Wake Up

1397 Words
(CHLOE) Aku memperhatikan anak-anak yang sedang bermain bola di lapangan kecil yang ada di seberang rumahku. Tawa dan teriakan kegirangan terdengar dari mereka yang baru saja mencetak gol ke gawang lawan. Aku membuang napas dengan berat. Sungguh menyenangkan sekali jadi mereka. Tak perlu memikirkan apa pun selain hanya mengisi kesenangan. Aku mendongak dan melihat langit kelabu. Uapan-uapan yang keluar dari hidung dan mulutku menguar di udara “Hai, Chloe,” panggil seseorang. Aku melihat Celena yang berdiri di depan rumahku. Ia tersenyum dan masuk ke halaman rumah. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya seraya duduk di sampingku. “Bersantai saja. Banyak hal yang kupikirkan,” kataku. “Yah… kita sama,” katanya dan tersenyum tanpa menatapku. Aku menoleh menatapnya. “Kau masih mengkhawatirkan Sebastian?” tanyaku. “Kalau kau punya saudara yang tiba-tiba menghilang, kau akan selalu memikirkannya setiap detiknya,” ujarnya. “Maaf aku belum bisa banyak membantu,” ucapku. “Aku hanya berharap dia baik-baik saja di manapun dia berada,” ungkapnya. “Bagaimana kabar ibumu, Chloe?” tanyanya menoleh padaku. “Sedikit membaik,” kataku tersenyum. “Senang mendengarnya,” katanya dan kembali menatap ke depan. Untuk beberapa saat kita tidak saling berbicara dan hanya menatap apa yang kami lihat di depan kami. “Ini salahku yang membuatnya harus putus kuliah. Kalau saja aku tidak memberitahunya bahwa aku dipecat dari tempat kerjaku dulu, ia tidak akan memutuskan untuk menghentikan kuliahnya dan harus membantuku mencari uang,” kata Celena bercerita. “Apa mereka memecatmu karena Android?” tanyaku. “Apa lagi? Keberadaan kita sudah tergeser oleh mesin super pintar. Tidak perlu menunggu waktu lama sampai kita semua mati kelaparan dan Android yang akan mengisi kota ini,” ujarnya. Aku tidak berkata apa pun. Terkadang aku merasa aneh saat mendengar kisah hidup lain orang-orang yang ada di sini. Terasa begitu asing mengetahui bahwa sebelumnya orang-orang di sini memiliki pekerjaan dan jabatan yang berbeda-beda dan saling tidak mengenal sebelum berakhir di sini dan berada di posisi yang sama. Aku mendengar pintu di belakangku terbuka dan melihat ibuku di sana. Aku langsung bangkit berdiri. “Ada apa, Bu?” tanyaku. “Aku ingin jalan-jalan,” jawabnya. “Ah…,” ucapku dan menatap Celena. “Maaf Celena, aku harus menemani ibuku.” “Tidak apa-apa. Aku akan pulang sekarang,” pamit Celena dan melangkah pergi dari rumahku. Aku menggandeng tangan ibuku dan kami berjalan keluar dari halaman rumah. Sebenarnya masih ada yang perlu kuurus di dalam rumah, jadi aku ingin meminta Tn. Elijah untuk menemani ibuku menggantikanku. Tapi aku tidak melihat keberadaannya di manapun dan justru menemukan Dax. “Dax!” panggilku. Ia yang sedang berbicara dengan temannya menoleh dan berlari menghampiriku. “Apa?” tanyanya. “Bisa kau menolongku? Temani ibuku jalan-jalan sebentar. Ada yang perlu kuurus di dalam rumah,” kataku. Ia tidak mengatakan apa pun tapi tatapannya yang menatapku seolah mengatakan ‘kau bercanda, ya?’. Bisa kumengerti karena hanya Tn. Elijah saja yang menemani ibuku saat di luar selama ini. “Kumohon. Kau hanya perlu menemaninya saja. Tidak perlu membawanya terlalu jauh,” pintaku. “Oke, oke,” balasnya dengan helaan napas. Aku bisa melihat ekspresi keberatan di wajahnya. “Aku bisa membawanya menemui teman-temanku?” Aku berhenti saat aku berbalik badan. Aku menatap Dax dengan alis saling bertaut. “Ya. Selama itu aman,” kataku dan kembali berjalan masuk ke rumah. Aku bisa mempercayakan ibuku pada Dax. Sekarang aku hanya perlu mengurus satu orang saja di dalam rumah. Aku bergegas naik ke lantai atas dan menuju kamarku. Setelah masuk ke dalam, aku tidak melihat Nicolas di tempat tidurku. Aku menoleh dan melihatnya duduk di pinggiran jendela. Seperti saat ia masih berada di tubuh Android. “Kupikir kau belum bisa berjalan?” ucapku. “Aku mencoba berlatih,” katanya dengan suaranya yang sudah mulai membaik. “Kenapa kau menyerahkan ibumu pada Dax?” “Oh! Aku masih perlu melihat keadaanmu,” kataku dan mengusap leher belakangku. “Apa kau baru bangun?” “Tidak,” jawabnya. “Aku akan membawakanmu sarapan,” kataku dan berbalik untuk menuju pintu. “Chloe,” panggil Nicolas. Aku menoleh. “Maaf merepotkanmu,” ucapnya. “Kita akan berbicara panjang setelah kau bisa mengingat semuanya,” kataku. Aku membuka pintu dan keluar dari kamar. Aku kembali lagi ke kamar setelah mengambil sarapan dan menambah air minum di gelasnya dari dapur. Kini aku melihatnya duduk di lantai dan memperhatikan Nik yang ada di sampingnya. “Aku masih terkejut bahwa aku adalah manusia,” ujarnya. “Dan melihat bahwa selama ini aku menggunakan tubuh itu sangatlah menakutkan.” “Dan kau mencari dirimu sendiri,” tambahku seraya berjalan mendekatinya dan duduk di hadapannya. Aku ingat ia begitu ingin menemukan keberadaan Nicolas saat ia masih Nik. “Kuharap kau tidak mengeluh karena kau masih perlu makan bubur,” kataku setelah melihat ekspresinya yang menatap sarapan bubur yang kuberikan dengan keengganan. “Aku tidak bisa melakukannya karena kau susah payah merawatku,” ujarnya seraya memegang sendok. Ia mulai menyendok bubur itu dan melahapnya meski ekspresinya tidak menunjukkan rasa puas. “Aku juga masih terkejut karena Nicolas Eugene berada di hadapanku,” ucapku dan melihatnya mengangkat pandangannya untuk menatapku. “Perlu bantuan untuk memakannya?” “Tidak perlu. Aku sudah bisa menggerakkan tanganku dengan baik,” katanya dan kembali melanjutkan makannya. “Jadi… kau belum bisa mengingat apa pun mengapa kau bisa berakhir di lab itu?” tanyaku. “Aku bahkan belum bisa mengingat alamat rumahku sendiri, Chloe,” balasnya. Entah mengapa mendengarnya menyebut namaku ada perasaan aneh yang kurasakan. Maksudku, tentu awalnya kita tidak saling mengenal. Dia seorang ilmuwan muda terkenal sedangkan aku hanya orang biasa. Tentu aku pernah memiliki keinginan untuk bertemu dengannya dan belajar darinya. Tapi melihat sosoknya kini yang ada di hadapanku, memakan bubur yang kubuat, telah saling mengenal dan mendengarnya menyebut namaku rasanya seperti mimpi saja. Dan sejujurnya aku cukup senang. Ponselku berbunyi. Aku bangkit berdiri dan mengambil benda itu yang kuletakkan di meja belajarku. Nama Hugo tertera di sana. Aku menerima panggilannya. “Ya?” jawabku. “Apa yang kau lakukan sekarang?” tanyanya di sana. Aku melirik Nicolas yang masih menikmati buburnya. “Tidak ada,” jawabku. “Apa yang dia lakukan sekarang?” Aku kembali melirik Nicolas, namun kali ini ia menatapku. Aku melangkah menuju pintu dan keluar dari kamar. “Dia sedang sarapan. Ada apa?” kataku setelah berada di luar kamar. “Bagaimana keadaannya?” “Sedikit membaik, tapi belum bisa terlalu lancar berjalan,” ungkapku soal kondisi Nicolas. “Jadi, ada yang perlu kau sampaikan?” “Aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar,” katanya. “Mengapa tidak kemari saja?” “Kau tahu, aku masih merasa agak canggung untuk bertemu Nicolas. Maksudku… kau tahu selama ini kita menganggap Nik hanya Android aneh tanpa kecurigaan apa pun bahwa sebenarnya ia adalah manusia, dan seorang Nicolas Eugene,” katanya. “Yeah. Aku bisa mengerti,” ucapku. Lagipula Nicolas sendiri pernah bilang ia kurang suka dengan Hugo. Dia cemburu melihat kedekatanku dengan Hugo karena dia menyukaiku? Tidak, itu tidak mungkin. “Jadi kapan kau akan kemari?” “Mungkin dalam waktu dekat. Entahlah,” jawabnya. Aku diam sesaat. Kupikir Nicolas telah selesai memakan buburnya. “Aku akan menutup teleponnya. Masih ada yang perlu kulakukan,” kataku. Aku tidak mendengar jawaban Hugo selama beberapa saat. “Bukankah ini saatnya merawatnya di rumah sakit agar dia mendapatkan perawatan yang lebih baik?” usulnya. Aku membuang napas melalui hidung. “Tidak, Hugo. Dan jangan dulu membawa bukti video itu pada polisi. Kita juga perlu mendengar dari Nicolas terlebih dulu. Aku akan menutup teleponnya. Dah!” kataku dan mematikan sambungannya. Aku berjalan menuju kamarku dan kembali ke dalam. Kulihat Nicolas sudah dalam posisi berdiri dan satu tangannya berpegangan pada pinggiran jendela tempat biasanya ia duduk. Sedangkan tangannya yang lain membawa mangkok sarapannya. Aku berjalan mendekatinya dan kulihat bubur di dalamnya sudah habis meski tidak benar-benar bersih. Aku mengambil mangkok itu darinya. “Hugo?” tanyanya. “Apa?” “Telepon yang tadi.” “Ah! Ya,” jawabku. Aku berbalik dan akan pergi untuk membawa mangkok itu ke bawah. Tapi kurasakan Nicolas menarik bajuku. “Apa?” tanyaku. “Apa dia akan kemari?” “Tidak. Untuk saat ini,” jawabku. Aku tidak bisa mengatakan kalau Hugo merasa canggung untuk bertemu dengannya. “Kau…,” ucapku, bermaksud ingin bertanya apakah dia masih kurang suka terhadap Hugo. Tapi aku mengurungkannya. “Tidak. Tidak ada,” lanjutku dan kembali berjalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD