Chapter 5

4931 Words
Tulungagung, 1998. Sore itu, Bapak baru saja masuk rumah ketika tiba-tiba saja Pak Saeful, kawan terdekat Bapak, memanggil nama Bapak sambil lari tunggang langgang dari arah jalan raya menuju arah rumah kami. Keheranan, Bapak hanya menunggu Pak Saeful menghampirinya. “Kenapa, Ful? Kenapa lari-lari?” tanya Bapak. “Kang, itu lho.. Kardi sialan itu lho..” jawab Pak Saeful ngos-ngosan. “Kenapa Pak Kardi?” tanya Bapak pelan. “Ia sedang mbangun tempat dia jualan besok pagi.” “Lah, terus? Masalahnya dimana?” tanya Bapak “Jadi begni-“ kata Pak Saeful “ Ga usah iri sama tempat orang. Ya sudah biar saja Pak Kardi jualan. Toh jualan kita tidak sama.” jelas Bapak. “ Gak gitu. Di—dia... ju-ju-jualan di tempat yang-“ “ Tempat siapa?” tanya Bapak keheranan melihat tingkat sohibny ini tiba-tiba gagap. “ Tem...pat...mu!” teriak Pak Slamet kencang sekali. Tanpa gagap. Bapak sempat terkaget beberapa saat, tapi beberapa menit kemudian ia terlihat tenang. Pak Saeful kemudian menambahkan,”Kardi itu menyebut bahwa pasti ada alasan kenapa tempe buatanmu selalu terjual habis. Ia bahkan dengan berani dan percaya diri ingin membuktikan bahwa kau bermain curang. Apa-apaan ini! Tidak masuk akal.” “Aku tidak terlalu suka mendebat seseorang, Ful. Sudahlah, biar saja. Toh semua tempat sama saja.” jawab Bapak santai. “Tapi kita harus membuat Kardi sialan itu berenti menghina dan merendahkanmu, Kang. Aku saja tak terima kau diperlakukan seperti ini. Ini tidak adil. Dia sengaja mengambil tempatmu itu.” ujar Pak Saeful berapi-api. Yang diajak ngobrol justru sedang melihat ke arah genteng rumahnya. Entah apa yang dipikirkan Bapak saat itu. Mbak Sumini lalu datang mengantarkan dua cangkir kopi panas dan meletakkan di meja ruang tamu. “Ful, tolong tenanglah sebentar. Tak ada gunanya bersikap seperti itu. Aku akan pindah ke sisi bagian timur yang paling dekat dengan mushola saja. Lebih dekat juga kalau mau sembahyang.” jelas Bapak. “Kau tahu, Kang.. Kardi itu bahkan membuat sayembara. Kalau selama tiga hari berturut-turut tempe miliknya laris, itu tak lain karena kau sudah menandai tempatmu jualan dengan yang tidak baik jadi siapapun yang berjualan disana akan mujur dan laris dagangannya. Tapi jika tempe miliknya tak laku, Ia akan mengaku salah di depan semua pedagang pasar dan akan meminta maaf kepadamu.” ujar Pak Saeful dengan nada marah. “Apakah Ia sedang tidak ada pekerjaan lainnya? Bagaimana kalau kau ajak dia kemari untuk minum kopi, Ful?” tanya Bapak sambil tersenyum. Bapak tahu kalau ia mengikuti amarah Pak Saeful, semua akan menjadi semakin runyam. Pak Saeful yang semula berapi-api menjelaskan kepada Bapak tiba-tiba saja ikut tersenyum. Ia sepertinya sadar Bapak tidak akan terpancing nada amarah dan kata-kata kasarnya. Ia kemudian mengambil gelas kopi panasnya di meja dan meminumnya perlahan. “Biarkan saja, Ful. Sudahlah. Sudah. Biarkan ia melakukan apa yang ia mau. Itu tidak merugikanku juga kok.” ujar Bapak. “Lho gimana to? Ini merugikanmu, Mas! Ini merugikan keluargamu. Kardi itu seenaknya memfitnah orang.” ujar Pak Saeful kembali kesal. Bapak kemudian berkata,”Rezeki itu Allah yang atur, Ful. Kamu kayak nggak paham aja. Rezeki tidak akan tertukar. Rezeki kita ya pasti nanti datangnya ke kita. Tenang saja.” kata Bapak sambil menepuk pundak Pak Saeful pelan. Orang yang ditepuk malah bengong. “Sembahyang maghrib disini aja ya, Ful. Ayo.” ajak Bapak sambil berjalan ke arah dapur hendak mengambil wudhu. Pak Saeful mengikutinya pelan. Barulah setelah selesai sembahyang, beliau pamit pulang. Emak memberinya dua kilo tomat hasil kiriman Bude Siti, kakak tertua Bapak. Ia pulang membawa kresek merah sambil bergumam pelan “Rezeki kita ya pasti nanti datangnya ke kita” berulang-ulang. “Mak, Pak Sukardi-“ kata Bapak mengawali cerita, namun segera dipotong emak “Iya, tadi siang Bu Mus istrinya Pak Karim bilang ke emak kalau sore ini Pak Sukardi akan meletakkan barang dagangannya di tempat biasa kita berjualan. “ kata Emak datar. “Menurutmu bagaimana, Mak?” tanya Bapak. Ia melipat sajadah panjang kesayangannya. “Kita biarkan saja seperti perkataan Bapak pada Saeful tadi. Tidak udah ditanggapi. Besok pagi carilah lagi tempat yang lain di pasar.” jawab emak pelan. “Iya. Semoga besok kita bisa dapat tempat yang lebih baik lagi ya, Mak.” kata Bapak. Nadanya ragu namun berusaha Ia sembunyikan di depan istrinya. Keesokan paginya, Bapak dan mak sudah menaiki becak dengan keranjang tempe mereka. Bapak lalu meminta Pak Becak untuk berhenti di dekat mushola saja. Pak Becak dengann heran bertanya, ”Lho, Pak. Kan bukan disitu tempatnya.” Namun hanya dibalas santai oleh Bapak. “Tidak, Pak. Disini saja biar lebih dekat kalau sembahyang.” ucap Bapak pelan. Beliau membantu emak menurunkan keranjang tempe dengan hati-hati. Mereka kemudian menata letak pisau, lalu meja kecil dan tak lupa sebuah tikar kecil punya Wasis. Mereka tidak berbicara apapun hingga semua persiapan berjualan selesai. Emak dan Bapak biasanya akan mengobrol dengan penjual yang ada di sekitar mereka. Tapi ketika menoleh, Bapak tersadar bahwa tempatnya berjualan tempe kini jauh dari lalu-lalang orang. Tempatnya memang agak ke belakang dari pasar dan jarang orang akan kesana kecuali berniat untuk ke mushola. Namun, sudah tidak ada lagi tempat di pasar itu. Tiap sudut sudah ditempati oleh pedagang yang lainnya. Itulah mengapa Ia memilih tempat yang berada di sebelah mushola. Ia berusaha meyakinkan istrinya yang mulai gelisah karena sampai jam sembilan sejak pagi, tidak ada satu orang pun pembeli yang datang ke lapak mereka. “Pak...Bagaimana ini?” kata emak. “Iya, Mak..Tidak apa-apa, Mak” jawab Bapak dengan suara getir. “Bapak sholat dulu ya, Mak.” lanjutnya pelan seraya berjalan ke arah tempat wudhu. Emak hanya bisa memandangi punggung suaminya itu dengan perasaan iba. Ini adalah kejadian yang pertama kalinya sejak mereka berjualan. Biasanya barang dagangan mereka akan terjual hanya dalam waktu dua jam saja setiap harinya. Banyak orang yang berkata bahwa tempe hasil olahan emak dan Bapak sangat enak dan cocok di lidah mereka, tekstur tempe nya juga tidak gampang pecah. Bahkan dulu, ada beberapa orang yang sudah ada di dalam pasar menunggu waktu dimana bapak dan emak turun dari becak. Kondisi itu berbeda sekali dengan hari ini. Sampai jam segini, belkum ada satupun orang yang membeli tempe buatannya. Tentu saja ini tak mudah. Emak memikirkan berapa banyak hutang yang harus ia bayar nanti jika hal ini terjadi tak hanya hari ini. Belum esok hari. Belum lagi keesokan harinya. Bagaimana kalau berjualan di tempat ini justru membuatnya tak bisa menghidupi ketiga anak-anaknya. Pada siapa ia akan berhutang nanti. Apa yang harus ia lakukan? Biaya makan, biaya produksi kedelainya, biaya uang saku ketiga anaknya. Ia linglung sekejab, hingga kemudian Ia tersadar. “Aduh. Kok bisa aku berfikir buruk tentang rencana Tuhan.” gumamnya dalam hati. Keesokan harinya, keadaan masih sama. Tak ada satupun pembeli yang datang ke lapak mereka. Bapak melihat Emak murung dan bersedih. Namun Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dengan kondisi yang mereka lalui hari ini, kemungkinan besar mereka tidak akan berjualan besok kecuali masih ada kedelai yang bisa digunakan. Alteratif lain mungkin bapak dan emakharus mengurangi jumlah produksi kedelai. “Lho, jeng.. kok jualan disini?” tanya seseorang secara tiba-tiba. Ternyata Bu Saeful. Anggota Pasukan Elit lainnya “Iya, Bu.” jawab Ibu pelan sambil berpura-pura merapikan tikar. Ia tak ingin orang tahu bahwa hatinya gelisah. “Pasti karena Pak Sukardi itu ya, bu?” tanya Bu Saeful sambil berbisik. Awalnya emak ragu ingin bercerita, namun Ia sungguh ingin menyelamatkan keuangan keluarganya. Ia ingin bercerita pada Bu Saeful tentang kondisinya hari ini. Tapi rasanya tidak baik bercerita tentang masalah keluarga sendiri pada orang lain. Untunglah sejurus kemudian, Bapak datang. Bu Saeful yang tadinya ingin berbincang dengan emak pun akhirnya memilih pergi tepat setelah menganggukkan kepalanya pada Bapak. Gagal Ia memahami apa yang sedang dipikirkan emak. Yang ia ketahui, emak pasti sedang merasa tertekan batinnya. Betapa tidak, usaha yang sudah menemani sekian tahun harus berada di ujung tanduk seperti ini. Bapak hanya membalas dengan anggukan serupa. Kemudian Bu Saeful dnegan lesu pulang kerumah dengan membawa beberapa kresek belanjaan. Beberapa meter sebelum sampai kerumahnya, Bu Saeful memikirkan emak. Ia merasa iba dengan apa yang dialami tetangga kesayangannya itu. Ia harus membantu emak untuk bertahan. Bagaimanapun juga Pak Kardi telah melakukan kesalahan. Tidak ada yang tahu alasan Pak Kardi melakukan hal demikian jahat. Ia tak seharusnya memfitnah dan berkata buruk pada orang-orang di pasar tentang Emak dan Bapak. Mereka adalah orang baik dan suka membantu. Ingatan Bu Saeful terbang sepuluh tahun yang lalu. Sewaktu Bapak membantunya mencari mobil saat hendak melahirkan Dian, anaknya yang pertama. Pak Saeful sudah berlarian mencari pinjaman mobil pick-up atau apapun yang bisa dipakai untuk mengantarkan istrinya ke rumah bidan. Sayangnya, semua orang diam. Tidak ada yang memimjamkan kendaraan mereka untuknya. Berbagai alasan dilontarkan oleh para tetangga mereka yang mempunyai pick-up atau mobil. Pak Saeful sedih sekali waktu itu. Pak Saeful tidak tega membawa istrinya yang kesakitan menggunakan motor karena jalan yang akan mereka lewati masih makadam dan penuh bebatuan, apalagi rumah bu bidan lumayan jauh. Tentu saja akan membahayakan nyawa istri dan anak pertamanya. Beliau kebingungan. Hingga akhirnya Bapak yang baru saja tiba dari pasar mendengar kabar bahwa Bu Saeful akan melahirkan dan sedang kebingungan mencari kendaraan. Bapak dengan sigap berlari menuju rumah Pak Saeful dan mendapati suami istri tersebut sedang menangis berdua di ruang tamu. Pemandangan yang terlalu sedih untuk diungkapkan. “Aku akan pinjam kendaraan ke Pak RT, Ful. Kau jaga istrimu dulu. Berilah ia air minum hangat agar tidak sampai kehabisan energi karena kelelahan menahan sakit.” “Aku akan ikut, Kang. Rumah Pak RT jauh dari sini, Kang” “Tidak usah. Aku akan berusaha semampuku, Ful.” “Terima kasih, Kang.” Bapak lalu berjalan menerobos panas terik dan membawa sepeda tua kami kerumah Pak RT. Sekitar satu setengah jam kemudian Bapak, Pak RT beserta istrinya datang membawa sebuah ambulans dari rumah sakit. Beruntunglah, Bu Saeful sampai rumah sakit dengan keadaan selamat walaupun air ketuban sudah keluar dalam perjalanan. Dian Permata Putri adalah nama putri pertama Pak Saeful, indah bukan? Dian, bayi peremupuan lucu dan menggemaskan itu dapat bertahan dan bisa lahir dalam operasi karena air ketubannya habis. Namun, Ia langsung mengenali Ayah Ibunya. Ia langsung menangis kencang sekali. Bapak dan Pak RT mengucap syukur dan selamat pada ayah ibu baru itu. Kini Dian sudah sepuluh tahun usianya. Emak dan bapak membantuku tanpa pamrih, batin Bu Saeful. Mana mungkin Ia bisa melupakan jasa mereka. Ia harus memutar otak mncari ide supaya bisa membantu keluarga baik itu. Ting. Tiba-tiba Bu Saeful mendapatkan ide cemerlang. “Aku punya ide. Aku akan bercerita pada bapak” ujar Bu Saeful yakin. Malam itu juga, Bu Saeful dan suaminya berbincang tentang rencana mereka membantu emak dan bapak. Mereka terlihat berbincang serius. “Kita harus membantu mereka. Biar Kardi sialan itu kapok.” tegas Pas Saeful dengan yakin. “Iya, Pak. Kita harus menyusun rencana yang matang. Kita juga harus hati-hati.” imbuh istrinya. Esok harinya, Pak Saeful dan istrinya membawa meja panjang tepat di samping meja Bapak berjualan. Mereka melapisi meja mereka dengan taplak meja dengan warna mencolok dan rak kecil yang biasa mereka gunakan untuk meletakkan barang dagangan. Setelah itu mereka menata barang dagangan mereka dengan rapi berdasarkan warna. Bumbu kuning di rak sebelah kanan, bumbu merah di bagian kiri, lalu rak bagian tengah adalah area bumbu putih. Benar, Pak Saeful adalah pedagang bumbu yang terkenal di pasar ini. Bumbu-bumbu yang dijual memiliki wangi dan cita rasa yang pas untuk setiap masakan. Bumbu lodeh hingga bumbu bali telor pun ada disini. Semua bumbu lengkap ada di rak milik Pak Saeful. Pak Saeful dan Bapak adalah sahabat lama, mereka bahu-membahu mengerjakan apa saja. Terkadang jika Bapak ada urusan, Pak Saeful dengan senang hati menggantikan Bapak di lapaknya. Begitupun sebaliknya. “Ayo, Bu. Cepat! ” seru Pak Saeful seraya mengambil banyak plastik bumbu di dalam kardus. Sebelumnya ia menata tiga rak di atas meja dengan rapi. Ini adalah hari pertamanya membantu Bapak. Ia akan melakukannya dengan riang gembira. Ia kemudian membentangkan kain dengan tulisan tebal berbunyi : “GRATIS BUMBU UNTUK 30 PEMBELI PERTAMA TEMPE EMAK. ” Semoga ini berhasil, batinnya. Harusnya orang-orang akan tertarik. Sekitar 15 menit kemudian, semua persiapan sudah matang. Ia memberi aba-aba pada istrinya untuk memutar volume toa di tombol medium. “Ayo pak bapak, ayo bu ibu....Ayo ayo.. bumbu gratis untuk tiga puluh pembeli pertama.... Ayo, ayooo... hanya tiga puluh saja yang dapat.. Ayo ayoooo...” serunya keras. Lanjutnya, “ Ayooo... Ayo..... beli tempe gratis bumbuuu ayoo ayooo... Bumbu sambal gooreeeng tempeee juga adaaaa ayoooo....” Belum juga ada yang datang. Akan kucoba lagi, batin Pak Saeful. “Yo, ayo yo... bumbu lengkap dengan berbagai kelezatan ada disini hayoooo semuanya... ayooo...” teriak Pak Saeful. Ini adalah sebuah upaya membalas jasa Emak dan Bapak kala itu. Semakin lama semakin semangat ia berbicara menggunakan alat pengeras suara. Ia memang sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. Bahkan nada ketika berbicara. Ia juga sudah meminum kopi hitam tanpa gula dan makan jajan tradisional agar kuat berteriak. Lalu ada seekor kupu-kupu yang mendarat di rak bumbu miliknya. Hore! Ini pertanda baik. Kupu-kupu ini akan mendatangkan rezeki hari ini. Ada sepuluh orang yang berjalan ke arah sini, batin Pak Saeful. Mereka akhirnya berhenti di depan lapak Pak Saeful. Pertama, mereka bertanya tentang bumbu soto olahan, lalu bertanya tentang diskonnya. “Kualitas bumbu olahan kami bisa membuat masakan mejadi sangat enak. Kami menggunakan banyak rempah berkualitas. Ayoo.. Pak, Bu.. diborong saja.” ujar Pak Saeful bersemangat. “Bisa dapat gratis lho, Pak.” imbuhnya. “Gratis bagaimana maksudnya, Pak?” tanya pembeli. “Di sebelah lapak ini nanti akan ada lapak tempe yang juga sangat enak, Pak. Sayang lho kalau dilewatkan.” Belum sempat si pembeli membalas, becak yang membawa Emak dan Bapak tiba di pasar. Becak yang membawa serta tempe itu berhenti sektar sepuluh langkah jauhnya dari depan meja Pak Saeful. “Lho, ada apa ini, Ful? “ tanya Bapak. “Ini kang, mulai hari ini kami akan jualan disini juga.” “Lho, kenapa? Nanti kalau tidak ada yang beli seperti kami kemaren, bagaimana jeng?” tanya Emak kepada Bu Saeful. Nada suaranya terdengar sangat khawatir. Namun sebaliknya, Bu Saeful malah dengan tenang menjawab “Jeng. Biar saja. Tuhan tidak pernah menukar rezeki kita, jeng.” “Lagipula, saya kesepian disana. Tidak ada teman ngobrol. Kalau disini, saya bisa belajar masak ke Emak juga.” imbuhnya pasti. Tiba-tiba Emak terisak. Emak berfikir tidak ada orang yang akan membantunya di kala susah seperti sekarang ini. Walaupun selalu ada Bapak yang akan menemaninya pergi kemanapun, namun teman seperti Bu Saeful akan membantunya melupakan masalah yang kini didera. “Jeng, sabar nggih jeng.” “Terima kasih, Jeng. Lemah teles, Gusti Allah ingkang mbales. Tuhan yang membalas kebaikan Bu Saeful dan Pak Saeful. Aamiin.“ ujar Emak. “Aaaaammiiiinnnnnnnnn.....” ujar Pak Saeful dan Bapak serentak keras sekali. Sontak, Bu Saeful dan Emak kaget dan berakhir dengan tawa mereka berempat. Pembeli yang pertama tadi akhirnya membeli tempe Emak dan mendapatkan bumbu secara cuma-cuma dari Pak Saeful. Pembeli kedua.. Pembeli ketiga.. Keempat... Keduabelas... Keenambelas.. Keduapuluh... Pembeli kedua lima.. Pembeli ketiga puluh... tiga puluh sembilan.. “Ful, sudahlah. Besok tak usah mengadakan diskon lagi. Kalau nanti terus-terusan, anak istrimu akan makan apa? “ ujar Bapak seraya menepuk pundak Pak Saeful. Belum sempat Pak Saeful menjawab, tiba tiba saja... “Lho tempe Emak pindah kesini, Mak?” tanya Buk Jum, penjual jamu langganan Bapak. “Iya, Buk Jum. Dekat mushola, Buk.” jawab Emak. “Iya juga, Mak. Dekat mushola lebih adem ya.” Imbuh Buk Jum cepat. Sejurus kemudian ia melirik ke arah kanan lapak Pak Saeful yang masih kosong. Wah, kosong. Sambil menunjuk ke tempat kosong itu, ia bertanya apakah boleh kalau ia menjajakan jamunya disana. Bapak tentu saja memperbolehkannya. Toh itu bukan milik siapapun dan sepertinya kehadiran Buk Jum akan membuat rasa sepi hilang. Buk Jum sangat senang dan mengucapkan terima kasih dengan tulus. “Aku akan berjualan besok.. Akhirnya punya lapak untuk jamuku.” Buk Jum senang bukan main. Dia mengucap syukur berulang-ulang dalam hatinya. Tak ada kabar yang lebih membahagiakan selain kabar bahwa ia akan mempunyai lapak. “Ada meja yang tidak terpakai di rumah, Buk Jum. Akan kuminta Wasis membawanya kemari nanti sore ya, Buk.” ujar Bapak. “Nggih, Pak. Terima kasih banyak, Pak.” Kata Buk Jum sambil tersenyum lebar. Akhirnya mimpinya mempunyai lapak khusus untuk jamunya setelah hampir sepuluh tahun berkeliling. Ini rezeki anak-anakku, batinnya. Keesokan harinya, dengan bantuan meja yang dibawa oleh Wasis, Buk Jum pun berjualan tepat disamping Pak Saeful. Mereka banyak berbincang tentang apapun, sampai berita tentang Pak Kardi. Buk Jum pun akhirnya tahu alasan lapak Emak pindah. “Kami tak ingin bertengkar dengan siapapun, Buk. Sungguh. Biarlah sudah. Mungkin rezeki kami disana sudah habis masa kontraknya.” jelas Emak. “Kang, bagaimana Kang? Menurut akang bagaimana?”tanya Pak Saeful. “Aku tak tahu, Ful. Apakah cara ini baik? Pak Kardi akan tidak merasa senang dengan rencanamu itu.” “Kita tidak harus memikirkan Kardi sialan itu, Kang.”jawab Pak Saeful. Pyar. Gelas yang dipegang Emak tiba-tiba saja terjatuh dari tangannya. Suara gelas jatuh itu menghentikan pembicaraan Bapak dan Pak Saeful di mushola. Mereka langsung menuju tempat bunyi berasal dan mendapati Pak Kardi sedang berdiri di depan lapak Emak. Kenapa Pak Kardi ada disini? “Apa-apaan ini, Mak! Kenapa kau malah berjualan disini!” bentak Pak Kardi. “Hentikan, Kardi!” teriak Pak Saeful sambil berjalan dengan setengah berlari kea arah Pak Kardi. Suaranya tak kalah kencang. “Kau bahkan sudah mengambil lapak mereka. Pergilah dari sini!” tambahnya. Pak Kardi hanya bergeming dan menatap lekat Emak dan Bapak. Tatapannya mengisyaratkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti. Perebutan lapak yang terjadi tanpa ada musyawarah terlebih dahulu dan dibumbui dengan berita tidak benar itu harusnya membuat Pak Kardi malu bertemu Bapak. Namun Ia justru terang-terangan mendatangi Emak waktu itu. Bapak segera mendekati Pak Kardi dan menepuk pundaknya. “Apa yang kau inginkan sebenarnya, Pak Kardi?” tanya Bapak pelan. Tenang. Hampir tak ada rasa kebencian pada nada suaranya. Yang ditanya justru diam saja. Ia hanya mematung sambil menatap Bapak. Bapak melanjutkan, “Aku tak ingin ada permusuhan diantara kita, Pak. Kalau aku melakukan kesalahan, maafkanlah orang tua ini, Pak.” “Minta maaf katamu?? Kaulah... yang bersalah.” kata Pak Kardi pelan sambil terbata-bata. “Apa?” tanya Bapak heran. “Yang membuat anakku.. kecelakaan.. sepuluh hari yang lalu.... Itu Kau!” “Kecelakaan?” tanya Bapak bingung. Ada apa ini. “Semudah itu? Semudah itu kau melupakannya, Hah?!”teriak Pak Kardi. Ia berjalan kearah Bapak. Ia melangkahkan kakinya secepat mungkin untuk meraih Bapak. “Ya Tuhan....” kata Bapak. sekelebat bayangan Hamid terlintas. Tiba-tiba Ia teringat sesuatu. Setelah itu Bapak hanya menunduk tanpa kata. “Kaulah yang membuat anakku cacat seumur hidup! Kaulah penyebabnya!” teriak Pak Kardi sambil meraih kerah baju Bapak. Ia tampak murka dan sesekali mengumpat Bapak dengan kata-k********r. Bapak hanya diam. Pak Kardi terus mengumpat sambil mengucapkan nama anaknya, Hamid. “Kecelakaan apa, Pak?” tanya Emak seraya berusaha melepas tangan Pak Kardi dari kerah Bapak. Pak Saeful dan Bu Saeful juga langung berlari menahan lengan Pak Kardi. “Kecelakaan apa, Pak? Apa ini, Pak?”tanya Emak. Ia heran mengapa suaminya diam saja hendak dipukul Pak Kardi tanpa pembelaan apapun. “Ia adalah penyebab anakku cacat. Ia-lah penyebabnya!” teriak Pak Kardi. Namun kali ini ia tidak mengumpat. Ia berteriak sambil menangis. “Hamid-ku... Anakku. Anak kesayanganku.” ujar Pak Kardi. Hamid mengalami kecelakaan beruntun di perempatan di dekat pintu desa tepat sepuluh hari yang lalu. Dari pengamatan orang yang ada di tempat kejadian waktu itu, kecelakaan itu tidak terhindarkan. Walaupun polisi sudah memberi laporan tentang rem yang blong dan kelalaian supir, namun tetap saja tak ada yang tahu apa penyebab awal peristiwa itu. Yang orang-orang pahami, siang itu, sebuah mobil pick-up melaju terlalu cepat hingga tak sengaja menabrak sebuah mobil sedan yang juga sedang melaju dari awah yang berlawanan. Karena tidak ingin ada korban jiwa, supir mobil pick-up membanting setir ke kanan dan menabrak gerobak sampah. Karena kecepatan mobil sedan juga tidak terkendali, supir memilih untuk banting setir ke kiri unuk menghindari kerumunan orang yang sedang membeli sayur mayur. Sayangnya, supir tak melihat ada seorang laki-laki berkaos putih yang sedang jongkok mengambil dompet milik seseorang yang ia kenal. Hamid tak bisa menghindar dan terpental dengan sangat keras dari tempatnya jongkok. Sialnya lagi, ia mendarat di jalan berbatu. Kaos putih itu pun berlumuran darah. Darah Hamid. Orang-orang yang tadinya berkerumun membeli sayur mayur berlari tepat kearah Hamid jatuh terkulai. Mereka bahkan meninggalkan barang dagangan mereka di tempat dan langsung menuju Hamid. Beberapa perempuan berteriak histeris sedangkan yang lain sibuk mengangkat Hamid ke atas sepeda motornya. Tak ada pilihan lain selain membawa Hamid menggunakan sepeda motor. Bayangkan saja dengan kaki yang patah tulang dan tertusuk itu, Ia diangkut menggunakan sepeda motor. Sakit yang tak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Seseorang kemudian memberi kabar tentang keadaan Hamid. tersebut pada Pak Kardi di rumahnya Pak Kardi dan istrinya langsung berangkat menuju rumah sakit desa untuk melihat anaknya. Disana, mereka melihat kondisi Hamid yang berlumuran darah dan tak sadarkan diri. Doketr dan perawat berusah asemaksimal mungkin memberi pertolongan pertama pada Hamid. Ia mengalami patah tulang parah di kaki sebelah kanan dan sedikit luka pada paha kanannya. Namun yang lebih parah, karena tabrakan yang dialami terjadi sedemikian cepat, kaki kiri Hamid tertusuk kaca spion mobil yang pecah dan mengalami infeksi yang parah. Setelah dua jam diobservasi, Pak Kardi justru mendengar kabar yang sangat menggetarkan hatinya. Dunianya runtuh seketika. Lututnya bergetar hebat. Berdasarkan diagnosa dokter desa, hanya dalam beberapa jam infeksinya sudah menyebar hingga paha kirinya. ini mungkin karena debu atau kotoran yang ikut terangkut ketika Hamid terjatuh. Setelah dua hari dirawat dirumah sakit desa, dokter hanya memberi pilihan kaki kiri Hamid untuk diamputasi. Infeksinya tidak bisa diatasi. Ini tentu menjadi hal yang sangat berat bagi keluarga Pak Kardi. Akhirnya diputuskan bahwa kaki kiri Hamid harus diamputasi. Masa sulit itu menjadi semakin kelam seketika Hamid menjadi orang yang pendiam dan linglung. Ia tak ingin keluar kamar barang sekejap pun. Tak lama, beberapa orang dari dalam pasar untuk berkerumun di lapak Emak dan Bapak. Mereka menyaksikan seorang laki-laki tertunduk lunglai sedang menangis. Tangisan yang menyayat hati setiap orang yang mendengarnya. Tangisan orangtua. Bapak pernah bercerita, setiap kali rapat RT Pak Kardi selalu berkata akan menyekolahkan Hamid sampai tingkat universitas yang terkenal di Surabaya. Hamid adalah anak yang sangat dibanggakannya. Rasanya Ia sanggup melakukan apa saja untuk kebahagiaan Hamid. Laki-laki itu mempunyai mimpi yang tinggi untuk anak laki-lakinya itu. Ia bahkan rela hutang kesana kemari untuk membayar Mbak Mar. Mbak Mar adalah seorang lulusan sekolah Islam favorit di Surabaya yang awalnya diminta warga desa untuk mengajar mengaji. Namun pada kenyataannya, anak-anak sering juga minta bantuan untuk tugas matematika dari sekolah. Mbak Mar datang setiap hari setelah ashar untuk mengajar matematika. Kecelakaan yang menimpa Hamid membuat semua orang yang menyayanginya menjadi sedih tak terkira. Tak ada yang pernah menyangka anak laki-laki itu akan mengalami hal yang mengerikan seperti itu. Terlebih karena setelah kecelakaan itu, Hamid yang riang dan suka tersenyum sudah tidak pernah terlihat lagi. Bukan hanya secara fisik, namun peubahan sifat Hamid pun mengkhawatirkan. Ia murung dan jarang keluar kamar. Kedua orangtuanya oun tak berani mengetuk pintu kamar Hamid. Dalam seminggu bisa dihitung berapa kali dia keluar kamar. Kalaupun hendak memaksa Hamid untuk keluar kamar untuk makan atau sekedar ngobrol, rasanya hati Bu Kardi tidak tega. Ia sadar betul bahwa perasaan anaknya itu hancur. Bu Kardi sering menangis karena Hamid kini berubah drastis. Ia tak menangis. Ia tak tertawa. Ia bahkan tak menjawab pertanyaan ibu bapaknya. Ia hanya diam. Ia tak seperti dulu lagi. Dalam hatinya, Ia sudah kehilangan anak laki-lakinya. Perasaan Pak Kardi dan istrinya tentu saja teromabng-ambing. Anak yang sering bertingkah lucu di depan semua orang kini sudah tak ada lagi. Sepuluh hari yang sangat menyiksa bagi keluarga Pak Kardi. Hingga akhirnya di hari ke 7 sejak kaki Hamid diamputasi, Bu Kardi nekat masuk ke kamarnya. Terlihat Hamid sedang tertunduk diam di sisi paling kanan tempat tidurnya. Kantung mata Hamid yang menghitam secara tidak langung menggambarkan beratnya malam-malam yang telah ia lalui di kamar sendirian. Ia meratapi semuanya sendirian. Tak pernah bisa berjalan ataupun berlari kencang seperti sebelumnya tentu menjadi siksaan berat bagi Hamid. Ia tahu ia hanya bisa berjalan menggunakan tongkat seumur hidupnya. Siang itu, ia tahu ibunya masuk kamar dengan menahan tangis. Setelah menutup pintu dari dalam, Ibunya hanya diam sambil bersandar di tembok kamarnya. Mereka berdua sudah tidak pernah saling bercerita seperti sebelumnya. Satu hal yang Hamid ingat pada hari itu adalah ketika ibunya menghampiri dan memeluknya hangat. Pelukan yang biasanya ia dapat tiap pagi ternyata sangat ia rindukan. Dan pertahanan kuat Hamid selama ini pun akhirnya terburai bersama tangisan ibu dan anak itu. Hanya tangisan yang bisa mengungkapkan penderitaan mereka. Tanpa kata. Hanya tangisan. Beberapa orang yang mendengar tangisan mereka berdua di luar rumah pun ikut terhanyut dalam kesedihan. “Ada apa, Bapak? Ada apa, Pak?” tanya Emak. “Apa yang terjadi saat itu, Pak?” tanya Emak tak sabar. “Kang, ada apa ini Kang?” kali ini gantian Pak Saeful yang melontarkan pertanyaan. Bapak tetap diam. Tangis Emak pecah. Melihat bagaimana Bapak bereaksi, Ia yakin ada hubungan antara Bapak dan kecelakaan Hamid. Ia tak kuat menerima kenyataan yang bahkan belum ia dengar. Namun kenyataan itu harus segera diungkap. Sudah beberapa hari ini Mbak Sumini, Rahayu dan Wasis sudah melihat wajah muram Emak dan Bapaknya. “Waktu itu...aku dan Hamid berpapasan di pasar.” ucap Bapak mengawali kalimat. Ia tak tahan lagi melihat istrinya menangis sedih. “Siang itu panas bukan main. Kami bertemu di pasar.. aku sedang membeli ragi.. sedangkan Ha—Hamid sedang berjalan menuju... toko sayur. Sa—saat itu aku ingin membelikannya es setrup..” jelas Bapak terbata-bata. “Sepertinya Hamid tak tahu aku sedang menunggunya di sisi luar. Ta-tapi kemudian aku.. aku melihatnya sedang.. dompet.. seorang wanita muda..” lanjut Bapak pelan. Ia terisak senyap. “Apa maksudmu, Pak? Dompet wanita siapa?” tanya Emak seraya memegang lengan suaminya itu. “Jangan sekali-kali kau hina anakku dengan cerita fitnahmu!” bentak Pak Kardi pada Bapak. Ia memegang