Chapter 14

1387 Words
Aku ingat aku tlah berjalan melewati dua gedung besar dan juga tiga jalan utama, namun Ci Lien Hua tidak berhenti menatap ke arah depan dan terus berjalan. Ia seringkali berhenti untuk memeriksa keadaan jalanan. Ia brgantian menoleh ke kiri dan kanan, lalu kembli mnatapku lekat. Aku seperti sedang dijaga ketat. Jujur saja, perutku berbunyi keroncongan dan sepertinya Ci Lien tidak peduli hal itu. “Kalau sedang lapar seperti ini, otakkumenjadi semakin lamban dan menjadi tidak bisa diharapkan.” batinku. Aku tahu ia benar. Ini bukan hal yang bisa diremehkan. Apalagi dengan tingkah Hamid tiruan yang tingkah lakunya seperti tadi. Papi dan Mami pasti marah besar ketika melihat kondisi rumha saat ini. Bagaimana tidak, rumah sangat bersih ketika mereka berangkat. Yah, walaupun hanya pintu yang rusak karena ulah si Hamid tiruan tadi. Aku jaid tak enak hati memberitahu Mami tentang itu. Aku akan kembali suatu saat nanti dan membalas jasa mereka selama ini. Mungkin saja seminggu, setahun atau bahkan sepuluh tahun hingga aku kerumah itu lagi. Tapi yang kuyakini, aku akan kembali ke rumah itu lagi. Suatu hari nanti. Aku sedih membayangkan wajah kesal Grandma tiap pagi tidak bisa kulihat lagi. Walaupun ia sering marah sama seperti cucunya, tapi ia menjadi orang yang paling kusayangi selama dua tahun ini.Tak ada lagi amarah membabi buta Cece yang menyebalkan itu. “Jangan melamun, Sum. Itu tak akan mmbantu kita saat ini.” Suara Ci Lien memecah keheningan diantara kami. “Aku..lapar, Ci...” “AKU MERASA SEDANG TERSESAT SEKARNG KARENA LUPA ARAH JALAN DAN KAU BILANG KAU LAPAR, SUMIRAH!” Ia membentakku di tengah jalanan yang penuh orang. Walaupun sempat kaget, namun aku tahu pasti ia memang sedang marah. Dan juga kebingungan. “Maafkan aku, Ci.” kataku pelan. Pelan sekali. Hingga aku tak yakin ia bisa mendengarku. Ci Lien tak menjawab. Ia masih terus saja berjalan sambil menoleh ke kanan dan kiri. Aku sedikit kesal tapi tak berani membantah. Aku juga ingin membantunya menentukan arah. Tapi aku takut bertanya dan menyanggahnya lagi sekarang. Aku terus mengikutinya. “Kita mau kemana, Ci?” tanyaku. Tak ada kata yang meluncur untuk menjawab pertanyaanku. “Ci, Cici... Ci Lien Hua. Bisakah kita berjalan pelan, untuk sebentar saja?”tanyaku memelas. Kaki dan perutku tak bisa bekerja sama dengan baik kali ini. Aku hanya berharap Ci Lien mendengarku kali ini. Kami benar-benar berjalan jauh sekali. Jangan-jangan sebenarnya kami sudah berada di luar Hongkong. Kalau ia tak berhenti, aku akan tiba-tiba berhenti saja lah. “Kita berhenti di depan, setelah itu jangan banyak tanya lagi.” “Baik, Ci.” Aku tersenyum girang. Perutku terselamatkan, syukurlah. Kami duduk berhadapan di depan toko kelontong setelah sebelumnya membeli dua potong roti dan dua botol air mineral. Ia menyerahkan sepotong roti dan sebotol air mineral itu padaku dengan wajah yang ditekuk. Ketika ia sibuk makan, aku sibuk menyusun kalimat pertanyaan yang akan kulontarkan ke Ci Lien. Suasana jalan yang ramai membantuku sedikit tenang. “Ci...” “Iya.” jawabnya datar. “Aku punya pertanyaan.” “Tunggu sampai aku selesai makan.” “Baik, Ci.” Kami menyantap roti dengan lahap tanpa suara. Tanpa saling menatap. Entah apa yang sedang dipikirkan Ci Lien. Yang pasti aku dan perutku sedang bahagia saat ini. “Dengarkan aku, Sumirah.” Suaranay berubah menjadi serius. Sorot matanya pun agak berbeda. “Baik, Ci. Aku mendengarkanmu sekarang.” “Yang tadi datang menghampirimu adalah Hamid, teman masa kecilmu.” “Bagaimana bisa!?” “Ia memang teman kecilmu, namun ia juga seorang gangster sekarang. Ia sama sepertiku. “ “Gangster? Hamid? Bagaimana mugkin, Ci?”tanyaku menggebu. “Hamid-mu itu adalah orang kepercayaan Tian Di Hui. Kau pernah dengar kan, tentang Tian Di Hui?” tanya Ci Lien. “Aku pernah dengar nama itu, Ci. Aku mendengarnya dari Maryamah, tap begitu kutanya lebih lanjut siapa itu Tian Di Hui, ia bilang tak mempunyai banyak info selain ia adalah seorang gangster.” “Tian Di Hui adalah gangster berbahaya di Hongkong, Taiwan dan Singapura. Ia adalah orang yang sangat ditakutii, Sumirah. Dan mengenai temanmu itu, aku tak banyak tahu bagaimana ia bisa sampai ke Hongkong. Namun yang pasti, ia adalah tangan kanan Tian Di Hui.” “Aku tak pernah mendengar kabar darinya lagi se,enjak meninggalkan Tulungagung, Ci.” “Iya, aku mengerti.” “Dan ia sangat berbeda dengan Hamid yang kukenal dulu. Ia memakai tongkat untuk membantunya berjalan. Dan ia adalah orang yang sangat lembut. Hamid yang tadi berteriak dan menendang pintu itu bukan Hamid.” kataku pelan. Tanpa sadar, air mataku menetes. Aku sedih melihatnya berubah sedemikian rupa. “Dan, Sumirah, apa kau tahu bisnis apa yang sedang dikerjakan oleh Tian Di Hui?” “Apakah uang, Ci? Atau apa?” “Uang menjadi tidak terlalu berharga bagi gangster macam kami, Sum. Kami bahkan memiliki bank uang sendiri.” “Lalu?” “Mereka memperjualbelikan manusia antar negara, Sum.” “Bagaimana bisa itu terjadi, Ci? Manusia? “Iya, manusia yang dijual dan dibeli.” Entah kenapa ketiika mengatakan itu , Ci Lien terlihat sedikit awas dan semakin sering menoleh ke kanan dan kiri kami. Ia memberi isyarat untuk menutup mulut dan memaksaku emakai syal dan topiku dengan benar sehingga orang lain tidka bisa meliat kami. Ia menarik tanganku dan membawaku berlari menuju sebuah rumah. “Rumah siapa ini, Ci.” “Diam dan menunduklah. Mereka sedang mencari kita.“ “Siapa, Ci? “Apa kau begitu bodoh, Sumirah? Kamulah target mereka sekarang ini.” “Aku masih tak tahu apa-apa, Ci. Kenapa harus aku yang menjadi target. Aku bahkan tak tahu apapun tentang mereka.” “Mereka megincar tenaga kerja asing yang ada di Hongkong, Taiwan dan Singapura.” “Ap yang mereka inginkan dariku? Jantung dan paru-paruku saja tidak sehat.” “Namamu ada di list mereka, Sum.” “Aku tidak tahu kenapa merek amengincarku.” Bersamaan dengan kalimatku, terdengar suara kaca pecah tak jauh dari tempat kami bersembunyi. Aku merapat ke belakang tubuh Ci Lien. Kami bersembunyi di dalam kamar. Suasana seperti ini pernah kulihat di film-film mafia India tempo hari. Tak pernah membayangkan bahwa sekarang ini nyawaku sedang diincar. “Apa yang bisa mereka dapatkan dari aku? Paru-paruku bahkan tak sehat untuk ukuran orang normal.“ bisikku di dekat telinga Ci Lien. Walaupun gelap, tapi aku masih bisa melihat Ci Lien sedang tersenyum simpul. Ia kemudian berkata, “Sejujurnya aku tak ingin menyakitimu. Tapi teman masa kecilmu itu, Hamid itulah yang mendaftarkanmu menjadi target mereka. Entah darimana ia tahu kau ada di t*i Po.” Tak ada satupun hal yang bisa kupikirkan saat ini. Mengetahui fakta bahwa sekarang Hamid menjadi gangster saja sudah membuat semua otot di tubuhku menegang. Semua pertanyaan di otakku tiba-tiba saja membeku ketika kudengar ada suara langkah kaki mendekat. Tunggu, itu adalah langkah-langkah kaki orang banyak. Sekitar dua, tiga atau bahkan lebih dari itu sedang mendekati kami. Secara otomatis, aku dan Ci Lien tidak berani mengeluarkan suara. Jangankan suara kentut atau suara perut, kami bahkan menahan nafas kami selama beberapa detik guna menghindari timbulnya suara yang tidak diinginkan. Kamar yang kami tempati ini gelap dan lembab, menjadi salah satu keberuntungan kami saat ini. Orang-orang tadi sepertinya sudah keluar dari rumah ini. Aku menarik lengan baju Ci Lien dan mengajaknya untuk berdiri. Tapi ia menahan tanganku dan memberitahu kalau orang-orang itu belum pergi. Mereka menunggu di luar rumah untuk memastikan tak ada seorang pun di rumah ini. “Bagaimana kau tahu?”tanyaku. “Aku adalah salah satu dari mereka, Sum. Aku tahu apa yang mereka pikirkan. Sekarang, lihat ke arah jendela pada sisi kananmu itu.” Ada cahaya yang berkilatan namun memancar hanya sedetik lalu mati lalu memancar lagi. “Itu adalah cara mereka berkomunikasi dengan anggota mereka yang lain yang ada di daerah lain. Keadaan kita akan sangat berbahaa jika anggota mereka yang lain datang kesini.” “Apa mereka tidak mempunyai telepon?” tanyaku sedikit bercanda. Bodoh, Sumirah. Ini bukan waktunya bercanda. Aku hanya ingin sedikit tenang. Namun sepertinya mustahil. “Dengarkan aku, Sum. Kali ini rute yang akan kita ambil sangat berbahaya. Kita harus pergi keluar rumah ini dengan segera. Kita akan menuju markasku.” “Tapi bukankah Sai Kung sangatlah jauh, Ci?” “Itulah mengapa aku bilanng ini rite yang berbahaya. Kita akan naik mobil yangakan menjemput kita dalam lima belas menit.” Aku terdiam sesaat sebelum akhirnya merasakan tangan Ci Lien memegang tanganku erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD