Dalam hal masak-memasak, aku tahu aku tidak terlalu bodoh. Emak sering mengajakku belanja sayuran dan lauk di pasar yang ada di depan sekolahku. Emak juga sering memberiku sulap masakannya. Aku juga sudah belajar cukup banyak pada Mbak Sumini. Sejujurnya, hanya itulah bekalku waktu pertama kali berangkat ke negara ini.
Tapi kejadian pagi ini benar-benar membuatku semua keyakinanku lenyap.
“Sudah kubilang aku tak suka makanan yang terlalu asin. Ayam kecap ini asin!” bentak cece. Wajahnya tepat berada di depan mukaku. Sepanjang ingatanku, sudah lebih dari tiga puluh kali aku memasak ayam kecap.
“Tapi sepertinya tadi aku hanya memasukkan sedikit garam.”
“Jangan membantah!”
“Ta-tapi...”
“KUBILANG JANGAN MEMBANTAH!”.
Aku yakin suara teriakannya bahkan terdengar sampai lantai satu gedung ini.
Dulu aku tak akan membiarkan seorang pun membentakku, kecuali Emak, Bapak dan Sumini kakakku. Tapi kali ini..
Dulu pernah suatu kali, aku harus mengalah dan tunduk pada salah satu teman di sekolahku. Kami bertengkar karena ia berbohong dengan mengatakan aku mencuri dompet salah satu teman di kelas kami. Ketika aku pulang dengan menangis, Bapak melihatku heran.
“Bapak sudah bilang jangan pernah takut kalau kamu ndak salah!”. Suara Bapak terdengar keras dan menggelegar.
“Ta-- tapi Mirah takut dipukul, Pak. Badannya lebih besar dari Mirah, Pak” kataku.
“Pukul balik! Kamu tidak ditakdirkan untuk mengalah kalau kamu benar! ”
Sungguh, amarah yang ada pada tiap kalimat yang bapak ucapkan saat itu benar-benar jadi pedoman hidupku. Aku tak pernah membiarkan siapapun, bahkan diriku sendiri, untuk merendah ketika langkah yang kuambil benar. Aku selalu menganggap diriku sebagai perempuan yang pemberani.
Sayangnya, kenyataan hidup sungguh menyakitkan. Pekerjaan ini merampas kebebasanku dengan perlahan. Aku menunduk di depan gadis umur 28 tahun yang tak pernah berkata “terima kasih” pada siapapun yang menolongnya.
“Baiklah, aku minta maaf. Mungkin aku salah lihat catatan dari Grenma tadi.” ucapku pelan. Pikiranku memang sedang kacau. Tak pernah sekalipun aku berhenti memikirkan siapa gerangan orang yang sedang mencariku saat ini.
Aku mengangkat kepalaku dan melihat wajahnya memerah karena marah. Piring yang tadi dipegangnya ia kembalikan begitu saja di meja, dan ia pergi begitu saja tanpa sepatah kata lagi.
Brak!
Pintu kamar ia banting dengan sangat keras. Sebenarnya aku sedikit heran kenapa ia selalu mengorbankan pintu itu. Membantingnya dengan keras memerlukan banyak tenang, bukan?
Hingga pernah suatu sore, cece dan ayahnya bertengkar hebat. Dan ya, pertengkaran itu diakhiri dengan gagang pintu itu terlempar dengan bebas. Keesokan paginya, ia menelepon pacarnya dan memintanya memperbaiki gagang pintu itu. Kenapa ia tak berhenti saja melakukan hal tak berguna seperti itu?
Pada akhirnya, akulah yang akan memakan ayam kecap ini. Suapan pertama memang terasa asin.
“Mungkin karena bumbunya belum tercampur dengan rata” gumamku masih percaya diri. Kuaduk perlahan ayam kecap dalam mangkok itu. Ke kanan dan ke kiri.. berulang hingga empat kali.
Masih asin. Masakan itu berakir di tempat sampah.
Ada hal yang sangat membebaniku. Tadi malam aku menghubungi Maryamah dan benar saja, ia juga baru tahu Mbak Eka sudah meninggal dunia. Ia menangis terisak dan kami sepakat akan bertemu unuk mengabari komunitas kami.
Komunitas yang kami bangun sekitar tiga tahun yang lalu ini kuanggap sebagai sebuah upaya perlindungan bagi teman-teman dekat kami. Walaupun kami tak bisa berbuat banyak selain mengurus administrasinya di kedutaan, tapi kami sungguh bersyukur bisa sedikit membantu.
Maryamah adalah orang yang akan menghubungkan kami dengan keluarga Mbak Eka di Indonesia. Kepergian Mbak Eka tentu menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarganya, dan aku tahu pasti kedutaan membutuhkan waktu yang lama untuk urusan ini.
Hari ini Maryamah berjanji akan minta libur kerja dan membantu meminta kejelasan tentang Mbak Eka. Jujur saja, majikan Maryamah memberinya waktu libur yang cukuo di hari sabtu dan minggu. Itu adalah keistimewaan karena tak semua majikan sebaik itu.
“Mar...” ucapku pelan. Aku tertunduk lemas.
“Aku tak pernah menyangka Mbak Eka akan pergi duluan.” katanya sambil terisak.
“Mar, kita harus bergerak cepat.”
Hening.
“Apakah kita akan berakhir sama seperti Mbak Eka, Mir?” tanyanya.
“Aku gak tahu, Mar.” Suaraku menjadi sedikit serak karena terisak.
“Mbak Eka jatuh dari lantai delapan, Mirah. Itu sangat tinggi, Mirah.”
Seketika ingatan tentang tubuh Mbak Eka yang terbaring kaku di depan gedung itu membuat kakiku bergetar.
“Maryamah, banyak hal yang ingin kuceritakan. Ada hal yang terjadi. Kita harus bertemu.”
“Tapi, Mirah.. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus pergi ke kedutaan. Aku yakin Mbak Eka sekarang sedang di terbujur kaku di ICU.” jawabnya.
Kami mengakhiri percakapan dengan janji temu di taman dekat stasiun sore ini. Aku harap akan ada berita yang baik.
Aku berfikir sejenak tentang apa yang harus kukerjakan lagi saat ini. Harusnya suasana rumah aman-aman saja siang hingga sore hari ini. Semua sudah kulakukan dengan baik. Dari cuci piring, membersihkan jendela hingga memasak makan malam.
“Aku ingin ijin sebentar sore ini. Aku harus mengurus menelepon agenku dan membicarakan tentang kontrakku.” pamitku pada majikan pagi ini.
“Kontrakmu akan berakhir pada bulan Desember ini, bukan?”
“Iya.” jawabku singkat.
“Tidakkah terlalu nyaman disini? Kau mempunyai banyak waktu yang kau gunakan untuk dirimu sendiri, aku tahu itu. Dan kau juga menikmati pertengakaranmu dengan cece hampir setiap hari.”
“Aku...”
“Tapi terserah padamu, aku tak pernah mempunyai keinginan untuk menahan seseorang. Apalagi seorang pekerja sepertimu.”
Memang seharusnya ia marah karena kelakuanku. Tapi bukankah cece, anaknya itu yang memulai semua pertemgkaran.
“Aku juga mendengar dari cece bahwa salah satu keluargamu datang ke negara ini dan berusaha mencarimu. Gunakanlah waktu sebaik mungkin, Sumirah. Kau tak mungkin bisa mendapatkan majikan sepertiku lagi di masa depan.”
Lagi, ia selalu memanggilku dengan nama Sumirah. Bukan Mirah ataupun Mir, melainkan Sumirah. Setidaknya hal itu menunjukkan bahwa ia sedikit menghargaiku.
Aku tahu semuanya akan berakhir seperti ini. Walaupun aku hanya memakai alasan itu untuk bisa keluar menemui Maryamah sore ini, tapi aku harus mempertimbangkan ulang apakah aku harus memperpanjang kontrak atau mencari majikan baru bulan Desember ini.
Ia kemudian berdiri dan meninggalkan aku sendiri di ruang makan.
Tak apa. Masih ada 5 bulan sebelum aku harus benar-benar berfikir dan menemui agen.
Semua orang kini sedang ada di kamar masing-masing jadi ak bisa langsung berangkat menuju taman. Aku harus bergegas. Kurasakan sejak pagi bahwa hatiku tak berhenti gelisah.
Ketika akan berjalan menyusuri jalan setapak, kuhentikan langkahku sejenak. Aku mendongak untuk menikmati langit Hongkong. Aku melihat beberapa lampu jalanan di seberang tempatku berdiri.
Aku termangu.
Mendadak, lampu-lampu yang tadinya tidak bergerak, kini bergerak ke kanan dan ke kiri. Aku menunduk untuk memastikan ini bukan gempa bumi, namun aku salah. Kepalaku berputar tak terkendali. Aku merasa aku akan terjatuh ke tanah. Saat tiba-tiba ad a suara yang kukenali terdengar memanggil namaku....
“Mirah, Mirah.. Ada apa?”
“Aku tak apa.. Hanya sedikit pusing.”
Marya menggandeng tanganku dan membantuku duduk di kursi yang ada di dekat kolam.
“Kau sungguh tak apa? Wajahmu sedikit pucat...” kata Maryamah. Ia mengambil botol minumnya untuk diserahkan padaku.
“Tentu saja.” ujarku sambil sedikit nemahan sakit di perut.
Aku hanya melihat sekilas, meraih botol itu lalu meminumnya seteguk demi seteguk.
“Maryamah, bagaimana hasilnya?” desakku pada Maryamah yang baru saja tiba.
“Mir, sepertinya semua akan aman-aman saja. Pihak keduataan bilang akan mengusut kasus Mbak Eka dengan baik. Pihak kepolisian akan membantu kita.”
“Kepolisian? Kau percaya mereka akn membantu kita?
“Tentu saja. Mereka akan mengusut kasus ini. Mir, Mbak Eka membutuhkan keadlikan. Jika memang terbukti Mbak Eka meninggak karena majikannya lalai,maka majikan jahat itu akan membayar denda pada pengadilan dan membayar sejumlah uang pada keluarga di Indonesia.”
“Ta-tapi aku tidak perbcaya pada polisi.” Suaraku bergetar.
“Ada apa, Mirah? Ada apa?”
“Dahulu ketika Mbakku mengalami kekerasaan akibat suaminya, pihak polisi juga mengatakan hal-hal manis seperti itu. Nyatanya, semua berakhir dengan tragis.”
“Mirah, kamu kenapa?” tanya Maryamah khawatir.
“Bahkan kemaren, ketika aku sudah berada di dekat jenazah Mbak Eka, seorang polisi juga ingin melakukan sesuatu yang bruruk padaku.”
“Ya Tuhan....”
“Aku tak pernah percaya lagi pada kepolisian, baik itu di Indonesia, ataupun disini. Aku tahu mereka bagaimana, Maryamah.”
Tanpa terasa, mata kiriku mengeluarkan air mata. Hanya seperti itu saja benteng pertahanan yang kubangun selama ini runtuh.
Beberapa tahun ini, segala kebahagiaan tampak asing di mataku. Dihajar oleh kejamnya hidup seorang diri sebagai tenaga kerja, atau biasa kusebut diriku sendiri sebagai pembantu. Tak ada yang indah, semua hanya tentang bertahan hidup. Terlalu banyak kesedihan membuatku jarang sekali menangis.
“Aku sudah tak ingin menyakiti diriku sendiri, Mar.. tapi kenapa hidupku seperti ini?” kataku menyeka air mata yang jatuh. Ini bukan rencanaku. Menangis tak pernah masuk dalam rencanaku.
Selama awal berada di Hongkong, aku takut menangis di depan orang asing. Aku tak pernah menunjukkan kesan bahwa aku lemah, sekalipun sebenarnya tangan dan kakiku gemetaran.
“Akhir-akhir ini, hatiku tak setegar dulu. Pundakku tak selapang dulu.” ucapku pelan.
Mungkin kali ini, hanya Maryamah lah yang memahami arti tangisanku. Ia tidak mencegah ataupun memintaku berhenti menangis. Ia hanya mendengarkanku menangis, lalu ikut menangis.
Bukan menangis dengan suara keras dan menggebu-gebu layaknya orang-orang. Bukan seperti itu.
Tak ada suara yang bisa keluar dari mulut kami. Walaupun kami sedan gduduk bersebelahan, tapi aku sedikit malu kalau-kalau Maryamah melihat wajahku ketika menangis.
Yah, walaupun aku tahu, dalam hati yang paling dalam aku berjanji bahwa ini tangisan kuyang terakhir kali.
“Tak akan lagi. Aku tak akan lagi menangis, Marya. Akan kusimpan kembali semuanya dalam hatiku.”
“Apa yang ingin kau lakukan?”
“Aku akan melakukannya persis seperti yang kulakukan puluhan tahun yang lalu.” Kali ini aku menghela nafas panjang.
Saat itu aku berfikir, upaya Maryamah pergi ke kedutaan bisa menjadi awal yang baik agar nanti aku bisa melanjutkan misi rahasiaku. Aku meminta
“Apa kau ingin tidur di tempatku?”tanya Maryamah tiba-tiba. Aku menoleh ke arahnya dan melempar senyum.
“Apa kita bahkan punya hak untuk itu, Mar?”ucapku. Kini ia yang tersenyum.
Tepat pukul enam sore kami beranjak pulang. Berjalan menyusuri taman hingga mencapai pemberhentian bis kota. Kami tertawa. Menertawakan diri sendiri dan kehidupan kami sekarang ini. Jauh dari keluarga dan terpaksa menikamti hidup sebagai seorang pembantu di Hongkong.
Kami menuruni anak tangga. Lampu dalam stasiun menyala satu persatu ketika kami melewatinya. Wajah saja, ini sudah hampir malam hari di Hongkong.