(CHLOE)
Berita hilangnya keberadaan Nicolas pernah menjadi berita menggemparkan selama berminggu-minggu, bahkan hampir dua bulan. ‘Sang ilmuwan muda pencipta Android tak terlihat lagi setelah ciptaannya mendunia,’ begitulah kira-kira judulnya. Aku ingat banyak sekali wartawan yang mengerumuni gedung CyberTech demi mendapatkan informasi tentang Nicolas. Setiap kali Direktur Utama CyberTech, Edmond Russo muncul, para wartawan akan mengerumuninya. Namun Russo tak pernah membuka mulutnya.
Pernah sekali ada salah satu dari karyawan di sana yang mengatakan kepada para wartawan bahwa Nicolas sedang berlibur untuk beristirahat. Berita keberadaannya sempat mereda karena kabar itu. Tapi tak berselang lama, para wartawan itu kembali untuk mencari informasi yang lebih dalam tentang lokasi Nicolas berlibur. Tetapi kemudian berita tentang Nicolas tak lagi disorot dan digantikan oleh berita tentang benda ciptaan CyberTech terbaru yang bernama linker.
“Terima kasih untuk hari ini, Chloe,” ucap Marianne saat aku akan pamit untuk pulang setelah selesai bekerja. “Jaga ibumu baik-baik. Dan… ini,” katanya dan memberikan sebuah obat padaku.
“Apa ini?” tanyaku.
“Obat untuk nafsu makan. Berikan itu pada ibumu. Kau selalu mengeluh ia susah makan.”
“Kau tahu, jangan terlalu sering seperti ini padaku,” kataku dan menerima obat tersebut. “Tapi terima kasih banyak.”
Marianne tersenyum. “Anggap saja hadiah untuk ibumu. Kuharap ia segera membaik dan ayahmu bisa segera ditemukan.”
“Kuharap begitu,” ucapku. “Baiklah, aku pulang dulu,” pamitku.
“Hati-hati!”
Aku membuka pintu kaca dan keluar dari apotek. Jalanan masih basah karena hujan yang baru reda beberapa jam yang lalu. Aku berjalan menuju halte bus sambil menatap sekitarku. Bahkan di hampir tengah malam pun, pusat kota masih sangat ramai, terutama oleh Android. Aku mendongak, menatap langit malam yang tak begitu terlihat karena polusi cahaya lampu yang memenuhi pusat kota dan menyilaukan mata. Berbeda dengan Heaven Hills yang langitnya masih bisa terlihat cukup jelas karena banyak dari lampu jalanan di sana yang sudah tak menyala.
Aku menghembuskan napas, menimbulkan uapan yang keluar dari mulutku dan menguar di udara. Musim gugur akan segera tiba melihat dari suhu yang terus turun setiap harinya. Itu adalah saat di mana para penghuni Heaven Hills mulai berjuang keras untuk mencari tempat hangat. Aku pun tak memiliki penghangat di dalam rumah karena itu akan menambah biaya perbulannya yang tak bisa kupenuhi. Beruntungnya aku sudah mengumpulkan kayu kering dan menyimpannya di gudang dari bulan-bulan lalu.
Ponsel di saku celanaku bergetar. Aku mengambilnya dan melihat satu pesan yang masuk. Itu dari Hugo. ‘Hubungi aku kalau kau sudah selesai bekerja,’ tulisnya. Aku langsung meneleponnya. Pada dering kedua dia mengangkatnya.
“Tak kusangka kau akan langsung menghubungiku,” katanya di sana.
“Aku baru saja selesai. Kau di mana sekarang?”
“Aku masih di kampus. Ada tugas kelompok yang perlu kuselesaikan. Hahh…,” keluhnya.
Aku tertawa. “Jangan begitu. Bukankah kau bilang ingin cepat lulus?”
“Ya, benar. Itulah tujuanku,” balasnya. “Omong-omong di mana kau sekarang? Rasanya aku seperti mendengar keramaian?”
“Aku sedang berjalan menuju halte bus sekarang.”
“Aa…,” ucapnya. “Hei, Chloe. Kau ada waktu hari minggu ini?” tanyanya.
“Kenapa?”
“Sudah lama kita tidak keluar bersama,” ungkapnya.
“Ah, itu…,” ucapku pelan. Dulu saat masih remaja, aku dan Hugo sering keluar bersama. Kami mengunjungi berbagai tempat untuk bersenang-senang. Tapi di hari itu, beberapa hari sebelum kelulusan SMA tiba, Hugo menyatakan perasaannya padaku. Aku pernah memiliki prasangka bahwa Hugo menyimpan perasaan padaku. Aku tak menyangka bahwa itu benar. Tapi Hugo tahu sejak awal aku tak memiliki perasaan yang sama dengannya, dan ia hanya ingin aku tahu tentang perasaannya. Sejak pernyataannya itu kami tak lagi keluar bersama. Apalagi kami disibukkan oleh persiapan ujian untuk masuk Universitas. Setelah kami kuliah pun, kami jadi jarang bersama karena keadaanku juga sedang sulit.
“Kau tahu sendiri aku tak bisa meninggalkan ibuku sendirian terlalu lama,” kataku.
“Kau tetap tak mau membawanya ke rumah sakit?” tanyanya.
“Di samping karena aku tak punya uang, adakah rumah sakit yang tidak mempekerjakan Android sebagai petugas kebersihan?”
Hugo terdiam. Ia juga tahu sekarang hampir semua tempat menggunakan Android untuk pekerjaan-pekerjaan yang ringan. Aku menghela napas. “Sudahlah, aku memang tidak ingin pergi ke manapun saat ini.”
“Jika kau butuh bantuan, hubungi aku kapan pun.”
“Tentu. Terima kasih,” ucapku dan mematikan sambungannya.
Aku menghela napas sekali lagi dan menutup mata dengan tanganku. Sebenarnya aku juga ingin sedikit memberi jarak pada Hugo karena aku tak ingin terlihat memberi harapan padanya. Aku kembali berjalan dan sampailah aku di halte bus. Ada tiga Android dan seorang pria yang sedang menunggu di sana. Aku duduk di samping pria itu. Aku bermain ponsel sebentar sebelum bus yang kutunggu tiba. Saat aku beranjak dan akan naik ke bus, aku melihat masih ada satu Android perempuan yang duduk diam di bangku. Aku bingung dan mendekatinya.
“Claire…,” panggilku setelah melihat nama di d**a kirinya. Namun ia tak berkutik. Kupikir dayanya telah habis. Aku pun memegang bahunya. “Claire!” panggilku sekali lagi.
Seperti baru saja tersadar, Claire akhirnya mendongak menatapku. “Ya, Nona?”
“Bukankah kau ingin naik bus? Pemilikmu sudah menunggumu,” kataku.
“Ah! Maaf,” ucapnya dan bangkit. “Terima kasih,” tambahnya padaku dan ia naik ke bagian belakang. Aku tidak salah lihat, kan? Ia bertingkah hampir seperti… manusia.
Aku segera menghilangkan pemikiran aneh itu dan masuk ke dalam bus. Semakin bus ini menuju halte bus yang ada di dekat Heaven Hills, semakin sedikit penumpang yang ada di dalam. Aku juga mencoba untuk memperhatikan Android bernama Claire selama perjalanan tadi. Ia turun di daerah yang tidak jauh dari tempat kami naik. Entah kenapa ia lebih mencolok dari Android yang lain. Mungkin karena ia seperti menunjukkan ekspresi orang yang sedang linglung. Demi apa pun! Itu pertama kalinya aku melihat Android menunjukkan sebuah ekspresi.
Bus akhirnya sampai di halte tujuanku dan aku adalah penumpang terakhir yang tersisa. Aku turun dan berjalan kaki menuju distrik Heaven Hills yang tidak terlalu jauh dari halte bus. Dalam perjalanan itu, aku melihat sebuah gunungan di tempat yang disebut tempat pembuangan rongsokan besi. Lampu-lampu di sana menyala begitu terang bahkan menyilaukan hingga di tempatku berdiri sekarang. Ada sebuah mesin pengeruk yang sedang bekerja mengumpulkan semua rongsokan itu dan membuangnya hingga menjadi gunungan setinggi itu. Itu adalah tempat pembuangan milik CyberTech.
Aku berjalan lebih dekat ke pagar pembatas tempat itu untuk melihat lebih dekat. Aku ingat saat aku baru pindah ke wilayah ini, aku berjalan-jalan di sekitar sini dan melihat tempat pembuangan ini. Itu adalah kali pertama aku terpukau dengan betapa banyaknya rongsokan-rongsokan besi yang menumpuk hingga menjadi sebuah bukit yang tinggi. Semua produk CyberTech yang gagal dan sudah tidak berguna akan dihancurkan dan dibuang di sini, termasuk Android. Selain itu, banyak dari warga Heaven Hills yang menerobos ke tempat ini untuk mencuri semua besi dan metal itu, dan dirakit menjadi barang-barang yang menurutku menakjubkan.
Aku harus segera pulang, batinku setelah tersadar bahwa aku sudah berdiri di sana cukup lama. Aku harus cepat sampai di rumah untuk melihat keadaan ibuku atau ia akan membuat kekacauan.
Saat aku akan beranjak pergi, tiba-tiba sorotan lampu dari mesin pengeruk itu mengenaiku dan membuatku menyipitkan mata karena silau.
“Apa-apaan!” ucapku cukup kesal.
Aku kembali berjalan. Tapi aku berhenti lagi karena mataku menangkap sesuatu di bawah jembatan yang ada di depan sana. Ada sesuatu di dekat sungai yang ada di bawah jembatan itu. Aku berlari. Aku tahu dengan pasti yang kulihat itu bukanlah sesuatu yang biasa. Aku mencari jalan untuk turun ke bawah. Aku perlu berhati-hati karena jalannya yang licin. Setelah sampai di bawah aku segera menuju ke bawah jembatan. Aku terkesiap dan menutup mulutku begitu melihat apa yang ada di depan mataku. Itu adalah sesosok Android laki-laki yang sudah ditelantarkan.