Aftereffect

1050 Words
(CHLOE) Hugo menghentikan mobilnya di depan rumahku. Meski ia sudah mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengaman, aku masih duduk diam di tempatku tak bergeming. Hugo pun tak menyuruhku untuk segera keluar karena ia tahu aku sedang tidak baik-baik saja. “Aku akan mengantarmu sampai ke kamar,” katanya. “Aku juga akan memberitahu ibumu apa yang terjadi padamu hari ini.” “Jangan lakukan itu,” larangku menoleh padanya. “Kau sudah lupa ia benci saat itu berkaitan dengan Android?” “Lalu kau akan diam saja sementara kau ketakutan seperti ini? Mungkin ini juga saatnya kau perlu membawanya untuk dirawat.” “Tolong jangan lakukan apa pun Hugo. Kumohon. Aku masih bisa mengurus ibuku,” kataku yang sudah tak tahan lagi untuk bisa segera berhenti berdebat. Aku sudah tak bisa memikirkan apa pun lagi setelah kejadian hari ini. “Aku akan masuk sendiri. Pulanglah. Terima kasih sudah mengantarku,” kataku dan melepas sabuk pengaman. Aku membuka pintu mobil. Tapi sebelum keluar, aku menoleh ke Hugo dan mencondongkan tubuhku untuk mengecup pipinya. Aku tahu sudah berapa banyak ia membantuku selama ini. “Terima kasih banyak,” ucapku sekali lagi dan keluar dari mobil. Aku tidak menunggu Hugo mengatakan apa pun dan langsung berjalan menuju rumah. Setelah masuk, kulihat ibuku masih di bawah dan sedang menonton TV. Aku tidak punya cukup tenaga untuk berbicara banyak dengannya sehingga aku hanya mengucapkan, “Aku pulang. Ibu harus segera beristirahat.” Aku menuju tangga dan naik ke atas. Aku berjalan menuju kamarku dan membuka pintunya. “Selamat datang,” sambut Nik begitu melihatku datang. Aku tidak membalasnya dan langsung menuju tempat tidur untuk duduk. Aku menghela napas dengan berat seraya menutup wajahku dengan tangan. “Chloe, kau baik-baik saja?” tanya suara Nik yang ada di dekatku. Aku hanya menggeleng. “Tidak,” jawabku. “Ada apa? Kau bisa cerita padaku,” katanya. Aku tidak yakin apa aku masih memiliki sisa tenaga untuk bercerita, apalagi pada sebuah mesin. Tidak. Aku tidak memiliki tenaga untuk melakukan apa pun. Bahkan aku tidak berpikir untuk bisa tidur dengan tenang malam ini. Aku membuka wajahku dan melihat Nik yang sudah berjongkok di depanku. Ekspresinya terlihat khawatir. Apakah Android bisa menunjukkan ekspresi senyata itu? Ekspresinya seperti Leo tadi yang begitu ketakutan. “Ada yang hampir mencelakaiku di tempat kerja tadi,” ungkapku. “Siapa?” “Android,” jawabku langsung. Ekspresinya berubah menjadi terkejut. “Apakah… Android bisa berbuat seperti itu?” tanyanya. “Tidak, Nik. Mesin tidak bisa berbuat seperti itu,” jawabku. “Lalu… mengapa?” tanyanya bingung. Aku menghembuskan napas melalui hidung. “Sama sepertimu. Apa yang membuatmu bertingkah di luar programmu sekarang?” tanyaku. Tapi aku tak perlu menunggu jawaban darinya karena aku terlalu lelah. “Aku butuh istirahat. Lakukan apa pun selama itu tidak menggangguku. Bisa, kan?” “Baiklah,” balasnya seraya bangkit berdiri. “Selamat beristirahat.” Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan langsung merebahkan tubuhku. Entah aku bisa terlelap atau tidak, aku tetap memaksakan mataku untuk terpejam. *** Aku membuka mata. Entah sudah berapa lama waktu yang terlewat. Aku hanya memejamkan mata sambil melihat sekelebatan kejadian di apotek dalam ingatanku terus menerus. Aku tak bisa menghentikannya. Ini menyiksaku. Aku pun tak bisa berhenti mengulang suara tembakan di dalam kepalaku sehingga suara gemuruh petir yang terdengar di luar membuatku terperanjat seolah itu adalah suara tembakan. Aku mencengkeram rambutku dengan kedua tanganku. Aku benar-benar sudah tak tahan lagi. Aku menoleh untuk melihat Nik. Tapi yang kudapati justru kamar yang hanya ada aku seorang. Nik tidak ada. Kepanikan menyergapku dan aku melihat sekeliling untuk mencari sosoknya. Aku sama sekali tidak menemukan sosoknya. Di mana dia? Aku menuju pintu dan akan membuka pintu tersebut. Benarkah dia keluar kamar? Aku sudah menyuruhnya untuk jangan keluar kamar kecuali aku yang menyuruhnya. Tidak mungkin ia melanggar perintahku, kan? Aku membuka pintu dan berjalan di lorong. Sebelum itu aku menuju kamar ibuku. Kamarnya tertutup rapat. Aku membukanya dengan pelan dan melihatnya yang sudah tidur. Aku menutupnya kembali. Aku berjalan menuruni tangga. Samar-samar aku mendengar suara di bawah. Aku menengok dari tangga dan melihat Nik yang sedang melakukan sesuatu di meja dapur. “Nik!” panggilku dengan suara pelan seraya menghampirinya. Ia menoleh. “Chloe! Kau sudah bangun.” “Aku sudah menyuruhmu untuk tidak keluar kamar! Kau melanggar perintahku!” “Maaf. Aku hanya khawatir denganmu. Aku hanya ingin membuatkanmu sesuatu,” ungkapnya. Aku memejamkan mata dan menyibakkan rambutku ke belakang untuk menahan kekesalanku. “Apa ibuku melihatmu? Apa yang membuatmu keluar semaumu?” “Tidak. Aku menunggu sampai tengah malam. Setelah aku tahu dia sudah di kamarnya, aku turun dan ingin membuatkanmu sesuatu,” jelasnya. “Memangnya apa yang ingin kau buat?” “Sesuatu yang bisa membuatmu lebih baik. Kau terlihat ketakutan,” katanya. “Maaf, aku melanggar perintah.” Perilakunya sudah jelas bahwa dia bukan Android seperti pada umumnya. Ia seperti Leo yang bertindak semaunya. Aku mulai berpikir bahwa Nik bisa saja menyakitiku seperti Leo tadi suatu waktu. Aku menghela napas. “Jangan lakukan itu lagi. Aku baik-baik saja. Jangan menambah kekhawatiranku,” kataku dan melangkah menuju sofa. “Maaf,” ucapnya. Terdengar sesuatu di belakang yang entah apa yang sedang dilakukannya. Kemudian kudengar langkah kakinya mendekat. “Apa ini bisa membuatmu lebih baik?” katanya dan memberiku segelas air. Aku mendongak menatapnya dan menerima minuman itu. Yeah. Mungkin aku hanya butuh segelas air untuk sedikit tenang. “Terima kasih,” ucapku. Ia duduk di sebelahku sementara aku menenggak minumannya. “Apa sudah lebih baik?” tanyanya. “Ehem,” jawabku dan meletakkan gelas itu di meja di depanku. Aku meraih remot TV dan menyalakan TV. Aku mengecilkan suaranya dan mencari-cari saluran yang bisa memberiku sedikit hiburan. Setelah menemukan acara yang sepertinya adalah acara komedi, aku meletakkan remot tersebut dan mulai menontonnya meski aku tidak terlalu memahami acaranya. Aku hanya ingin melihatnya tanpa perlu memahaminya. Nik juga menontonnya; setelah aku meliriknya. Aku bergeser mendekat padanya dan kupikir ia terkejut karena ia langsung menoleh padaku. “Aku butuh tempat bersandar untuk sementara,” ujarku. “Tentu, Chloe,” balasnya dan kembali mengalihkan wajahnya untuk menonton TV. Selama beberapa menit kami hanya terdiam menonton acara TV yang bahkan sama sekali tidak bisa kupahami. Meski Nik bukan manusia dan tubuhnya terasa keras untuk digunakan sebagai tempat bersandar, anehnya aku merasa nyaman hingga tanpa kusadari aku sudah memejamkan mata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD