(NIK)
Chloe bersikap aneh semenjak percakapan kami soal mimpiku. Ia sering diam sambil menatapku. Begitu intens seolah-olah ia ingin melihat ke dalam jiwaku. Aku sering mendengarnya bertanya padaku dengan gumaman ‘siapa kau’. Tetapi setiap kali aku bertanya balik, ia hanya berkata ‘tidak apa-apa. Lupakan saja’. Aku tahu ada sesuatu yang dipikirkan Chloe. Sesuatu yang berhubungan dengan mimpiku. Aku ingin tahu. Apakah dia sudah tahu soal jati diriku?
“Nik!” panggil seseorang di belakangku.
Aku menoleh dan melihatnya berjalan menghampiriku. Itu adalah salah satu teman Dax yang benama Louis. Aku kembali mengunjungi tempatnya karena aku tidak punya tujuan lain di sini selain tempat Dax. “Hai,” sapaku.
“Ada apa? Apa yang kau lihat?” tanyanya seraya melihat apa yang kulihat sedari tadi.
“Oh. Hanya saja… aku tidak tahu kalau dari sini aku bisa melihat seluruh Heaven Hills,” kataku.
“Ah…! Meski menjadi lokasi pembuangan, tempat ini memang bagus karena berada di ketinggian,” katanya. “Hei, boleh aku tanya sesuatu?”
“Apa?” kataku menoleh padanya.
“Apa semua Android sepertimu? Aku memang hanya melihat saja seseorang berkomunikasi dengan Android selama ini tanpa aku pernah mencobanya sekali pun. Tapi seperti inikah rasanya berkomunikasi dengan Android? Maksudku… kau tidak ada bedanya dengan saat aku berkomunikasi dengan manusia,” ungkapnya.
“Aku… tidak tahu apa yang kau bicarakan. Tapi aku bertingkah apa adanya,” kataku jujur.
“Yah… apa pun itu lebih baik begini. Kau tahu, sejak awal aku membenci Android karena mereka membuatku kehilangan pekerjaan,” ungkapnya sambil menatap ke depan.
“Itu yang orang-orang di sini selalu katakan,” ujarku.
“Tidak ada bedanya dengan era peperangan. Mereka tiba-tiba muncul dan mulai menginvasi. Semua orang tersingkirkan karena tergantikan dengan mesin berwujud manusia yang lebih cerdas dari manusia itu sendiri,” ujar Louis.
“Kau… dendam pada penciptanya?” tanyaku.
“Siapa? Nicolas?” Louis bertanya. Ia berpikir sejenak. “Yah… kau bisa katakan itu. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan karena dia tak lagi terlihat semenjak menjadi sukses berkat ciptaannya.”
“Apa yang akan kau lakukan jika kau benar-benar bertemu dengannya?” tanyaku.
“Aku ingin menghajarnya sekeras mungkin!” ucapnya dan tertawa. “Yah… tapi itu tak mungkin,” tambahnya. Luois membalikkan badan dan menepuk bahuku. “Ayo kita masuk. Di sini semakin dingin,” ucapnya.
“Umm… bisakah aku di sini sebentar?” pintaku.
“Rasanya kau seperti baru melihat dunia luar,” komentarnya. “Baiklah! Masuklah kalau kau sudah bosan,” tambahnya dan melangkah pergi meninggalkanku.
Sesuatu menggangguku. Bukan hanya sikap Chloe yang aneh, tapi tentang sosok yang bernama Nicolas. Aku sudah pernah meminta Chloe untuk menunjukkan fotonya padaku. Dan aku merasa tidak nyaman saat melihatnya. Aku seperti mengenal dekat sosoknya. Mungkin karena ia adalah penciptaku sehingga aku merasakan hal itu. Tapi anehnya aku tidak pernah melihat sosoknya dalam ingatanku.
Aku perlu menggali lebih dalam lagi ingatanku. Tapi aku tidak tahu apa yang menjadi pemicunya. Saat melihat foto Nicolas tidak terjadi apa-apa padaku. Saat aku melihat foto ayahnya Chloe lagi pun tidak ada reaksi seperti sebelumnya. Aku perlu sosok baru yang dapat memicu ingatanku. Seseorang… yang kulihat di mimpi terakhirku. Tapi aku tidak tahu siapa dia.
Jika saja aku bisa bertemu Nicolas, mungkin ia bisa memberitahuku semuanya dan bahkan membuatku mendapatkan semua ingatanku kembali. Ketika aku mendengar Chloe bercerita bahwa ia menghilang secara misterius tidak lama setelah Android dipasarkan secara global, itu juga sangat menggangguku. Sosok pria yang dipanggil Direktur dan Nicolas sepertinya saling berkaitan. Itu yang kurasakan. Dan aku yakin Nicolas tidak tiba-tiba menghilang begitu saja.
Aku harus mencari tahu di mana Nicolas dan siapa sosok yang dipanggil Direktur itu.
***
Ketika aku sedang dalam perjalanan pulang, aku melihat sosok Chloe duduk di teras sendirian seolah sedang menunggu seseorang. Aku berlari menghampirinya.
“Chloe, apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku. “Mari masuk. Kau bilang udara semakin dingin di luar, kan?” ajakku.
Kupikir ia akan terkejut atau setidaknya memarahiku karena aku kabur lagi dari kamarnya. Tapi yang kulihat adalah Chloe yang menatapku dengan tatapan yang tak bisa kupahami. Ia tidak terlihat marah atau khawatir karena menungguku terlalu lama. Ia terlihat seperti memikirkan sesuatu yang lain. Tatapannya memancarkan kilatan ketakutan, tapi ekspresinya kebingungan.
“Chloe, ada apa?” tanyaku.
“Nik…,” ucapnya lemah. “Aku… aku tidak tahu harus bagaimana,” katanya dan menundukkan kepala sambil menyentuh keningnya.
“Katakan padaku ada apa, Chloe?”
“Sesuatu menggangguku. Sesuatu yang kulihat… di bawah basement CyberTech,” ungkapnya.
Aku diam sesaat. Aku bangkit dari posisiku. “Ayo masuk. Kita bicarakan di dalam. Apa ibumu sudah tidur?” tanyaku.
“Dia menonton TV. Tapi kurasa dia sudah tertidur setelah makan malam,” katanya. “Uhh… aku sungguh merasa mual memikirkan semua yang kulihat akhir-akhir ini,” gerutunya.
“Maka jangan pikirkan dan beritahu padaku semuanya,” kataku. “Aku selalu menunggumu untuk memberitahuku apa yang mengganggumu. Meski aku mungkin tak mampu membantu menyelesaikannya, setidaknya aku tahu apa yang mengganggumu. Tapi kau tak pernah melakukannya.”
Chloe menatapku dengan tatapan bersalah. Aku memaksanya untuk bangkit dari duduknya karena berada di luar di cuaca dingin seperti ini tidak baik untuknya. “Beritahu aku semuanya setelah ini. Aku juga akan memberitahumu apa yang mengganggu pikiranku. Bukankah itu adil?” kataku seraya menggiringnya berjalan menuju halaman belakang untuk masuk melalui pintu ruang cuci.
Chloe tidak mengatakan apa pun dan ia diam menurut saat aku memaksanya masuk ke dalam rumah. Ia terlihat lemas. Apa yang dilihatnya di tempat kerja hingga membuatnya seperti itu? Bahkan di saat seperti ini, biasanya ia akan bergerak cepat dan waspada untuk mengawasi ibunya agar aku bisa kembali ke kamarnya dengan aman. Tapi kali ini Chloe diam saja dengan kepala tertunduk dan bersandar pada mesin cuci di belakangnya.
“Maaf, Nik. Aku… banyak sekali yang kulihat akhir-akhir ini hingga sangat menggangguku,” ucapnya akhirnya.
“Kita bicarakan ini lagi nanti di kamarmu,” kataku dan menggandeng tangannya. “Ayo. Sepertinya ibumu tertidur.”
Kami berdua keluar dari sana dan berjalan dengan hati-hati menuju tangga. Suara dari TV setidaknya dapat menolong untuk menyamarkan suara langkah kaki kami. Setelah kami sampai di lantai atas, aku menyuruh Chloe untuk masuk ke kamarnya dan aku menutup pintunya.
“Kau tidak seperti dirimu yang biasanya, Chloe,” ujarku.
“Aku tahu,” kata Chloe seraya duduk di tempat tidur.
“Katakan padaku apa yang kau lihat?” tanyaku seraya duduk di sampingnya.
Chloe diam sesaat sebelum mulai bercerita tanpa menatapku. “Jum’at kemarin aku melihat Direktur Utama CyberTech masuk ke dalam lift. Lift itu berbeda dari yang biasanya digunakan para karyawan lain, dan letaknya tersembunyi. Saat aku melihat ke lantai mana ia pergi, ia terus turun menuju lantai bawah bahkan melewati basement yang merupakan lantai terakhir gedung. Aku tidak melihat tombol untuk menuju ke sana di lift yang biasanya, jadi aku bertanya-tanya dalam hati apa yang ada di sana.”
“Lalu bagaimana caramu ke sana?” tanyaku.
“Aku menggunakan tangga darurat untuk menuju basement. Bahkan setelah di sana aku tidak melihat apa pun yang dapat mengarahkanku menuju lantai di bawahnya. Kemudian aku melihat pintu yang menuju ruang kendali listrik.” Chloe berhenti bercerita dan menoleh menatapku. “Kau tau, Dax pernah mengajariku cara membobol lubang kunci menggunakan jepit rambut. Aku membobol ruangan itu dan masuk ke sana,” lanjutnya.
“Lalu kau menemukan jalannya?” tanyaku.
“Ya,” ucapnya yang kembali menatap ke depan. “Ada tangga yang menuju ke bawah dan aku ke sana. Awalnya begitu gelap. Tapi aku terus berjalan sampai aku melihat sebuah ruangan besar yang dipenuhi dengan peralatan penelitian,” ungkapnya. Ia diam sesaat. Tapi ada pancaran kengerian dalam mata hijaunya. “Aku melihat tubuh manusia yang terbaring di sana. Lebih dari satu. Aku tak bisa mendekatinya karena ada suara seseorang yang datang. Jadi aku segera keluar dari sana.”
Chloe menoleh padaku. Ia mengatakan sesuatu, tapi aku tak mampu mendengarkan karena sedang memikirkan sesuatu. Apa yang diceritakan Chloe tentu sangat menggangguku.
“Nik! Nik!!” panggil Chloe. “Kau mendengarku atau tidak?”
“Chloe, bisa bawa aku ke tempat itu?” pintaku. “Mungkin… mungkin saja ada Nicolas di sana.”