Chapter 13

1330 Words
“Pak, bapak.. kayaknya Emak sakit, Pak.” ucap Wasis tiba-tiba di suatu pagi. “Mosok tho le? Tadi bapak tinggal ke dapu, Emak masih tidur mendengkur kok.” jawab Bapak. “Badan Emak agak panas, Pak.” “Coba kamu carikan jahe di dapur. Lalu tumbuk jahe sampe halus ya.” pinta Bapak. “Nggih, Pak.” Wasis bergegas mencari tempat Emak meletakan bumbu dapur untuk mencari jahe. Ketika berjalan melewati kamar tadi, ia sempat memberitahu bahwa emak sedang sakit. Aku dan Mbak Sumini datang ketika Emak sedang meminum jahe buatan Wasis. Wasis yang senang karena pujian dari Emak sengaja mengejek kami. “Jahe buatan Wasis segar. Emak memang tak suka minuman yang terlalu manis. Makasi ya le.” “Sama-sama, Mak. Mbak Sumirah dan Mbak Sumini baru pulang dari bermain, Mak. Mereka berdua gak tahu kalo jahe Wass enak rasanya, Mak.” ucap Wasis mengejek sambil memandangi kami berdua. Kami membalas ejekannya dengan tatapan sinis. Tapi ia memang benar. Kami baru pulang bermain layangan bersama teman-teman sekolah kami. Emak dan Wasis malah tertawaterbahak-bahak melihat kami mencium aroma ketiak kami. Benar, ini karena bau keringat yang menyengat. “Bapak yakin kalian pasti belum mandi pagi..” tiba-tiba seuara Bapak menghentikan gelak tawa kami. “Bagaimana mau mandi, mbak-mbakku ini baru saja pulang, Pak. Mereka habis main seharian.” ucap Wasis. Ia memang menyebalkan. Aku dan Mbak Sumini langsung berlari menuju kamar mandi. Suara kami berebut tentang siapa yang duluan masuk kamar mandi pun akhirnya membuat Bapak turun tangan. “Yang bisa menjawab pertanyaan Bapak akan masuk kamar mandi duluan.”kata Bapak. “Kenapa pakai tebak-tebakkan sih, Pak? Kami sudah bukan anak kecil lagi.” ucap Mbak Sumini. “Ini agar kalian tidak rebutan. Sudah nurut saja.” ucap Bapak dengan suara agak tinggi. “Nggih, Pak.” ucap kami serempak. “Pohon apa yang selalu mengorbankan seluruh tubuhnya untuk kita manusia?” tanya Bapak. “Pohon mangga, Pak.” jawabku cepat. “Bukan.” “Pohon Jambu, Pak.” jawab Mbak Sumini. “Kenapa pohon jambu, Sumini?” “Soalnya jambu itu enak, Pak... Hehe,” jawab Mbak Sumini sambil menjulurkan lidahnya keluar. Ia tertawa terbahak-bahak sendiri setelah itu. Sudah kubilang kalau Mbakku ini agak aneh, kan? “Jawaban kalian salah semua.” ucap Bapak dengan yakin. “Lalu apa jawabannya, Pak? Jangan-jangan Bapak juga tak tahu jawabannya.” “Enak saja, Bapak tahu kok jawabannya. Dan jawabannya adalah pohon kelapa.” “Hah? Pohon kelapa? Kok bisa?” kataku setengah berteriak. “Tidak ada sesuatu dari pohon kelapa yang tidak bisa kita, manusia, manfaatkan. ” “Masa iya, Pak?” tanya Mbak Sumini. “Kalian cari tahu dulu sana, Besok kasi tahu Bapak. Sementara kalian masih diluar, biar Bapak dulu yang mandi. Kalian dari tadi ngobrol aja.” jelas Bapak. Setelah itu Bapak bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan aku dan Mbak Sumini yang sedang melongo. “Aaakkk... Bapak curang!” “Kalian sih dari tadi ngobrol saja. Tidak segera mandi. Hahaha..” suara Bapak dari kamar mandi. “Kan Bapak yang ngajak ngobrol.” “Hahahaha” Gelak tawa Bapak sungguh sangat khas di dengar. Suara Bapak sedikit berat karena kebanyakan merokok saat masih muda. Aku ingat pernah mendengar Bapak bercerita pada Wasis dan berpesan agar anak laki-laki satu-satunya itu menghindari merokok sejuah mungkin, pun walaupun sudah membelinya pakai uang hasil keringat sendiri. “Merokok membuatmu lebih sekarat di masa tua, Sis.” Wasis yang diajak ngobrol hanya mengganguk saja. Aku yakin ia tak tahu apa yang dimaksud Bapak. Keesokan paginya, kami mendapat kabar dari skeolah tentang tingkah Mbak Sumini yang membuat satu sekolah heboh. Mbak Sumini bergoncengan dengan Ustadz Idrun ketika berangkat ke sekolah. Berita tersebut sampai di telinga Bu Saeful, salah satu anggota Pasukan Elit. Dan sudah bisa diduga, ketika Bu Saeful memberitahu Emak, reaksi Emak datar dan hampir tidak mengeluarkan ekspresi apapun. “Sudah, Bu Saeful. Jangan begitu. Berita itu mungkin saja salah.”kata Emak. “Tapi Mak, akhir-akhir ini Sumini memang sering pergi berdua dengan Ustadz Idrun.” Ketika tidak sengaja mendengar percakapan Emak dan Bu Saeful, aku bertanya dalam hati apa yang sedang Mbak Sumini lakukan. Tempo hari ia mengatakan padaku kalau ia sednag jatuh cinta pada seorang anak lak-laki. Bukan pria dewasa seperti Ustadz Idrun. Mungkin aku harus bertanya langsung padanya nanti ketika pulang sekolah. Mbak Sumini memang terlihat seperti ornag yang jatuh sinta saat itu. Matanya berkaca-kaca ketika bercerita tentang anak laki-laki, atau, pria itu. Pada siapapun ia melabuhkan hatinya nanti bukan hakku untuk melarang. Toh ia sudah smp.Namun yang paling harus kuyakini adalah ia tak pernah berubah. Sikapnya yang keras kepala dan suaranya yang lantang sering sekali membuat beberapa teman kami takut kalau harus bertengkar dengannya. Kalau dirumah, ia lebih sering mengjahiliku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh. “Ada gak ya yang tahu kenapa kok pisang yang masak itu warna kuning?” “Aku ingin kentutku baunya wangi, Mir” “Kenapa ya matematika itu pelajaran paling sulit, Mir?” Siapa yang akan menjawab pertanyaanmu itu, Mbak?. Heran! Dia selalu melontarkan pertanyaan yang aku tak tahu jawabannya. Ia kan sudah besar. Harusnya Ia tahu jawabannya. Walaupun begitu, tetap saja aku mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaannya itu. Aku yang bodoh atau Sumini yang... entahlah. Dasar Sumini! Jawaban untuk nomor tiga telah kujawab kapan hari. Kujawab dengan lantang. Ia hanya tertawa terkekeh mendengar jawabanku. Sudah kuduga ia akan seperti itu. Padahal Wasis juga sering mengeluhkan betapa bau kentut-nya itu. Namun tak pernah berhasil merubah kebiasaanya kentut sembarangan. Sebenarnya kentut Sumini pernah berbau wangi. Momen yang tak akan kami bertiga lupakan seumur hidup kami. Berawal dari ide Wasis yang mengambil minyak wangi nyong-nyong milik Bapak dan menaburkannya di selimut hijau kesukaannya. Seingatku, tidak pernah sekalipun aku lihat Wasis mencuci selimut kuno itu. Idenya berhasil. Selimut itu menjadi wangi. Wasis senang bukan main. Berikutnya ketika dengan sengaja Sumini kentut di depan kami sambil tersenyum genit, Wasis menyarankan Sumini untuk membaurkan minyak itu di sekitar tempatnya duduk ketika kentut. Dan berhasil! Bau busuk itu perlahan nmenjauh dan hilang dari indera penciuman kami. Kami seperti mendapat mujizat Tuhan. Ini adalah keajaiban. Ketika aku berfikir aku akan berhadapan dengan bau busuknya sepanjang hidupku, ide cemerlang Wasis menyelamatkanku. Sementara kami bahagia dengan momen wanginya kentut Sumini, Bapak semakin gusar mencari dimana letak botol parfumnya yang kecil itu. Tentu saja kami berbohong. Wasis meletakkannya di bawah lemari kamar dan berkata bahwa ia tidak mengrti dimana Bapak terakhir meletakkan botol parfumnya. Sumini dan aku hanya berbeda beberapa tahun saja, namun hidupnya sangat berpengaruh terhadap hidupku. Ini mungkin hanya perasaanku. Andai waktu itu Sumini mengatakan ia tak ingin punya adik, mungkin aku tak akan pernah ada. Atau andai ia mengatakan Ia ingin adik laki-laki dahulu yang lahir, tentu saja aku tidak akan pernah hidup di dunia ini. Emak pernah bercerita bahwa dari kecil Sumini memang mempunyai sesuatu dalam dirinya. Ia bandel namun sangat sensitif. Ia pemarah sekaligus penyayang. Sebenarnya dari kecil aku selalu menganggap ia pemarah. Tak terhitung berapa kali ia memarahiku. Dari awal membuka mata, hal yang pertama kulihat bukan wajah Emak atau Bapak, melainkan lubang hidungnya. Sial memang. Dan ya, memang itulah kenyataannya. Kata Emak waktu itu ia terlalu gemas melihatku. Sumini ingin mencium pipiku. Karena terlalu lucu dan menggemaskan, Ia juga ingin menciumi keningku. Nah, di saaat itulah semuanya terjadi. Begitu gelap dan suram. Dan untuk pertama kalinya aku membuka mataku, eh lalu aku melihat lubang hidung itu. Andai saja waktu itu aku bisa langsung menarik bulu hidungnya, pasti kisah hidupku jadi lebih asik. Tuhan menyelamatkan bulu hidungnya waktu itu. Seperti Wasis, Sumini suka sekali membuat ulah. Berbagai ulah yang ia lakukan seringkali merepotkan Emak dan Bapak. Pernah suatu pagi, ia membawa sayur bayam yang akan dimasak untuk sarapan ke kandang kambing milik Pak Saeful tanpa mengatakan apa-apa pada Emak. Ketika ditanya, ia hanya menjawab bahwa kambing-kambing itu seperti memanggilnya untuk minta makan.Tentu saja Emak kesal. “Yasudah kalau tidak boleh bayam.” ucap Sumini tertunduk pelan. Ia kemudian salim dan ijin berangkat mengaji. Setelah perkara kambing, aku tahu pasti Sumini akan berulah lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD