(CHLOE)
Aku menatap hujan yang turun, lalu beralih menatap ponsel dalam genggamanku yang baru saja berbunyi. Ada sebuah pesan balasan masuk dari Hugo setelah aku mengirimnya pesan beberapa menit yang lalu soal yang kurasakan. Saat aku akan membukanya, terlihat dari sudut mataku seseorang keluar dari gedung.
“Chloe? Kukira kau sudah pulang.”
Aku menoleh dan melihat Elena. “Oh, aku hanya ingin berhenti sejenak,” kataku.
“Kau membawa payung? Jika tidak aku bisa mengantarmu ke halte bus,” tawarnya seraya membuka payung yang ia bawa.
“Tenang saja. Aku membawanya,” kataku berdusta. “Kau bisa pulang lebih dulu. Aku hanya ingin di sini sebentar,” tambahku.
“Baiklah. Sampai ketemu besok!” pamitnya dan melangkah pergi.
Aku membuka pesan balasan Hugo dan membacanya.
‘Di mana kau sekarang?’
Aku mengetik balasan.
‘Dalam perjalanan pulang.’
Aku memasukkan ponselku ke saku jaket kembali. Aku tidak bisa diam di sini terlalu lama. Masih ada ibuku yang menungguku untuk memasak makan malam untuknya. Kemudian aku berlari menerobos hujan dan mencari tempat teduh terdekat. Aku merasakan ponselku bergetar dan mengambilnya kembali. Hugo mengirim pesan lagi.
‘Kau masih belum mengubah pikiranmu untuk membawanya ke rumah sakit?’
Aku membalas,
‘Tidak. Semakin tidak ada yang tahu semakin baik.’
Aku memasukkan kembali ponselku dan lalu melihat sekeliling untuk mencari tempat teduh lain. Setelah menemukannya aku berlari ke sana. Hujannya cukup deras. Jika tidak aku bisa langsung menerobosnya dan menuju halte bus. Alasanku menolak tawaran Elena tadi karena aku masih kurang nyaman berada di dekat siapa pun, terutama setelah aku dan Hugo kembali dari lab rahasia itu. Sudah tiga hari berlalu dan aku masih belum bisa tenang setelah membawa Nicolas keluar dari sana. Ini adalah perasaan seorang pencuri amatir yang baru saja melakukan aksi pertamanya dengan mencuri sesuatu yang sangat berharga.
Aku kembali berlari menuju tempat teduh yang lain. Semenjak hari itu pula aku selalu khawatir saat pergi ke CyberTech. Aku tahu bahwa Prof. Russo jarang terlihat, dan tidak mungkin juga ia akan memperhatikan mahasiswa magang. Tapi aku selalu khawatir bahwa suatu saat ia tiba-tiba akan memanggilku karena tahu aku lah yang membawa Nicolas keluar dari sana. Meski kekhawatiran itu juga tak bisa disepelekan, tapi pada kenyataannya sampai saat ini aku tidak melihat Prof. Russo, atau mendapat panggilan darinya.
Setelah aku berhasil meletakkan kamera kecil ke dalam lab tersebut di hari itu, aku dan Hugo sudah dapat melihat aktivitas apa saja yang orang-orang itu lakukan di sana. Selama tiga hari ini kami mengawasi, tidak banyak yang diakukan selain hanya sesekali mengawasi monitor kecil di dekat tiap kapsul itu dan mencatatnya. Itu linker. Aku yakin sekali. Orang-orang itu sudah menyelesaikannya namun tidak pernah membeberkannya pada publik, dan justru melakukan eksperimen gelap secara diam-diam.
Orang-orang dalam linker itu terhubung dengan Android. Meski belum bisa dipastikan kebenarannya, bukti-bukti kuat seperti beberapa Android yang menunjukkan sikap aneh sudah banyak terlihat. Meski memindahkan jiwanya ke dalam benda, manusia akan tetap menjadi manusia. Mereka memiliki perasaan. Ini masuk akal. Terlebih, Nik tak sadarkan diri setelah mencabut semua kabel yang menancap di tubuh Nicolas di dalam linker waktu itu. Setelah aku mengisi daya baterainya sampai penuh pun aku tak bisa mengaktifkannya lagi. Nik adalah Nicolas.
Aku berlari menuju halte bus yang hanya berjarak beberapa meter saja dari tempatku meneduh. Yang masih berputar di dalam kepalaku adalah, mengapa? Mengapa mereka tega melakukan itu bahkan pada Nicolas sendiri? Bukankah sama saja seperti membunuh meski tubuh asli orang-orang itu masih bernapas? Jika aku bertanya pada Nicolas mungkin ia akan mengetahui jawabannya. Bukankah ia bilang ia kenal dekat dengan Direktur dalam mimpinya itu yang merupakan Prof. Russo? Mungkin saja ia juga tahu soal keberadaan ayahku.
Aku masuk ke dalam bus yang sudah berhenti di sana saat aku tiba. Di dalam cukup penuh, dan aku kedinginan karena menerobos hujan. Entah sampai berapa lama ia akan membuka mata, atau apakah ia sungguh Nik, aku hanya bisa menunggu.
Sesampainya aku di rumah, aku disambut oleh ibuku yang bertanya, “Apa yang terjadi padamu?”
Tidak biasanya ia menanyakan keadaanku sesaat setelah melihat kepulanganku. “Hanya kehujanan. Aku baik-baik saja,” kataku seraya berjalan menuju tangga. “Aku akan mengganti pakaianku sebentar.”
Setibanya di lantai atas dan di kamarku, aku melihat Nicolas yang masih terbaring dengan kondisi yang sama; lemah, kurus, dan sebuah selang infus yang menancap di lengan kanannya. Aku melepas tas dan jaketku yang basah, lalu mendekatinya dan memperhatikan cairan di dalam kantong infus yang sudah tinggal setengah.
“Kapan kau akan membuka matamu?” tanyaku dengan suara pelan.
Aku membuang napas dengan keras, menyibakkan rambutku ke belakang, berbalik dan berjalan menuju pintu. Aku mengambil pakaianku yang kugantung di gantungan dekat pintu dan keluar dari kamar untuk menuju kamar mandi. Setelah mengganti pakaianku yang basah dan mencuci muka, aku keluar dari sana dan langsung turun untuk memasak makan malam.
“Aku hanya ingin kau tahu bahwa obatnya sudah habis,” kata ibuku saat aku tengah berjalan ke dapur.
“Obat apa?” tanyaku.
“Yang kau beri waktu itu.”
Aku mengerutkan kening sambil berpikir. Mungkin maksudnya adalah obat yang diberikan Marianne waktu itu. Aku baru membelikannya obat antidepresan beberapa hari yang lalu. “Ah, ya,” ucapku dan melihatnya sejenak. “Ibu tak perlu meminumnya lagi. Ibu sudah membaik,” kataku jujur.
Aku membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan masakan sebelum mulai memasak. Akhir-akhir ini ibuku memang sudah jarang membuat kekacauan. Tapi bukan berarti ia tidak akan lagi menanyakan soal keberadaan Ayah. Aku tidak tahu sampai kapan aku harus terus menjawab ‘aku masih belum menemukannya’ bahkan hingga bertahun-tahun kemudian.
Setelah aku selesai membuat makan malam, aku membawanya menuju meja makan dan makan bersama ibuku. Aku juga tidak tahu apakah aku masih akan tetap bertahan di CyberTech sampai setelah apa yang aku dan Hugo lakukan. Tapi aku berharap aku masih bisa tetap bertahan hingga magang berakhir.
“Jangan tidur terlalu malam dan jangan banyak menonton acara yang ada robot itu,” kataku seraya membawa piring bekas makan kami ke tempat cuci piring. “Aku akan ke kamar duluan,” kataku dan berjalan menuju tangga.
Sesampainya di kamar aku hampir tak bernapas melihat apa yang ada di depan mataku. Nicolas sudah membuka matanya dan ia sedang memperhatikan tangannya sendiri. Melihatku yang berdiri di depan pintu, ia menoleh. Ia membuka mulutnya, namun tak ada suara yang keluar. Ia lalu memegang tenggorokannya sendiri. Tentu saja ia akan merasa kering dan sakit di sana. Ia sudah lama tak menggunakan suaranya
“T-tunggu. Tunggu sebentar,” kataku dan keluar lagi dari kamar. Aku segera turun untuk mengambil segelas air di dapur dan kembali lagi ke kamar lalu memberikan gelas itu padanya.
Nicolas memandang segelas air yang kuberikan dengan tatapan bingung. Ia lalu menatapku. Ada apa dengannya? Tapi sebelum aku menanyakannya ia sudah menelan air itu dan terbatuk setelahnya. Ia bahkan terlihat terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya.
Kulihat pandangan matanya beralih pada sosok Nik yang sudah tidak aktif yang duduk di dekat jendela. Benar. Aku meletakkan Nik di sana semenjak aku membawa Nicolas. Ia tak pernah bisa diaktifkan lagi berapa kali pun aku mencobanya.
“Ah, itu…,” ucapku bermaksud menjelaskan. Tapi aku tak lagi bisa melanjutkan setelah Nicolas menyebut namaku.
“Chloe,” ucapnya. Suaranya masih sedikit aneh karena ia sudah lama tak berbicara.
“Kau… tahu namaku?” kataku terkejut.
Ia tak mengatakan apa pun dan hanya menatapku. Aku mulai menatapnya curiga. Aku beralih menatap Nik dan kembali lagi menatapnya. Aku mulai menyadari sesuatu dan itu seperti sebuah petir yang menyambarku.
“Nik? Kau… sungguh Nik??”