(CHLOE)
Aku mengetuk-ketukkan kakiku ke tanah sambil menunggu Hugo dan Nik yang akan segera tiba. Tentu saja, hari ini aku akan melakukan misi membahayakan. Setelah aku memberitahukan semuanya pada Hugo soal penemuan lab misterius di lantai paling bawah gedung CyberTech, ia bersedia untuk ikut membantuku. Setelah sebelumnya aku dan Hugo telah memasang kamera pengawas agar dapat memberitahu kami kapan waktu yang aman untuk masuk ke dalam lab, sekaranglah saatnya. Lab itu hampir tidak pernah ditinggalkan sendirian selama kami mengawasinya beberapa hari ini lewat kamera pengawas.
Setelah sebelumnya Nik memintaku untuk ikut membawanya ke lab tersebut, aku tak bisa menolaknya. Ia ingin mencari sosok Direktur yang ada dalam mimpinya itu dan Nicolas. Aku pun memberitahunya bahwa Direktur itu kemungkinan besar adalah Prof. Russo. Tapi mengapa ia begitu ingin mencari Nicolas? Semua orang bahkan tidak tahu di mana keberadaannya saat ini.
Sebuah mobil yang kukenali masuk ke parkiran basement dan mencari tempat untuk memarkir mobil tersebut. Setelah mobil itu berhenti dan mesin dimatikan, dua sosok yang kutunggu-tunggu akhirnya keluar dari sana.
“Kau tidak kesulitan membawa Nik keluar, kan?” tanyaku pada Hugo mengingat aku memintanya menjemput Nik dan ikut membawanya.
“Tenang saja. Aku juga sudah membelikan ibumu makan malam dan memberitahunya bahwa kau sedang ada urusan di luar,” jelas Hugo.
Aku melihat Nik yang sedang memperhatikan seluruh parkiran basement ini. “Nik, kita hanya akan melihat apa yang ada di dalam lab itu. Kita semua tidak tahu di mana keberadaan Nicolas jadi… aku memperingatkanmu terlebih dulu,” jelasku padanya.
“Baiklah,” jawabnya.
Aku berbalik dan membuka pintu yang menuju ruang kendali listrik yang telah kubobol sejak tadi. Kami berjalan dengan hati-hati menuju ujung ruangan dan melihat sebuah pintu di sana. Aku membukanya dan terlihat sebuah tangga yang menuju ke bawah.
“Aku yang akan turun lebih dulu,” kata Hugo dan mendahuluiku untuk turun ke bawah.
Aku turun setelah Hugo dan Nik yang terakhir. Kami sampai di sebuah lorong yang sepi dan gelap yang akan mengarahkan kami menuju lab tersebut. Tempat ini hampir mirip seperti gorong-gorong, hanya saja tidak lembab. Tapi memang tercium bau yang sedikit aneh di sini. Lebih seperti bau bahan-bahan kimia.
“Kau ingat soal proyek yang kau dengar dari klien ayahmu yang pernah kau ceritakan padaku?” tanyaku pada Hugo dengan suara pelan.
“Ya. Kenapa?”
“Mungkinkah proyek ini yang dia maksud?”
“Bagaimana aku tahu. Itu bisa proyek lain. Jangan kaitkan semuanya dengan proyek X6 yang selalu kau bicarakan itu,” katanya.
Aku memutar bola mata. “Aku hanya menebak!”
Dan kami hampir tiba di lab tersebut. Di sekitar lorong inilah aku dan Hugo sebelumnya meletakkan kamera pengawasnya. Kamera itu terlihat masih ada di tempat yang sama. Sebuah kamera kecil yang tersembunyi di antara pipa-pipa lorong ini.
“Aku sudah merekam semuanya melalui kamera ini,” kata Hugo seraya mengambil kamera kecil itu. “Ini bisa menjadi bukti untuk kita bawa ke polisi.”
“Ya, tapi ini masih terlalu awal. Kita perlu tahu penelitian macam apa yang sedang mereka lakukan di sana,” kataku.
“Apa pun yang menggunakan manusia sebagai subjeknya, bukanlah hal yang bagus,” kata Hugo seraya duduk di lantai. Ia lalu mengeluarkan laptopnya dari ransel dan membukanya. “Masuklah bersama Nik. Aku akan mengawasi dari sini. Dan letakkan kamera itu di tempat yang tersembunyi, namun dapat melihat segalanya,” katanya sambil menyerahkan kamera kecil yang tadi.
“Baiklah,” jawabku mengangguk.
Aku dan Nik segera menuju lab tersebut. Setelah beberapa hari aku dan Hugo mengawasi lab ini melalui kamera pengawas, lab ini akan jadi lebih sepi setelah jam makan malam. Aku memang berniat untuk melihat-lihat saja dan meletakkan kamera kecil ini di dalam sana. Tetapi aku terdiam di sana terlalu lama karena terlalu terkejut melihat apa yang ada di depan mataku.
Ada lima tubuh manusia yang dibaringkan di dalam tempat yang terlihat seperti sebuah kapsul. Tidak. Lebih tepatnya seperti linker yang pernah muncul dulu. Banyak sekali kabel-kabel yang ditancapkan di tubuh mereka yang terhubung dengan monitor yang ada di sampingnya. Kabel itu tertancap di kedua pelipis, kedua lengan dan d**a tepat di posisi jantung. Meski aku tidak tahu secara pasti, sepertinya monitor itu untuk menunjukkan kondisi orang-orang yang terbaring di dalam kapsul seperti mayat ini.
“Chloe, apa itu?” tanya Nik yang juga melihat apa yang kulihat.
Aku tak menjawab pertanyaan Nik dan mendekati salah satu kapsul tersebut. Di dalamnya berisi seorang wanita dengan rambut hitam bergelombang. Dia terlihat begitu kurus. Aku menolehkan kepalaku untuk melihat apa yang ada di layar monitor itu. Hanya terlihat garis-garis bergelombang berwarna-warni.
Semua yang ada di dalam kapsul itu dalam keadaan yang sama. Aku masih tak mengerti apakah ini linker atau bukan, dan penelitian macam apa yang sedang dilakukan pada orang-orang ini.
“Nik, ayo kita—,” kataku terhenti karena tidak melihat keberadaan Nik di sampingku. “Nik?” ucapku dengan panik.
Jam tangan yang kukenakan menyala dan kulihat Hugo menghubungiku di sana. Aku menerima panggilannya.
“Kenapa lama sekali? Cepat letakkan kamera itu,” katanya di sana.
“Tunggu, Hugo. Nik menghilang,” kataku.
“Apa?” ucapnya terkejut.
“Aku tidak melihatnya di manapun,” kataku seraya melihat sekeliling. Kemudian aku melihat tempat yang pas untuk meletakkan kamera pengawasnya dan kuletakkan di sana. “Aku sudah meletakkan kameranya. Aku akan mencari Nik,” kataku pada Hugo.
“Tunggu, Chloe! Keluar dari sana sebelum ada yang datang!”
“Tidak sebelum aku membawa Nik,” balasku.
Chloe—,” ucap Hugo yang langsung kupotong dengan mematikan sambungannya.
Ada tiga pintu di lab ini. Mungkin Nik masuk ke salah satunya. Aku bahkan tidak merasakan apa pun saat dia pergi tadi. Sial, Nik! Kau membuat kita dalam masalah!
Aku masuk ke pintu tengah setelah di pintu yang pertama aku tidak menemukan sosoknya. Aku ingin sekali memeriksa semua yang ada di sini, tapi belum saatnya. Dan, di pintu inilah aku menemukan Nik. Tapi mengapa ia tidur di lantai seperti itu?
“Nik?” ucapku panik seraya mendekatinya yang ternyata sudah non-aktif. Aku terkejut dan segera menghubungi Hugo melalui jam tanganku. “Nik tiba-tiba non-aktif,” ucapku.
“Apa? Kau belum mengisi daya baterainya tadi?”
“Aku sudah mengisinya kemarin!”
“Chloe, kumohon cepat keluar dari sana. Bawa saja Nik di punggungmu,” kata Hugo di sana dengan suara panik.
Aku bangkit dan bermaksud membawa Nik di punggungku. Tapi aku berhenti karena begitu terkejut melihat apa yang ada di hadapanku.
“H-Hugo… Hugo!” panggilku melalui jam tanganku dengan suara bergetar.
“Apa lagi?!” jawab Hugo dengan kesal. “Jika kau tidak segera keluar dari sana, aku bersumpah akan mengeluarkanmu secara paksa,” tambahnya.
“Nicolas…,” ucapku. “Aku melihat Nicolas… terbaring di dalam kapsul di hadapanku.
“Apa?” ucap Hugo terkejut.
“Tolong kemarilah dan bantu aku membawanya,” kataku cepat dan langsung mematikan sambungannya.
Aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya pada Hugo. Penutup kaca kapsul ini sudah terbuka, dan entah kenapa semua kabel yang menancap di tubuhnya sudah tercabut. Apa Nik yang melakukannya? Aku pun tidak punya banyak waktu untuk berpikir dan segera mengeluarkan tubuh Nicolas yang sekarang menjadi begitu kurus dari sana.