Chapter 4

1440 Words
Aku kembali kerumah dengan perasaan kalut. Antara bingung dengan apa yang baru saja kulalui dan gelisah dengan apa yang mungkin terjadi dalam sepuluh menit kedepan. Wajah tak bernyawa yang kulihat tadi, lalu tingkah polisi yang kurang ajar. Aku harus mengirimkan pesan pada komunitas kami. Ya Tuhan, kenapa dunia sebegitu tidak adil pada orang-orang yang tidak punya daya..... Benar saja. Sudah bisa ku tebak. Cece ada di depan lift. Ia sedang menungguku. Aku tahu ia memang sengaja menunguku di depan lift seperti itu. Aku tahu betul bahwa di otaknya ada ribuan kombinasi nama binatang dan makian tertuju padaku. “Kau kemana saja, hah!? Apa kau tahu sekarang jam berapa?!” “Aku tadi.. tadi mampir sebentar ke rumah seorang kawan.” jawabku. “Kawanmu yang mati itu? Aku hampir tidak makan siang karenamu! Bukankah harusnya kau melakukan tugasmu dulu!” Dan, ya. Suaranya sekencang itu ditambah dengan mata melotot. Bagus! Hari ini tak akan mudah. Tapi, kata “mati” sangat mengusikku. Dia harus diajari sopan santun. “Kau harusnya memilih kata yang lebih sopan pada orang yang telah pergi.” ucapku sambil merubah nada suara. Kini suaraku sedikit kupertegas. Aku menatap tepat ke arah bola matanya. Awalnya ia dengan santai balik menatapku. “Jangan pernah berkata buruk tentang kematian seseorang.” Aku memegang tangan kanan Cece dan menekannya. Kurasakan ada ketegangan. Ada ketakutan yang sekilas terlihat nyata dari sorot matanya. Ia sedikit tersentak dan melangkah mundur. Aku harus memberinya lebih banyak pelajaran hari ini. Namun segera kuurungkan niat itu. Aku sudah lelah. Aku memilih melempar tangannya dan melangkahkan kakiku mendekat ke arah pintu rumah. Akan tetapi, kata-katanya selanjutnya menghentikanku.. “Tadi ada telepon dari agenmu. Ada seseorang dari Indonesia yang mencarimu.Seorang laki-laki” ungkapnya sambil berjalan melewatiku. “Aku tahu kau pasti wanita yang tidak baik di negara asalmu itu.Tingkah lakumu seburuk itu!” ucapnya ketus. Hah? Laki-laki? Seseorang dari Indonesia? Meneleponku melalui agen? Siapa? Ini agak aneh. Aku tak pernah memberitahu siapapun di Indonesia tentang dimana aku bekerja sekarang atau bahkan agen yang mempekerjakanku. Membayangkan saja aku tak berani. Hongkong adalah negara yang jauh dari Indonesia dan t*i Po sangat jauh dari pusat kota. Orang harus menaiki pesawat yang mahal dan menaiki bis sebanyak tiga kali untuk bisa kesini. Agenku juga sangat jauh dari sini. Mencari nama agen tempat aku bekerja juga tentu sangat sulit. Siapapun yang sedang mencariku saat ini, ia tak main-main. Aku berusaha mencerna ucapan cece. Dadaku bergetar ketika tak ada nama siapapun yang muncul diotakku saat ini. Kalau ia berniat baik, mungkin salah satu dari saudara atau bahkan orangtuaku. Kalau sebaliknya, mungkin aku tak boleh meremehkan persoalan ini. Apakah itu Bapak? Sepertinya tidak. Itu tak mungkin. Terakhir yang kudengar dari Wasis, bapak tidak bisa berjalan dengan baik saat ini karena penyakit asam urat dan kolesterolnya. Mungkinkah itu Wasis? Apa alasan ia mencariku? Sebulan lalu ketika kutelepon, ia tak mengatakan apa-apa perihal ini. Ia bahkan bercerita tentang badannya yang sekarang sudah cukup kuat memapah berat badan Bapak kami. Kalau bukan keduanya, lalu siapa? Ditengah-tengah kecemasanku, Grandma berjalan mendekatiku. Aku menoleh dan mengucapakan salam. Tapi ia tak membalas. Oke, baiklah.. aku tahu ia sedang marah. Tentu saja kepadaku. Ia memberiku secarik kertas. Kertas kecil berisikan menu makanan yang ingin dimakan oleh keluarga itu mulai dari malam ini hingga tiga hari lagi. Aku memasuki dapur dan segera mempersiapkan makan malam untuk keluarga itu. Banyak sekali menunya. Ada bebek kecap, akar teratai dan babi cincang goreng, ayam lemon, woton, tulang kaki babi rebus jahe dan sup ayam hambar. Aku beberapa kali melihat catatan yang diberi Grandma dan mencocokkan menu masakan yang mereka inginkan dengan bahan-bahan yang tersedia di dapur. Kemudian aku menuliskan bahan-bahan apa saja yang belum terbeli. Tidak ada akar teratai dan babi di kulkas. Lalu ada dua bumbu yang habis. Jahe dan arak masak. Keluarga ini tidak bisa memasak makanan apapun tanpa bumbu jahe dan arak masak yang pas takarannya. Aku akan pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang belum ada untuk masak. Ketika berjalan hendak mengambil tas kecil. Baru saja kuambil tas belanjaan, Grandma sudah datang dengan membawa tas belanjaan miliknya sendiri dan mengambil catatanku. “Jangan kemana-mana. Kau harus bersihkan kamarku dan kamar cece.” “Tapi Grandma tidak bisa berjalan jauh, kan? Sudahlah biar aku saja..” desakku sambil menarik lagi kertasnya. “Sudah! Jangan banyak bicara. Kau sudah berkeliaran sejak pagi ini.” bentaknya. Kali ini ia mengambil kertas tadi dengan paksa. “Biarkan aku atau cece saja yang berangkat, Grandma.” ujarku pelan. Tak ada balasan. Ia terus berjalan menuju pintu. “Grandma....?” tanyaku pelan. “Apa lagi!?” Kini ia menoleh. “Pakaian Grandma sepertinya terbalik.” Ia menunduk melihat pakaian yang ia kenakan. Lalu kembali berjalan sambil melengos. “Biar saja. Ini memang gayaku.” Ia pasti mengatakannya sambil menahan malu. Aku tertawa sendirian. Granma mungkin sering marah, tapi ia tetap saja lucu. Ia satu-satunya orang yang kusayangi di rumah ini. Setelah Granma pergi, aku merapikan dapur dan meletakkan beberapa perkakas yang nantinya akan digunakan memasak. Setelah itu baru aku berjalan menuju kamarku di bagian paling belakang dari rumah ini. Sepertinya tadi aku meninggalkan kamarku dengan berantakan. Aku bahkan tanpa sengaja menarik beberapa baju keluar dari lemari ketika mengambil uang. Ah, pasti semakin lelah saja nanti ketika melihat kamarku. Benar saja, pintu kamar terbuka lebar dan berantakan. Aku memasuki kamar dengan badan yang sangat lelah. Aku merebahkan diriku di atas tempat tidur dan berusaha memejamkan mata. Beberapa menit tidur rasanya cukup adil. Peristiwa tadi membuatku berfikir ribuan kali lagi kalau ingin keluar rumah tanpa rencana. Demo yang sedang marak dan cuaca di t*i Po sangat tidak mendukung. Belum juga hilang perasaan kehilanganku atas kepergian Mbak Eka. Belum lagi kejadian polisi jahat. Aku harus telepon Maryamah. Aku harus memberitahunya tentang Mbak Eka. Semakin aku membenamkan diri dalam pikiran-pikiranku sendiri, semakin aku sadar bahwa aku sedang lelah sekali. Ketika badanku terpental dari mobil polisi tadi, ada beberapa sendiku yang terasa sakit. Hari memang masih siang, tapi sudah terasa begitu berat. Aku belum memasak makan malam, belum juga membersihkan peralatan bekasnya dan juga belum merapikan dapur lagi nanti. Hidup menjadi imigran sepertiku ini memang tak pernah mudah. “Sumirah... Mirah..” teriak cece dari arah dapur. Nah kan. Sudah kuduga ini akan terjadi. Kenapa pemilik sumber suara itu sangat menyebalkan. “Iya, iya.. aku datang....” jawabku sambil menguap. Aku mengantuk sekali. “Ada apa, ce? Aku ada di kamar.” tanyaku. “Apa yang kau lakukan dikamar? Apa kau sedang enak-enakan?!” “Grandma tidak memperbolehkanku belanja, kulkas juga sudah bersih. Aku sudah membersihkan dapur dengan baik, kan?” tanyaku pelan. Aku tak ingin menjawab pertanyaannya. Aku tak ingin bicara lebih banyak dengannya. “Apa lagi?” tanyaku sedikit ketus. Kulihat ia sedang mendekap tangannya dan bersandar pada pintu kamarku. “Buatkan aku secangkir teh.” “Baiklah.” ucapku lirih seraya berdiri. Ketika berjalan menuju tempat penyimpanan kettle, aku mendapatinya melihatku dengan sedikit keheranan. Aku tak ingin berdebat. “Serta bawa beberapa cookies” imbuhnya. Aku mengangguk pelan. Aku tak membalas perkataanya dan mulai membuat teh. Kupikir ia akan langsung menuju kamar dan menungguku disana. Tapi tidak. Ia membuntutiku ke dapur. Ia memperhatikan tingkahku seperti aku ini adalah pencuri mangga. Ya, dulu aku memang pencuri mangga. “Aku ingat sesuatu tentang orang yang menelepon tadi. Orang yang sedang mencarimu tadi.” ucapnya. Aku menoleh padanya untuk memastikan apa yang ia katakan. “Apa? Apa yang dia katakan padamu?” Sial. Aku terpancing. “Ketika aku bertanya dia siapa, laki-laki itu menjawab ia adalah teman masa kecilmu.” Teman masa kecilku? “Ia juga menyebutkan kata “bapak” tadi. “Bapak” berati ayah kan?” Aku terkesiap dan langsung berjalan mendekatinya. “Apa kau mengatakan yang sejujurnya? Apa lagi yang ia katakan?” desakku. “Ia tak mengatakan apapun selain itu.” jawab cece dengan nada mengejek. “Apa kau berkata jujur, ce?” “Untuk apa aku berbohong untuk hal yang jelas-jelas tidak menguntungkanku?” tegasnya. Cece sepertinya tidak bercanda. Seketika kakiku lemas. Ada apa ini? Mengapa jantungku tiba-tiba seperti berlari kencang sekali. Teman masa kecilku hanya ada dua orang. Hamid dan Susiana. Sepanjang ingatanku benar, dua tahun yang lalu Susiana bekerja di Kuala Lumpur. Ia bekerja pada seorang artis tua disana. Gajinya banyak walau suami muda si artis suka memandanginya genit. Apakah ia sedang kesulitan? “Untuk apa Susiana pergi sejauh ini hanya untuk mencariku...Kami pernah berjanji akan bertemu empat tahun lagi, ini bahkan belum empat tahun, kan?” aku bergumam pelan. Sedangkan Hamid.. aku ragu ia yang datang kesini mencariku. Setelah peristiwa perdebatan ayahnya dan bapak, aku rasa ia tak akan pernah mendatangiku. Namun, dunia ini tak pernah berhenti memberiku kejutan. Aku tahu pasti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD