Tulungagung, 1997
"Mbak, apa tidak apa-apa kita seperti ini, Mbak?"
"Apa yang kamu takutkan, Mirah?".
Suaranya datar.
"Nanti Mas Idrun memukulmu lagi, Mbak... aku sudah tak tahan melihatnya seperti orang tak lupa daratan!"
"Aku sudah biasa, Mirah.." ucapnya lirih.
Air matanya mengalir. Aku ingin menenangkannya, memegang pundaknya pelan.
Namun tanganku terhenti. Aku tersadar menyadari luka itu masih disana. Luka yang sama yang kulihat sebulan yang lalu. Luka tebas. Hadiah dari suaminya, ia menyebutnya.
"Mbak.. masih perih ya, Mbak?" tanyaku pelan. Ia tersentak kaget melihatku melihat lukanya.
"Masih...."
Ada getaran pada suaranya.
Kami berbicara dengan sangat pelan. Kami tak ingin orang lain tahu apa yang kami sembunyikan di tempat seperti ini. Ia kemudian mengangguk sambil menatapku lekat.
"Kita harus segera membakar tempat ini,Mirah. Kita harus cepat."
Ia dengan tangkas membuka tutup jurigen minyak tanah yang sedang kupegang lalu merebutnya.
"Sekarang, Mirah. Sekarang!"
Aku berlari mengikutinya.Mbak Sumini adalah perempuan istimewa.
Setelah emak dan bapak, kata-katanya selalu kami patuhi. Usia kami hanya terpaut satu tahun. Sedangkan Aku dan Wasis, adikku, hanya terpaut 5 tahun. Kami bertiga bersekolah di sekolah yang sama. Mbak Sumini akan marah besar jika aku harus memanggilnya “Mbak” atau kakak di sekolah atau bahkan dimanapun. Ia tak ingin terlihat tua. Ketika orang berkata kami layaknya saudara kembar karena wajah dan tinggi kami hampir sama, Ia akan tersenyum lebih dahulu. Aku tahu Ia senang. Aku tak ingin mengurangi kebahagiaannya.
Wajah kami bulat dengan tulang pipi yang agak sedikit menonjol. Potongan poni kami yang amburadul. Poni yang amburadul artinya adalah poni dengan panjang yang tak sama jadi terkesan acak-acakan.
Bagaimana bisa? Jawabannya bisa. Tentu saja bisa. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah ilmu kanuragan Emak. Hari itu, emak bilang rambut kami sudah terlalu panjang dan beliau akan memotongnya sendiri dengan tangan saktinya. Kami sudah curiga, tapi kami tidak berani membantah.
“ Mak, ilmu kanuragan itu seperti apa, Mak?” tanyaku.
“ Ilmu tenaga dalam diri emak. Kesaktian emak.” jawab emak sedikit mengintimidasi. Terlihat membingungkan untuk kami.
“Didapat dari sekolah rakyat, Mak?”
“Emak dapat ilmu ini dari nenek moyang emakdulu.” lanjut emak. Kami makin ragu.
“Bagaimana cara belajarnya, Mak?”
“Apa Bapak juga punya ilmu kanuragan, Mak?”
“Nenek moyang emak yang mana, Mak?” tanya Mbak Sumini kebingungan.
“Yang dulu dulu. Sudahlah, kalian nurut saja sama emak. “ jawab emak sambil menatap mata kami lekat-lekat. Tanda kami harus menutup rapat mulut kami. Kami pun mundur teratur dan perlahan.
Pemaksaan ini tentu saja membuat hati kami gundah gulana sepanjang hari. Makan tak tenang, minum pun terasa hambar. Tidur siang rasanya sangat menyiksa. Sore harinya, setelah kami terbangun dari tidur siang, kami agak terperanjat melihat emaksudah bersiap dengan gunting, sisir dan kaca di pekarangan rumah. Emak tersenyum sinis. Kami meringis ketakutan. Aku berdoa dalam hati semoga emak benar-benar mempunyai ilmu kanuragan seperti di film-film. Sat set was wes wos fafifu, lalu kami akan berubah menjadi secantik mbak Betharia Sonata yang dikagumi banyak orang itu.
Aku dan Mbak Sumini hanya bisa mengernyitkan dahi ketika tiba-tiba saja emak tersenyum lebar sambil memandang kami berdua.
“Miraahh.. Mbak Sumini.. sini nak.. gunting sudah siap.”
Sedikit menakutkan, bukan?
Berakhir dengan ekspresi aneh kami ketika bercermin. Emak tersenyum bangga. Senyumnya lebar sekali melihat kami yang tidak tahu harus berekspresi bagaimana.
Begitulah hari naas itu terlewati..
