(CHLOE)
Aku mendekati Android itu. melihat secara keseluruhan, kondisinya masih cukup baik. Terlalu baik. Tidak ada goresan apa pun selain hanya debu-debu dan kotoran yang menempel akibat berada di sini yang entah sudah berapa lama. Aku tidak bisa memeriksanya apakah ia rusak karena di sini terlalu gelap. Terlebih aku tidak yakin apakah aku bisa membawanya pulang. Ada sebuah tombol kecil di tengah dadanya untuk mengaktifkannya. Tapi aku tidak bisa melakukan itu sekarang.
Aku ingin membawa Android ini pulang. Tapi aku juga sadar bahwa Android bukanlah benda yang bisa ditelantarkan begitu saja meski rusak. Aku khawatir Android ini masih belum ditemukan pemiliknya. Dan jika aku mengaktifkannya, pelacak di dirinya akan ikut menyala dan pemiliknya akan mengetahui lokasinya. Bagus jika pemiliknya tak menganggap aku mencurinya dan melaporkanku ke polisi.
Aku bimbang. Tapi anehnya, Android ini tak mengenakan seragamnya, jadi aku tak tahu siapa namanya dan ia Android tipe apa. Ia seperti Android yang kabur dari toko. Membawanya mungkin bisa membahayakanku, tapi meninggalkannya seperti ini rasanya seperti membuang keberuntungan.
“Bagaimana ini…?” gumamku pada diri sendiri karena bimbang.
Setelah menimbang-nimbang, lebih baik jika aku membawanya saja. Mari lupakan dulu soal risiko buruknya. Pada faktanya belum pernah ada kasus Android yang kabur dari toko atau pemiliknya. Aku menyentuh kedua lengannya dengan hati-hati seolah itu benda yang mudah pecah. Aku mengangkatnya. Kuharap ini aman, batinku. Aku lalu memutar tubuhku dengan berjongkok, lalu mengangkat tubuh Android itu dan meletakkannya di punggungku.
Aku keluar dari bawah jembatan. Lampu sorot mesin pengeruk itu tidak akan sampai ke sini. Aku berjalan dengan hati-hati untuk naik ke atas kembali. Aku membawa Android it uke atas terlebih dahulu sebelum diriku sendiri. Akan sulit naik sambil menggendongnya di punggung mengingat tanah yang licin akan membuatku terpeleset dan jatuh ke bawah. Setelah berhasil naik, aku kembali menggendongnya di punggungku dan melangkah pergi dari tempat itu.
Ada berbagai macam pertanyaan di dalam kepalaku tentang Android di punggungku ini. tapi yang lebih penting sekarang adalah agar aku bisa segera sampai di rumah. Berjalan dengan menggendong Android terasa jauh lebih lama dibandingkan biasanya. Padahal robot ini tidak terlalu berat—dan aku baru mengetahuinya. Tapi aku khawatir akan reaksi orang-orang saat aku sampai di Heaven Hills. Meski ada mantan kriminal yang tinggal di sana dan masih melakukan aksi pencurian, nyatanya mereka tidak pernah mencuri Android. Atau terlalu takut mengingat mata Android juga adalah sebuah kamera yang mampu merekam segalanya. Setelah perjuangan yang cukup berat, tibalah aku di Heaven Hills.
Aku melihat para tunawisma berkumpul mengelilingi sebuah tong yang digunakan sebagai perapian untuk menghangatkan diri. Awalnya mereka saling mengobrol dan sesekali diikuti tawa yang keras, sampai kemudian mata salah satu dari mereka menangkapku dan menunjukkan ekspresi terkejut. Itu mengundang yang lain untuk ikut menatapku dan juga menunjukkan ekspresi yang sama. Aku merasa kurang nyaman, tapi aku harus terus berjalan agar bisa segera sampai di rumah.
“Hei. Hei! Chloe!” panggil suara di belakangku.
Aku berhenti dan menoleh. Aku mengenali suara panggilan itu. Benar saja, itu Dax. Salah satu yang kukenal di kawasan ini. Ia adalah sosok pria muda yang memiliki rambut berwarna merah hasil cat. Sayangnya ia adalah seorang pencuri. Tapi sisi baiknya ia ramah dan baik pada semua penghuni Heaven Hills. Ia menghampiriku.
“Dari mana kau mendapatkan itu?” tanyanya.
“Di bawah jembatan,” jawabku jujur.
“Kembalikan sekarang, Chloe,” perintahnya.
“Tidak,” balasku dan melangkah melewatinya. Tapi ia kembali menghentikanku dengan mencengkeram lenganku.
“Aku mungkin pencuri, tapi aku tidak akan mencuri benda yang membahayakan seperti ini. Kembalikan benda itu ke tempat asalnya. Ini demi keselamatanmu, Chloe.”
“Tidak akan terjadi apa-apa, Dax. Aku bahkan belum mengaktifkannya,” kataku mulai sedikit kesal. Aku menarik paksa lenganku. “Aku tahu pasti risiko yang akan kuhadapi kalau aku membawa Android ini. Tapi aku benar-benar membutuhkannya.”
Dax berdecak kesal dan terlihat bingung harus mengatakan apa lagi. “Jika kau benar-benar butuh bantuan, bilang saja padaku. Jangan membawa Android seperti ini,” katanya. “Kau tahu kan banyak orang-orang di sini yang tidak menyukai Android?”
“Aku tahu. Tapi sayang jika harus membiarkannya. Jadi aku membawanya,” kataku.
Ia menghela napas tanda menyerah. “Baiklah, baiklah. Sepertinya berbicara seperti apa pun tak akan kau hiraukan. Tapi aku sudah memperingatkanmu. Kalau kau dalam bahaya karena robot ini, aku tak bisa membantumu.”
“Aku mengerti,” jawabku.
“Kemarikan dia. Biar aku yang membawanya,” katanya.
Aku menyerahkan Android di punggungku dan memberikannya pada Dax yang kini menggendongnya di bahunya.
“Omong-omong kau tidak ke pusat kota?” tanyaku. Setiap malam Dax dan kawanannya akan pergi ke sana untuk melakukan aksinya.
“Tidak. Aku tidak harus ke sana setiap hari,” katanya. “Kau bilang menemukannya di bawah jembatan, kan? Kenapa aku tak pernah melihatnya meski aku sering melewatinya?”
“Aku tidak tahu,” jawabku mengedikkan kedua bahu. “Anggaplah aku yang beruntung.”
Setelah kami sampai di depan rumahku, aku menyuruh Dax untuk berdiam di tempat terlebih dulu sementara aku memeriksa apakah ibuku ada di dalam sana. Aku sedikit membuka pintu dan melihat keadaan di dalam. Tidak ada. Ia tidak ada di sana. Aku masuk untuk memeriksa ke setiap ruangan. Setelah yakin bahwa ia tidak ada di lantai bawah, aku naik ke kamarnya.
Pintu kamarnya tertutup. Aku membukanya dengan perlahan dan mengintip ke dalam. Ia sudah tidur. Oh, syukurlah. Aku menutup pintunya kembali dan turun ke bawah untuk menemui Dax.
“Oke, masuklah,” kataku padanya dengan anggukan.
Ia menaiki undakan dan masuk ke dalam. “Ibumu juga tak suka Android, kan?” tanyanya.
Sudah menjadi rahasia umum di sini bahwa ibuku tak menyukai Android. “Tapi aku juga tak bisa membiarkan benda sebagus ini di sana. Kau pasti mengeti. Apalagi kau pencuri,” kataku.
“Memang benar. Tapi aku tak senekat dirimu untuk mencuri benda yang jelas-jelas tidak aman bagiku,” katanya. “Kau ingin aku meletakkannya di mana?” tanyanya sambil menunjukkan Android di bahunya.
“Bawa ke kamarku,” kataku dan menyuruhnya untuk mengikutiku naik ke lantai atas. “Pelan-pelan saja, ya? Ibuku sedang tidur,” kataku berbisik saat kami sedang menaiki tangga. Ia tidak mengatakan apa pun dan menunjukkan tanda ‘OK’ dengan tangannya.
Setelah sampai di depan pintu kamarku aku membuka pintunya dan menyuruh Dax untuk masuk dan meletakkan Android itu di lantai. Setelahnya ia melakukan peregangan sambil matanya melihat sekeliling kamarku. “Ini pertama kalinya aku masuk ke kamar perempuan setelah sekian lama,” ujarnya. Lalu pandangannya beralih ke meja belajarku. “Sepertinya kau rajin belajar. Aku suka itu,” pujinya tersenyum dan mengacak rambutku. “Lanjutkan. Kau yang paling pintar di lingkungan ini.”
Aku berdecak dan menyingkirkan tangannya. “Jangan berlebihan,” balasku sambil merapikan rambutku.
“Aku serius. Jangan sepertiku yang memilih untuk putus kuliah,” ungkapnya. “Baiklah, aku pergi,” pamitnya dan melangkah pergi dari kamarku.
“Terima kasih banyak sudah membantu membawanya kemari,” ucapku dan mengikutinya keluar.
“Sama-sama. Jangan terburu-buru menyalakannya. Pikirkan dua kali, oke? Dan segera kunci pintunya,” katanya sambil berjalan dan menuruni tangga.
Setelah ia keluar dari rumahku, aku mengunci pintunya dan naik kembali ke kamarku. Aku tidak terpikirkan sama sekali selama perjalanan tadi, dan aku baru sadar bahwa aku butuh pengisi daya Android. Dan aku tidak memilikinya. Aku yakin ia tidak memiliki sisa daya sama sekali setelah terbengkalai di sana hingga berdebu. Tombol kecil tepat di tengah dadanya itu biasanya menyala dengan lampu. Seperti kata Dax tadi, aku tidak boleh terburu-buru menekannya.
Aku mengambil ponselku dan bermaksud untuk mengirim pesan pada Hugo untuk meminjam pengisi daya Android miliknya. Tapi kemudian aku mengurungkannya. Hugo mungkin sudah beristirahat, atau sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Jadi kuputuskan aku akan cerita padanya besok di kampus.
Aku mendekati Android itu dan berjongkok di depannya. Kepalaku dipenuhi pertanyaan mengapa Android itu bisa berada di sana. Yang kutahu CyberTech membuat peraturan tentang barang-barang produksinya yang telah dibeli lalu rusak tidak boleh dibuang secara sembarangan. Para pembeli itu diwajibkan membawanya ke Pusat Perbaikan yang ada di seluruh cabang agar Pusat Perbaikan lah yang membuangnya. Tidak semua barang teknologi yang rusak bisa diperbaiki, jadi Pusat Perbaikan selain memperbaiki, mereka juga menerima produk yang sudah rusak berat. Atau sebut saja sampah.
Jika Android ini masih memiliki pemilik, seharusnya pemiliknya bisa melacak keberadaannya yang terakhir sebelum ia non-aktif. Kenyataan bahwa Android ini diabaikan di sana menunjukkan bahwa ia tidak memiliki pemilik. Robot ini bisa berada di sana jauh lebih aneh dibandingkan fakta bahwa ia tidak memiliki pemilik. Aku belum pernah mendengar berita tentang Android yang kabur dari toko selama ini. Android ini jelas-jelas mencurigakan.
Hanya ada satu yang ada di pikiranku. Setelah mengaktifkannya, aku akan bertanya bagaimana ia bisa berakhir di sana, dan siapa dirinya.