a Choice

1080 Words
(CHLOE) Aku masuk ke dalam apotek dan melihat seorang pria dan wanita muda sedang membeli sesuatu. Dari gesturnya, sepertinya mereka sepasang kekasih. Marianne muncul dari dalam ruangan tempat rak obat bagian dalam berada dan memberi mereka sebuah kardus persegi panjang kecil. Itu adalah test pack. Si pria lalu melakukan pembayaran digital dengan ponselnya sebelum mereka berdua keluar dari apotek. “Hai, selama datang,” sapanya padaku saat aku masuk ke balik etalase dan pasangan tadi melangkah keluar apotek. “Sepertinya akan ada yang mendapat berita bahagia,” kataku membicarakan pasangan yang tadi. “Ah ya, benar. Mereka bilang nantinya tidak akan menyuruh Android untuk merawat anaknya. Mereka ingin merawatnya sendiri,” jelas Marianne. “Itu bagus sekali, kan? Sekarang ini aku sudah hampir tidak melihat seorang anak manusia yang dirawat manusia. Aku bahkan sempat melihat seorang anak kecil memanggil Android dengan panggilan Ibu,” ungkapku dan menghela napas. “Sepertinya dunia akan segera kiamat.” “Yah… jujur saja. Keberadaan Android memang banyak membantu sebagian besar orang. Tapi bukan berarti aku mendukung sepenuhnya keberadaan dan peran mereka,” kata Marianne dan membalikkan badan. “Bantu aku menata stok obat-obatan di rak yang sudah habis,” katanya kemudian dan melangkah masuk ke dalam. Aku mengikutinya masuk ke dalam gudang yang ada di ruangan paling belakang. “Omong-omong, kau pernah dengar berita soal Android yang kabur dari toko?” tanyaku. “Apa?” ucapnya terkejut menoleh ke belakang. Ia lalu mengangkat sebuah kardus yang ada di rak penyimpanan. “Apa yang membuatmu menanyakan hal seaneh itu?” “Hanya penasaran,” jawabku mengedikkan bahu. “Mungkin kau pernah mendengar berita semacam itu?” “Aku belum dan tidak pernah mendengar berita semacam itu, Chloe. Jujur saja,” katanya dan melangkah keluar dari gudang. “Aku memang pernah melihat Android mengalami beberapa bug seperti tiba-tiba berteriak, tapi tidak ada yang sampai kabur dari toko. Ah! Ambil kardus obat dengan tulisan obat flu itu, ya?” katanya menunjukkan kardus tersebut dengan kedikan dagunya, lalu keluar dari gudang. Aku menuju rak penyimpanan dan mengambil kardus itu, lalu melangkah keluar. “Ini hanya perumpamaan saja. Jika suatu hari kau menemukan sebuah Android yang terbengkalai tanpa seragamnya dan terlihat masih begitu baru, apa yang akan kau lakukan atau pikirkan tentangnya?” tanyaku. Marianne berhenti dari kegiatannya memeriksa obat di dalam kardus dan menatapku dengan kerutan di dahinya. “Serius, Chloe. Kau menanyakan hal-hal yang aneh. Katakan, kau menyembunyikan sesuatu, kan?” Aku mengerang sambil memutar bola mata. “Percayalah, tidak ada yang kusembunyikan,” dustaku. “Aku hanya tiba-tiba penasaran saja.” “Tidak ada yang namanya tiba-tiba penasaran kecuali kau telah melihat atau melakukan sesuatu,” katanya dan kembali memeriksa obat di dalam kardus. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” kataku meletakkan kardus yang kubawa ke lantai dan membuka segelnya. “Yah…,” ucap Marianne sambil mulai menata obat-obat itu ke rak dan etalase. “Aku akan melangkah pergi dan berpura-pura tidak melihatnya.” “Meski Android itu masih dalam kondisi yang sangat baik?” “Meski Android itu masih dalam kondisi yang sangat baik. Ya,” ulangnya. “Aku tidak ingin terlibat masalah dengan mengambil Android secara sembarangan.” Ia lalu berhenti dari kegiatannya dan menatapku dengan tatapan curiga. “Kau tidak akan melakukan itu, kan?” tanyanya. “T-tidak. T-tentu saja tidak,” jawabku tergagap dan segera menata obat-obatan yang ada di dalam kardus ke rak. “Jangan pernah melakukannya meski kau mungkin sangat membutuhkannya. Jangan libatkan dirimu dengan Android. Meski banyak membantu, mereka juga banyak memberi masalah,” katanya. Aku menelan ludah. Aku bisa berkata apa? Aku sudah melibatkan diriku dengan Android. *** Saat menunggu bus di halte bus, pikiranku tak bisa tenang. Meski aku sudah memutuskan bahwa aku akan mengambil risiko apa pun saat membawa Android itu dari bawah jembatan, aku mulai memikirkan perkataan Marianne tadi dan menjadi semakin ragu. Jika aku mengembalikannya lagi ke tempatnya semula, sebenarnya aku juga cukup keberatan. Aku menghela napas dengan berat dan mengeluarkan ponselku. Aku ingin menghubungi Hugo dan menanyakan soal ini padanya. Tapi saat mengingat ekspresinya tadi sore, aku mengurungkannya. Sesosok Android laki-laki baru saja tiba di halte bus dengan membawa sebuah kantong belanjaan. Itu mengingatkanku akan Android bernama Claire yang kutemui dua hari lalu. Android dengan sikap yang cukup aneh yang baru pertama kali kulihat. Aku menoleh ke sana kemari untuk mencari sosoknya lagi, tapi tidak ada. Bus yang kutunggu tiba tidak lama kemudian dan aku masuk ke dalam. Bagaimanapun pikiran buruk yang berkecamuk dalam kepalaku, aku sudah membuat keputusan. Aku harus menghadapinya untuk tahu apa yang terjadi pada Android itu. Setelah aku sampai di halte tujuanku, aku turun dari bus dan bergegas menuju rumah. Aku akan mengaktifkan Android itu dan menanyakan banyak pertanyaan padanya. Saat sampai di rumah, kulihat ibuku masih menonton TV. Aku mendekatinya. “Ibu tidak tidur? Ini hampir jam sebelas malam,” kataku. Aku menoleh ke dapur dan melihat makan malam milik Ibu yang tadi kuletakkan di sana. kosong. Sepertinya Ibu memakannya. “Aku ingin di sini sebentar,” jawabnya kemudian. “Jangan terlalu lama dan segeralah beristirahat. Aku akan ke kamarku,” kataku dan melangkah pergi meninggalkannya. Setelah sampai di atas, aku masuk ke dalam kamar Ibu terlebih dulu dan menyiapkan obatnya sebelum aku lupa. Setelah itu barulah aku menuju kamarku dan mengunci pintunya. Android itu masih dalam posisi yang sama. Tombol di tengah dadanya memperlihatkan cahaya berwarna hijau yang artinya baterainya sudah terisi penuh. Aku melepas tas dan jaketku sebelum mendekati Android itu dan melepas pengisi daya yang menancap di belakang lehernya. Saat menyalakan tombol kecil ini, aku tidak bisa mundur lagi. Aku menghela napas dan menelan ludah. Aku mengulurkan tanganku dan menekan tombol kecil di dadanya. Sebuah cahaya berwarna biru menyala, kemudian diikuti kelopak matanya yang bergerak terbuka. Aku mundur. Aku melihatnya membuka mata sepenuhnya dan melihat ke sana kemari, sampai kemudian mata berwarna coklat itu tertuju padaku. Aku menelan ludah. “H-halo,” sapaku. “Bisa tunjukkan identitasmu?” Bukannya menjawab, ia justru menunduk memperhatikan kedua tangannya. “Hei. Halooo,” kataku menyadarkannya. “Aku tanya identitasmu.” “Aku…,” ucapnya dan terhenti karena ia memegang lehernya sendiri. Gerakannya itu seolah ia terkejut dengan suara yang dikeluarkannya. “Siapa namamu dan kau tipe Android apa?” tanyaku. Setahuku meski belum diberi nama, Android sudah mengetahui tipenya sendiri yang sudah terpogram di dalam dirinya. Matanya bergerak-gerak. Rasanya seperti ia sedang kebingungan hanya dari melihat dari gerakan matanya yang tak bisa diam. Ia lalu mendongak menatapku. “Aku tidak tahu siapa aku,” jawabnya kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD