Chapter 8

1800 Words
Kring..kring... Aku tahu Cece membuka pintu kamarnya dan sedang berjalan untuk menjawab panggilan itu. Tapi kudengar ada bunyi yang terulang. Kring..kring.. Kemana Cece pergi? Bukankah ia seharusnya mengangkat telepon itu terlebih dahulu. Rumah ini tak begitu lebar dan telepon itu hanya berjarak lima langkah dari kamarnya. Yang benar saja... Ku letakkan pisau yang sedang kupegang dan bergegas menuju ruang tengah untuk mengangkat telepon itu. Kemudian Cece menghampiriku dan berbisik, “Kalau itu Chen, tolong bilang aku sedang pergi dengan Grandma.” “Apa kau ingin aku berbohong untukmu, Ce?” tanyaku dengan nada ketus. “Kumohon tolonglah aku. Aku sedang tak ingin bicara dengan siapapun.” pintanya memelas. Ia berdiri sambil bersandar pada pintu kamar Ayah Ibunya. Wajahnya memelas, tapi suaranya tetap menyebalkan. “Tapi suatu saat nanti kau harus menolongku. Kau harus berjanji, Ce.” Aku menatapnya sinis. “Baik, akan kulakukan keinginanmu. Tolong katakan aku tidak ada dirumah.” Ia menatapku dengan tatapan sinis yang sama namun kemudian mengangguk pelan. Ia lalu berlari ke kamarnya. Tunggu, kira-kira apa ya. Membersihkan empat kamar yang ada di rumah ini? Atau membantu aku memasak selama satu bulan? Atau membersihkan jendela besar di sebalah pintu itu? Mengepel lantai rumah sebesar ini? Atau pergi belanja selama satu bulan? Ah, banyak sekali angan menyenangkan. “Ya, halo? Dengan siapa?” tanyaku. Aku sengaja mengeraskna suaraku agar terdengar jelas oleh Cece. “Panggil Cecemu itu, hey pembantu! Dia sangat kurang ajar! Harusnya langsung kuambil saja barang-barangku waktu itu!” Benar saja, ini suara Chen. Pacar Cece. Ia suka sekali marah-marah bahkan ketika berada di rumah pacarnya. Dulu mereka sering kali membuat rumah ini berantakan. Hingga pernah suatu kali Grandma sangat marah dan membentak Chen. Tetap saja mereka tak bergeming. Setelah kuamati, tak ada yang menarik dari si Chen ini. Wajahnya lonjong dengan mata yang judes. Suaranya cempreng dan ketika bernyanyi suara menjadi jauh lebih memekakkan telinga. Selera Cece benar-benar payah. Apa tak bisa ia memilih laki-laki yang lebih baik? “Hey, berikan telepon ini pada Cecemu itu! Apa kau tak tahu bagaimana kerja telepon? Hah!? Panggil Cecemu atau kalau tidak, aku akan--“ Tak kubiarkan si Chen itu melanjutkan bicaranya, terlalu berisik. Sedikit kubanting telepon itu. Ada apa dengan si Chen itu? Ia bahkan memakiku dengan kata-k********r. Aku tahu dari tadi Cece sedang mengintipku melalui pintu kamarnya. Bisa-bisanya ia membuatku dimaki oleh pacarnya. Tapi aku berhasil mendapatkan sedikit keuntungan yang akan berguna nantinya. Aku tertawa dalam hati. Aku akan menggunakan kesempatan emas untuk membuatnya membantuku. Ada sebuah rencana yang harus segera kulakukan. Rencana penting. Aku sudah mulai melanjutkan pekerjaanku di dapur ketika mendengar suara telepon berdering kembali. Itu pasti si Chen. Ia sangat keras kepala rupanya. Kubiarkan telepon itu berdering hingga kelima kalinya. Aku tahu pasti Cece tak akan berani mengangkat telepon itu sekarang. Biar saja, aku sedang sibuk dan tak ingin meladeni makiannya. Telepon harusnya digunakan sebagaimana perlunya. Kan kalau bisa bertemu akan lebih baik daripada bertengkar di telepon. Siomay yang kusiapkan sudah empuk dan rebusan sayur sudah kupisahkan. Untuk makan siang, rasanya tak akan ada masalah. Hari ini banyak sekali yang harus kulakukan. Saat ini, setrika dan tumpukan baju di kamar Grandma sedang melambaikan tangan mereka padaku sambil berteriak, “Hai, kami disini menunggumu! Jangan lupakan kami.” Iya, baiklah, iya.. Akan kuhampiri kalian nanti setelah minum teh hijau, batinku. Beberapa menit kemudian, kudengar telepon dari ruang tengah. Belum juga puas kunikmati teh hijau ini. Sebenarnya apa maksud si Chen melakukannya? Kenapa ia tak langsung datang kesini dan menemui Cece?! “Halo? Apa maumu! Kau bisa langsung kesini tanpa harus telepon lagi kan?!” bentakku. “Halo, apakah ini Sumirah?” terdengar suara seorang perempuan di seberang. Suaranya berat dan tegas. “Ya, ini aku. Siapa ini?” “Ini Lien-Hua. Kau tidak seharusnya membentakku seperti itu, Sumirah.” jawabnya ketus. Aku terhenyak. Yang sedang meneleponku ini adalah seorang perempuan yang punya kuasa atas lebih dari seribu orang tenaga kerja Indonesia yang ada di Hongkong. Dan satu lagi, Cici Lien-Hua adalah orang yang membantuku untuk ‘menghilang’ dari keluargaku. “Ci Lien-Hua, maafkan aku. Kukira tadi telepon dari Chen, pacar si Cece. Maafkan aku, Ci.” “Apa Cecemu itu memberitahumu tentang telepon dari seseorang?” tanyanya. “Seseorang? Siapakah itu, Ci?” Ketika Ci Lien-Hua memberitahu bahwa orang suruhannya di t*i Po-lah yang menelepon kerumah ini waktu itu. “Mungkinkah itu Susi? Atau-..” “Ia bilang bahwa ia adalah teman masa kecilmu, Sumirah. Satu hal yang pasti, aku tak pernah memberitahu seorang dari Indonesia tentang dimana kau bekerja sekarang. Kalau ini mengenai masa lalumu, mungkin sebaiknya kau bersembunyi.” jelas Ci Lien-Hua dengan suara tegas. Aku terdiam berusah amencerna apa yang Ci Lien Hua katakan. “Dengar, Mirah. Akan kuminta beberapa orang yang akan membantumu jika kau memang ingin bersembunyi. Kurasa Cece yang ada dirumah bersamamu sekarang ini juga akan membantumu.” imbuhnya. “Bagaimana kau tahu kalau ia akan membantuku, Ci? Ia sedang sibuk dengan ulah pacarnya saat ini.” Kataku seraya menengok pintu kamar Cece. “Hahaha... Tenang saja, Chen itu meminjam uang padaku dan beberapa bulan tidak membayarnya. Rumah yang ia tempati bersama teman-temannya kini juga sudah disegel oleh kepolisian. Ia pasti menuruti kemauanku, Mirah.” Pantas saja Cece menghindari Chen hari ini. Ternyata karena Cece tahu semua yang terjadi. “Ci, apakah ini masalah yang serius?” tanyaku pelan. Aku takut seseuatu yang buruk akan terjadi. Sudah sekian tahun ini aku mulai merasa nyaman dengan apa yang kulakukan. Kalaupun sesuatu benar tejadi setelah ini, sesungguhnya aku sungguh berharap bahwa ini semua hanya sekilas mimpi buruk. Cici berkata semua akan baik-baik saja. Namun ia meyakinkanku untuk berfikir dan bertindak dengan segera kalau sesuatu yang serius terjadi. Ia jua berkata akan menempatkan beberapa orang suruhannya di lantai bawah rumah ini. Cici Lien-Hua bukan orang yang akan mengatakan sesuatu secara sembarangan. Ia selalu tahu apa yang harus diakukan. Persis seperti sepuluh tahun yang lalu, ketika kami bertemu di dermaga. Ia adalah teman pertama yang kutemui disini. Kami sama-sama tidak seberuntung tenaga kerja yang lainnya. Seorang gadis Filipina dengan logat yang aneh dan tubuh yang kekar dan seorang gadis Indonesia yang terlihat lusuh dan tubuh yang kurus. Kombinasi yang teoat untuk dihina. Kalau melihat tubuh Ci Lien Hua dari belakang, maka tak akan ada orang yang mengira bahwa ia adalah seorang perempuan. Bahunya tegak dengan badan yang tinggi besar, terlihat sangat tangguh. Kala itu, seorang laki-laki Cina menipuku dengan mengatakan bahwa aku adalah tenaga kerja ilegal yang tidak terdaftar di agen manapun. Ia dan dua orang temannya mengatakan bahwa aku lupa membayar sejumlah uang untuk kompensasi. Dengan sedikit heran, aku membayar uang kompensasi itu. Mungkin aku benar-benar lupa membayarnya ketika memasuki kapal. Aku tak ingat apapun. Dengan uang kompensasi itu ia bisa memasukkanku ke daftar tenaga kerja legal yang ada di bukunya. Awalnya ia menolak, namun ketika kutambahkan lagi beberapa uang, ia menyeringai dan mengatakan akan membantuku. Aku sedikit merasa tenang. Tapi ternyata gadi Filipina it ujuga mengalami hal yang serupa. Perbedaanya adalah ia ingat telah membayarnya, sedangkan seorang laki-laki tadi mengatakan kalau ia belum membayarnya. Tentu saja Ci Lien-Hua kesal dan dengan sengaja memulai perdebatan. Cici melakukannya dengan sengaja agar orang-orang di kpal itu tahu kalau ia sedang ditipu. Namun alih-alih mendapat dukungan, Ci Lien-Hua justru mendapat cibiran dan makian dari penumpang lainnya. Ia didorong hingga jatuh tersungkur dan mendapatkan beberapa luka di siku kanannya. Ketika meliatku membayar tambahan uang, ia berfikir akan mengajakku untuk membalas laki-laki itu. Sayangnya, aku menolak permintaannya. Aku tak ingin terlibat masalah lagi. Aku benar-benar ingin melarikan diri. Ia memohon dan memintaku membantunya. Pada saat itulah, laki-laki tadi menghampiri kami. Dengan tampoang yang menakutkan, ia mengatakan bahwa hanya kau yang bisa melanutkan perjalanan menuju dermaga dan akan mendapatkan kendaraan untuk sampai di kantor agen. Saat itulah kulihat kekuatan besar yang tadi kulihat di mata Ci Lien Hua dengan perlahan menghilang. Ia berkata ia tak membawa uang sepeser pun dari rumahnya karena mengira smeua kana beres ketika ia memasuki kapal. Cici, sama seperti aku dan tenaga kerja lainya saat itu, juga tak mengira bahwa ia akan ditipu seperti ini. “Aku mohon, tolong jangan tangkap aku. Aku tak ingn kembali ke negaraku. Aku benar-benar harus mencari uang.” ucapnya seraya memohon. Air matanya mengalir tapi tak menghentikan tangan kasar itu membawanya pergi. “Lepaskan aku, kumohon lepaskan aku!” teriak Ci Lien kencang hingga semua penumpang disana melihat kearahnya. Laki-laki itu tetap tak begeming dan menyeret tangannya keluar. Pun tak ada satu penumpang pun yang berniat menolong gadis itu. Mata kami sempat beradu pandang sebelum akhirnya.. “Tunggu..Tunggu sebentar” kataku tiba-tiba. Entah roh mana yang merasukiku saat itu, tapi aku berlari sambil memegang dompet. “Aku.. akan membayar kekurangan uangnya. Tolong lepaskan dia.” Aku mengambil beberapa lebar uang dari dalam dompet coklatku. “Apa kau serius mengatakannya?” tanya laki-laki itu. “Benar.. Iya, sudahlah, cepat lepaskan tangannya. Dan ini uangnya.” Ia melepas tangan Ci Lien dan beranjak pergi. Sedangkan aku, secara naluriah, memeluk Ci Lien Hua. Kami saling berpelukan cukup lama hingga akhirnya bergandengan tangan. Sejak itu, Ci Lien berubah menjadi lebih hebat. Ia benar-benar berhasil memanfaatkan semua keahliannya hingga menjadi ketua geng seperti sekarang. Tak sekali dua kali aku mendengar kalau ia sedang dirawat di rumah sakit karena patah tulang setelah berkelahi. Tak sekali dua kali juga aku mendengarkan sedang berada di dalam tahanan di kepolisan karena diduga mengancam atau bahkan membunuh seseorang. Pernah suatu kali kami bertemu di pinggir sungai Nam Chung, aku bertanya tentang hidupnya yang penuh dengan perkelahian. Ia tertawa mendengar pertanyaanku seraya berkata, ”Aku tak tahu apalagi yang akan kulakukan selain berkelahi, Mirah. Lagipula, aku hanya sedang bertahan hidup. Sama seperti kamu.” “Sepertiku? Hidupmu lebih berbahaya, Ci.” “Hidup kita sama, Sumirah. Kau sedang bertahan hidup dari jahatnya majikanmu itu. Dan aku harus bertahan hidup dari orang-orang jahat ini.” jawabnya santai. Pertemanan kami tak pernah berhenti. Ci Lien mengetahui hampir semua kisahku hidupku keccuali bagian bagaimana aku dilahirkan, dan aku pun tahu bagaimana ksah hidup Ci Lien semenjak kami ada di Hongkong. Aku tak pernah sekalipun meragukan perkataannya. Ia pun demikian. Ia sering melindungiku dengan caranya. Ketika ia berkata bahwa seseorang yang sedang mencariku ini mungkin tak main main dengan kata-katanya, sepertinya aku harus menurutinya. Aku akan berkata pada Cece dan Grandma bahwa aku sedang tidak enak badan. Hal ini akan membuat mereka tak mengijinkanku keluar rumah. “Baik, Ci. Aku akan berada di rumah saja untuk beberapa hari. Jika memang harus keluar rumah, aku akan memberi alasan pada Cece dan Grandma.” “Bagus, Sumirah. Aku akan memeriksamu setiap tiga hari.” “Ba—“ Belum selesai aku bicara, Suara menyebalkan itu kembali menggelegar di rumah ini. “Sumirah, Miraah.... buatkan aku teh sekarang juga!” Suara Cece menengahi percakapan kami. “Buat dia diam, Sumirah.” suara Ci Lien ketus kemudian menutup teleponnya. “Iya, iya...” jawabnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD