in the Brink of Death

1634 Words
(CHLOE) Aku menundukkan kepala di atas kedua lenganku yang terlipat. Begitu banyak hal yang kupikirkan semenjak aku menemukan Nik. Siapa Nik, siapa yang membuangnya dan kenapa ia dibuang, mengapa ia bersikap seolah ia bukan Android… semua pertanyaan itu terus berputar di dalam kepalaku. Meski aku tahu aku tak akan menemukan jawabannya hanya dalam sehari, aku tetap memutar semua pertanyaan itu kembali dalam kepalaku. “Aku mempekerjakanmu bukan untuk bermalas-malasan,” kata Marianne yang memukul pelan kepalaku dengan lembar-lembar kertas yang digenggamnya, membuatku menegakkan kepalaku dan menatapnya. “Ada apa denganmu? Kau terlihat aneh semenjak kau datang.” “Hanya memikirkan banyak hal,” kataku menghela napas. “Apa ini soal ibumu?” “Tidak. Sesuatu yang lain.” “Tahan dulu semua pikiranmu. Tulis semua ini di komputer sementara aku menata obat yang datang pagi ini,” katanya dan menyerahkan lembaran kertas itu. Aku bangkit dari dudukku dan berpindah ke meja kerja Marianne. Aku mulai mengetik semua yang tercatat di lembaran-lembaran itu, tentang obat-obat yang baru tiba dan yang telah habis stoknya. “Marianne, apa pendapatmu soal linker?” tanyaku padanya sambil mengetik. “Penghubung pikiran itu, ya?” tanyanya dari balik ruangan. “Entahlah. Aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan teknologi. Tapi jika kau ingin jawaban jujur dariku, aku tidak suka.” “Kenapa?” tanyaku sambil berputar dengan kursiku meski aku tidak dapat melihat sosok Marianne yang masih berada di dalam ruangan. “Jika tujuannya untuk mengetahui isi pikiran orang mati yang menjadi korban pembunuhan dan untuk menemukan siapa pembunuhnya, kurasa aku masih setuju. Tapi jika untuk umum, aku yakin tidak ada yang mau karena tidak ada orang yang menginginkan rahasianya diungkapkan ke publik,” katanya. “Yah… kita masih belum tahu tujuan asli benda itu diciptakan, kan? Maksudku mereka masih dalam proses pengerjaan. Aku yakin butuh bertahun-tahun untuk selesai,” kataku. “Aku tidak peduli meski benda itu selesai dalam seratus tahun lagi,” katanya. Ia lalu muncul dari dalam ruangan dengan membawa kardus. “Aku bukan orang yang bersedia mencobanya,” tambahnya. Pintu kaca apotek terbuka dan sesosok Android laki-laki masuk dengan tubuh yang basah kuyup—di luar sedang hujan. Marianne berdiri di sampingku dan bertanya apa yang diinginkannya. Android itu tak mengatakan apa pun dan anehnya nampak gugup. Entah karena aku sudah terpengaruh oleh sosok aneh Nik atau bukan, aku yakin Marianne juga menyadarinya. Tatapannya memancarkan ketakutan. Aku hampir menutup mataku untuk mengistirahatkan sejenak batin dan pikiranku karena seringnya melihat Android yang bersikap aneh akhir-akhir ini. “Halo, ada yang bisa kubantu?” tanya Marianne padanya. Ia masih saja tak mau bicara. Pandangannya bergerak ke kami dan ke bawah seolah tak ingin kami menatap langsung ke matanya. “Ehh… Marianne,” panggilku pelan. Sebelum aku sempat mengatakan hal selanjutnya, tiba-tiba dari sudut mataku, Android itu menodongkan pistol pada kami. Aku terkesiap, begitu juga dengan Marianne. Refleks, aku mencengkeram lengan Marianne. Seolah melihat gerakanku tadi, ia justru mengubah arah pistolnya padaku. Jantungku berdebar lebih cepat karena hal itu, dan rasanya aku susah bernapas. “H-hei! Turunkan pistol itu atau aku akan memanggil polisi!” kata Marianne terlihat marah. “T-tidak! T-t-tetap di sana!” ucap Android itu terbata. Kulihat kedua tangan yang menodongkan pistol itu bergetar. Marianne mengangkat kedua tangannya ke depan agar Android itu bisa sedikit lebih tenang. Mungkin ia melakukannya tanpa sadar seperti sedang berhadapan dengan perampok manusia. Padahal di depan kami adalah sebuah robot. “Hei kau, aku tak tahu apa yang terjadi padamu, tapi sebaiknya kau turunkan pistol itu dan kita bisa bicarakan ini baik-baik,” kata Marianne. Ia mungkin terdengar tenang, sambil berusaha untuk berjalan mendekati Android itu. Namun aku melihat kedua tangan Marianne bergetar. Itu terlalu jelas untuk dilihat walau dari jarak jauh. Arah pistol itu mengikuti Marianne yang semakin mendekatinya. “Tenang, kumohon tenanglah. Kita bicarakan baik-baik apa yang kau inginkan.” “Tidak, tidak, tidak. K-kumohon, kumohon! Tidak! Aku t-t-tidak ingin dibawa ke p-perusahaan itu!” ungkapnya Perusahaan itu? “Tenanglah… Leo. Tenanglah,” kata Marianne masih sambil mendekati Android yang baru saja disebutnya dengan Leo. Ia hampir di sana. “Aku tak akan membawamu ke manapun, oke? Aku hanya ingin bertanya apa yang kau inginkan.” “A-aku… aku… aku m-m-memukulnya. Aku memukulnya.” “Memukul siapa?” tanya Marianne. Akhirnya ia berhasil berdiri di hadapan Leo dan mencoba menurunkan pistol itu. “Pria tua itu. Orang yang selalu memukulku dengan tongkat baseball k-kalau aku berbuat salah,” kata Leo. “Ap—,” ucapku hampir tak bisa berkata-kata. Ini pertama kalinya aku mendengar kekerasan yang terjadi pada Android oleh pemiliknya. Aku tahu bahwa tidak sedikit orang di dunia yang memiliki temperamen buruk dengan melempar dan memukul semua barang yang dilihatnya sebagai pelampiasan emosi. Tapi melihat Android yang ketakutan akan perlakuan pemiliknya seperti melihat pembantu manusia yang trauma karena selalu mendapat kekerasan dari majikannya. Ada ada dengan Android akhir-akhir ini? Aku yakin Marianne juga melihat kejanggalan pada Leo. Bagaimana ia bisa menyimpan sebuah emosi pada apa yang telah dilakukan pemiliknya padanya. Sebuah hal yang mustahil untuk sebuah mesin. Ponselku ada di saku celanaku. Aku bisa mengambilnya dengan hati-hati dan menekan nomor untuk panggilan darurat. Tapi aku khawatir dengan gerakan mata Leo. Jujur saja aku takut. Matanya tak berhenti mengawasiku seolah memastikan aku tak memanggil bantuan. “Baiklah, baiklah. Tenang. Tenang, Leo. Kalau aku boleh tahu, mengapa kau memukulnya?” tanya Marianne. Ia berhasil menurunkan pistol itu. Tapi tangan Leo masih menggenggam benda mengerikan itu dan ia bisa menarik pelatuknya kapan saja. Ini masih belum aman. “A-aku merasa… hatiku memanas. Seperti akan meledak. Melakukan suatu kekerasan…,” ungkap Leo. Aku dan Marianne sudah bisa melihatnya dengan sangat jelas bahwa Leo adalah sesosok Android yang memiliki emosi. Marianne memunggungiku. Aku ingin tahu seperti apa ekspresi wajahnya sekarang. Sementara Leo bercerita, cepat-cepat aku mengambil ponselku dan menekan angka untuk memanggil bantuan. Ketika panggilan itu sudah terhubung, aku segera berjongkok dan menjelaskan dengan cepat bahwa ada Android yang ingin menembak kami di apotek. “Sudah kubilang jangan lakukan apa pun!” kata Leo murka. Tiba-tiba ia sudah menunduk di atasku dan menodongkan pistolnya padaku. Aku tidak bisa berpikir lagi untuk melarikan diri karena Leo sudah menarik pelatuknya yang untungya tidak menembus anggota tubuhku, tapi mengenai lantai sampingku. Meski badanku masih utuh, tidak dengan mentalku. Aku berteriak keras karena begitu ketakutan. Kudengar keributan dari Marianne dan Leo. Tapi aku bahkan tak sanggup untuk menggerakkan kedua kakiku, apalagi untuk berdiri dan melihatnya. Aku menangis ketakutan sambil berharap polisi akan cepat datang. Suara sirine yang kuharapkan akhirnya terdengar. Aku masih terlalu syok dan tak bisa bergerak hingga aku merasakan Marianne membantuku untuk