kerah baju Bapak sekali lagi. Ia kembali tersulut amarah karena menurutnya cerita Bapak yang memojokkan anaknya. Ia memegang kerah baju Bapak dengan kencang lalu memukul pipi kanan Bapak. Bapak jatuh dan tersungkur di kaki meja lapak Pak Saeful. Semua terjadi cepat sekali. Ini bukan lagi tentang ego seseorang. Ini adalah tentang kasih sayang orang tua. Pak Saeful maju beberapa langkah untuk menghentikan Pak Kardi. Namun Bapak melarangnya. Sambil merasakan sakit Bapak berkata, “Biarkan Ia melampiaskannya, Ful. Biarkan saja.” Pak Saeful kemudian membantu Bapak berdiri kemudian berusaha mengajak Bapak duduk. Namun sekali lagi Bapak menentangnya. Bapak tak ingin duduk. “Ful, Pak Kardi sudah menahannya selama ini. Ia menahan semua tangisnya sekian lama. Biar saja Ia melampiaskannya padaku, Ful. Biar saja.” ujar Bapak sembari mendekati Pak Kardi. Bapak berjalan sangat pelan dan tertatih. Darah mengucur di pelipis kanan dan sudur bibir kirinya. Ia tampak kesakitan. Tapi Ia terus berusaha meraih Pak Kardi. Pak Kardi yang dari awal sudah siap menyerang tentu saja mengambil kesempatan emas itu untuk memukul dan menjatuhkan Bapak. Namun saat hendak menghamtam Bapak dengan tangannya... “Paakk jangaan pakkkk...” Suara teriakan berasal dari dalam pasar. Terlihat bayangan dua orang sedang berjakan ke arah keributan berasal. “Pak jangaan.... Hamid mohon.” Suara Hamid memelas.. Ia dipapah oleh sang ibu berjalan menuju perkelahian itu. Walaupun menggunakan tongkat, namun ia masih harus dipapah untuk berjalan dengan seimbang. “Bapaknya Sumirah berkata jujur, Pak. Hamid mohon berhentilah memukul.” pinta Hamid. “Tapi ia menyebarkan fitnah tentangmu, Nak. Mana mungkin dibiarkan begitu saja?” ucap Pak Kardi. “Pak, Hamid mohon. Bapaknya Sumirah berkata sejujurnya. Memang itulah yang terjadi.” “Apa maksudmu, Nak? Kau ... Apa yang kau katakan, Nak?” tanya Pak Kardi pada Hamid. Suaranya berubah menjadi lembut ketika berhadapan dengan anak laki-lakinya itu. Pak Kardi berharap Hamid mengatakan cerita yang sesungguhnya. Diamnya Hamid selama ini membuat d**a Pak Kardi sesak. “Hamid, bicaralah, Nak. Ceritakanlah semuanya, Nak.” desak Emak. Emak sungguh tak tahan melihat semua ini. Apalagi melihat luka-luka Bapak saat ini. Emak ingin ini segera berakhir. “Malam sebelum hari naas itu, Hamid melihat bapak dan ibu bertengkar tentang uang sekolah Hamid. Hamid takut merepotkan bapak dan ibu lebih banyak lagi. “ ujar Hamid sambil menatap bapaknya. “Waktu itu Hamid melihat ibu menangis karena tidak punya uang dan harus hutang kesana-kemari demi kebutuhan Hamid.” ucap Hamid sambil berkaca-kaca. Hamid bercerita ketika diminta ibunya membeli sayuran, ia melihat seorang wanita memegang uang yang begitu banyak di salah satu lapak. Ia melihat kemilau uang yang begitu banyak. Ia berandai andai jika saja uang itu adalah miliknya, maka bapak dan ibunya tidak akan merasa tertekan dalam keuangan. Pikiran itu yang mengantarkannya mengalami kejadian menyediahkan itu pada akhirnya. “Tanpa sadar, Hamid mengambil dompet itu Pak. Namun ketika hendak pergi keluar pasar, ada Bapak Sumirah yang sedari tadi melihat perilaku Hamid. Beliau meminta Hamid mengembalikan dompet wanita itu pak. Ta-tapi.. dompet itu tiba-tiba saja terjatuh dari genggaman Hamid. Lalu mobil sedan itu... mobil sedan itu... Hamid ”. Dan tangisnya memecah kesenyapan yang terjadi. Ia menyesali apa yang telah terjadi. Semua orang yang ada disitu hanya mendengarkan tanpa bisa berkata-kata. “Hamid minta maaf pak.. Hamid khilaf pak. Hamid kini sudah menebus dosa Hamid pak...” ucap Hamid. Bapak kemudian dengan perlahan mengampiri Hamid dan memeluknya.. Bapak mengusap punggung Hamid. Ia tahu anak laki-laki itu sudah melalui hal yang paling berat di hidupnya. Usia semuda itu harus berjalan memakai tongkat seumur hidupnya. Tentu tak akan mudah melaluinya. Tak peduli seberapa tercela hal yang telah dilakukan, Hamid berhak mendapatkan maaf atas kesalahannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD