(CHLOE)
Keesokannya aku mengirim pesan pada Hugo soal meminjam pengisi daya Android-nya. Ia pasti akan menyerangku dengan berbagai macam pertanyaan setelah aku mengungkapkan apa yang kutemukan semalam. Aku menoleh memperhatikan Android itu sambil mengenakan pakaian. Ia masih berada di posisi yang sama—duduk diam dengan kepala menunduk. Mungkin aku harus kembali lagi ke bawah jembatan itu untuk menemukan petunjuk lain, pikirku.
Setelah selesai mengenakan pakaian aku mendengar ponselku berbunyi. Aku mengambilnya dan melihat pesan yang datang dari Hugo.
‘Untuk apa???” tanyanya dengan tanda tanya lebih dari satu. Aku bisa membayangkan ekspresi bingungnya saat ini.
‘Akan kuceritakan nanti di kampus. Bawa saja. Kita bertemu di depan Fakultas Bahasa,’ balasku.
Aku memasukkan beberapa buku ke ransel dan memakainya, lalu melangkah keluar dari kamar. Aku menuju kamar ibuku. Pintunya sudah terbuka. Aku menengok ke dalam. Ia sudah tidak ada di sana. Aku menuruni tangga dan melihatnya yang sedang duduk di meja makan.
“Pagi!” ucapku sambil berjalan menuju dapur. Aku mengeluarkan dua telur dari kulkas dan beberapa bahan lainnya untuk kumasak, lalu meletakkannya di meja dapur.
Aku melepas ranselku dan meletakkannya di sofa sebelum mulai memasak.
“Di mana obatnya?” tanya Ibu tiba-tiba. Mungkin yang ia maksud obat antidepresan miliknya.
“Aku menyimpannya di tempat aman. Jangan meminumnya terlalu banyak. Sekarang aku hanya akan memberi ibu satu butir untuk pagi dan sore,” kataku.
Bicara tentang obat, aku baru mengingatnya bahwa Marianne memberiku obat untuk Ibu semalam. Setelah selesai membuat sarapan, aku membawa milik Ibu menuju tempatnya sementara aku membuat makan siangnya. Biasanya aku akan membuat sup atau apa pun yang juga bisa digunakan untuk makan malamnya nanti. Tapi untuk hari ini aku akan membelinya di luar nanti. Aku juga perlu membayar tagihan listrik bulan lalu atau perusahaan penyedia listrik akan memutus listrik kami.
Setelah selesai membuat makan siang, barulah aku menikmati sarapanku. Beberapa menit setelah perutku terisi aku bersiap untuk berangkat. Tapi sebelum itu, aku perlu mengambil obat pemberian Marianne semalam di kamarku dan memebrikannya pada Ibu.
“Apa ini?” tanyanya setelah aku meletakkan sebutir obat di hadapannya.
“Agar Ibu bisa lebih sehat,” kataku tersenyum. “Minumlah, agar kita berdua bisa mencari Ayah,” tambahku sebelum melangkah keluar dari rumah itu.
***
“Sebaiknya apa yang akan kau ceritakan layak untuk didengar karena sudah membuatku mati penasaran dan berjalan jauh sampai kemari,” kata Hugo saat ia baru saja tiba di tempat pertemuan. Matanya menatap sekeliling dengan dahi berkerut. “Mengapa kau meminta bertemu di tempat yang sejauh ini, sih?”
“Karena aku tidak bisa membicarakannya di tempat yang ramai. Kau membawanya?” kataku mengulurkan tangan tanda meminta.
“Beritahu lebih dulu,” tuntutnya dengan melipat kedua lengannya di d**a.
Aku menghela napas seraya memutar bola mata. “Oke, oke. Semalam aku menemukan Android di bawah jembatan.”
“Kau— apa?!” pekiknya benar-benar terkejut.
“Aku. Menemukan. Android,” ulangku dengan titik pada setiap katanya.
“Berhenti bercanda, Chloe.”
“Aku bukan orang yang suka bercanda. Aku benar-benar menemukan Android,” kataku.
“Di mana?”
“Sudah kubilang, di bawah jembatan. Di dekat tempat pembuangan produk CyberTech itu,” kataku.
“Astaga…,” keluhnya sambil menyentuh kepalanya. “Kau punya buktinya?”
Aku mengeluarkan ponselku dan menunjukkan foto Android itu yang untungnya sudah sempat kufoto. “Aku tahu kau pasti akan meminta bukti, jadi aku memotretnya,” kataku.
Ia mengambil ponselku dan memperhatikan foto itu baik-baik. “Yang benar saja!” ucapnya. “Tidak ada Android yang sudah menjadi sampah masih bagus begini,” katanya menunjukkan foto tersebut. “Kau tidak bisa mengambilnya begitu saja. Tidak ada Android yang dibu—"
“Dibuang sembarangan. Aku tahu,” potongku. “Mari bicarakan ini di rumahku nanti. Kalau kau bisa mampir.”
“Bagaimana ibumu?”
“Dia tidak tahu. Aku belum mengaktifkannya, tenang saja.”
Ia terlihat kesal namun seakan menahan emosinya. Itu terlihat dari gesturnya yang menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya dengan kasar. “Ini gila! Kau tidak curiga sama sekali mengapa Android itu bisa ada di sana? Dan kau membawanya begitu saja?”
“Percayalah. Aku sudah memikirkannya,” kataku dan mengambil kembali ponselku darinya. “Daripada membiarkannya terbengkalai di sana, lebih baik aku mengambilnya meski aku tahu risikonya.”
Hugo menghembuskan napas dengan kasar. “Jika pemiliknya yang sebenarnya tahu, kau akan dipolisikan karena kau dianggap mencuri.”
“Tapi dengar ini. Jika Android itu masih memiliki pemilik, seharusnya ia sudah menemukannya di tempat Android itu terakhir kali aktif melalui pelacaknya. Android itu sudah diabaikan di sana cukup lama,” kataku.
“Baiklah, baiklah,” jawab Hugo dengan hembusan napas, tanda bahwa ia mengalah. “Tapi mengapa kau melepas seragamnya?”
“Dia sudah seperti itu semenjak aku menemukannya. Itulah yang aneh. Aku tidak tahu tipe dan namanya.”
Ia menatapku sejenak dengan ekspresi seolah sedang berpikir. “Akan kuusahakan untuk ke tempatmu nanti,” katanya. Ia membuka ranselnya untuk mengambil pengisi daya yang kuminta dan memberikannya padaku. “Kau tahu di mana tempat untuk menancapkan benda ini,” katanya menunjukkan pengisi daya itu. “Dan jangan mengaktifkannya sebelum kau memberitahuku. Ingat itu. aku harus ke kelasku. Dah!” pamitnya dan berlari pergi meninggalkanku.
Aku pergi dari tempat itu tidak lama setelah Hugo pergi. Pikiranku berkecamuk, terutama apa yang kulakukan setelah mengaktifkan Android itu. Hampir seharian aku tidak akan berada di rumah. Kurasa membiarkannya terus berada di dalam kamar tidak akan masalah, pikirku. Lagipula dia robot. Dia bisa menggunakan mode tidur jika tidak ada apa pun yang bisa dilakukannya.
Aku juga tak bisa menceritakan hal ini pada Marianne. Tidak. Dia akan berpikiran buruk. Lebih baik tidak banyak orang yang tahu soal ini. Aku masuk ke dalam kelasku karena sebentar lagi jam kuliah akan segera di mulai. Aku mengambil ponselku dan mulai mencari di internet berita soal Android yang kabur dari toko.
Tidak ada.
Tidak ada berita semacam itu baik yang lama maupun terbaru. Yang muncul justru berita soal percobaan linker dengan menghubungkan pikiran manusia ke dalam Android. Dan itu berita setahun yang lalu. Itu membuatku cukup penasaran. Tapi sayangnya aku tidak menemukan berita lainnya. Karena dosen sudah tiba di kelas, aku segera meletakkan ponselku dan mulai mengikuti perkuliahan yang dibawakannya.