berdiri. “Chloe… Chloe. Tenanglah. Aku di sini,” ucap Marianne mencoba menenangkanku. Aku masih tak berhenti menangis walau kini tangisanku tak sekeras tadi. Aku mencoba untuk melihat Leo karena sedari tadi sejak polisi datang, ia tak berhenti berteriak. Kulihat para polisi menjatuhkannya ke bawah dengan posisi tengkurap dan kedua tangan yang diborgol ke belakang punggungnya. Aku sempat melihat polisi-polisi itu yang menunjukkan ekspresi keheranan. Leo berteriak dengan suara yang anehnya penuh keputusasaan. Jika ia manusia, ia mungkin sudah mengeluarkan air mata sekarang. Aku tak sanggup lagi untuk melihatnya dan memutuskan untuk mengalihkan pandanganku. Tapi beberapa detik kemudian teriakan Leo tak terdengar lagi. Aku kembali menoleh dan melihat Leo sudah memejamkan matanya. Cahaya biru di tengah dadanya juga tidak menyala. Ia dinonaktifkan secara paksa. “Tidak ada yang terluka?” tanya seorang polisi wanita yang sudah berdiri di dekat kami. “Aku baik-baik saja. Tapi dia sempat hampir tertembak. Untunglah pelurunya tidak mengenainya,” jelas Marianne padanya. Aku didudukkan di kursi kerja Marianne sementara ia berbicara dengan polisi tersebut untuk menjelaskan situasi yang baru saja terjadi. Leo sudah dibawa pergi dari sini. Dari pintu kaca, kulihat di luar ramai sekali. Sudah ada para wartawan dengan kameranya masing-masing dan reporter yang mewawancarai polisi di sana. Tanganku masih tak berhenti bergetar. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku hampir kehilangan nyawa di tangan sebuah mesin. Aku sempat mendengar perkataan polisi yang sedang berbicara dengan Marianne. Ia heran mengapa Android bisa memberontak seperti itu. Rasanya seperti manusia. Aku sudah tak tahan lagi dengan pembicaraan tentang Android yang seperti manusia ini. Aku ingin pulang. Tapi aku tak yakin apa aku bisa pulang sendirian. Aku terbebani oleh keberadaan ibuku yang seperti itu sehingga aku pun tak yakin bisa beristirahat dengan tenang di rumah. Aku mendengar ponselku berbunyi. Aku bahkan tak tahu di mana keberadaan ponselku karena aku menjatuhkannya saat Leo tadi memergokiku yang memanggil bantuan. Tapi aku memutuskan untuk mencarinya. Siapa tahu itu panggilan penting. Aku menemukannya di bawah meja dan mengambilnya, lalu melihat nama yang meneleponku. Hugo. “Ya?” jawabku lemah. “Aku di luar. Polisi melarangku masuk. Bagaimana keadaanmu?” Aku menoleh dan melihat ke luar pintu kaca apotek. Setelah mataku berkeliling untuk mencari, akhirnya aku menemukan sosok Hugo yang saat ini sedang dihadang oleh seorang polisi. “Nyonya, bisakah anda mengizinkan temanku masuk?” tanyaku pada polisi wanita itu. Ia menoleh untuk melihat keluar. “Yang mana?” tanyanya. “Lelaki seumuranku. Namanya Hugo. Ia sedang dihalangi polisi,” jelasku. “Aku ingin pulang bersamanya nanti.” “Baiklah,” balasnya dan segera berjalan keluar untuk membawa Hugo masuk. Marianne mendekatiku dan menatapku dengan penuh rasa khawatir. “Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanyanya. Aku menggeleng. “Aku tidak baik-baik saja,” jawabku jujur. “Chloe!” panggil Hugo begitu ia masuk ke apotek. “Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?” tanyanya sambil matanya memeriksa seluruh tubuhku dari atas sampai bawah dan lalu menoleh ke Marianne. “Dia hampir tertembak,” ujar Marianne dengan ekspresi tak nyaman. “Ya Tuhan!” ucap Hugo terkejut dan mendekatiku lalu berjongkok di depanku. Aku langsung memeluknya begitu ia berada di dekatku. Aku masih terlalu takut. Bayangan saat peluru itu hampir menembus diriku masih menghantuiku hingga air mata kembali jatuh ke pipiku dengan deras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD