(CHLOE)
Aku sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Tn. Elijah juga berada di sini bersama anjing pointer yang sering bersamanya. Ia duduk di undakan teras dengan Nik. Yap! Tn. Elijah dan Nik sedang mengobrol bersama sekarang. Aku tak tahu apa saja yang sedang mereka obrolkan, tapi mereka berdua terlihat akrab. Aku lega melihat mereka bisa akrab seperti ini mengingat kebanyakan orang di sini tidak menyukai Android. Melihat mereka berdua sekarang, sepertinya Tn. Elijah sudah tak lagi mengkhawatirkan keberadaan Nik.
“Dulu aku adalah seorang pegawai bank. Aku memiliki rumah yang nyaman dan sebuah keluarga. Setelah mesin sepertimu muncul, aku kehilangan semuanya. Bisnis kecil yang kubangun gagal dan keluargaku meninggalkanku,” cerita Tn. Elijah. Sisi lain hidupnya yang baru kuketahui. Cukup mengejutkan.
“Kalau begitu kau membenciku?” tanya Nik. Aku tidak bisa bilang bahwa itu adalah pertanyaan yang sensitif karena hampir semua yang tinggal di sini berakhir di sini karena Android.
“Membencimu tidak akan bisa membuat keadaanku pulih. Tapi bukan berarti aku akan menerima dengan senang hati keberadaan benda sepertimu. Aku bahkan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mungkin yang diinginkan pria tua sepertiku ini hanya sebuah keajaiban,” ungkap Tn. Elijah.
Aku sudah selesai menjemur semua pakaian. Aku mengangkat ember dan membawanya kembali menuju ruang cuci. Aku meletakkan ember tersebut dan bermaksud menyalakan setrika, tapi kemudian aku mendengar panggilan yang memanggil namaku di luar. Aku melangkah keluar dan melihat seorang wanita gemuk dengan kulit gelap. Aku mengenalnya. Itu Celena.
“Chloe…,” ucapnya memanggil namaku dengan wajah sembab.
“Celena? Ada apa?” tanyaku mendekatinya dengan rasa khawatir.
“Apa kau pernah melihat Sebastian sekilas di kota?”
Aku menautkan alis. Sebastian adalah adik Celena. Seingatku ia setahun lebih muda dariku. “Tidak. Kenapa?”
“Aku tidak bisa menemukannya di manapun. Dia menghilang,” katanya.
“Apa?” ucapku terkejut. “Kapan terakhir kali kau melihatnya?”
“Dua hari yang lalu. Ia sempat memberitahuku kalau ia mendapatkan tawaran pekerjaan di kota oleh seseorang. Aku curiga. Tidak mungkin seseorang akan memberinya pekerjaan begitu saja di ditrik ini” ceritanya.
“Pekerjaan seperti apa?” tanyaku.
“Dia bilang seorang pria sedang mencari relawan untuk membantunya dengan penelitian baru. Dan itu tidak gratis. Itu sebabnya tiba-tiba Sebastian membawa sejumlah uang yang cukup banyak ke rumah dengan wajah bahagia, dan memberikan setengahnya padaku. Ia bilang pria itu akan memberikan sisanya setelah ia selesai dengan permintaannya,” ungkapnya.
“Itu mencurigakan!” sahut Tn. Elijah. “Di dunia ini tidak ada orang yang mau memberikan uang tanpa alasan!”
“Itu sebabnya aku bertanya padamu apa kau sempat melihatnya di kota? Aku belum sempat mencarinya ke sana,” kata Celena padaku.
“Di kota sebesar itu rasanya agak mustahil bisa bertemu Sebastian secara kebetulan,” kataku ragu. “Apa tidak ada hal lain yang dikatakannya? Pukul berapa ia menghilang?”
“Dia sempat berpamitan akan berangkat pagi-pagi sekali ke kota di hari esok. Aku pun masih tidur saat dia sudah berangkat. Kupikir ia akan kembali di sore hari atau setidaknya menghubungiku. Tapi tidak ada kabar apa pun darinya setelah itu,” kata Celena. Ia lalu mulai terisak menangis. “Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padanya, Chloe. Aku bisa merasakannya.”
“Oh, Celena! Jangan menangis…,” kata Tn. Elijah sambil mengelus bahu Celena. Ia ikut prihatin dengan keadaannya.
“Aku akan berusaha membantu mencarinya. Aku tidak bisa berjanji akan menemukannya. Tapi akan kuusahakan sebisaku,” kataku pada Celena.
“Terima kasih banyak, Chloe! Apa pun yang terjadi padanya aku siap mendengarkan. Setidaknya aku tahu apa yang terjadi padanya,” katanya sambil terisak.
Aku mengangguk. “Tentu, Cel,” ucapku.
“Mari kuantar kau pulang, Celena,” ajak Tn. Elijah yang masih merangkul Celena. Mereka berdua melangkah pergi dari rumahku.
Setelah keberadaan mereka berdua menghilang, aku duduk di undakan teras sementara Nik duduk di sampingku. Aku melamun sesaat sambil memperhatikan dua anak kecil yang sedang bermain bola di lahan kosong di seberang sana. Sebenarnya ada beberapa anak yang tinggal di lingkungan ini yang sebelumnya berasal dari keluarga yang berkecukupan. Mudah saja menebak apa yang membuat mereka berakhir di sini. Android menggantikan pekerjaan ayah mereka, keuangan yang semakin menipis dan sulitnya mendapatkan pekerjaan memaksa mereka mencari tempat tinggal baru yang lebih murah.
Setahuku sebagian besar anak-anak itu masih bersekolah, karena sekolah manapun tidak memungut biaya sampai lulus SMA. Tapi yang sulit adalah tetap bertahan di sana disaat keluarga mereka telah jatuh. Mereka akan dirundung. Aku tahu itu karena pernah ada hal serupa yang terjadi di SMA ku dulu. Bertahan untuk tetap bersekolah adalah sesuatu yang sulit untuk mereka lakukan. Tapi kuharap tidak terjadi hal seperti itu karena kulihat anak-anak itu masih terlihat ceria.
“Apa yang kau pikirkan?” tanya Nik tiba-tiba.
Tersadar, aku menoleh menatapnya sesaat. “Beberapa hal,” jawabku.
“Kau banyak melamun sejak kau pulang dari kerja kemarin, Chloe. Ada apa?” tanyanya.
“Sebelum aku menjawabnya, kau perlu memberitahuku lebih banyak lagi soal mimpi yang kau alami itu. Kau belum menjelaskannya padaku,” kataku.
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Siapa saja yang kau lihat di dalam mimpi?”
Nik mengalihkan tatapan matanya. “Seseorang yang dipanggil Direktur,” jawabnya.
“Kau berasal dari perusahaan sebelumnya?” tanyaku cukup terkejut.
“Sepertinya begitu. Dan ia memintaku untuk menggantikan posisinya untuk sementara,” ungkapnya.
“Apa?” ucapku yang lebih terkejut. “Mimpi macam apa yang kau alami? Apa pria itu yang juga mengatakan soal proyek itu?”
Ia mengangguk. “Aku memiliki tangan manusia di sana,” katanya sambil memperhatikan kedua tangannya. “Aku tahu itu bukan mimpi. Tatapan mereka semua seolah memberitahuku bahwa aku bukanlah Android di sana, melainkan manusia.”
Perkataan Nik mengingatkanku kembali akan penjelasan dosen di perkuliahan waktu itu tentang kegunaan linker. Jika benar Nik bukan Android biasa, melainkan berisi kesadaran manusia di dalamnya, artinya tubuh manusianya ada di luar sana.
“Kau ingat perusahaan apa itu?” tanyaku.
Ia menggeleng. “Tapi ada seseorang lagi. Di mimpi itu. Aku tidak terlalu mengingat rupanya. Ia bercerita bahwa ia memiliki putri yang selalu menyelinap ke ruang kerjanya,” ceritanya. “Aku cukup ingat wajah yang dipanggil Direktur itu. Aku ingin mencarinya, Chloe. Ia tahu tentangku.”
Aku hampir tak mendengarkan perkataan Nik yang terakhir. Aku terlalu fokus memikirkan ceritanya di dalam mimpi itu tentang seorang pria yang bercerita tentang putrinya. Bagaimana tidak, putri yang diceritakan pria dalam mimpinya itu mirip denganku. Prof. Russo juga sempat mengatakan hal itu ketika melihatku kemarin.
“Chloe, ada apa denganmu?” tanya Nik yang melihatku sedari tadi terdiam.
“A-ada yang lain yang kau lihat?” tanyaku masih dalam keadaan terkejut.
“Sudah kubilang tidak ada lagi,” katanya.
Jika pria yang bercerita soal putrinya itu adalah ayahku, maka Direktur yang dimaksud Nik adalah Prof. Russo. Perusahaan yang dilihatnya di mimpi itu adalah CyberTech, dan proyek yang dikatakan Nik itu kemungkinan besar adalah proyek X6. Jika Nik dipanggil Direktur untuk menggantikan posisinya sementara, maka Nik adalah orang yang mengenal dekat Prof. Russo dan juga ayahku. Jadi… siapa?
Aku bangkit berdiri dan menatap Nik. Aku tak tahan lagi. Aku hampir dekat dengan jawabanku.
“Siapa kau?” ucapku pada Nik.