(CHLOE)
Sebagai putra tunggal seorang pengacara kondang, Hugo hidup dalam kecukupan. Aku dan Hugo dulu tinggal di satu lingkungan yang sama. Aku bisa katakan aku pun pernah hidup dalam kecukupan sepertinya, hingga sesuatu menimpa keluargaku dan aku hidup dalam kekurangan. Sebelum aku tinggal di sini, aku belum pernah mendengar nama distrik Heaven Hills sekalipun, seperti Hugo. Aku hanya pernah ingin tahu apa yang terjadi pada para tunawisma yang dulu tersebar di sepanjang jalan di kota setelah ada Android, tiba-tiba menjadi berkurang dan hampir tidak ada. Setelah datang ke distrik ini, ternyata aku tahu bahwa para tunawisma itu digusur ke tempat ini.
Saat pertama kali datang kemari kuakui reaksiku sama seperti Hugo yang begitu terkejut dengan keadaan di sini. Rumah-rumahnya jelek dan bobrok. Begitu pula jalannya. Secara keseluruhan, tidak ada yang bisa dikatakan dalam kondisi baik. Banyak orang dengan pakaian lusuh berkeliaran sambil menyanyi dengan suara keras dan sumbang, bahkan dalam keadaan mabuk. Aku dibesarkan di lingkungan yang baik, jadi wajar bila aku akan bereaksi seperti itu. Sampai Tn. Elijah mendatangiku dan menanyaiku apa yang kulakukan di distrik itu. Ia menunjukkan rumah dengan harga yang paling murah di sana padaku yang bisa kubeli dengan sisa uangku, dan mengenalkanku pada orang-orang yang ia kenal. Mereka semua orang-orang yang baik, dan itu membuatku tidak lagi memikirkan betapa buruknya keadaan di sana dan terbiasa hidup seperti mereka.
“Sepertinya tempat ini memang sengaja diabaikan,” ujar Hugo sambil matanya memperhatikan sekeliling dengan tatapan prihatin dan tidak nyaman.
“Biasakanlah. Lihat sisi baiknya. Orang-orang di sini sangat baik,” kataku.
“Yeah. Tapi bagaimana dengan yang di atas mereka? Aku yakin mereka tidak akan bersikap sebaik yang kau pikirkan pada orang-orang seperti itu,” katanya.
Dari kejauhan, aku melihat sosok Tn. Elijah yang berdiri di dekat rumahku dan sedang bersama seekor anjing pointer berwarna putih dengan bercak coklat tua yang lusuh. Ia menoleh melihat kedatanganku dan mengangkat satu tangannya ke atas sebagai sapaan dengan ekspresi cerah.
“Chloe!” sapanya.
Aku membalasnya dengan mengangkat tanganku dan melemparkan senyuman.
“Siapa itu?” tanya Hugo pelan.
“Yang membantuku menjaga ibuku selama aku pergi,” jawabku. Meski sudah pernah kemari lebih dari sekali, Hugo dan Tn. Elijah belum pernah saling bertemu sebelumnya.
Begitu kami sudah di dekatnya, mata pria tua itu mengarah pada Hugo. “Oh, tampan sekali! Temanmu?” tanyanya padaku sambil menunjuk Hugo.
“Ya. Dia ada keperluan sebentar di sini. Apa ibuku sempat keluar?”
“Dia sempat keluar dan duduk di teras ini sebentar sambil aku mengawasinya dan berbicara dengannya,” katanya menunjuk undakan rumah. “Setelah itu dia masuk kembali dan tidak keluar.”
“Terima kasih sudah mengawasinya,” ucapku. Aku merogoh kantong makanan yang kubeli untuk makan malam ibuku, dan memberikan makanan yang juga kubeli untuk Tn. Elijah. “Ini untukmu,” kataku memberikannya.
“Oh! Terima kasih. Terima kasih banyak, Chloe,” ucapnya penuh haru. “Kau memang gadis yang sangat baik.”
“Makanlah. Aku dan temanku akan masuk ke dalam,” kataku berpamitan padanya.
“Kau bisa selalu mengandalkanku!” sahutnya saat aku dan Hugo berjalan menuju rumah.
“Tentu,” balasku tersenyum.
Aku menaiki undakan rumah saat Hugo bertanya. “Apa kau selalu memberinya makanan?”
“Tidak selalu. Sebagai tanda terima kasih, makanan adalah apa yang paling dibutuhkannya untuk bertahan hidup,” kataku.
Aku membuka pintu rumah. Saat kami berdua sudah masuk, aku melihat Ibu sedang tidur di sofa. Aku lalu memeriksa makan siangnya yang ada di meja dapur. Separuh habis. Setidaknya ia mau makan. Dan terlebih, tak ada kekacauan hari ini.
“Kau tidak ingin membangunkannya kalau aku datang?” tanya Hugo.
Aku menoleh dan menatapnya dengan tatapan ‘kau serius?’. “Tidak. Lebih baik tidak,” jawabku. “Ayo. Kita harus naik,” ajakku dan kami melangkah menuju tangga.
Saat kami sudah tiba di kamarku dan aku menunjukkan pada Hugo Android tersebut, ia langsung diam mematung. Ia menatapku sejenak, kemudian kembali lagi menatap Android itu.
Ia bergeleng-geleng sebelum berucap, “Aku bahkan bingung aku berkata apa.” Ia lalu berjalan mendekati Android itu dan berjongkok di dekatnya.
“Bagaimana menurutmu?” tanyaku dan melipat kedua lengan di d**a. “Sudah ada pikiran bagaimana Android ini bisa ada di bawah jembatan itu?”
“Kau belum mengotak-atiknya, kan?” tanyanya sambil menyentuh dan memperhatikan setiap bagian Android itu.
“Kau gila, ya? Meski aku tidak memiliki Android, aku tahu beberapa peraturan dari CyberTech soal Android,” balasku.
“Baguslah. Jangan pernah mengotak-atiknya, memodifikasinya atau apa pun itu yang merubah bentuk asli dari pabriknya.” Hugo lalu mengulurkan tangan untuk meminta sesuatu dariku. “Berikan penghubung dayanya tadi.”
Aku mengeluarkan penghubung daya miliknya dari ranselku dan memberikannya padanya. Hugo lalu menancapkan kabel itu ke leher belakang Android dan menyambungkannya ke colokan di dekat sana.
“Apa ada beberapa peraturan kepemilikan Android yang tidak kutahu?” tanyaku padanya.
“Sepertinya kau hampir mengetahui semuanya,” katanya seraya bangkit berdiri. “Seperti apa kondisinya saat kau menemukannya?”
“Hanya berdebu dan sedikit kotor. Selebihnya ia terlihat seperti baru. Seperti yang kau lihat saat ini,” kataku menunjuk Android itu. “Aku mencoba memikirkan berbagai alasan mengapa dia dibuang di sana.”
“Kita masih belum tahu apa dia benar-benar dibuang,” katanya dan menoleh menatap Android itu. “Ini aneh.”
“Aku mencoba mencari berita di internet soal Android yang kabur dari toko. Tapi tidak ada,” ungkapku. Aku lalu duduk di tempat tidur.
“Hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Ini pasti jebakan,” katanya.
“Jebakan untuk siapa? Semua penduduk di sini tidak memiliki apa-apa. Bahkan tidak tertarik untuk memiliki Android,” kataku.
Hugo masih mencoba berpikir, sampai akhirnya ia sudah mencapai batasnya dan mengacak-acak rambutnya karena kesal tidak bisa memikirkan jawabannya. Ia melangkah mendekat dan duduk di sampingku dengan helaan napas panjang.
“Sudah menyerah berpikir?” tanyaku dan tertawa singkat.
“Ini kasus paling aneh yang pernah kutemui,” ungkapnya.
“Jadi aku sudah bisa mengaktifkannya malam nanti?” tanyaku.
Ia menatapku sejenak dan menatap Android itu. “Butuh enam jam pengisian. Jadi… ya. Tapi kau yakin soal ini?” tanyanya menatapku. “Setelah mengaktifkannya, kau seperti telah membuka pintu kematian. Aku pun tidak bisa banyak membantumu saat sesuatu benar-benar terjadi padamu.”
Aku diam sejenak menatap Android itu. “Aku sudah membuat keputusan,” kataku.
“Yah… kuharap semuanya tidak seperti yang kupikirkan,” ucapnya menghela napas. “Omong-omong, sudah ada kabar terbaru soal pendaftaran magangmu?”
“Mungkin sebentar lagi,” jawabku tanpa menatapnya.
Hugo mengalihkan wajahnya ke depan. “Terlihat jelas sekali kau mendaftar ke CyberTech karena ingin mencari ayahmu yang menghilang. Berhati-hatilah,” pesannya menatapku dan menggenggam tanganku.
Aku menunduk menatap tangannya yang menggenggam kedua tanganku. Aku menariknya, lalu tersenyum padanya. “Aku akan berhati-hati,” kataku.
Hugo memperlihatkan senyum singkat tanda kecewa. Walau sekilas, aku masih sempat melihatnya. Ia lalu bangkit berdiri.
“Baiklah, aku harus pergi. Sebentar lagi kau juga harus pergi bekerja. Kabari aku saat kau akan mengaktifkannya,” katanya.
“Tentu,” jawabku mengangguk.
“Sampai bertemu besok,” pamitnya dan melangkah keluar dari kamar.
Setelah sosoknya tidak lagi berada di sana, aku menghela napas yang tidak kusadari kutahan sedari tadi. Aku masih bisa merasakan perasaan Hugo padaku yang kupikir sudah ia hilangkan setelah aku menolaknya dulu. Ini menjadi semakin tidak nyaman. Aku beralih menatap Android itu.
“Beritahu aku pria mana yang bisa kukencani,” kataku meski ia tidak mendengarnya.