Tulungagung, 1984.
“Kenapa hari ini panas sekali sih, Mir?” tanya Mbak Sumini kesal padaku. Aku menggeleng sambil mengibaskan kipas pemberian Emak.
Hari itu cuaca sangat tidak ramah. Kami mendapati pagi yang mendung dan sekarang siang yang terik. Kami bahkan dengan sengaja menepi ke dekat jendela, tapi tetap saja berkeringat seperti sedang duduk di dekat kompor. Bapak sedang memperbaiki satu dari tiga lampu yang ada di rumah kami. Lampu ini dikelilingi oleh tabung yang berisi minyak tanah.
Pernah kami mendengar bahwa lampu yang menggunakan tiang listrik sedang marak digunakan di Ibu Kota, namun tak ada apapun di desa kami kecuali lampu temaram yang menemani kami sepanjang malam.
Bapak suatu hari pernah berkata, “Apa kalian tahu apa yang menarik dari lampu ini?” . Ia mengatakannya setelah menisi miyak tanah pada tabung lampu itu.
“Menerangi sekitar, Pak?”
“Benar, Mirah. Tapi ada yang menarik dari lampu ini.”
“Apa, Pak? Apa itu, Pak?” desak Wasis tak sabar. Bapak menghela nafas sambil tersenyum hangat.
“Sekarang ini kita sedang di kegelapan, bukan? Lampu ini adalah satu-satunya sumber cahaya yang menghangatkan dan menerangi kita.”jelas Bapak dengan suara yang lembut. Ia lalu menambahkan, ”Kita juga harus jadi seperti itu. Kita harus menjadi penerang bagi orang lain. Kalau saudara atau teman kalian terlibat masalah, jangan ragu menolong dan janan ragu membela apa yang menurut kalian baik.”
“Tapi, Pak.. Teman Wasis pernah dikeroyok anak kelas 6 karena melerai Pak.”
“Wasis takut?
“Takut, Pak. Tapi Wasis yakin wasis tidak salah, Pak.”
“Dengarkan Bapak, anak-anak. Jangan tunduk kalau kalian benar, dan jangan biarkan suadara atau keluarga ataupun teman-teman kalian diinjak diinjak oleh orang lain.”
Kami bertiga mengangguk serentak. Lalu bincang-bincang itu terhenti karena tiba-tiba tercium bau kentut Bapak. Baunya persis seperti Mbak Sumini. Aku dan Wasis hanya bisa berteriak dan berlari.
Siang itu, Dewi dan Yati sedang menunggu kami di pinggir lapangan. Kalau ketahuan, Emak akan memaksa kami tidur siang daripada membiarkan kami bermain layangan di lapangan. Sedangkan Bapak akan dengan santai meminta kami menuruti perkataan Emak.
“Sumirah.....Mbak Sumini...Wasis..... ayo tidur siang!” teriak Emak dari dalam rumah. Suaranya kencang sekali.
“Nah kan. Sudah Kuduga. Emak akan berteriak seperti itu.” kata Mbak Sumini kesal. Aku mengangguk pasrah. Aku lalu mengikutinya masuk kamar mandi untuk membasuh kaki. Benar saja, Emak ada di depan pintu kamar menunggu kami.
“Tidur siang. Kumpulkan energi untuk belajar nanti malam.” pesan Emak sembari melirik kami. Emak sepertinya lupa kalau kami bukan anak SD lagi. Beliau keluar kamar sambil meneriaki nama adik laki-laki kami, Wasis. Mungkin Wasis sedang bersenang-senang di lapangan beradu layangan bersama teman-teman SD nya.
Heran, kenapa Wasis selalu berutung kalau tentang tidur siang. Ia selalu lolos dari amukan Emak. Tapi lihat saja nanti. Biasanya setelah Wasis sampai rumah, kami akan melihatnya dipukul Emak karena tak lekas pulang. Kami pasti tertawa keras sekali sambil mengejeknya. Lalu Ia akan disuruh Emak mandi sekalgus membersihkan kamar mandi.
“Nggih, Mak.” sahut kami pasrah. Kami naik ke tempat tidur kami dan mulai memejamkan mata. Sekitar sepuluh menit kemudian, Mbak Sumini dan aku saling pandang. Kami sepakat bahwa kami harus melakukan sesuatu. Agar terlihat seperti sedang tidur siang di mata Emak, kami harus mempunyai rencana yang pas.
Namun belum juga aku paham apa yang Mbak Sumini maksud, Ia berdiri dan mengambil selimut dari dalam lemari dan menutup badan kami. Setelahnya kami akan mengobrol dan tertawa dalam selimut. Bahan tertawaan kami sebenarnya hanya berputar pada keisengan Wasis atau tingkah lucu Bapak ketika berjualan tempe di Pasar. Dua bahan itu saja sudah berhasil membuat kami tertawa cekikikan sepanjang siang. Kami sepakat untuk merahasiakan kegiatan siang kami ini pada siapapun, tidak terkecuali pada Wasis.
Yang tidak kusukai dari ide Mbak Sumini ini tidak lain tidak bukan adalah hobinya yang suka kentut dalam selimut. Kentutnya tidak berbunyi namun berakibat fatal. Sialnya lagi, aromanya menyebar dengan sangat cepat. Busuk sekali.. Aku akan keracunan dan mati mengenaskan hanya dengan menghirup bau busuk ini satu menit lebih lama, pikirku. Aku sampai harus membuka selimut terlebih dahulu, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, lalu mengibaskan selimut setinggi-tingginya agar racun itu enyah. Sedangkan Mbak Sumini hanya berdiri menahan tawa karena tingkahku. Sudah sering kubilang jangan terlalu banyak makan pete.
Setidaknya, tolong hirup sendiri sajalah bau itu. Tidak usah kau sebarkan. Dasar Mbak Sumini!. Bisa-bisanya. Terkadang aku merasa karena terlalu banyak menghirup kentut Mbak Sumini itu lah alasan aku tak pandai matematika selama ini.
Kami biasanya akan menahan tawa sampai benar-benar yakin Emak tidak ada di depan kamar. Kadang Emak suka mengintip apakah kami sudah tertidur atau belum. Karena kalau ketahuan, kami pasti akan digerujuk air kamar mandi seperti Wasis.
Sejujurnya tempat tidur kapuk kami terlalu kecil untuk dua orang anak remaja bongsor. Andai tempat tidur kami bisa berbicara, rasanya Ia akan mengatakan semua penderitaan yang dialaminya dengan nada tersayat. Kami bahkan harus menekuk lutut agar merasa nyaman. Apa boleh buat, keadaan yang memaksa kami. Kami pun tak ingin merepotkan Bapak dengan permintaan ini itu.
Suatu kali, saat kami menginjak bangku SMP, kami pernah meminta Bapak membelikan jepit kupu-kupu yang sedang dipakai oleh teman-teman kami di sekolah. Selama mendengarkan rengekan kami, Bapak hanya diam. Aku dan Mbak Sumini membujuk Bapak agar membelikannya untuk kami. Ketika kulihat Bapak terus diam, aku memilih untuk menghentikan rengekanku. Namun Mbak Sumini terus merajuk. Sejurus kemudian Bapak mengambil sandal jepitnya dan beranjak pergi entah kemana. Kami seketika terdiam melihat punggung Bapak menjauh. Kami menjadi malu dan takut bukan main. Mbak Sumini pun kemudian menangis melihat Bapak waktu itu. Bukan tanpa alasan, Bapak jarang sekali marah. Dan peristiwa tadi sedikit menakutkan bagi kami, anak-anak Bapak. Emak pun tak mengidahkan kami ketika kami bertanya Bapak dimana.
Kami menunggu Bapak di teras rumah. Lama sekali. Kami was-was. Sejurus emudian, dari kejauhan, terlihat Bapak membawa satu bungkus kresek agak besar berwarna hitam. Kami bertiga pun berlarian menghambur. Aku dan Mbak Sumini menangis dan memeluknya. Bapak tersenyum melihat kami beruda seperti itu.
Bapak kembali dengan membawa dua jepit kupu-kupu cantik berwarna merah muda untuk kami dan layangan baru berwarna hijau untuk Wasis. Beliau berkata bahwa tadi pagi harus segera pergi ke pasar untuk melihat persediaan kacang kedelai yang akan dipakai untuk persiapan membuat tempe. Sementara Mbak Sumini bergembira dan melompat tak jelas, aku tahu Bapak berbohong. Aku tahu ada yang aneh dengan senyuman Bapak. Sekilas kulihat, Bapak tak memakai jam tangan warna emas kesayangannya itu lagi.
Peristiwa lainnya yang sangat aku ingat betul adalah ketika aku meminta Bapak membuatkan kamar sendiri untukku. Namun, Bapak dengan tegas menolak. Selama seminggu aku keukeuh merayu Bapak. Bapak pun keukeuh menolak permintaanku. Minggu sore adalah hari terakhir aku merajuk tentang kamar. Saat itu, ketika kulihat Bapak tengah membersihkan teras, aku langsung bertanya alasan mengapa beliau tidak mengidahkan permintaanku. Pada awalnya, Bapak hanya diam mendengar semua perkataanku sambil menyapu. Aku bercerita tentang kasur di kamar kami sekarang mulai retak. Bapak tetap diam. Kali ini Ia membawa sapu ke arah samping rumah kami. Aku berjalan mengikuti langkah kakinya pergi, berharap dengan cemas. Beliau mulai menyapu dan membersihkan rumput liar yang tumbuh, aku tetap berdiri disampingnya. Aku mengutarakan lagi keinginanku. Bapak diam. Aku tetap berbicara.
Dan akhirnya, aku mulai haus. Terlalu banyak bicara membuat tenggorokanku kering. Kesal juga rasanya mengoceh seharian dan tak mendapat respon apapun dari Bapak. Seperti beliau tidak mendengarkan. Sedikit sedih namun aku akan berusaha lagi meyakinkan Bapak. Mungkin esok pagi sebelum Bapak dan Emak berangkat ke pasar.
Baiklah. Aku akan ke dapur. Usahaku hari ini cukup.
Aku melangkah menjauhi Bapak. Lalu tiba-tiba saja Bapak berdehem. Aku seketika menoleh dan mendapati beliau tersenyum melihatku. Aku menghampirinya dan mulai menunjukkan wajah kesal karena merasa tidak dihargai.
“Kenapa? Haus? Kesal?” tanya Bapak sambil merangkul dan mengajakku duduk di teras. Hatiku masih dongkol.
Beliau berkata aku dan Mbak Sumini harus tidur satu kamar agar nanti ketika salah satu dari kami menikah, kami akan merindukan momen-momen kebersamaan yang hangat. Momen-momen itulah yang akan membuat hubungan kami akan baik-baik saja di masa depan. Bapak berkata ia pernah mendengar kisah dua kakak beradik yang sering bertengkar ketika mereka dewasa. Ia tak ingin kami seperti itu. Ia ingin kami terus bersaudara rukun sampai nenek-nenek. Terlihat manis memang alasan Bapak, tapi.. ah sudahlah. Akupun terpaksa tertunduk mengalah. Entah perasaan aneh apa yang kurasakan setelah mendengar alasan Bapak waktu itu.
Wasis mempunyai kamar di depan kamar Emak dan Bapak. Emak seringkali bercanda kalau letak kamar Wasis sengaja dibangun di depan kamar Emak dan Bapak karena ingin dengan sengaja menangkap Wasis ketika hendak main keluar rumah. Kami selalu terbahak-bahak setiap kali Bapak mengucapkan itu. Berakhir dengan Wasis yang ngambek uring-uringan.
Mbak Sumini adalah anak tertua di keluarga. Setelah Emak dan Bapak, kata-katanya selalu kami patuhi. Usia kami hanya terpaut satu tahun. Sedangkan Aku dan Wasis terpaut 5 tahun. Kami bertiga bersekolah di sekolah yang sama. Mbak Sumini akan marah besar jika aku harus memanggilnya “Mbak” atau kakak di sekolah atau bahkan dimanapun. Ia tak ingin terlihat tua. Ketika orang berkata kami layaknya saudara kembar karena wajah dan tinggi kami hampir sama, Ia akan tersenyum lebih dahulu.
Pernah suatu ketika teman kami, Slamet, bertanya tentang tangan kanannya.
“Itu karena hidupku penuh dengan keberuntungan.” jawabnya dengan penuh percaya diri.
Mbak Sumini menyukai t**i lalat yang ada disebelah mata kiriku, sedangkan aku sangat mengagumi lesung pipi di kedua pipinya. Kami sering berandai-andai jika saja aku mempunyai lesung pipi dan Ia mendapat t**i lalat yang kupunya. Tapi kasihan, Wasis tak mendapatkan keduanya.
“Kau yang paling disayang Emak dan Bapak diantara kita bertiga. Itulah kelebihanmu, Sis.” kata Mbak Sumini suatu hari sambil memegang tangan Wasis kecil. Itulah kenyataanya, sering seklai Wasis terhindar dari amarah Bapak dan Emak. Anak itu pasti punya kekuatan ajaib. Teman-temannya juga banyak. Tidak seperti Aku dan Mbak Sumini. Wasis kecil hanya tersenyum manja sambil memegang plastik es siropnya.
Mbak Sumini selalu bersikap baik padaku dan Wasis. Tak jarang Ia membela kami jika dimarahi Emak dan Bapak. Ia juga tahu waktu yang tepat untuk memarahi kami ketika kami membuat masalah. Namun, kami bertiga sangat dekat. Kami sering sekali berbohong demi keselamatan satu sama lain di depan Emak dan Bapak. Tentang tidur siang, nilai di sekolah, layangan, tentang belajar di rumah Dewi atau yang lainnya. Betapa durhakanya kami waktu itu.
Wasis sering menjadi penyebab semua masalah yang terjadi. Ia suka membuat kami kerepotan. Ketika aku dan Sumini tidak sedang ingin membuat masalah, ia tiba-tiba saja datang dengan badan penuh lumpur. Tak lupa dengan senyum di wajah.Mbak Mbak Sumini dan aku hanya bisa tersenyum kecut. Emak langsung membawa ke kamar mandi untuk dibilas. Tak lupa, Emak akan langsung memarahi kami karena membiarkan Wasis bermain diluar rumah. Kami sungguh hanya saling pandang. Wasis benar-benar nakal!
Suatu ketika, Ia pergi memancing tanpa meminta izin Emak. Wasis berangkat dari jam sebelas siang. Ia hanya berkata akan pergi bersama Sakti dan Yono pada Mbak Sumini. Namun hingga sore hari mereka belum juga kembali. Dibantu Bapak, Emak memutuskan pergi mencari dirumah Sakti dan Yono. Nihil. Mereka tak ada dirumah. Ketika bingung akan mencari kemana, Bapak dan Emak teringat peristiwa penculikan yang ada di TV. Belum lagi cerita tentang hantu wewegombel yang sempat terkenal dahulu kala. Bermacam-macam pikiran negatif ada di pikiran kami saat itu.
Emak dan Bapak yang ketakutan akhirnya memutuskan mencari Wasis dibantu dengan satu pasukan tetangga. Mereka terkenal dengan nama PPG atau Pasukan Penyuka Gosip. Semua anggotanya adalah tetangga kanan dan kiri rumah kami. Keluarga mereka sangat dekat sama lain. Tak ayal, ketika Emak berkata kami butuh bantuan, pasukan itu akan segera meninggalkan pekerjaan rumah mereka masing-masing dan langsung siap membantu. Mereka adalah pasukan yang paling ditakuti oleh para warga kampung kami. Sungguh menakutkan. Berdaster dan mempunyai mata tajam yang melirik. Banyak warga kagum terhadap kemampuan mereka menyebarkan berita. Banyak juga yang jengkel. Berita kau kentut sembarangan waktu sholat berjamaah di masjid pun bisa tersebar hingga pelosok dalam waktu sekejap mata. Lebih parahnya lagi, Emak adalah pemimpin pasukan elit itu.
Aku dan Mbak Sumini ada di barisan kedua dari depan bersama teman-teman kami yang lain. Kami membawa sapu dari rumah. Entah motivasi apa yang ada di benak kami waktu itu. Sapu dan cikrak kami raih dengan tergesa-gesa tanpa pikir panjang.
Orang kampung lainnya membawa tongkat dan alat seadanya untuk berjaga-jaga. Emak dan Bapak ada di barisan terdepan sebagai penunjuk arah. Emak, dengan wajah sendu namun tegas, sibuk mengatur ke arah mana kami akan mencari Wasis. Sedangkan Bapak, seperti sedang menahan tangis, menyalami beberapa tetangga yang baru saja datang bergabung dengan rombongan kami.
Kami berjalan beramai-ramai memutari sungai berharap melihat Wasis dan kedua temannya secepatnya. Ketika Bapak memutuskan untuk membagi satu pasukan menjadi tiga, tak satupun meyanggah dan langsung bersiap bergabung dengan kelompok terdekat. Kelompok pertama akan pergi mengelilingi kampung. Kelompok kedua menyusuri sungai. Kelompok ketiga akan mengelilingi hutan. Kami pun bergegas.
Kami berjalan berdasarkan arahan Bapak. Sudah hampir pukul lima sore dan Wasis belum ditemukan. Emak dan Bapak terlihat menahan tangis mereka. Ketika sampai di tepi sungai, Bapak dan Emak terhenyak seketika. Betapa tidak, sungai di desa kami mempunyai arus yang deras. Sudah enam orang yang hanyut dalam sepuluh tahun terakhir. Kengerian dan ketakutan di mata Emak dan Bapak terlihat begitu nyata. Aku bisa melihat ketakutan yang sama di mata Mbak Sumini. Matanya berkaca-kaca. Aku hanya tak bisa membayangkan bagaimana hidup kami tanpa anak kecil lucu dan menggemaskan itu. Walaupun Wasis menyebalkan dan suka menggangu, tapi ia adalah adik kami satu-satunya.
Terlintas di benakku, malam ketika kami Wasis sedang menari sambil bernyanyi. Ia bercerita nyanyian Vina Panduwinata yang ia dengar dari TV Pak Karim sangat indah. Ia sangat menyukai suara Vina Panduwinata. Ia bahkan menirukan ekspresi si penyanyi dengan apik. Wajahnya yang bulat sangat tidak cocok dengan suaranya. Aku dan Mbak Sumini tertawa terpingkal-pingkal karena itu.
“Suatu hari, aku akan ketemu sama Mbak Vina ini, Mbak. Aku pasti nanti menyayikan lagu bersama Vina.” katanya sambil menatap jendela yang terbuka. Ia hanya mendramatisir saja.
“Bisamu hanya mimpi, le..” kata Mbak Sumini, tentu saja dengan nada mengejek.
“Mbak, mimpi kan boleh-boleh saja Mbak.. Mbak Vina itu bagus banget lho suaranya. Aku dimabuk kepayang.” lanjut Wasis sambil tetap menari tidak jelas. Kami menatapnya aneh.
“Suara Vina Panduwinata memang merdu. Tapi suaramu itu lho, Sis. Seperti kaleng jatuh. Tidak enak didengar! Hahaha.” kataku.
“Kalau menurutmu bagaimana Mir? Apa bisa si Wasis mungil dan manja ini ketemu sama Mbak Vina-nya itu?” tanya Mbak Sumini padaku.
“ Ndak tahu, Mbak. Wong Mbak Vina saja sepertinya ndak tahu kalau Wasis ini ada disini. Lagi menari tidak jelas seperti itu juga.” kataku. Suara tawa kami semakin keras setelah melihat Wasis cemberut dengan bibir maju lima sentimeter.
“Biar saja. Kalian pasti nanti iri padaku, Mbak.” tegasnya sambil menutup pintu kamar kami. Kami bahagia sekali waktu itu.
Setelah ditenangkan Pak Ustadz, kami pun sepakat akan melakukan pencarian lagi setelah sholat maghrib. Aku, kakakku, Emak dan Bapak berjalan ke arah rumah dengan kepala tertunduk. Kami gelisah bukan main. Rumah kami terasa jauh sekali. Jalanan menuju kesana terasa sepi dan sunyi. Bahkan kucing kuning yang biasanya tidur di kolong kamar tidur Bapak juga turut menyisiri jalan menemani kesunyian kami waktu itu. Kami terus berjalan tertunduk sampai ...
“Emak...Mak....”
Kami menghentikan langkah. Emak memberi isyarat agar kami berhenti dan diam.
“Emak dari mana aja sih seharian?”
Lho!
Itu suara Wasis.
Kami serentak menoleh ke sumber suara. Yang punya suara lagi berdiri di depan pintu rumah sambil memegang perut. Mbak Sumini dan aku saling pandang sementara Bapak dan Emak menggosok mata mereka.
“Mak, aku lapar.”
Apa itu benar-benar Wasis?, batinku. Baju yang sama, suara yang sama dan ekspresi wajah yang sama ketika lapar.
Kami berjalan mendekati pintu setelah yakin bahwa yang sedang bicara di depan kami adalah Wasis. Maksud kami, benar-benar Wasis.
“Aku.. tadi pergi memancing sama Sakti.” kata Wasis perlahan menjelaskan.
“Lalu?” tanya kami keras. Dan serentak. Wasis sampai terhenyak.
“Lalu mengapa kamu baru pulang sekarang? Kenapa, Sis?” tanya Bapak tak kalah keras.
“Terus....”
“Iya. Terus kenapa?”
“Terus ditengah jalan Sakti tiba-tiba saja bilang tidak ingin memancing, akhirnya kami mengambil layangan dan kelereng di rumah Sakti kemudian pergi ke lapangan. Pada waktu kami pulang, kami lihat Bapak dan Emak lagi jalan sambil bicara sama orang-orang. Kami kira Bapak dan orang-orang itu akan pergi ke balai desa. Apa ada orang hilang, Pak? Memangnya ada apa, Mak?” jelasnya.
Kami semua hanya terdiam.
Kalau aku, aku diam karena ingin tertawa melihat kepolosan si Wasis nakal itu.
Ia lalu melanjutkan bercerita dengan polos. Kami mendengarkannya dengan baik. Sebenarnya selain suara Wasis, kami juga mendengar isak tangis seseorang. Suara itu berasal arah belakang kami.
Itu suara tangisan Emak.
Emak seperti sedang menggabungkan rasa tangis, marah, kecewa, takut secara bersamaan. Bayangkan saja apa yang berkecamuk di benaknya saat itu. Ia kemudian menangis sesengukkan sambil berbicara tak jelas. Satu-satunya kalimat yang sampai sekarang masih bisa kuingat dengan jelas hanya “Emak sayang anak-anak Emak”. Kami terdiam sesaat. Hingga sejurus kemudian Bapak memeluk Emak erat. Diikuti oleh kami. Mbak Sumini yang pertama, aku lalu Wasis si bocah nakal. Suara keroncongan perut Wasis lah yang memecah tangis kami saat itu. Kami lalu tertawa terbahak bersama. Hari itu adalah hari yang panjang. Nasi Goreng Pak Mamanlah penyelamat perut kami malam itu.
Setelah hari itu, kami tak memberi izin Wasis untuk memancing lagi. Wasis sering melayangkan suara protesnya tapi tak pernah di beri ijin oleh Emak. Sampai akhirnya di kemudian hari kami tanpa sengaja mengizinkan ia pergi ke Tanjung Priuk dan menyesali keputusan itu.