Chapter 2

1120 Words
“Cepat masak. Si cece ngambek karena kamu telat masak.” Kukira semua orang akan setuju kalau badai tipon begini enak minum teh, batinku. “Biar kusiapkan bahannya. Si cece ingin makanan apa untuk makan malam?” tanyaku pelan. “Masak ayam suwir saos wijen saja. Cepat kerjakan suapay cece tidak semakin marah padamu.” ucap Granma sambil melangkah keluar dapur. Ia melirik ke arah kantong belanja yang baru saja kubawa dari pasar. “Kau belanja banyak, ya?” tanyanya pelan. Aku belum sempat menjawab, namun Granma sudah terlanjur pergi keluar dapur. Aku butuh jahe, lemon dan ayam. Aduh, kulkas belum kubersihkan. Untunglah Granma dan cece tidak memperhatikannya. Mana yang harus kukerjakan duluan, kulkas dulu? Atau ayam suwir dulu? Mungkin teh manis dulu.... atau pancake dulu? Hahaha... hidup sangat lucu. Orang-orang mencari bahagia sampai pergi ke luar negeri. Foto disana, foto disini. Makan itu, makan ini. Padahal minum teh dengan pancake madu juga enak. Bahagia itu gampang, hey orang-orang kaya! Heran.    “Berita hari ini. Seorang imigran ditemukan terjatuh dari balkon lantai dua puluh enam dikarenakan ketelodoran.” Pembaca berita itu berbicara dengan sangat jelas menyebutkan apa yang terjadi. Kronologis waktunya, alamat temoat tinggalnya dan mnama majikannya. “Imigran itu terjatuh pada saat membersihkan jendela luar apartemen.” imbuhnya. “Nama imigran yang terjatuh adalah Eka Suciwati, imigran yang berasal dari Indonesia.” “Imigran bernama Eka Suciwati itu terjatuh karena membersihkan kaca.” Tunggu. Nama itu tidak asing. Aku merasa pernah mendengar nama itu. Seperti pernah melihat nama itu di suatu tempat. Tapi dimana ya.. Aku memegang pisau di tangan kanan dan ayam ditangan kiri. Sebenarnya aku tahu bagaimana memasak ayam suwir dengan baik. Aku merasa cukup ahli memasak di kalangan imigran. Yang tak kumengerti adalah kenapa perasaanku mendadak tidak baik-baik saja mendengar nama imigran tadi. Ah sial. Eka Suciwati itu siapa ya. Aku teruskan kegiatan memasakku. Memotong ayam, jahe dan memeras lemon.    ************************************ Astaga! Akhirnya! Aku mengingatnya Nama itu.. Nama itu tepat ada dibawah namaku, di daftar imigran yang akan mengajukan pindah kontrak bulan depan. Itu Wati. Itu Mbak Wati. Ya Allah... Itu Mbak Wati. Kini kurasakan panas mengalir dalam tubuhku. Tanpa sadar aku menutup kulkas dengan cepat dan meletakkan pisau diatas meja. Aku berlari cepat  menuju lift dan menekan tombol  Ground floor pada layar lift. Bagus. Tak ada orang. Lift ini juga sepi. Aku bisa berfikir sejenak tentang ini. Aku bahkan tidak ingin menunggu hingga pintu lift ini terbuka lebar. Aku langsung berlari. Aku harus berlari secepat mungkin ke arah pemberhentian bus. Semoga masih sempat. Polisi di sini bertindak terlalu lama dan selalu menunggu atasan mereka terlebih dahulu sebelum memanggil ambulans atau tenaga kesehatan. Apalagi kalau urusan imigran seperti kami. Pasti lama. Tapi tak apa. Inilah kesempatanku. Aku harus cepat agar bisa memastikan bahwa itu memang Wati. Aku harus melakukan sesuatu jika benar itu memang Wati. Andai tidak sedang berlari, mungkin semua orang bisa melihat kakiku bergetar hebat. Entah perasaan apa yang kini menggelayuti hatiku. Perasaanku tak tenang. Dan tiba-tiba bayangan tentang masa lalu sekelebat saja membuatku terhenyak. Kejadian di masa lalu tentang berlari dalam ketakutan. Kenapa bus ini terasa seperti mempermainkan perasaanku.. Ban nya seperti enggan berputar. Bus ini berjalan dengan sangat lambat. Sial. Tidakkah ia tahu bahwa temanku Wati telah terenggut nyawanya? Aku tak bisa memanggilnya teman dekat, karena memang kami tidak sedekat itu. Akan tetapi, kenangan tentang kebaikanya yang selalu ia tularkan pada orang lainlah yang merasukiku.   Wati si baik hati yang memberiku tempat duduk ketika pertama kali aku sampai di negara ini. Saat membersihkan jendela luar, mereka bilang? Yang benar saja! Harusnya majikan itu tahu membersihkan jendela luar di  saat-saat seperti ini sangat berbahaya. Ia pasti dengan sengaja meminta Mbak Wati melakukannya. Sialan! Kalau dipikir, semakin aku yakin bahwa rumor yang tersebar bulan lalu memang benar adanya. Rumornya, Mbak Wati adalah salah satu imigran yang sedang dipantau karena majikannya adalah seorang mantan preman. Kalau tidak salah dengar, salah satu teman di KBRI juga menyebutkan hal yang sama. Seingatku dalam daftar imigran yang habis kontrak bulan depan, ia diberi tanda khusus agar di dahulukan. Ini untuk kasus yang memang perlu penanganan khusus. Kasus seperti Kekerasan fisik atau rohani sudah termasuk pelanggaran dan majikan harus mengganti rugi materi dan non materi. Yang tak ku pahami sebenarnya adalah kenapa KBRI bertindak demikian lambat untuk kasus-kasus seperti Mbak Wati ini. Ini bukan hanya terjadi sekali ini saja. Beberapa tahun yang lalu saat ada salah satu imigran yang berada dalam satu komunitas yang sama dengaku, meninggal dunia karena keracunan bahan kimia dalam makanan. Waktu itu teman-teman membawa ia ke rumah sakit dan merawat semampu kami. Entah apa yang membuat KBRI juga lambat dalam memberi tiindakan dan bantuan. Waktu itu hanya beberapa komunitas yang membantu biaya pengobatan dan pemulangan jenazah ke Indonesia. KBRI hanya memantau kepulangannya. Hidup dan bekerja pada seorang mantan preman tentu saja tidak mudah. Walaupun sudah mendapatkan persetujuan dari hakim setempat, orang dengan latar belakang seperti itu harus melalui berbagai tes yang harus diikuti. Kalau orang itu lulus tes, maka ia bisa saja diijinkan untuk memperkejakan seorang asisten rumah tangga. Kalau tidak lulus, maka ia harus di periksa ulang. Jika kesepakatan tercapai, dari situlah awal mula penderitaan seorang imigran yang tidak beruntung dimulai. Hinaan dan pukulan akan diterima hampir setiap hari. Belum lagi kalau ada masalah-masalah yang lainnya.  Itulah mengapa sangat penting mengetahui imigran menerima hak nya dengan baik. Fasilitas seperti tempat tidur, asuransi kesehatan hingga pengobatan ketika sakit harus kami dapatkan. Tinggal satu blok lagi.  Ayo, Mirah. Larilah lebih kencang. Larilah kencang seperti dulu.  Aku berlari walaupun sedikit menggigil.  Sepertinya ini efek berlari kencang di cuaca seperti ini. Tulang-tulangku terasa ngilu. Apakah aku sudah sejompo ini Tuhan? Kenapa orang seperti Mbak Wati mendapat majikan seperti itu? Kuingat dengan betul tawa receh milik Mbak Wati. Ia bahkan menjadi satu-satunya orang yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi pada saat pemilihan relawan banjir di Hongkong kala itu. Ia berjiwa sosial dan murah senyum. Ia seringkali membagikan minuman yang ada untuk orang-orang disekitarnya tanpa diminta. Ya Allah, aku tahu aku jarang berdoa. Aku tahu aku salah. Tapi kumohon, ijinkan sebentar saja aku melihat Mbak Wati. Ia selalu memperkenalkan diri sebagai Wati, tanpa merasa perlu menyebutkan nama lengkapnya. Dan tak ada dari kami yang mempertanyakan itu. Aku ingat aku memperkenalkan diri sebagai “Elisabeth”. Lalu ketika mendengar namaku, mereka tertawa tak henti. “Minggir..Minggir..” teriak salah satu reporter di sampingku. “Kau menghalangi kameramenku!” imbuhnya dengan suara keras. Ya, ia sedang meneriakiku. Aku hanya mematung melihat jenazah itu diam di atas tanah. Ia tak bergerak sedikitpun. Ia tak pula tersenyum receh. Ia kini tak bernyawa. Tak ada yang mengulurkan tangan membantunya. Setelah sedikit memaksa memasuki area garis kuning polisi, aku melepas jaket satu-satunya yang kupunya dan menutupi bagian tubuh MbaK Wati. Ia bersimbah darah. Aku menangis sejadi-jadinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD