkahku. Yang membuatku heran adalah kenapa ia begitu cepat berpindah dari satu cabang pohon ke cabang pohon yang lain. Setelah terkumpul, buah mangga tadi ku masukkan secara bergantian ke dalam tasku dan tas Mbak Sumini. Lumayan banyak lah yang bisa kami nikmati nanti. Aku yakin Wasis akan senang sekali. “Mbak, ayo turun yuk. Sudah hampir sore ini, Emak pasti marah-marah. “ “Mir, naik sini deh, Mir... Itu ada Hamid disitu. Sepertinya sedang menangis.”ucapnya sambil duduk di salah satu cabang pohon. “Ap? Hamid, Mbak?” “Jangan keras-keras suaramu itu! Nanti ketahuan Hamid.”kata Mbak Sumini sambil berbisik. Ia benar-benar mengecilkan suaranya hingga aku hanya mendengar kata ‘Hamid’ saja. “Apa? Hamid kenapa, Mbak?” tanyaku. Kali ini suaraku agak pelan. Mbak Sumini melempar buah mangga yang dipegangnya dan bilang ‘jangan berisik’ dalam bahasa isyarat. Awalnya aku menyangka ia hanya ingin ikut memanjat pohon mangga. Aku hanya takut ulet yang tadi dikibaskannya kembali dan menyerangku. Aku kesal karena rasa penasaran, tapi Mbak Sumini tak mau memberitahu apa yang sedang dilakukan Hamid di halaman dalam Pak Saeful. Sepertinya aku harus mengumpulkan keberanian dan mulai memanjat pohon mangga ini. Aku menempatkan kaki pertamaku tepat di tempat Mbak Sumini melangkah tadi. Beruntung jejak kaki Mbak Sumini cukup dalam. Langkah kedua, ketiga lalu keempat lumayan aman. Langkah kelima cukup mengerikan. Namun langkah keenamku yang berbahaya. Tidak ada jejak kaki Mbak Sumini di pijakan kali ini. Dan entah kenapa, kakiku tak begitu siap disana. Aku hampir terjatuh ketika berpegangan pada cabang pohon yang licin. Mungkin Mbak Sumini mengetahuinya hingga tiba-tiba tangannya meraih tanganku dan ia mengangkat tubuhku dengan sangat mudah. Kami ada di cabang pohon yang sama sekarang. Ia memegang kepalaku dengan kedua tangannya dan mengarahkan kepalaku di suatu sudut. Pada saat itulah aku lihat seorang anak laki-laki sedang duduk. Ia memakai baju lusuh dengan tongkat yang ada disampingnya. Hamid sedang menangis. Ia terisak. Untuk apa ia menangis di rumah orang? Ia menghapus air matanya berulang kali, namun tangisannya tak juga berhenti. Ia pasti sedang sangat sedih. Aku dan Mbak Sumini saling berpandangan dan tak punya ide harus bagaimana melihat Hamid seperti itu. Apa kami harus turun dan menenangkannya? Atau kami harus pura-pura tidak tahu dan beranjak pergi? “Mbak, gimana ini? Apa kita turun saja dan memanjat pagar Pak Saeful? Mbak Sumini diam saja. “Mbak Sum, gimana?” Mbak Sumini tak mengeluarkan sepatah kata dan terus menatap Hamid dengan seksama. “Mir, ia pasti sangat sedih.Kira-kira Hamid kenapa?” “Aku tak tahu, Mbak. Rasanya sejak kejadian sama bapak, aku tak pernah melihatnya berangkat sekolah. Ada apa, Mbak?” Walaupun kami memandangnya dari kejauhan, tapi rasa sedih yang kini Hamid rasakan juga kami rasakan. Tampa terasa air mataku juga menetes. Pasti terjadi sesuatu, batinku. “Mbak, ayo turun dan menghampiri Hamid, Mbak.. Aku ingin tahu apa yang terjadi, Mbak.” “Jangan, Mir. Jangan....Hamid pasti malu kalau ia tahu kita melihatnya menangis. Lebih baik kita disini saja.” ucap Mbak Sumini sambil memegang tanganku erat. Walaupun aku tahu ia benar, namun tatapan Mbak Sumini mengisyaratkan sesuatu yang dalam. Dan aku tak bisa menebak apa maknanya. Hamid yang kami lihat sekarang memegang tongkat nya dan mulai tenang. Ini baru pertama kali kulihat Hamid menangis. Aku sering mendengar cerita orang tentang bagaimana ia menjadi penengah ketika bapak dan Pak Kardi bertengkar. Hamid pun juga jarang terlihat berangkat sekolah. Beberapa menit setelah itu, Pak Saeful datang menghampiri Hamid. Ia membawa satu kardus. Sepertinya ada beberapa benda di dalam kardus itu. Pak Saeful meletakkannya di tanah dan memeluk Hamid. Mungkin Pak Saeful tahu kalau Hamid baru saja menangis. Pak Saeful memeluk Hamid cukup lama. Setelah itu Pak Saeful memberi kardus itu ke Hamid. Aku dan Mbak Sumini kembali berpandangan dan menyadari sesuatu. Hamid menerima kardus itu dan kemudian berpamitan. Kami melihat Hamid keluar dari rumah Pak Saeful. Diluar pagar pun kami masih melihat Hamid masih menghapus air matanya. “Mirah, jangan bilang apa yang kita lihat pada siapapun.” “Kenapa, Mbak?” “Dari yang Mbak dengar, Pak Kardi sedang sakit dan tak ada orang disekitar yang menolong. Mbak tahu dari teman sekolahnya, Mirah. Walaupun Hamid sudah jujur, tapi banyak yang masih tidak suka dengan paa yang dilakukannya saat itu, Mir.” “Kenapa seperti itu, Mbak? Kenapa banyak orang yang tidak memaafkan?” tanyaku sedih. “Mir, banyak orang yang tidak memahami cara memaafkan yang benar. Kita tidak boleh jadi seperti itu ya, Mir. Kita harus selalu memaafkan kesalahan seseorang, separah apapun kesalahan mereka. Janji sama Mbak Sumini ya, Mir?” “Baik, Mbak.” Sepertinya tepat saat adzan berkumandang, kami turun dari pohon mangga dan membawa buah-buah itu ke rumah. Seperti dugaan kami, Emak marah karena kami terlambat pulang. Namun ketika kami menunjukkan hasil panjatan kami, Emak tersenyum lembut. Wasis apalagi. Ia girang dan menciumi pipi Mbak Sumini. Ia pasti akan menghabiskan semua buah itu kalau Mbak Sumini tidak mengambil beberapa buah untuk Bapak dan Emak. “Mir, ingat kata Mbak tadi, kan?” ucap Mbak Sumini ketika kami beranjak ke tempat tidur. “Iya, Mbak.” jawabku pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD