the Room that Doesn't Exist

1435 Words
(CHLOE) Aku membasuh wajahku dengan air yang mengalir dari keran wastafel. Setelah selesai aku mematikan keran tersebut dan menatap pantulan diriku di cermin di hadapanku. Tetes demi tetes air terjatuh dari wajahku. Pikiranku sedikit terganggu. Semenjak Nik mengalami kejadian aneh di tengah tidurnya semalam, ia lebih banyak duduk diam dan melamun. Pikirannya seolah sedang berada di tempat lain. Aku tahu. Sesuatu terjadi di tengah tidurnya semalam yang menyebabkan cahaya di tengah dadanya berkedip-kedip seperti itu. Aku mengambil handuk dan mengelap wajahku. Aku meletakkan handuk itu kembali ke gantungan dan keluar dari kamar mandi. Semalam Nik tak memberitahuku apa pun dan hanya berucap bahwa ia baik-baik saja. Aku pun tak berniat mendesaknya agar ia mau jujur padaku karena semalam aku terlalu lelah dan ingin segera beristirahat. Aku masuk ke dalam kamar dan mendapati Nik yang sedang duduk di jendela sambil menatap ke luar sana. Biasanya ia memang selalu duduk di sana. Tapi kali ini kurasa ia tidak terpaku menatap pada apa yang ada di luar sana. Aku membuka lemari dan mengambil pakaian yang kugunakan untuk bekerja. “Jadi kau belum mau memberitahuku apa yang terjadi padamu semalam?” tanyaku dan meliriknya. Ia memutar kepalanya dan menatapku. Aku sedang melepas pakaianku dan mengenakan pakaian yang tadi kuambil. Ia diam saja masih sambil menatapku. “Apa?” tanyaku akhirnya. “Aku ingin tahu mengapa kau masih berganti pakaian di depanku seperti ini?” tanyanya yang membuatku berhenti sejenak. “Apa?” “Kupikir setidaknya kau akan merasa malu,” ucapnya. “Astaga…,” ucapku dan kembali melanjutkan mengenakan sisa pakaianku. “Kau Android! Memangnya apa yang akan kurasakan jika aku berdiri tanpa pakaian di hadapan sebuah mesin?” “Bagaimana kalau… aku tidak seperti yang kau pikirkan?” Aku membuang napas lewat mulut dan melipat kedua lenganku di d**a. “Katakan, Nik. Apa yang terjadi di tengah tidurmu semalam? Aku tahu kau mengalami sesuatu. Kau sudah bertingkah aneh semenjak semalam.” “Aku melihat mimpi,” katanya. “Apa?” “Aku bermimpi,” ulangnya. Oke, kuharap aku masih waras. Apa aku baru saja mendengar sebuah mesin yang mengatakan bahwa ia bermimpi? “Mimpi seperti apa?” tanyaku. “Seseorang berbicara padaku mengenai sebuah proyek yang hampir berhasil. Dan ia menyuruhku menggantikan posisinya untuk sementara,” ceritanya. Begitu ia menyebutkan kata proyek, aku mendekati Nik dan mencengkeram kedua lengannya. “Apa itu proyek X6? Siapa yang memberitahumu?” tanyaku cepat. “A-aku tidak tahu, Chloe. Pria itu hanya menyebutkan proyek yang sedang dijalankannya. Dan aku tidak tahu siapa pria itu. Aku… aku merasa itu adalah bagian dari ingatanku,” katanya. Ini hampir mustahil. Apa mungkin Nik bagian dari proyek itu? Aku sudah hampir lupa soal itu karena aku sama sekali tidak menemukan petunjuk. “Oh, sial! Aku akan terlambat,” ucapku dan menjauh dari Nik dan mempersiapkan segala hal yang akan kubawa untuk bekerja. “Nik, kita bicarakan hal ini lagi nanti. Kau harus memberitahuku semuanya, oke? Aku pergi dulu,” kataku berpamitan dan keluar dari kamar. Aku menuruni tangga dengan langkah cepat dan kulihat ibuku sudah duduk di sofa menonton TV. Sisa sarapannya masih ada di meja makan. “Bu, aku berangkat!” ucapku dan keluar dari rumah. *** Aku menuangkan kopi ke dalam cangkir dan membawanya menuju meja kerjaku. Aku kembali berhadapan dengan layar komputer untuk melanjutkan kembali pekerjaanku. “Aku tak percaya aku sudah menghabiskan tiga cangkir kopi,” kata seseorang yang baru saja tiba dan duduk di meja kerjanya yang ada di sebelahku. Itu Elena. Dia satu tim denganku dan setahun lebih muda dariku. Ia mengikuti program magang lebih awal seperti aku dulu yang sayangnya gagal kuikuti. “Kau serius?” tanyaku. “Yeah. Semalam aku kurang tidur karena bertengkar dengan pacarku lewat telepon. Aku juga melewatkan sarapan. Tapi untungnya aku mendapatkan sarapan yang dibawakan seseorang tadi pagi. Tapi itu tetap tak bisa mengurangi rasa kantukku,” ungkapnya. Ia menyesap kopinya dan menatapku sejenak. “Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya “Apa?” “Kulihat kau banyak menghela napas dari tadi seperti ada yang mengganggu pikiranmu. Kau juga bertengkar dengan pacarmu yang selalu bersamamu itu, ya?” Aku mengerutkan dahi. “Maksudmu Hugo? Tidak. Dia bukan pacarku. Sesuatu yang lain yang sedikit mengganggu pikiranku,” ungkapku dan kembali menghadap komputer di depanku. “Yah… lupakan saja,” ucapku. “Nn. Auguste!” panggil seorang wanita yang menghampiri tempatku. “Bisa kau ambilkan semua ini di gudang penyimpanan?” katanya sambil memberiku kartu beserta kertas berisi tulisan barang-barang yang perlu kuambil untuk Android yang akan ditambahkan fitur baru yang sedang aku dan timku garap saat ini. “Baiklah,” jawabku dan bangkit dari kursiku. Aku berjalan keluar dari sana dan menuju gudang penyimpanan di mana semua kebutuhan untuk Android dan benda-benda elektronik lainnya disimpan. Aku sudah pernah ke sana sebelumnya dan tempat itu benar-benar besar. Kurasa hampir seukuran garasi pesawat. Aku juga memerlukan sebuah kartu akses untuk bisa masuk ke sana. Aku berjalan menuju lift untuk menuju gudang tersebut yang ada di lantai dasar pertama. Namun sebelum aku mencapai lift, aku melihat seseorang yang begitu kukenali. Siapa lagi jika bukan Prof. Edmond Russo. Direktur Utama perusahaan ini sekaligus teman ayahku dulu. Aku berlari menghampirinya yang sedang berjalan menuju entah ke mana. “Prof. Russo!” panggilku. Ia berhenti dan menoleh ke belakang. “Ya?” jawabnya. “Ada urusan apa kau memanggilku?” “Umm… aku…,” ucapku kebingungan. Aku berlari menghampirinya begitu saja dengan keyakinan bahwa ia tahu di mana keberadaan ayahku tanpa memikirkan bahwa ia bisa saja menolak pertanyaanku atau tidak tahu sama sekali. “Rasanya aku pernah melihatmu?” katanya mengerutkan dahi sambil menunjukku. “Oh! Aku Chloe Auguste. Anda pasti mengenal ayahku, Pierre Auguste. Kita pernah bertemu sebelumnya,” kataku memperkenalkan diri. “Ah! Chloe!” ucapnya dengan ekspresi senang. “Kau gadis kecil yang waktu itu? Yang selalu menyelinap ke ruang kerja ayahmu? Wow! Kau sudah dewasa ya sekarang,” ucapnya memperhatikanku dari atas hingga bawah. Rasanya malu melihat seseorang mengetahui tentang kebiasaan buruk yang kulakukan saat kecil. Tapi itu memang benar. Saat kecil aku suka sekali menyelinap masuk ke ruang kerja ayahku untuk melihatnya bekerja. “Benar. Aku sedang magang di sini,” kataku. “Kudengar kau mengalami kesulitan setelah ayahmu menghilang. Aku turut prihatin mendengarnya,” ucapnya. “Jadi, ada apa kau memanggilku?” “Umm… sebenarnya ada yang ingin kutanyakan soal itu. Apa anda punya petunjuk di mana ayahku? Sampai saat ini polisi tidak mendapat petunjuk. Jadi kupikir karena anda teman ayahku, anda akan tahu,” kataku. “Oh… maafkan aku, Chloe. Aku pun tidak tahu di mana ayahmu sekarang. Sebenarnya tanpa kau ketahui aku juga sedang mencari ayahmu. Tapi aku tidak tahu keberadaannya sama sekali,” ungkapnya. “Ah, begitu,” ucapku dengan perasaan kecewa. “Jika aku mendapat petunjuk, aku akan segera memberitahumu, oke? Kau juga harus memberitahuku agar kita bisa sama-sama menemukannya,” katanya sambil menepuk satu bahuku. Aku mengangguk. “Tentu,” jawabku. “Baiklah, aku harus pergi. Semoga kau bisa tetap di sini setelah kau lulus,” ujarnya tersenyum dan melangkah pergi. Baiklah. Sepertinya aku tidak akan mendapat petunjuk apa pun soal ayahku. Aku benar-benar berharap di tempat yang menjadi satu-satunya petunjuk ini aku bisa mendapat kemajuan soal keberadaan ayahku. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Aku menghela napas dan membalikkan badan. Aku akan berjalan kembali menuju lift, tapi lalu aku teringat bahwa aku masih perlu bertanya lagi soal linker pada Prof. Russo. Aku masih melihat sosoknya yang sudah berjalan cukup jauh, dan aku mengejarnya. Kulihat ia berbelok ke sebuah lorong kecil. Kupikir aku tidak pernah melihat ada orang yang masuk atau keluar dari lorong itu dan aku berbicara dalam hati, mengapa ia ke sana? Sampai kemudian aku mengikutinya dan melihat jalan buntu dengan sebuah pintu di besi hadapanku. Atau bisa kukatakan bahwa itu adalah sebuah lift yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu—terlihat dari tempat kartu akses yang ada di samping pintu. Kupikir mungkin itu adalah lift khusus untuk orang seperti Prof. Russo. Tidak ada yang aneh. Aku mendongak memperhatikan di lantai mana ia berhenti. Ia sedang turun. Gedung CyberTech memiliki lantai dasar pertama di mana gudang penyimpanan itu berada, dan lantai dasar kedua. Lalu sebuah basement yang menjadi tempat parkir para pekerja di sini. Tulisan di atas menunjukkan bahwa lift yang dinaiki Prof. Russo sudah melewati itu semua, dan anehnya lift masih terus berjalan turun. Aku keluar dari sana dan berlari menuju lift yang akan kunaiki tadi. Begitu sudah masuk aku melihat tombol-tombol yang ada di sana dan sama sekali tidak melihat tombol untuk menuju lantai di bawah basement. Aku menelan ludah. Mengapa Prof. Russo ke lantai yang tidak ada? Apa yang ada di sana?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD