Bab 1. Terlahir Kembali
Aku terkejut saat sudah menyadari keberadaanku tak di tempat yang aku pikirkan. Ketika aku membuka mata, ada rasa nyeri di seluruh tubuhku. Ingatanku melayang saat tubuhku terbelah menjadi dua oleh pedang naga sakti milik prajurit perang Qeonking. Pria itu dengan kejamnya membunuhku dan membuat wanita yang aku cintai bunuh diri.
Aurora Alexa Zetian. Puteri kerajaan Kingdom WAR yang menjadi musuh bebuyutanku dari kerajaan Crusade Kingdom. Sepanjang hayat kami selalu bermusuhan dan saling menjatuhkan. Demi kekuasaan, kekayaan, dan persaingan bisnis. Sayangnya aku kalah. Aku tewas selama peperangan besar yang sudah beberapa kali terjadi itu. Dan nyatanya kerajaan Kingdom WAR juga hancur lebur, lenyap seketika setelah terjadi kematian puteri satu-satunya mereka. Dewa langit murka dan mengutuk kerajaan itu hingga tak tersisa.
Dan kini, aku terlahir kembali di kehidupan selanjutnya. Bukan sebagai dewa perang atau raja Crusade Kingdom. Melainkan saat ini aku sedang berada di peradaban dunia yang lebih maju. Aku berada di sebuah pembaringan yang aku yakini itu adalah rumah sakit. Karena dari aroma yang menyengat sudah menjadi ciri khasnya. Yaitu bau obat yang tidak pernah aku suka.
“Pa! Lihatlah, Arshaka sudah sadar!”
Teriakan itu seketika membuat telingaku pengang. Aku menoleh dan kulihat wajah cantik itu begitu saja meluluhlantakkan perasaanku.
“Aurora,” desisku lirih. Dan di detik itu juga semangat hidupku tumbuh menjadi 1000%. Aku terkesiap dan terkejut ketika melihat gadis itu tumbuh lebih muda dan cantik.
Binar matanya tetap sama. Berwarna cokelat indah. Dan bibir itu. Ya Tuhan. Aku sangat merindukannya. Berkali-kali aku menelan saliva agar gemuruh d**a dan hasrat yang menggelora itu tidak merusak suasana. Hanya mataku yang tak berkedip terus menatapnya.
Namun suasana indah dan menegangkan itu seketika sirna saat aku melihat seseorang sudah datang berdiri di belakang Aurora.
“Kingdom!” Kembali desisku tak percaya. “Kenapa dia masih hidup? Sebenarnya aku hidup di dunia apa?” Pertanyaan serupa itu tidak pernah ada jawabnya terdengar di dalam hatiku.
“Arshaka. Kamu sudah sadar?” tanya pria tua yang terlihat masih gagah perkasa itu. Usianya berkisar setengah abad. Namun wajah dan tubuhnya masih sehat dan segar. Aku yakin pria tua itu bukan dari keluarga yang biasa.
“Biarkan pasien beristirahat dulu. Dia baru saja sadar. Mungkin masih bingung dengan apa yang terjadi.” Itu adalah suara seorang dokter wanita yang terlihat begitu sabar. Dan orang-orang yang mengerumuni aku itu mengangguk paham. Mereka segera berjalan untuk meninggalkan ruangan.
“Tunggu!”
Tiba-tiba saja aku bersuara keras. Membuat semua orang menghentikan langkahnya. Mereka bersamaan membalikkan badan menghadap ke arahku. Aku kembali menelan saliva ketika beberapa pasang mata itu menatapku intens.
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi?”
Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Arsha. Kamu mengalami kecelakaan. Saat itu kamu mau menjemput Aurora pulang dari kampus. Ada sebuah truk besar menghantam mobil kalian. Beruntungnya Aurora bisa lompat keluar mobil. Sayangnya tubuh kamu terjepit saat Aurora mau mengeluarkan kamu dari dalam mobil. Dan mobil itu meledak. Entah bagaimana ceritanya tiba-tiba saja kamu sudah berada di jalanan aspal dekat mobil yang meledak terbakar itu. Itu adalah sebuah keajaiban, Arsha. Kamu masih di beri kehidupan oleh Tuhan.”
Aku terhenyak dan tertegun mendengar penjelasan dari raja kematian itu. Rasanya sama persis dengan kehidupanku yang sebelumnya. Aku tewas mengenaskan. Namun kematianku di tangan pria yang saat ini sedang menjelaskan semua kejadian mengerikan itu.
“Jadi?”
“Kamu tidak sadarkan hampir sepuluh hari. Membuat kami cemas dan takut, Arsha.” Suara itu terdengar lembut dan imut. Tiba-tiba terlihat lelehan air mata dari pipi putihnya.
“Jangan menangis,” ucapku tiba-tiba membuat Aurora menatapku. Gadis muda itu tersenyum kemudian. Dan hal itu membuat jantungku meleleh. Aku memang jatuh cinta setengah mati pada gadis ini.
“Aku takut kamu mati, Arsha. Kalau kamu mati siapa lagi yang menjadi pengawal setiaku. Yang mau dengan suka rela menemaniku dan selalu ada di sampingku meskipun aku injak-injak harga dirimu.”
Aku tentu saja terkejut mendengar apa yang dikatakan gadis itu. Sungguh berbeda dengan Aurora di kehidupanku sebelumnya. Gadis anggun yang sangat dewasa dan selalu bersikap lemah lembut terhadapku. Bahkan satu kata saja dia tidak pernah menyinggung perasaanku. Tapi ini__
Tapi, tunggu-tunggu! Pengawal? Aku menjadi pengawal gadis itu? Dahiku seketika berkerut kuat. Kedua manik mataku menatap tajam ke arah Aurora.
“Pengawal apa maksudnya?”
“Hah!”
Aurora kaget saat mendengar pertanyaanku. Dia mendekat dan menempelkan punggung tangannya di keningku. Lalu dia membandingkan suhu tubuhnya dengan tubuhku.
“Kamu tidak demam kok. Tapi kenapa bisa lupa. Kamu lupa kalau kamu itu pengawal pribadiku. Kamu bekerja menjadi pengawal pribadiku sudah hampir bertahun-tahun.”
“Apa! Pengawal!” Aku melotot tak percaya.
Aku seorang dewa perang, pemimpin prajurit dalam peperangan berkelas di kehidupanku sebelumnya, dan kini aku hanya menjadi seorang pengawal pribadi. Itu jelas menurunkan derajat dan martabatku. Menurunkan pamor dan harga diriku. Tidak! Ini tidak boleh terjadi.
“Tidak! Tidak mungkin!”
“Apanya yang tidak mungkin. Memang kamu pengawal pribadiku. Dan itu sudah bertahun-tahun,” cicitnya sekali lagi membuatku semakin keras menggelengkan kepala.
“Ini tidak mungkin, Aurora! Aku ini seorang dewa perang!”
Seketika terdengar suara cekikikan gadis cantik itu setelah beberapa saat dia terpana. Bahkan bukan hanya Aurora yang menertawakan aku. Raja kematian dan dokter serta para perawat yang ada di ruangan itupun tersenyum mendengar dan melihat aku seperti orang linglung.
“Dok. Sepertinya ada yang terjadi dengan Arshaka.” Dokter itu segera mendekati aku. Memeriksa kondisi tubuhku.
“Bisa saja ini gejala amnesia. Trauma dan benturan keras itu membuat sebagian saraf otak Tuan Arshaka putus.”
Aku mengerutkan dahiku kembali. “Putus saraf! Aku tidak hilang ingatan, Dok. Aku normal,” belaku dengan sengit. Kingdom mendekati aku lantas berbicara tegas.
“Sudah. Nggak apa-apa. Walaupun Arshaka hilang ingatan kami akan tetap merawatnya. Dia tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini selain kami. Biarlah dia menjadi keluarga besar Veda.”
Aku semakin tak mengerti. Namaku menjadi Arshaka. Entah dari mana mereka mengganti namaku. Rupanya memang aku lupa kalau sekarang aku berada dalam kehidupan selanjutnya. Dan kehidupan sebelumnya sudah terkubur dalam kematian.
Sekarang aku terlahir kembali menjadi seorang pengawal jantan bernama Arshaka Ghazi El Fatih. Nama yang mereka berikan untukku. Yang lebih menyesakkan dadaku. Rupanya Aurora sudah mempunyai seorang kekasih di kehiudpan selanjutnya ini. Dan itu bukan aku.