Poni kami berteriak, sangat lantang, kemerdekaannya terkoyak. Aku dan Mbak Sumini tidak berani keluar kamar karena takut diejek teman-teman.
Semakin dipikir, semakim menyebalkan. Hanya Wasis yang selamat. Ini karena Bapak selalu mengajaknya pergi ke tukang cukur yang ada di depan stasiun. Kata Wasis, tukang cukurnya itu orang yang baik hati. Seringkali Wasis diberi hadiah permen minyak putih atau permen rasa jeruk kesukaannya asalkan ia diam saja ketika proses cukur mencukur berlangsung. Enak, kan?
“Apa kita bisa mencukur rambut di Pak Cukur Depan Stasiun juga, Mak?” tanyaku kapan hari.
“Tidak. Itu hanya untuk laki-laki. Rambut kalian biar Emak yang potong. Perempuan potong rambut sendiri dirumah.” jawab emak santai. Andai emak tahu perasaan poni kami.
“Tapi, Mak.. Kami ingin potong rambut yang benar.” sahut Mbak Sumini tanpa perasaan bersalah. Aku melirik dengan cepat kearahnya dan mendapati emak sedang melotot dengan sempurna pada kami. Ah, Mbak Sumini ngawur.
Emak selalu menganggap karyanya layak diacungi jempol, ya, walaupun kami, Wasis dan Bapak tidak beranggapan demikian. Tetangga dan teman-teman kamipun tak ada yang memuji potongan poni kami. Alhasil, poni kami menjadi terlalu pendek dengan potongan sebelah kanan yang rata dan sebelah kiri yang tidak rata. Kami menjadi bahan tertawaan di kampung dan di sekolah. Kami sering diejek di sekolah karena hal ini. Tapi selalu, Mbak Sumini tahu cara mengatasi ejekan dari teman-teman kami. Suatu hari Ia dengan lantang berkata “Kalian mengejek kami karena emak kalian tidak mempunyai ilmu kanuragan, bukan? Emak kami hebat! ”. Aku tertawa terbahak-bahak karena ucapannya. Mereka tahu saja bahwa emak menggunakan gunting kain untuk memotong rambut kami.
Alis kami tipis dengan bentuk mata yang sipit. Kulit putih dan badan bongsor alami meniru Bapak yang juga bongsor. Pundak Mbak Sumini lebih tegas dan lehernya lebih panjang. Jari kami bertiga kecil dan sama panjang. Oiya, Satu kelebihan Mbak Sumini yang lain adalah ada enam jari di tangan sebelah kanannya. Lebih tepatnya, ia memiliki dua ibu jari di tangan kanan. Menarik, bukan?.
Kadang kulihat ia sibuk memperhatikan kedua tangannya sendiri. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Fakta tentang tangan kanan Mbak Sumini ini akan kuketahui nanti ketika dewasa.
“Mak, kenapa jariku lebih banyak di tangan kanan?” tanyanya suatu hari.
“Tuhan memberi keberuntungan hanya pada orang-orang yang Ia sayang. Itu adalah tanda keberuntunganmu. ” jawab emak. Tanpa kalimat selanjutnya, tanpa penjelasan berarti lainnya. Meninggalkan Mbak Sumini dengan segala pertanyaan di kepalanya.
Itu juga yang menjadi penyebab mengapa Ia lebih sering menggunakan tangan kirinya untuk melakukan sesuatu, kecuali untuk makan. Menulis dengan tangan kiri, menendang bola dengan kaki kiri. Keren sekali! Aku kagum melihatnya.
Suatu sore yang mendung, ia tiba-tiba menggandeng tanganku masuk ke dalam kamar. Ia menutup mulutku setelah menutup pintu kamar.
Sedikit berbisik dia berkata, “Aku ingin cerita.”
Ada sesuatu yang terjadi. Nada suara ini tak pernah kudengar sebelumnya.
“Cerita saja.” ucapku datar.
“Tapi jangan bilang sama siapa siapa ya.”
“Kau pasti kentut ketika sholat, kan?? Jujur saja!”
“Bukan. Bukan itu.”
“Pasti kau tertawa kencang sekali waktu suara Slamet mendadak cempreng pas adzan tadi kan?”
“Nggak, nggak...Bukan itu.”
Karena penasaran, otakku mulai berfikir apa yang sedang dibicarakan.
“Halah, aku tahu.”
“Apa?”
Sore itu perasaanku campur aduk. Ia tak perneh bercerita sebanyak ini tentang laki-laki.
Aku melihatnya berlari sangat kencang. Lari dari kenyataan bahwa laki-laki yang dulu sangat ia kagumi, kini dengan ganas menyerangnya.
Walaupun aku tahu ini tidak benar, tapi aku tetap mengikutinya.